Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia dari Tanah Inggris
Lokasi: Asrama Pemain Akademi Manchester City, Manchester, Inggris.
Waktu: Malam hari, beberapa jam setelah penandatanganan kontrak. Langit malam di sini tampak gelap pekat dengan cahaya bulan yang terang benderang, udara dingin menusuk tulang namun suasana di dalam ruangan terasa hangat, nyaman, dan sangat mewah. Ruangan kamar yang ditempati Dika dan Rio luas, bersih, lengkap dengan perabotan modern, dua tempat tidur besar, meja kerja, dan jendela kaca tebal yang menghadap langsung ke arah lapangan latihan utama yang masih terang benderang oleh lampu sorot.
Dika baru saja selesai mandi dan berganti pakaian santai. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna abu-abu yang pas di badan, memperlihatkan bentuk bahu lebar dan otot lengannya yang padat dan keras. Rambut hitam tebalnya masih sedikit basah, wajahnya yang tampan dan tegas itu bersinar cerah, matanya berbinar puas namun tetap tenang dan rendah hati. Di sebelahnya, Rio sedang duduk bersandar di kursi, tubuh raksasanya yang 183 cm itu membuat kursi kayu kokoh itu terlihat kecil. Rio mengenakan pakaian serupa, dadanya yang sangat bidang dan kekar terlihat jelas meski tertutup kain, ia sedang tersenyum-senyum sendiri seolah masih tidak percaya ada di tempat mewah ini.
"Masih terasa mimpi nggak, Rio?" tanya Dika sambil tersenyum kecil, duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponsel pintarnya.
Rio mengangguk kuat, suaranya yang berat dan dalam terdengar renyah karena gembira. "Banget, Dik! Dulu kita lari pagi-pagi di jalanan berdebu Buduran, basah kuyup kena hujan, kadang lapar kalau uang saku kurang. Sekarang? Tidur di kamar mewah di Inggris, jadi anggota Manchester City, dapat gaji ratusan juta sebulan... Luar biasa. Semua ini gara-gara otak dan kerja kerasmu."
Dika tertawa pelan, lalu menatap layar ponselnya. "Bukan cuma aku, Rio. Kita. Ini hasil kerja keras kita berdua. Dan sekarang, saatnya kita kasih kabar ini ke rumah. Ayah, Ibu, sama Rina pasti sudah nunggu kabar dari kita dari tadi sore."
Dika langsung menekan tombol panggil video ke nomor rumah di Sidoarjo. Koneksi internet berkecepatan tinggi membuat sambungan tersambung seketika. Di layar ponsel itu, dalam hitungan detik, muncullah wajah-wajah yang paling dicintainya.
Di layar terlihat ruang tengah rumah mereka yang sederhana namun kini terlihat lebih lengkap dan rapi berkat bantuan dana Dika. Di sana ada Ayah Rudi yang duduk tegap di kursi kebanggaannya, mengenakan kemeja rapi, wajah tegas mantan tentara itu tampak cemas namun penuh harap. Di sebelahnya ada Ibu, mengenakan baju batik kesukaannya, wajahnya bersinar bahagia namun matanya terlihat rindu. Dan di depan mereka, duduk di lantai bersandar pada kaki Ayah, ada Rina, adik kecilnya yang berumur 13 tahun, rambut panjangnya terurai indah, matanya berbinar antusias.
"Assalamu’alaikum, Ayah, Ibu, Rina!" sapa Dika dengan suara berat, merdu, dan ceria. Suara itu terdengar sangat jelas dan indah, membuat hati mereka di seberang sana langsung terasa hangat dan damai.
"Wa’alaikumsalam! Le... Dika! Rio!" seru Ibu riang, tangannya sedikit gemetar menunjuk ke arah layar. "Alhamdulillah... Akhirnya telepon juga. Gimana kabar kalian, Nak? Aman nggak di sana? Dingin sekali ya? Badan kalian sehat? Makan enak?"
Ibu langsung bertubi-tubi bertanya dengan khas seorang ibu yang merantau anaknya, membuat Dika dan Rio tertawa terbahak-bahak. Rio mendekatkan wajah besarnya ke kamera, tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.
