NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FREKUENSI HATI BARU

  Sinar matahari pagi yang menyusup masuk melalui celah jendela kamar Salsa Kirana terasa seperti sedang ikut merayakan suasana hatinya yang tidak keruan. Bukan tidak keruan karena sedih, melainkan karena ada perasaan penuh yang meluap-luap di dalam dadanya. Salsa sudah bangun sejak jam lima pagi, sebuah kebiasaan lama yang biasanya dia gunakan untuk menghafal rumus atau membaca ulang bab biologi yang sulit. Namun pagi ini, buku paket tebal di atas mejanya tetap tertutup rapat. Fokusnya teralih sepenuhnya pada layar ponsel yang menampilkan percakapan terakhirnya dengan Arkan semalam.

  Salsa menghela napas panjang, lalu membenamkan wajahnya di bantal. Pipinya terasa panas setiap kali dia membaca ulang kalimat "Selamat malam ya, Sa. Jangan lupa senyum, biar besok gue semangat lagi ke sekolahnya." Kalimat itu sederhana, bahkan terkesan receh jika diucapkan oleh orang lain, tapi karena itu Arkan, efeknya jadi luar biasa dahsyat. Arkan yang selama ini hanya bisa membuatnya emosi sampai ke ubun-ubun, kini justru menjadi alasan utama mengapa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat bahkan sebelum dia menginjakkan kaki di sekolah.

  Dia beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Salsa menatap bayangannya sendiri. Rambutnya yang biasanya hanya diikat kuda asal-asalan, hari ini dia tata dengan lebih rapi. Dia bahkan sempat berpikir untuk memakai sedikit lip cream berwarna peach agar wajahnya tidak terlihat pucat karena kurang tidur akibat memikirkan Arkan semalaman. Tapi kemudian dia menggelengkan kepala dengan cepat.

  "Enggak, Sa. Jangan kelihatan banget kalau lo usaha. Nanti si tengil itu makin besar kepala," gumamnya pada diri sendiri. Meskipun begitu, Salsa tetap memoleskan sedikit pelembap bibir dan merapikan seragamnya hingga tidak ada satu pun kerutan yang terlihat. Dia ingin terlihat sempurna, bukan hanya sebagai peringkat satu paralel, tapi sebagai... entahlah, dia sendiri belum tahu status apa yang paling pas untuk menggambarkan hubungannya dengan Arkan sekarang.

  Perjalanan menuju SMA Garuda terasa lebih singkat dari biasanya. Sepanjang jalan, Salsa tidak berhenti bersenandung kecil mengikuti lagu yang terputar di radio mobil jemputannya. Begitu sampai di depan gerbang sekolah, Salsa menarik napas dalam-dalam, mencoba menyiapkan mental untuk menghadapi godaan Arkan yang sudah pasti akan menyambutnya.

  Saat dia berjalan menuju area parkir motor matic-nya, langkahnya melambat. Di sana, di tempat parkir langganan Salsa yang biasanya menjadi rebutan mereka berdua, motor sport hitam Arkan sudah terparkir rapi. Namun, ada yang aneh. Arkan tidak sedang duduk santai di atas motornya atau bersandar di pilar. Cowok itu sedang berdiri di samping tempat parkir kosong tepat di sebelah motornya, sambil memegang sebuah botol minuman dingin dan satu plastik kecil berisi roti cokelat kesukaan Salsa.

  "Pagi, Tuan Putri Peringkat Dua," sapa Arkan dengan cengiran khasnya begitu Salsa melepas helm.

  Salsa mendelik, tapi matanya tidak bisa berbohong kalau dia senang melihat kehadiran cowok itu. "Masih aja ya bawa-bawa peringkat. Dan itu... ngapain lo berdiri di situ kayak satpam parkir?"

  Arkan menggeser tubuhnya, memberikan ruang bagi Salsa untuk memarkirkan motornya. "Gue lagi jagain wilayah kekuasaan lo, Sa. Biar nggak ada yang berani ambil tempat parkir ini selain lo. Gimana? Pelayanan kelas VIP kan?"

  Salsa memarkirkan motornya dengan cekatan, lalu turun dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan kena angin. "Gaya banget sih. Bilang aja lo emang pengen ketemu gue duluan kan?"

