NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Suasana pesta masih berlangsung meriah, namun bagi Alex dan Aulia, malam itu terasa seperti medan perang yang terselubung. Setelah kejadian di lantai dua berhasil diredam tanpa menimbulkan keributan, Alex kembali berdiri di samping Aulia, tangannya tak pernah lepas dari pinggang wanita itu seolah ingin menegaskan pada seluruh hadirin terutama Ramon Salazar bahwa Aulia adalah miliknya, dan tak seorang pun boleh mendekat dengan niat buruk.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat mereka sedang mengobrol santai dengan beberapa pengusaha lain, seorang wanita berpakaian sangat mewah dan berpenampilan memukau tiba-tiba melangkah menghampiri. Ia adalah Isabella Voss, pengusaha muda yang cukup dikenal di lingkaran bisnis kota itu, yang juga pernah memiliki hubungan kerja sama dengan Alex beberapa tahun lalu.

“Alex! Lama sekali tidak bertemu,” sapa Isabella dengan nada lembut dan penuh keakraban, lalu tanpa ragu langsung menyentuh lengan Alex seolah sudah sangat akrab.

Senyum di wajah Alex sedikit mengeras, namun ia tetap bersikap sopan sesuai situasi. “Isabella. Ya, sudah cukup lama.”

Perhatian Aulia seketika tertuju pada gerakan wanita itu. Ia merasa tidak nyaman melihat cara Isabella menatap Alex, tatapan yang jelas menyimpan rasa lebih dari sekadar kenalan lama. Meski berusaha bersikap tenang dan menjaga wibawa, rasa tidak enak di hati perlahan tumbuh rasa cemburu yang halus namun cukup terasa.

“Kabarnya kau kini sedang memimpin proyek besar dan bahkan sudah memiliki pendamping hidup,” lanjut Isabella, matanya kini beralih menatap Aulia dari atas ke bawah dengan pandangan yang menyelidik, sedikit meremehkan namun tersembunyi di balik senyum sopan. “Jadi, ini dia wanita yang berhasil menarik perhatian Alex sampai ia berubah sepenuhnya.”

Aulia mengangkat dagunya sedikit, menatap balik dengan tatapan tenang namun tegas. “Saya Aulia. Senang bertemu dengan Anda, Nona Isabella.”

“Isabella ini pernah menjadi mitra kerjaku beberapa waktu lalu,” jelas Alex singkat, berusaha meredakan suasana, namun tangannya justru meremas pinggang Aulia lebih erat sebagai bentuk dukungan.

Namun, Isabella tidak berniat mundur begitu saja. Ia melanjutkan percakapan dengan memanggil nama Alex secara akrab, menceritakan kenangan kerja sama mereka seolah ingin menunjukkan bahwa ia mengenal sisi Alex yang tidak diketahui Aulia. Semakin lama ia berbicara, semakin terasa bahwa ia ingin membuat Aulia merasa tersisih.

Di dalam hati Aulia, rasa cemburu itu perlahan berubah menjadi rasa tidak percaya diri sesaat, namun segera ia sadar bahwa ia tidak boleh terlihat lemah. Ia adalah pendamping Alex, bukan tamu yang hanya bisa diam.

“Menarik sekali mendengarnya,” sela Aulia dengan nada halus namun jelas terdengar. “Tapi sepertinya Anda belum tahu bahwa dunia Alex kini sudah berubah. Cara kerja, prioritas, dan orang-orang yang dipercayainya juga sudah berbeda. Masa lalu memang berharga, tapi yang membangun masa depan adalah apa yang kita lakukan hari ini, bukan apa yang sudah berlalu.”

Kata-kata itu membuat Isabella terdiam sesaat, wajahnya sedikit memerah karena tidak menyangka wanita muda itu bisa menjawab dengan begitu cerdas dan tenang. Alex yang mendengarnya justru merasa bangga, namun di sisi lain ia juga sadar bahwa Aulia sedang merasa tidak nyaman.

“Maaf, Isabella, kami masih harus menyapa tamu lain,” ucap Alex segera, lalu tanpa menunggu jawaban menarik tangan Aulia pergi menjauh dari tempat itu.

