Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kanaya menatap Arkana tanpa berkedip. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena marah semata, melainkan karena rasa sakit yang terlalu besar untuk ditanggung seorang diri.
Selama ini Kanaya percaya bahwa pernikahan mereka memang sederhana, tetapi penuh ketulusan. Ia menerima semua keterbatasan yang ada karena percaya kepada pria di hadapannya. Ia bahkan tidak pernah mempermasalahkan status pernikahan siri yang mereka jalani. Baginya, selama Arkana mencintainya, selama mereka saling menjaga, itu sudah lebih dari cukup. Namun, kini semua keyakinan itu hancur dalam sekejap.
"Aya, dengarkan aku dulu," pinta Arkana dengan wajah pucat. Langkahnya maju perlahan, seolah takut sedikit gerakan saja akan membuat Kanaya semakin menjauh.
Kanaya tertawa lirih. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Mendengarkan apa lagi, Mas?" tanyanya dengan suara bergetar. "Apa masih ada kebohongan lain yang belum aku ketahui?"
"Bukan seperti itu."
"Lalu seperti apa?" Kanaya mengangkat wajahnya. Matanya yang basah menatap Arkana penuh luka. "Apa aku harus berterima kasih karena sudah membantu kamu memenangkan taruhan?"
"Aya ...."
"Atau aku harus merasa terhormat karena ternyata aku hanya bagian dari permainan kalian?" lanjut Kanaya dengan suara bergetar.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Kanaya terasa seperti pisau yang menusuk dada Arkana berkali-kali. Ia ingin menyangkal semuanya karena kenyatanya perasaan itu sudah berubah. Ingin menjelaskan bahwa taruhan itu sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Akan tetapi, ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa semua memang berawal dari taruhan. Dan kenyataan itulah yang menghancurkan wanita yang dicintainya.
"Aku memang salah," ucap Arkana dengan suara serak. "Aku mengakuinya. Aku benar-benar salah. Tapi perasaanku sekarang tidak bohong."
Kanaya menggeleng pelan. "Terlambat, Mas."
Dua kata itu membuat napas Arkana tercekat. "Tidak ada yang terlambat. Aku mencintaimu, Aya."
Kanaya memejamkan mata sesaat. Semakin ia mendengar pengakuan cinta itu, semakin sakit pula hatinya. Dulu kata-kata itu selalu mampu membuatnya tersenyum bahagia. Namun, sekarang kata-kata yang sama justru terasa seperti hinaan.
"Cinta?" bisik Kanaya lirih. "Kamu menyebut ini cinta?"
Arkana menatapnya putus asa. "Aku benar-benar mencintaimu."
"Kalau memang cinta, kenapa kamu menjadikanku taruhan?"
Arkana terdiam. Tidak ada jawaban ataupun pembelaan untuk dirinya. Karena tidak ada alasan yang cukup untuk membenarkan kesalahan yang sudah dibuatnya.
Air mata Kanaya kembali jatuh. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. "Aku percaya sama kamu, Mas."
Suara perempuan itu perlahan pecah. Tangisnya semakin menjadi.
"Aku percaya ketika kamu bilang mencintaiku. Aku percaya ketika kamu bilang ingin menghabiskan hidup bersamaku."
Arkana menunduk. Dadanya terasa diremas-remas oleh rasa bersalah yang luar biasa.
"Aku bahkan percaya ketika kamu memintaku menikah secara siri." Kanaya tersenyum pahit. "Ternyata aku cuma perempuan bodoh."
"Bukan begitu, Aya."
"Kalau bukan begitu, lalu apa?"
Arkana mengulurkan tangan hendak menggenggam jemari Kanaya. Namun, perempuan itu mundur satu langkah.
Gerakan sederhana yang membuat hati Arkana runtuh. Kanaya menghindari sentuhannya dan memandangnya seperti orang asing.
Mata Arkana memerah. "Aya, aku mohon!"
Kanaya menggeleng pelan. Kemudian pandangannya beralih ke layar laptop yang masih menyala.
Di sana Raditya, Sadewa, dan Bimantara hanya bisa diam membeku. Tidak ada lagi senyum ataupun tawa di wajah mereka. Ketiganya mulai menyadari bahwa permainan yang mereka anggap lucu telah menghancurkan kehidupan seseorang.
Kanaya kembali menatap Arkana. "Jadi setelah menang taruhan ini, kamu mau menceraikanku?"
"Tidak!" Jawaban itu keluar begitu cepat dari mulut Arkana. "Tidak, Aya. Aku tidak pernah berniat melakukannya."
"Tapi tadi temanmu bilang begitu."
"Itu dulu."
"Bedanya apa?"
"Aku sudah berubah."
Kanaya tersenyum pahit. "Tapi kenyataannya tidak berubah, Mas."
Arkana merasa jantungnya berdegup tidak karuan. "Aya ...."
"Kamu mendekatiku karena taruhan."
Arkana terdiam.
"Kamu menjalin hubungan denganku karena taruhan."
Arkana menutup mata.
"Kamu menikahiku karena taruhan." Air mata Kanaya jatuh semakin deras.
"Lalu sekarang kamu bilang mencintaiku. Bagaimana aku bisa percaya?" Suara perempuan itu pecah di akhir kalimat.
Arkana ingin memeluknya, lalu menghapus air mata itu. Ingin memutar waktu dan menghancurkan hari ketika taruhan tersebut dibuat. Namun, semua sudah terlambat.
"Tolong maafkan aku."
