NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangkan di Balik Kontrak

Pagi di Beverly Hills menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus celah pepohonan palem, namun ketenangan permukaan itu tidak sepenuhnya menghapus sisa ketegangan dari malam sebelumnya. Di ruang kerja utama vila, meja besar dari kayu jati hitam telah tertata rapi dengan dokumen-dokumen tebal, pena emas, dan dua cangkir kopi yang masih mengepul. Alex duduk dengan punggung tegak, matanya meneliti setiap baris draf perjanjian kerja sama yang dikirimkan tim Victor Hale semalam. Di sampingnya, Aulia juga sibuk memeriksa bagian yang berkaitan dengan hak cipta desain dan kendali proses kreatif hal yang tidak boleh ia lewatkan sedikit pun.

“Mereka mencoba menyelipkan klausul tersembunyi,” gumam Alex tiba-tiba, jarinya menunjuk sebuah paragraf kecil di halaman belakang. “Jika kita tanda tangan, studio berhak mengubah seluruh desain tanpa persetujuan kita, dan kita hanya akan mendapatkan persentase kecil dari keuntungan penjualan produk turunan. Victor memang licik, dia tidak menyerah begitu saja meski sudah takut.”

Aulia mengerutkan kening, lalu membaca bagian itu dengan teliti. “Ini tidak adil. Aku menghabiskan berhari-hari memikirkan konsepnya, memadukan budaya Timur dengan estetika modern. Jika mereka bisa mengubahnya sesuka hati, maka kerja kerasku tidak ada artinya.”

Alex menoleh, menatap wanita itu dengan sorot mata yang melembut namun tetap tegas. “Karena itulah kita di sini. Kita tidak datang hanya untuk menyetor uang kita datang untuk membangun sesuatu yang bernilai, dan memastikan tidak ada yang bisa memanfaatkannya. Kita akan mengubah syarat ini sepenuhnya sebelum penandatanganan.”

Belum sempat mereka membahas lebih jauh, pintu ruangan diketuk pelan. Rio masuk dengan wajah serius, membawa sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah ponsel.

“Bos, ada kabar penting,” ucapnya sambil meletakkan barang-barang itu di atas meja. “Pertama, hasil penyelidikan Javier. Pemimpin kartel yang ditangkap kemarin ternyata hanya anak buah tingkat bawah. Dia mengaku diperintah oleh seseorang yang lebih tinggi, tapi tidak mau menyebutkan nama takut nyawanya dihabisi. Kedua, ada orang yang mengirim ini ke gerbang utama tanpa meninggalkan jejak.”

Alex membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat foto-foto, foto dirinya dan Aulia saat turun dari pesawat, saat makan malam di restoran mewah, bahkan foto yang diambil dari kejauhan saat mereka berada di gudang kemarin malam. Bersama foto itu ada selembar kertas bertuliskan tangan dengan huruf tebal dan mengancam: “Berhenti ikut campur atau rahasia gelapmu akan terungkap ke seluruh dunia.”

Wajah Alex berubah dingin seketika, suhu ruangan seolah turun beberapa derajat. Ia mengenali ancaman itu bukan dari kartel biasa, melainkan dari seseorang yang mengetahui latar belakangnya, seseorang yang mungkin memiliki dendam lama atau ingin menjatuhkan kekuasaan Surya Corp.

“Ada yang mengawasi kita lebih dekat dari yang kita kira,” ucap Alex pelan namun penuh amarah yang tertahan. “Mereka tahu siapa aku, dan mereka tahu apa yang bisa melukai aku.”

Aulia meraih foto-foto itu, matanya meneliti satu per satu. Ia tidak terlihat takut, hanya waspada. “Mereka mengira dengan mengancam rahasia masa lalumu, kau akan mundur. Tapi mereka salah, bukan?”

Alex menatapnya, lalu tersenyum tipis senyum yang menunjukkan kebanggaan sekaligus tekad. “Benar. Mereka tidak tahu bahwa sekarang aku punya alasan untuk tidak hanya bertahan, tapi juga memperkuat pertahanan. Siapa pun itu, aku akan menemukan mereka.”