Begitu mereka berada di sudut ruangan yang lebih sepi, Alex menoleh dan melihat ekspresi wajah Aulia yang terlihat sedikit dingin dan tertutup. Ia segera mengerti apa yang sedang dirasakan wanita itu.

“Kau cemburu?” tanya Alex lembut, suaranya rendah hanya untuk didengar berdua.

Aulia memalingkan wajah sebentar, berusaha menyembunyikan perasaannya, namun akhirnya menghela napas panjang dan mengaku jujur. “Mungkin sedikit. Melihatnya begitu akrab, dan cara dia menatapmu… aku tidak suka rasanya. Aku tahu aku tidak seberpengalaman dia di dunia ini, dan kadang aku bertanya-tanya apakah aku cukup baik untuk menemanimu di jalur yang berat ini.”

Mendengar pengakuan itu, hati Alex terasa terenyuh. Ia memegang kedua bahu Aulia, memutar tubuhnya hingga berhadapan sepenuhnya, lalu menatap matanya dalam-dalam dengan tatapan yang begitu tulus dan penuh cinta.

“Dengarkan aku baik-baik, Aulia,” ucapnya dengan nada tegas namun lembut. “Isabella hanyalah bagian dari masa lalu, tidak lebih. Ia mengenal Alex sebagai pengusaha dan pemimpin, tapi ia tidak pernah mengenal Alex yang sebenarnya pria yang lelah, yang kesepian, yang selama ini hanya bertahan hidup tanpa tahu tujuan. Hanya kaulah yang melihat sisi lemahku, hanya kaulah yang membuatku ingin membangun rumah tangga yang tenang di tengah kekacauan ini. Jangan pernah merasa kurang, karena bagiku, kaulah satu-satunya yang paling sempurna.”

Kata-kata itu menembus keraguan di hati Aulia. Ia menatap balik mata Alex, merasakan ketulusan yang membuat rasa cemburunya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa aman dan cinta yang semakin dalam. Ia mengangguk pelan, lalu menyandarkan dahinya di dada Alex.

“Maafkan aku. Aku hanya takut ada yang bisa menggantikan posisiku di hatimu,” bisiknya.

Alex mencium ubun-ubunnya dengan lembut. “Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu. Posisi itu sudah kau miliki sejak hari pertama aku membelimu seharga satu miliar, dan sampai kapan pun tidak akan berubah.”

Namun, momen kehangatan itu terputus saat Rio kembali mendekat dengan wajah yang lebih serius dari sebelumnya. Ia membawa laporan terbaru yang membuat suasana hati Alex kembali berubah menjadi dingin dan waspada.

“Bos, ada kabar tambahan. Ponsel dan perangkat komunikasi ketiga orang yang kita tangkap tadi sudah kita periksa. Kami menemukan pesan terenkripsi yang dikirim ke nomor asing, tapi berkat sistem pelacakan yang kita miliki, lokasi pengirimnya terhubung langsung ke kantor pusat Ramon Salazar. Bahkan ada catatan transfer uang dalam jumlah besar yang masuk ke rekening mereka sore ini,” lapor Rio sambil menyerahkan selembar kertas hasil analisis data.

Mata Alex menyipit tajam, amarahnya kembali membara namun kali ini ia mampu menahannya dengan lebih tenang, mengubahnya menjadi perhitungan yang matang. “Jadi dia benar-benar tidak berusaha menyembunyikan jejaknya dengan baik. Ia terlalu percaya diri mengira ia bisa lolos begitu saja.”

“Artinya kita punya bukti kuat untuk menjeratnya, bukan?” tanya Aulia yang sudah mengikuti percakapan itu dengan saksama.

“Tepat sekali,” jawab Alex sambil melipat tangannya di dada. “Tapi kita tidak akan menjatuhkannya dengan cara biasa. Itu terlalu mudah dan terlalu cepat. Dia ingin bermain di dunia bisnis, mencuri kontrak, mempermalukan nama baikku, dan bahkan mengancam keselamatanmu. Maka aku akan menghancurkannya di dua medan sekaligus di dunia bisnis hingga ia bangkrut, dan di dunia gelap hingga ia tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi.”