  Arkan tertawa rendah, sebuah suara yang entah kenapa sekarang terdengar sangat merdu di telinga Salsa. Dia menyodorkan roti dan minuman dingin itu kepada Salsa. "Nih, buat sarapan. Gue tahu lo pasti tadi buru-buru berangkat sampai lupa makan. Jangan sampai pingsan pas ngerjain soal fisika nanti, gue nggak mau repot gendong lo ke UKS."

  Salsa menerima pemberian itu dengan perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Makasih, Kan. Tapi gue nggak bakal pingsan cuma karena kurang makan roti. Gue kan kuat."

  "Iya, kuat banget nahan kangennya," goda Arkan sambil mencolek hidung Salsa dengan telunjuknya, lalu segera berjalan mendahului Salsa menuju koridor sekolah.

  Salsa mematung sejenak, memegang hidungnya yang baru saja disentuh Arkan. Jantungnya benar-benar berisik sekarang. Dia segera menyusul langkah Arkan yang lebar, berusaha mensejajarkan posisinya. Di sepanjang koridor, beberapa siswa yang sudah datang menatap mereka dengan tatapan heran. Maklum saja, pemandangan Arkan dan Salsa berjalan berdampingan tanpa ada adu mulut yang meledak-ledak adalah sebuah fenomena langka di SMA Garuda.

  Sesampainya di depan kelas, Dira sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap di dada. Matanya menyipit penuh selidik saat melihat Salsa datang bersama Arkan, apalagi saat melihat roti dan minuman di tangan Salsa.

  "Oke, oke. Gue butuh penjelasan medis atau penjelasan logis kenapa pagi ini gue nggak denger suara teriakan 'ARKAN TENGIL' dari ujung koridor," ucap Dira langsung saat Salsa masuk ke dalam kelas.

  Salsa meletakkan tasnya di kursi dan mencoba bersikap biasa saja. "Nggak ada apa-apa, Dir. Arkan cuma lagi waras aja hari ini."

  "Waras atau lagi masa pendekatan?" Dira duduk di kursi depan Salsa, memutar tubuhnya menghadap sang sahabat. "Sa, lo tahu kan kalau seisi kelas udah mulai curiga? Apalagi pas kemarin kalian bimbingan berdua di lab sampai sore. Gosipnya kalian udah jadian, bener nggak sih?"

  Salsa membuka bungkus rotinya dengan gerakan kikuk. "Gosip darimana sih? Ngaco banget. Kita itu cuma rekan tim buat proyek sains. Lo tahu sendiri kan nilai proyek ini gede banget buat rapor."

  "Halah, alasan klasik," sahut Dira sambil tertawa. "Tapi jujur ya, Sa. Kalau emang lo ada rasa sama Arkan, gue sih dukung-dukung aja. Daripada kalian berantem terus, mendingan energinya dipake buat saling sayang, ya nggak?"

  Wajah Salsa memerah sampai ke telinga. Dia memilih untuk tidak menjawab dan mulai memakan rotinya, meskipun rasanya jadi sulit tertelan karena godaan Dira. Di barisan belakang, dia bisa merasakan tatapan Arkan yang sesekali tertuju padanya. Saat Salsa menoleh ke belakang, Arkan memberikan jempol sambil tersenyum lebar, membuat Salsa segera membuang muka kembali ke depan.

  Jam pelajaran pertama dimulai dengan Bahasa Inggris. Ibu Sarah, sang guru, memberikan tugas kelompok untuk membuat dialog percakapan. Tentu saja, sebagai rekan proyek sains yang sudah "resmi", Salsa dan Arkan kembali dipasangkan. Mereka duduk berhadapan di meja Salsa, dengan Dira yang terus memberikan tatapan menggoda dari meja sebelah.

  "Jadi, kita mau bikin dialog tentang apa?" tanya Salsa, berusaha menjaga suaranya tetap profesional.

  Arkan mengetuk-ngetukkan pulpennya di dagu, tampak berpikir keras. "Gimana kalau tentang dua orang musuh bebuyutan yang tiba-tiba sadar kalau mereka sebenarnya saling suka? Pasti seru tuh, dramatis."

  Salsa mencubit lengan Arkan dengan gemas. "Arkan! Serius dikit kenapa sih? Ini tugas sekolah, bukan skenario sinetron."