"Aman, Bu! Sehat semua! Badan kami yang besar dan kuat ini nggak gampang sakit kok. Di sini dingin sih, tapi kami pakai baju tebal, nyaman sekali. Makanannya enak-enak, Bu. Tapi kalau dimasakan Ibu, tetap masakan Ibu nomor satu!" jawab Rio semangat, membuat seisi ruangan di Sidoarjo tertawa gembira.
Ayah Rudi tersenyum lebar, matanya meneliti wajah anak sulungnya yang tampak makin gagah dan berwibawa di layar. Ia juga melihat tubuh tegap anaknya yang terlihat sangat atletis dan berotot di balik pakaiannya, bukti bahwa anaknya itu selalu menjaga diri dan disiplin.
"Syukurlah kalau begitu," kata Ayah dengan suara tenang dan berwibawa. "Ayah dan Ibu sudah nunggu dari tadi. Gimana prosesnya, Dik? Bagaimana pertemuan dengan pihak klub? Apakah semuanya berjalan lancar seperti rencanamu?"
Dika mengangguk mantap, rahang tegasnya mengeras sejenak menahan rasa bangga yang meluap. Ia menatap wajah ayahnya lekat-lekat, menatap orang yang menjadi teladan disiplin dan kekuatannya itu.
"Ayah, Ibu... dengerin kabar ini baik-baik ya. Kabar yang sangat gembira," mulai Dika pelan namun jelas, nada bicaranya berubah serius namun penuh sukacita.
"Setelah kami sampai, kami langsung bertemu pimpinan akademi, staf pelatih, dan pengintai bakat mereka. Mereka melihat data fisik kami, melihat rekaman permainan yang kami kirim dulu, dan mereka langsung tes kemampuan kami di lapangan. Ayah... mereka sangat terkejut. Mereka bilang, sudah puluhan tahun mereka mencari bakat dari Asia, tapi baru kali ini mereka menemukan profil selengkap dan sebaik kami."
Dika berhenti sejenak, menahan napas sebentar, lalu melanjutkan dengan senyum bangga:
"Dan hasilnya... Hari ini juga, tepat beberapa jam yang lalu... saya dan Rio resmi menandatangani kontrak profesional dengan Manchester City Football Club."
"ALHAMDULILLAH!" seru Ayah Rudi lantang, wajahnya yang tegas itu seketika berubah merah padam karena rasa bahagia dan bangga yang luar biasa. Ibu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia langsung mengalir deras di pipinya, ia menangis terharu sambil tersenyum lebar. Rina melompat kegirangan di tempat duduknya, bertepuk tangan riang.
"Asyik! Kak Dika hebat! Kak Rio hebat! Aku tahu kalian pasti bisa! Aku bangga banget!" teriak Rina ceria.
Ayah Rudi memejamkan mata sejenak, mengusap dadanya yang terasa penuh oleh rasa syukur. Ia menatap kembali wajah anaknya di layar, matanya berkaca-kaca.
"Kamu dengar itu, Bu? Anak kita... anak Rudi Pratama... sekarang jadi pemain profesional di salah satu klub terbesar dan terkaya di Inggris, di Eropa... Di Manchester City! Ayah tidak pernah bermimpi setinggi ini, Dik. Ayah cuma mimpi kamu bisa jadi anak baik, berguna, dan bahagia. Tapi kamu memberikannya jauh lebih dari itu. Kamu bawa nama keluarga ini ke tempat yang paling tinggi."
Dika tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca melihat kebahagiaan orang tuanya. Ia mengusap dada bidangnya sendiri, seolah menegaskan bahwa semua ini berkat didikan mereka.
"Ayah, Ibu... ini semua berkat doa dan ajaran kalian. Tanpa disiplin Ayah, tanpa kasih sayang Ibu, saya tidak akan jadi apa-apa. Dan ada lagi yang mau saya sampaikan... soal nilai kontrak kami."
Dika menarik napas panjang, lalu menjelaskan dengan tenang dan jelas:
"Klub ini besar, Pak. Fasilitasnya kelas dunia, manajemennya sangat menghargai pemain. Karena mereka melihat potensi besar di kami, mereka memberi penawaran yang sangat luar biasa. Saya dapat kontrak dengan gaji dasar sebesar £12.000 Poundsterling per minggu. Kalau dihitung ke Rupiah... itu sekitar 180 Juta Rupiah SEMINGGU, Bu, Pak. Belum termasuk bonus kalau menang, bonus kalau cetak gol atau beri umpan, dan insentif lain. Kalau ditotal sebulan, bisa tembus 700 sampai 800 Juta Rupiah."