Kanaya menggeleng. "Bukan aku yang perlu memaafkan, Mas."
"Aya..."
"Aku hanya menyesali satu hal."
Arkana menggelengkan kepalanya perlahan.
Kanaya menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku menyesal pernah mencintaimu sebesar ini."
Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan Arkana. Pria itu spontan meraih tangan Kanaya.
"Aya, jangan seperti ini!"
Kanaya langsung menarik tangannya. Tatapannya kosong. Seolah seluruh cinta yang dulu memenuhi hatinya telah mati dalam satu sore yang menyakitkan itu. Kemudian perempuan itu menghela napas panjang.
"Apa kamu tahu kalau ucapanmu tadi sudah menjatuhkan talak kepadaku, Mas?"
Tubuh Arkana membeku. Wajahnya kehilangan warna. "Apa?"
"Kamu bilang akan menceraikanku setelah menang taruhan."
"Itu bukan maksudku."
"Tapi ucapan tetaplah ucapan."
Arkana menggeleng berkali-kali. "Tidak. Tidak, Aya."
Air mata mulai memenuhi kedua mata Arkana.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan kehilangan perempuan yang dicintainya.
"Itu berarti mulai saat ini kita sudah bukan siapa-siapa lagi."
Kalimat itu membuat dunia Arkana terasa runtuh. "Aya, jangan."
"Selamat tinggal, Mas. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi." Kanaya tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
"Aya!" Arkana langsung mengejarnya.
Namun Kanaya terus berjalan.
"Aya, jangan pergi!"
Tangis Arkana akhirnya pecah. Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya. Tidak peduli pada siapapun yang melihat saat dirinya hancur. Yang ia tahu hanya satu, tidak ingin kehilangan Kanaya.
"Aya!"
Namun perempuan itu tidak menoleh sekali pun. Dan untuk pertama kalinya Arkana memahami bagaimana rasanya menyaksikan seseorang membawa pergi seluruh kebahagiaan dalam hidupnya.
"KANAYA!"
Arkana tiba-tiba terbangun dengan napas memburu. Dadanya naik turun hebat. Keringat dingin membasahi pelipis hingga lehernya. Beberapa saat ia hanya duduk diam sambil menatap kosong ke depan.
Mimpi itu lagi. Lagi dan lagi. Selama lima tahun terakhir, mimpi itu tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Setiap detailnya masih sama. Tangisan Kanaya. Tatapan kecewa Kanaya. Dan punggung perempuan itu yang semakin menjauh darinya.
Arkana mengusap wajahnya kasar. Rasa sesak yang sama kembali memenuhi dadanya.
Arkana baru menyadari bahwa dirinya masih berada di ruang kerja perusahaan. Lampu ruangan masih menyala. Beberapa dokumen masih berserakan di meja.
Tanpa berkata apa-apa, Arkana bangkit dari sofa lalu mengambil gelas berisi air yang tersisa setengah. Air itu langsung dihabiskannya dalam satu tegukan. Rasa haus di tenggorokannya memang hilang. Sementara rasa rindu di hatinya tetap tinggal.
"Kanaya ...."
Namanya keluar begitu pelan. Seperti doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan selama lima tahun.
"Kamu di mana?" Pertanyaan itu kembali menggantung tanpa jawaban.
Sudah lima tahun sejak Kanaya menghilang dari hidupnya. Selama itu pula wanita itu pergi tanpa meninggalkan jejak. Lalu, selama lima tahun penyesalan Arkana tidak pernah berakhir.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Arkana akan Kanaya.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Sadewa masuk sambil membawa beberapa berkas. Namun begitu melihat wajah Arkana, langkahnya langsung terhenti.
"Kamu mimpi itu lagi?"
Arkana tidak menjawab. Tatapannya saja sudah cukup menjadi jawaban.
Sadewa menghela napas panjang lalu duduk di sofa. "Sudah lima tahun, ya."
Arkana ikut duduk. Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding usianya yang sebenarnya. Bukan karena umur, melainkan karena penyesalan.
"Apa masih belum ada kabar?" tanya Sadewa hati-hati.
Arkana menggeleng pelan.
Selama lima tahun terakhir, ia sudah melakukan segala cara. Ia menyewa detektif. Mengirim orang ke berbagai kota. Memasang iklan pencarian. Menyebarkan informasi ke seluruh relasi bisnisnya. Bahkan setiap ada wanita yang sekilas mirip Kanaya, ia selalu berharap itu benar-benar dirinya. Namun, hasilnya nihil. Kanaya menghilang seolah ditelan bumi.
Kadang Arkana bertanya-tanya bagaimana kehidupan perempuan itu sekarang. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bahagia? Apakah dia sudah menikah lagi? Atau... apakah dia masih membencinya? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantuinya setiap hari.
Sadewa menatap sahabatnya dengan rasa iba.
Selama lima tahun terakhir ia menyaksikan sendiri bagaimana Arkana menghukum dirinya sendiri.
Pria itu tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tidak pernah membuka hati. Tidak pernah benar-benar bahagia hidupnya. Karena sebagian hidupnya ikut pergi bersama Kanaya.
Sadewa menghela napas panjang. "Jangan-jangan Kanaya sudah ma—"
siapa ya yg Dateng 🤔
bunda masih sulit
anak umur 4 thn udah ngerti kata2 orang dewasa
Kemarin cemburu, sekarang romantis
hayooo siapa mentornya Ay???😃
kayanya akan ada konspirasi si kembar iniiii 😃😆😆😆😆
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