Rencana itu mulai terbentuk di kepalanya. Ia mengatur strategi dengan cepat: menggunakan bukti aliran dana itu untuk membocorkan informasi ke lembaga pengawas keuangan, sekaligus menggerakkan jaringan bawah tanahnya untuk memotong jalur pasokan dan mitra bisnis Ramon satu per satu.

“Kita juga harus memperkuat keamanan di vila dan kampus tempat Aulia belajar,” tambah Alex pada Rio. “Selama perang ini belum selesai, dia tidak boleh berjalan sendirian ke mana pun. Dia adalah titik lemah terbesarku, dan itu juga yang akan terus menjadi sasaran Ramon.”

Mendengar itu, Aulia tidak merasa terbebani, justru merasa semakin dihargai. “Aku mengerti. Aku akan tetap beraktivitas seperti biasa agar dia tidak curiga kita sudah mengetahui rencananya, tapi aku akan berhati-hati dan mengikuti semua aturan keamanan yang kau tetapkan.”

Malam semakin larut, dan pesta perlahan mulai berakhir. Alex dan Aulia pulang ke vila dengan mobil yang dikawal ketat oleh tim pengawalnya. Begitu sampai di dalam rumah, suasana berubah menjadi lebih tenang dan hangat, jauh berbeda dari ketegangan di luar sana. Ini adalah dunia mereka sendiri rumah tangga yang sederhana namun penuh makna di tengah kehidupan yang berbahaya.

Aulia mengganti pakaiannya dan menyiapkan teh hangat untuk mereka berdua, sementara Alex melepas jasnya dan duduk di ruang tengah, memijat pelipisnya yang terasa tegang karena terlalu banyak berpikir. Aulia mendekat, duduk di sampingnya, lalu mulai memijat bahu dan punggung Alex dengan lembut.

“Bersantailah sejenak. Di sini tidak ada bos, tidak ada musuh, tidak ada bisnis. Hanya ada kita berdua,” ucap Aulia lembut.

Alex memejamkan matanya, merasakan kehangatan tangan wanita itu yang mampu menghilangkan semua beban di pundaknya. Ia memegang tangan Aulia dan menariknya masuk ke dalam pelukan, membiarkan dirinya menjadi lemah hanya di hadapannya.

“Terima kasih, Aulia. Tanpa kehadiranmu, hidupku hanya akan terus berputar dalam kekerasan dan kesepian selamanya,” bisiknya.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba telepon genggam Rio berdering keras, memecah keheningan malam. Rio segera mengangkatnya, dan seiring ia mendengarkan suara dari seberang sana, wajahnya semakin memucat tegang.

Ia segera menutup telepon dan menoleh ke arah Alex dengan napas yang sedikit terengah.

“Bos… ada kabar buruk. Tim pengawas melaporkan bahwa rumah produksi film yang kita gunakan untuk menyimpan alat dan materi syuting utama baru saja mengalami kebakaran hebat. Api menyebar dengan sangat cepat, dan diduga kuat ada unsur pembakaran yang disengaja. Lebih parahnya lagi… ada saksi yang melihat mobil milik rombongan Ramon terlihat meninggalkan lokasi tak lama sebelum api mulai menyala.”

Berita itu seperti petir di siang bolong. Wajah Alex seketika berubah dingin dan mengerikan, matanya menyala dengan amarah yang meledak hampir tak tertahankan. Ia berdiri tegak, urat-urat di lehernya menonjol, suaranya terdengar rendah namun mengandung ancaman yang mematikan.

“Dia berani melukai hal yang menjadi jiwa proyek kita, hal yang juga Aulia kerjakan dengan sepenuh hati… dia benar-benar sudah melampaui batas kesabaranku.”

Aulia tertegun mendengar kabar itu, hatinya berdebar kencang bukan hanya karena marah, tapi karena ia tahu ini adalah tanda bahwa Ramon sudah tidak segan lagi menggunakan cara yang paling kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!