  "Gue serius, Sa. Tema 'Enemies to Lovers' itu lagi tren tahu," jawab Arkan sambil terkekeh. "Oke-oke, serius. Gimana kalau kita bikin dialog tentang kolaborasi ilmuwan? Sesuai sama keadaan kita sekarang."

  Mereka pun mulai menyusun dialog. Kerja sama mereka terasa sangat lancar, seolah-olah mereka sudah terkoneksi dalam frekuensi yang sama. Tidak ada lagi perdebatan kusir yang tidak perlu. Arkan memberikan ide-ide kreatif, sementara Salsa merapikan tata bahasanya. Sesekali tangan mereka bersentuhan saat sedang menunjuk bagian kertas yang sama, dan setiap kali itu terjadi, ada sengatan listrik kecil yang membuat keduanya sempat terdiam sejenak sebelum kembali fokus.

  Setelah pelajaran berakhir dan jam istirahat tiba, Arkan tidak langsung pergi ke kantin bersama teman-temannya. Dia justru menunggu di depan meja Salsa. "Sa, nanti pulang sekolah langsung ke lab kan? Gue mau coba pasang sensornya ke prototipe yang udah kita bikin kemarin."

  Salsa mengangguk. "Iya, gue juga mau rapiin laporannya biar tinggal masukin data hasil uji coba nanti."

  "Sip. Jangan telat ya. Oh iya, nanti makan siangnya mau gue pesenin apa? Biar gue bawain ke lab aja kalau lo mau langsung ke sana," tawar Arkan.

  "Gue ikut Dira aja ke kantin nanti, Kan. Nggak usah repot-repot," jawab Salsa halus.

  Arkan mengacak rambut Salsa pelan sebelum pergi. "Ya udah, tapi jangan lupa makan beneran. Jangan cuma makan buku doang."

  Salsa hanya bisa menghela napas pasrah melihat kelakuan Arkan yang semakin berani menunjukkan perhatian di depan umum. Dira yang melihat kejadian itu langsung heboh sendiri di sampingnya. "Aduhh, jantung gue yang mau copot liatnya, Sa! Arkan bener-bener ya, nggak ada takut-takutnya."

  Salsa tersenyum tipis. "Dia emang gitu, Dir. Tengilnya nggak ilang-ilang."

  Siang harinya, laboratorium fisika kembali menjadi saksi bisu kedekatan mereka. Suasana lab yang tenang dengan aroma khas bahan kimia dan besi terasa sangat nyaman bagi Salsa. Dia duduk di depan laptopnya, sementara Arkan sibuk dengan alat solder dan kabel-kabel kecil di meja sebelah. Sinar matahari sore yang masuk melalui jendela besar menciptakan bayangan panjang di lantai lab.

  "Kan, lo nggak capek ya ngurusin kabel-kabel ribet gitu?" tanya Salsa sambil memperhatikan keuletan Arkan.

  Arkan tidak menoleh, matanya tetap fokus pada sirkuit kecil di depannya. "Capek sih dikit, tapi kalau hasilnya bagus dan bisa bikin lo bangga karena dapet nilai sempurna, capeknya ilang kok."

  Salsa tertegun. "Lo... lo ngelakuin ini semua cuma biar gue dapet nilai bagus?"

  Arkan meletakkan soldernya, lalu menatap Salsa dengan serius. "Sebagian besar sih iya. Gue tahu seberapa berartinya peringkat satu buat lo, Sa. Gue nggak mau proyek ini jadi penghalang buat ambisi lo. Gue mau kita sukses bareng-bareng."

  Salsa merasakan matanya sedikit berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka kalau di balik sikap santai dan menyebalkan Arkan, ada ketulusan yang begitu besar untuk mendukung impiannya. Selama ini Salsa menganggap Arkan sebagai ancaman, padahal Arkan justru ingin menjadi pendukungnya.

  "Makasih ya, Kan. Gue nggak tahu harus bilang apa," bisik Salsa.

  Arkan tersenyum lembut, lalu berjalan mendekati Salsa. Dia duduk di pinggir meja, tepat di samping kursi Salsa. "Nggak usah bilang apa-apa. Cukup jangan anggap gue musuh lagi aja udah lebih dari cukup buat gue."