Dua jam kemudian, mereka tiba kembali di gedung studio film. Suasana di ruang pertemuan kali ini terasa berbeda. Victor Hale dan timnya sudah menunggu, namun wajah mereka tampak sedikit tegang, seolah sudah menduga ada perubahan dalam perjanjian.

“Selamat pagi,” sapa Victor sopan namun waspada. “Apakah Anda sudah meninjau draf perjanjiannya?”

Alex duduk santai, lalu mendorong dokumen yang sudah diberi tanda merah di beberapa bagian ke arah Victor. “Sudah. Dan kami menemukan beberapa hal yang perlu diperbaiki secara mendasar.”

Victor membuka dokumen itu, dan senyumnya perlahan memudar saat melihat klausul-klausul yang ia selipkan sudah dicoret dan diganti dengan syarat yang jauh lebih menguntungkan bagi pihak Alex.

“Tuan Alex, ini… ini sangat tidak wajar,” protes salah satu pengacara Victor. “Kami yang sudah berdiri di industri ini puluhan tahun, tidak mungkin kami melepaskan kendali besar seperti ini.”

“Industri ini berubah, Tuan,” sahut Alex dengan nada datar namun berwibawa. “Dan uang serta visi yang kami bawa adalah hal yang tidak Anda miliki. Jika Anda ingin kerja sama ini berjalan, maka Anda harus siap untuk berbagi kekuasaan dengan adil. Atau, kami bisa mencari studio lain yang lebih menghargai kontribusi kami. Di Los Angeles, masih banyak yang mengantre untuk bekerja sama dengan Surya Corp.”

Victor terdiam. Ia tahu ancaman Alex bukanlah omong kosong. Jika kesempatan ini lepas, modal besar yang dibutuhkan untuk memproduksi film berskala internasional akan hilang begitu saja. Namun sebelum ia sempat memutuskan, Aulia berbicara dengan suara tenang namun meyakinkan.

“Tuan Hale, saya mengerti Anda khawatir dengan perubahan,” katanya sambil menyebarkan sketsa desain dan rencana pemasaran di atas meja. “Tapi lihatlah ini. Desain kostum dan latar yang saya buat tidak hanya indah dipandang, tapi juga memiliki nilai jual yang tinggi. Kita bisa menjualnya sebagai barang koleksi, membuat pameran, bahkan mengembangkan lini pakaian. Ini akan membuka aliran pendapatan baru yang jauh lebih besar daripada sekadar pendapatan tiket bioskop. Ini bukan soal siapa yang memerintah, tapi bagaimana kita sama-sama mendapatkan keuntungan maksimal.”

Penjelasan Aulia membuat para eksekutif mulai terlihat tertarik. Bahkan Victor pun mulai mempertimbangkan kembali. Namun di tengah diskusi yang mulai memanas, pintu ruangan terbuka paksa. Seorang pria berpakaian rapi namun dengan tatapan tajam masuk, diikuti dua orang pengawal yang tampak sangat terlatih. Suasana langsung berubah menjadi tegang.

“Maaf mengganggu,” ucap pria itu dengan nada sombong. “Saya Carter Vance, mitra bisnis lama Tuan Hale. Saya mendengar ada investasi baru yang masuk, dan saya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai aturan.”

Alex menatap pria itu dari atas ke bawah, merasakan getaran bahaya yang sama seperti saat menerima surat ancaman pagi tadi. Ada sesuatu yang tidak beres dengan pria ini caranya berdiri, cara ia berbicara, bahkan pandangan matanya yang sesekali melirik ke arah Aulia dengan tatapan yang tidak menyenangkan.

“Aturan apa yang Anda maksud?” tanya Alex dingin. “Saya tidak melihat nama Anda tercantum dalam daftar pihak yang terlibat dalam perjanjian ini.”

Carter tersenyum miring. “Aturan yang tidak tertulis, Tuan Alex. Aturan tentang siapa yang boleh menguasai jalur bisnis di kota ini. Beberapa orang mengatakan Anda terlalu berani masuk tanpa izin. Dan wanita muda di samping Anda… sepertinya dia terlalu terlibat dalam urusan yang bukan ranjangnya.”

Ucapan itu jelas merupakan tantangan sekaligus penghinaan. Rahang Alex mengeras, dan tangannya mengepal di bawah meja. Namun sebelum ia bereaksi, Aulia menatap Carter dengan tatapan tajam dan tidak gentar.