Di seberang sana, keheningan sejenak melanda ruang tamu rumah itu. Ayah Rudi, yang biasa mengelola uang negara dalam jumlah besar, sampai terdiam tak bisa bicara. Ibu menganga tak percaya, tangannya menutup mulut kembali. Bahkan Rina yang tidak terlalu paham uang, bisa merasakan bahwa angka itu sangat, sangat besar.
"Dan Rio..." lanjut Dika sambil menepuk bahu besar sahabatnya di sebelahnya. "Karena kemampuannya sebagai bek tengah yang sangat langka, badannya yang kokoh, dan kepiawaiannya menjaga pertahanan, klub memberi Rio gaji £8.000 Poundsterling per minggu, atau sekitar 120 Juta Rupiah seminggu. Dia dihargai sangat tinggi, Pak. Mereka bilang, bek tengah sebesar, sekuat, dan secerdas Rio itu barang langka sekali."
Rio tersenyum malu-malu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mendekat ke kamera.
"Pak, Bu... tenang saja. Uang ini nanti saya simpan rapi-rapi. Nanti kalau libur pulang, saya bawa oleh-oleh yang banyak buat semuanya. Dan... saya janji, badan besar ini akan saya pakai buat jaga Kak Dika di lapangan. Biar siapa pun lawannya, sebesar apa pun, nggak bakal bisa lewat! Saya bakal jadi tembok beton yang nggak bakal runtuh!" seru Rio dengan semangat membara, membuat Ayah dan Ibu tertawa bangga.
Ayah Rudi menghela napas panjang, mengangguk-anggukkan kepala dengan tatapan takjub. Ia sadar, anaknya dan sahabatnya itu sekarang bukan lagi sekadar anak desa biasa. Mereka sudah masuk ke lingkaran elit sepak bola dunia, dengan penghasilan yang setara pejabat tinggi negara, bahkan melebihinya.
"Dik... angka ini... ini jumlah yang luar biasa. Dalam sehari kamu dapat uang yang orang lain dapat dalam setahun. Ayah cuma ingatkan satu hal saja, Nak..." kata Ayah dengan nada serius namun penuh kasih sayang.
"Uang itu amanah. Uang itu bisa mengangkat derajat, tapi bisa juga menjatuhkan kalau salah pakai. Ingat rencanamu dulu ya? Yang kamu sampaikan malam sebelum berangkat itu... Ayah harap kamu pegang teguh itu."
Dika tersenyum lebar, matanya berbinar cerdas, persis seperti saat ia membahas strategi keuangan beberapa hari lalu. Ia mengangguk mantap.
"Siap, Ayah! Saya ingat betul, dan saya sudah jalankan rencananya dari detik ini juga. Gaji besar ini... ingat janji saya? Separuh dari setiap pendapatan yang saya terima, berapa pun jumlahnya, akan langsung saya belikan Bitcoin. Saya akan terus beli, kumpulkan, simpan, sampai harganya naik melambung tinggi ke angka puluhan ribu dolar. Saya tidak akan habiskan untuk gaya-gayaan atau kemewahan sia-sia. Saya putar lagi jadi aset, Pak. Biar makin lama makin besar, biar makin kuat modal saya buat membangun Persida, buat membangun kampung halaman, dan buat masa depan kita semua."
Ayah Rudi tersenyum puas, rasa khawatirnya hilang seketika. Ia tahu, anaknya sudah dewasa jauh sebelum waktunya. Otak bisnis dan keuangan Dika setajam kemampuannya di lapangan hijau.
"Bagus! Itu anak Ayah. Pakai kepalamu yang cerdas itu. Dan soal Persida Sidoarjo... kamu tenang saja, Le. Dengan modal 10 Miliar yang kamu berikan kemarin, Ayah sudah mulai bergerak. Markas sudah diperbaiki, lapangan sudah dipugar, pemain-pemain muda berbakat dari desa-desa sudah mulai kita rekrut dan sekolahkan. Ayah jalankan manajemennya seperti komando militer: disiplin, bersih, dan kerja keras. Nanti kalau kamu sukses di sana, Persida akan jadi tempat pencetak bintang kebanggaan Indonesia. Kami di sini sudah bergerak, mendukungmu dari belakang."