  Salsa memberanikan diri untuk meraih tangan Arkan. "Gue udah nggak anggap lo musuh, Kan. Sejak kejadian di lapangan basket kemarin, semuanya udah beda."

  Arkan menggenggam tangan Salsa dengan erat, jempolnya mengusap punggung tangan Salsa dengan lembut. "Beda gimana?"

  "Beda... ya beda. Gue jadi lebih sering mikirin lo daripada mikirin rumus. Dan itu ganggu banget tahu nggak," keluh Salsa dengan nada bercanda namun jujur.

  Arkan tertawa pelan. "Bagus dong, berarti taktik gue berhasil."

  Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan bekerja sambil sesekali berbagi cerita tentang masa kecil mereka. Salsa baru tahu kalau Arkan dulu adalah anak yang sangat pendiam sebelum akhirnya pindah ke Jakarta dan berubah menjadi sosok yang lebih ekspresif dan "tengil". Arkan juga bercerita tentang hobinya mengutak-atik barang elektronik rusak di rumahnya sejak kecil, yang menjelaskan mengapa dia begitu mahir di laboratorium.

  Pukul lima sore lewat sedikit, mereka akhirnya menyelesaikan tahap awal perakitan sensor. Prototipe mereka terlihat sangat menjanjikan. Arkan membereskan alat-alatnya, sementara Salsa menyimpan data di laptopnya.

  "Sa, laper nggak? Kemarin kan kita gagal makan gara-gara nyokap lo nyuruh pulang," ajak Arkan saat mereka berjalan keluar dari lab.

  Salsa mengecek ponselnya, tidak ada pesan darurat dari ibunya kali ini. "Boleh deh. Tapi jangan yang jauh-jauh ya, gue harus belajar buat ulangan harian sejarah besok."

  "Tenang, ada tempat makan bakmi enak di deket sini. Gue jamin lo bakal suka," kata Arkan penuh semangat.

  Mereka menuju tempat parkir. Kali ini, Arkan tidak membiarkan Salsa pulang sendiri dengan motornya. "Motor lo tinggal di sini aja, besok pagi gue jemput lo di rumah, terus kita berangkat bareng ke sekolah. Motor lo aman kok di parkiran dalem, udah gue bilangin ke satpam."

  Salsa sempat ragu. "Eh, emang nggak papa? Nanti kalau ada yang liat gimana?"

  "Biarin aja mereka liat. Lagian kita emang lagi ngerjain proyek bareng kan? Nggak ada yang salah kalau berangkat bareng partner tim," jawab Arkan dengan nada meyakinkan.

  Salsa akhirnya setuju. Dia naik ke atas motor sport Arkan, memegang bahu cowok itu sebagai tumpuan. Saat Arkan mulai menjalankan motornya, angin sore menerpa wajah mereka. Salsa merasa sangat bebas. Dia tidak lagi peduli dengan apa yang akan dikatakan orang-orang di sekolah besok. Yang dia tahu, saat ini dia merasa sangat aman berada di dekat Arkan.

  Warung bakmi yang dimaksud Arkan ternyata adalah sebuah tempat sederhana namun sangat ramai pengunjung. Aroma kuah kaldu yang gurih menyambut mereka begitu mereka masuk. Mereka memesan dua porsi bakmi ayam spesial dengan pangsit goreng ekstra.

  "Enak kan?" tanya Arkan saat melihat Salsa menyantap bakminya dengan lahap.

  "Banget! Lo kok tahu tempat kayak gini sih?"

  "Gue kan petualang kuliner tersembunyi, Sa. Banyak tempat rahasia yang mau gue tunjukin ke lo nanti kalau kita ada waktu," jawab Arkan sambil tersenyum misterius.

  Di tengah makan malam itu, suasana terasa sangat cair. Mereka tidak lagi membahas soal sekolah atau proyek sains. Mereka membahas tentang lagu favorit, film yang baru saja tayang, hingga impian mereka setelah lulus SMA nanti. Salsa merasa seperti sedang mengenal sosok baru yang sangat berbeda dari Arkananta yang dia kenal selama dua tahun terakhir.

  "Kan, lo mau masuk jurusan apa nanti pas kuliah?" tanya Salsa penasaran.