“Ranah saya adalah kreativitas dan bisnis, Tuan Vance,” jawabnya tegas. “Dan jika Anda tidak memiliki kontribusi apa pun selain mengeluarkan kata-kata kasar, sebaiknya Anda duduk diam atau keluar dari ruangan ini.”

Wajah Carter memerah karena malu dan marah. “Berani sekali wanita ini bicara padaku. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan”

Belum selesai ia berbicara, Rio dan dua pengawal Alex sudah melangkah maju, berdiri di depan Alex dan Aulia dengan sikap siap siaga. Suasana menjadi panas, seolah bisa meledak kapan saja. Victor buru-buru berdiri di tengah, berusaha meredakan ketegangan.

“Tenanglah, semuanya! Kita di sini untuk berbisnis, bukan berkelahi!” seru Victor. “Carter, tolong tinggalkan kami sebentar. Kita akan membahas ini nanti.”

Carter menatap Alex dengan pandangan mematikan, lalu berbisik pelan namun cukup terdengar: “Ini belum selesai.” Setelah itu, ia berbalik dan pergi diikuti anak buahnya.

Setelah pintu tertutup, Alex menghela napas pelan, lalu menatap Victor. “Sepertinya ada hal yang tidak Anda ceritakan tentang mitra Anda itu, Tuan Hale.”

Victor tampak gugup. “Carter… dia memiliki koneksi yang luas. Dia berurusan dengan berbagai hal, termasuk keamanan dan pemasaran. Tapi dia tidak sepenuhnya mengendalikan studio ini. Saya jamin dia tidak akan mengganggu lagi.”

Alex tidak percaya sepenuhnya, namun ia memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan. “Baiklah. Kita akan menandatangani kontrak dengan syarat yang telah kita sepakati. Dan satu hal lagi: jika ada orang yang mencoba mengganggu pekerjaan kami baik itu Carter, kartel, atau siapa pun maka kerja sama ini berakhir, dan saya akan memastikan tidak ada satu pun studio di kota ini yang mau bekerja sama dengan Anda lagi. Apakah jelas?”

Victor mengangguk cepat. “Jelas, sangat jelas.”

Penandatanganan pun akhirnya dilakukan. Saat dokumen diserahkan, Alex merasa beban kecil terangkat, namun ia tahu ini baru permulaan. Carter Vance adalah ancaman nyata, dan kemungkinan besar dialah yang berada di balik surat ancaman serta kerja sama dengan kartel.

Sore harinya, saat mereka kembali ke vila, Alex memerintahkan seluruh pengawalan diperketat dua kali lipat. Javier dikirim untuk menyelidiki latar belakang Carter Vance secara mendalam setiap transaksi, setiap kenalan, setiap rahasia yang dimilikinya.

Aulia berdiri di balkon, memandang ke arah kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Alex mendekat dan berdiri di sampingnya, lalu melingkarkan lengan di pinggangnya dengan lembut namun erat.

“Kau tidak takut, ya?” tanyanya pelan.

Aulia menoleh, menatap matanya. “Takut itu wajar, tapi aku lebih takut jika kita mundur dan membiarkan mereka berbuat semena-mena. Aku tidak mau kembali menjadi orang yang hanya bisa diam dan menunggu keputusan orang lain.”

Alex tersenyum, lalu mencium keningnya. “Kau membuatku semakin kagum setiap harinya. Tapi berjanjilah padaku, apa pun yang terjadi, kau tidak akan memisahkan diri dariku. Dunia ini terlalu berbahaya untuk dihadapi sendirian.”

Aulia mengangguk, lalu memeluk pinggangnya erat. “Aku janji. Kita hadapi semuanya bersama.”

Di kejauhan, di balik gedung tinggi, sosok Carter Vance mengamati vila itu dari kejauhan melalui teropong. Di sampingnya berdiri seorang pria yang merupakan wakil kartel.

“Mereka keras kepala,” gumam Carter. “Tapi itu tidak masalah. Jika mereka tidak mau pergi dengan damai, maka kita akan gunakan cara lain. Rahasia masa lalu Alex Surya adalah senjata terkuat kita. Dan jika itu tidak cukup… wanita itu bisa menjadi umpan yang sempurna.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!