Mendengar itu, hati Dika terasa sangat lega dan bahagia. Segalanya berjalan sempurna. Di Inggris ia mulai karirnya sebagai bintang muda di klub raksasa. Di Sidoarjo, ayahnya sedang membangun kekuatan baru yang kokoh. Keuangannya aman dan terus berlipat ganda: 1,2 Triliun sebagai dasar, tambahan investasi 5 Miliar, dan aliran masuk aset baru dari gaji yang langsung dikonversi ke Bitcoin.
Ibu kembali bicara, suaranya lembut dan penuh doa.
"Pokoknya yang penting buat Ibu... kalian sehat, selamat, jaga diri baik-baik, dan jangan lupa beribadah. Di sana cuacanya dingin, jangan sampai telat makan, jangan sampai sakit. Kalian itu kebanggaan kami, Nak. Jaga nama baik keluarga, jaga nama baik bangsa kita. Ibu selalu kirim doa setiap waktu."
"Siap, Bu!" jawab Dika dan Rio serempak dengan senyum lebar.
Rina kembali menyela dengan ceria, matanya berbinar ke arah kakaknya.
"Kak Dika... Kak Rio... nanti kalau kalian main di TV, Rina pasti nonton! Rina bakal teriak-teriak sama teman-teman sekolah: 'Itu kakakku! Itu kakakku!' Oh iya Kak Dika... tahu nggak? Di sini makin heboh lho! Semua orang masih nyariin pemilik akun YouTube 'Suara Hati Dika'. Beritanya ada di mana-mana. Ada yang bilang pemiliknya sudah jadi pemain bola hebat ke luar negeri, ada yang nebak itu kamu... tapi nggak ada yang yakin karena kamu nggak pernah nunjukin wajah. Rahasia banget sih Kakak ini!"
Dika tertawa renyah, suara merdunya bergema jelas. Ia mengedipkan sebelah mata ke arah adiknya.
"Biarkan saja mereka penasaran, Dik. Nanti kalau waktunya sudah tiba, nanti kalau aku sudah jadi juara, baru kita kasih kejutan terbesar buat dunia. Sekarang... biarkan suara ini terus menemani mereka, sementara kakak kerja diam-diam di balik layar."
Pembicaraan itu berlanjut cukup lama, saling bertukar kabar, saling menguatkan hati, dan saling berbagi tawa bahagia. Di penghujung percakapan, saat hendak mengakhiri panggilan, Dika menatap wajah keluarganya satu per satu dengan penuh kasih sayang dan tekad baja.
"Ayah, Ibu, Rina... Rio... mulai hari ini, perjuangan sesungguhnya dimulai. Kami akan bekerja lebih keras dari siapa pun di sana. Kami akan buktikan bahwa dari Sidoarjo, dari Indonesia, kami bisa berdiri sejajar dengan pemain-pemain terbaik dunia. Tunggu kabar-kabar kemenangan kami selanjutnya. Kami akan bawa nama Pratama, nama Sidoarjo, dan nama Manchester City bersinar terang."
Panggilan pun berakhir. Dika meletakkan ponselnya di meja, lalu berdiri tegap di dekat jendela, menatap keluar ke arah lampu-lampu kota Manchester yang berkelap-kelip indah. Rio berdiri di sampingnya, tubuh raksasanya kokoh seperti tiang penyangga.
"Semua sudah sempurna, Dik. Keluarga senang, klub percaya sama kita, uang aman, mimpi ada di depan mata," kata Rio pelan.
Dika mengangguk, matanya menatap tajam ke arah lapangan latihan yang luas di bawah sana. Senyum percaya diri terukir di bibirnya.
"Iya, Rio. Sekarang tinggal satu tugas terakhir... Menguasai lapangan ini. Besok pagi, latihan pertama kita bersama tim. Biar mereka lihat, apa itu kekuatan anak Sidoarjo. Biar mereka lihat, apa arti Kapten dan Temboknya."
Di kamar itu, di tengah malam dingin Inggris, dua pemuda perkasa itu bersiap tidur dengan hati yang paling tenang dan penuh semangat. Di satu sisi dunia, keluarga mereka berdoa bahagia. Di sisi lain dunia, jutaan orang masih bertanya-tanya siapa sosok di balik suara emas itu. Dan di sini, di Manchester, legenda baru sedang bersiap melangkah keluar dari bayang-bayang, menuju cahaya kemenangan yang gemilang.