  "Teknik Elektro, kayaknya. Gue pengen bikin inovasi di bidang energi terbarukan. Kalau lo pasti Kedokteran atau Hukum kan?" tebak Arkan.

  Salsa menggeleng. "Gue mau ambil Fisika Murni. Gue pengen jadi peneliti."

  Arkan menatap Salsa dengan kagum. "Wah, keren banget. Peneliti ya? Nanti kalau lo jadi peneliti terkenal, jangan lupain gue yang pernah jadi partner proyek pertama lo ya."

  "Nggak akan, Kan. Lo kan yang bakal bikin alat-alat buat penelitian gue nanti," balas Salsa sambil tertawa.

  Setelah selesai makan, Arkan mengantarkan Salsa pulang. Di depan pagar rumah Salsa, suasana mendadak menjadi sedikit canggung namun manis. Salsa turun dari motor dan melepas helm pinjaman dari Arkan.

  "Makasih ya buat hari ini, Kan. Bakminya enak, bimbingannya juga produktif," ucap Salsa.

  Arkan masih duduk di atas motornya, menatap Salsa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sama-sama, Sa. Makasih juga udah mau kasih kesempatan buat gue nunjukin sisi lain dari Arkan si musuh bebuyutan lo."

  Salsa tersenyum malu-malu. "Gue masuk dulu ya. Jangan lupa istirahat, besok pagi jangan telat jemputnya."

  "Siap, Tuan Putri. Gue bakal stand by depan gerbang rumah lo jam enam pagi tepat," janji Arkan.

  Salsa baru saja akan berbalik masuk ke halaman rumah saat Arkan memanggil namanya lagi. "Sa!"

  Salsa menoleh. "Ya?"

  "Gue... gue beneran sayang sama lo. Bukan sebagai musuh, tapi beneran sayang," ucap Arkan dengan nada suara yang rendah namun sangat tegas.

  Salsa terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kemudian berdegup kencang seperti sedang lari maraton. Dia tidak menyangka Arkan akan menyatakannya secara langsung seperti itu, di depan rumahnya, di bawah sinar lampu jalan yang temaram.

  Salsa tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memberikan senyuman paling manis yang pernah dia miliki, lalu mengangguk pelan sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang membuncah.

  Di dalam kamarnya, Salsa melempar tasnya ke lantai dan langsung menjatuhkan diri ke kasur. Dia memeluk gulingnya dengan erat, mencoba meredam teriakan bahagia yang ingin keluar dari mulutnya. Dia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi yang sangat indah. Musuh bebuyutannya, saingan terberatnya dalam meraih peringkat satu, baru saja mengatakan bahwa dia menyayanginya.

  Salsa mengambil ponselnya, berniat mengganti nama kontak Arkan. Dia menghapus kata "Tengil" yang sudah bertahun-tahun ada di sana, lalu menggantinya dengan nama yang lebih sederhana namun berarti besar baginya: "Arkananta".

  Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk.

  Dari: Arkananta

  "Jangan senyum-senyum sendiri di dalem kamar. Gue masih bisa liat bayangan lo dari bawah sini. Selamat istirahat, Sa."

  Salsa segera melompat ke jendela dan mengintip dari balik gorden. Benar saja, motor Arkan masih ada di depan rumahnya. Arkan melambaikan tangan ke arah jendela kamar Salsa sebelum akhirnya benar-benar melajukan motornya pergi.

  Salsa kembali ke tempat tidurnya dengan perasaan yang sangat tenang. Dia tahu, mulai besok, semuanya akan benar-benar berbeda. Kompetisi di antara mereka mungkin masih akan ada, tapi bukan lagi kompetisi untuk saling menjatuhkan, melainkan kompetisi untuk saling membahagiakan. Frekuensi mereka kini sudah selaras, menciptakan harmoni baru yang jauh lebih indah dari apa pun yang pernah Salsa bayangkan sebelumnya. Malam itu, di bawah langit malam yang bertabur bintang, Salsa Kirana akhirnya menyadari bahwa kadang, orang yang paling kita benci adalah orang yang paling kita butuhkan untuk melengkapi hidup kita. Dan bagi Salsa, orang itu adalah Arkananta Putra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!