NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Divisi Legendaris

Langkah kaki Zhao Fei mulai terdengar kala memasuki ruangan luas milik Tetua Utama. Ruangan itu dipenuhi oleh aroma kertas tua dan kayu cendana yang menjadi bahan dasar mayoritas perabotan di sana, langsung menciptakan atmosfer yang sangat berwibawa. Sesampainya di dalam, seorang pelayan dengan pakaian yang rapi segera menyambut kedatangannya dengan senyuman sopan.

“Silakan duduk, Tetua Utama sedang menyelesaikan urusan penting di aula sebelah. Beliau meminta Anda untuk bersabar menunggu beberapa waktu,” kata pelayan itu sembari mengulurkan tangan ke arah sebuah kursi.

Zhao Fei tidak merasa keberatan sama sekali dan segera menuju kursi itu, lalu menurunkan tubuhnya dengan perlahan. Ini adalah kunjungan keduanya ke ruangan ini, tempat yang menjadi saksi bagaimana takdir hidupnya mulai diatur kembali di lingkungan internal sekte.

Pikirannya mendadak menjadi sangat sibuk, dipenuhi oleh spekulasi mengenai alasan di balik panggilan mendadak ini. Bilamana sang Tetua Utama kembali membahas perihal rencana perjodohan dengan Liu Xue, dia menyadari bahwa dirinya belum memiliki sebuah jawaban yang dirasa layak.

Alhasil dirinya terus memutar otak, mencari rangkaian kalimat yang tepat untuk menyampaikan penolakan halus tanpa perlu menyinggung martabat sang pemimpin tertinggi sekte. Semua karena urusan asmara adalah sesuatu yang paling dia hindari saat ini, mengingat fokus utamanya hanya ditujukan pada peningkatan kultivasi raga serta pembalasan dendam masa lalu.

Pintu utama tiba-tiba terbuka, diikuti Liu Xue yang masuk ke dalam ruangan dengan keanggunan yang khas, mengenakan jubah putih bersih tanpa ada noda kotoran sedikit pun pada kainnya.

Gadis itu berjalan melewati posisi duduk Zhao Fei, melangkah lurus menuju ke arah deretan rak gulungan yang berjejer di sisi ruangan. Tanpa memalingkan wajahnya untuk menoleh, dia berbicara dengan datar, “Kau diperbolehkan untuk membaca beberapa gulungan atau buku-buku kuno di rak itu jika merasa bosan. Asalkan jangan sekali-kali menyentuh lembaran yang berada di atas meja kerja kakekku.”

Zhao Fei segera bangkit berdiri dari posisinya demi mendekati rak kayu besar itu, memilih selembar gulungan secara acak, lalu kembali mengambil posisi duduk di kursinya semula.

Ketika dia membuka gulungan kulit itu, untaian aksara kuno segera menyapa pandangannya. Lembaran itu ternyata memuat catatan mengenai sejarah panjang berdirinya Sekte Garuda Putih, sebuah informasi yang cukup menarik untuk menambah wawasan pengetahuannya.

Sementara itu, Liu Xue tampak begitu sibuk menata kembali tumpukan gulungan yang terlihat berantakan di sudut rak. Beberapa dokumen penting tampaknya harus diletakkan pada bagian rak paling atas, sebuah posisi yang terbilang terlalu tinggi untuk dijangkau olehnya.

Melihat kesulitan yang dialami oleh gadis itu, Zhao Fei bangkit dan mendekat. “Biar aku bantu sedikit.”

“Tidak perlu repot-repot, aku sudah biasa melakukannya sendiri,” balas Liu Xue secara instan, mencoba mempertahankan kemandiriannya. Namun, dia tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan gerakan tangan Zhao Fei yang telah meraih gulungan-gulungan itu, lalu menyusunnya kembali pada posisi yang benar dengan sangat rapi.

Setelah semua dokumen tertata pada tempatnya, Liu Xue berbalik dan mengambil posisi duduk di sebuah kursi yang terletak tepat di seberang Zhao Fei.

“Aku juga diperintahkan oleh Kakek untuk menunggu di ruangan ini. Tampaknya kita berdua mendapatkan tugas yang sama hari ini,” ujar Liu Xue, menatap lurus ke arah pemuda di hadapannya.

Zhao Fei menggerakkan kepala sedikit ke bawah untuk memberikan isyarat setuju. “Senior Liu Xue, aku sebenarnya sudah punya kesiapan penuh untuk menerima segala bentuk hukuman dari pihak sekte, jika panggilan ini disebabkan oleh tindakanku yang pergi menuju Gunung Cemara tanpa mengantongi izin resmi.”

Gadis di hadapannya tidak segera memberikan jawaban lisan. Tangan kanannya menyentuh bagian bahu kirinya sendiri dari luar pakaian jubah, lalu mengetuknya beberapa kali dengan halus sebagai bentuk tanda terima kasih yang terselubung.

“Kondisi fisikku telah pulih sepenuhnya berkat ramuan yang kau berikan pada malam penuh bahaya itu,” ungkap Liu Xue dengan lebih lembut. “Aku juga sudah menceritakan seluruh kebenaran peristiwa itu kepada Kakek, jadi tidak ada satu hal pun yang perlu kau khawatirkan mengenai masalah hukuman.”

Zhao Fei menghela napas panjang, merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa murni menjalar di dalam dadanya. “Terima kasih.”

Liu Xue menatapnya lama. “Kau terlalu baik.”

Mendengar penilaian itu, Zhao Fei mendadak menunjuk ke arah wajahnya sendiri dengan kebingungan. “Apakah diriku terlihat seperti seorang pria yang baik menurut pandanganmu?”

“Benar, kau sangat baik,” ulang Liu Xue dengan ketegasan yang tidak menerima bantahan. “Tapi, akulah pihak yang seharusnya memberikan utang terima kasih yang besar atas keselamatan jiwaku. Oleh karena alasan itulah, aku telah melayangkan sebuah rekomendasi resmi kepada Kakek agar kau segera dimasukkan ke dalam divisi khusus yang berada di bawah pimpinanku.”

Zhao Fei seketika bangkit berdiri dari kursi dengan ekspresi yang dipenuhi keterkejutan.

“Apakah divisi yang kau maksud itu adalah kelompok elite yang melegenda di seluruh penjuru sekte ini?” tanya Zhao Fei, memastikan spekulasi yang melintas di benaknya.

Divisi khusus itu sangat terkenal di kalangan para murid, sebuah kelompok tangguh yang hanya dihuni oleh dua belas orang kultivator tingkat atas dengan kemampuan tempur yang mengerikan. Mereka merupakan barisan terdepan yang selalu dikirim untuk menyelesaikan misi-misi berbahaya atas nama kehormatan Sekte Garuda Putih.

Liu Xue hanya menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk pembenaran atas pertanyaan itu. “Aku sedang membutuhkan kehadiran seorang ahli pengobatan di dalam tim kecilku, seorang rekan yang juga memiliki kemampuan murni untuk bertarung di lapangan. Berdasarkan pengamatanku, aku merasa bahwa kau adalah orang yang paling tepat untuk mengisi posisi itu. Selain itu... kau telah membuktikan bahwa dirimu adalah pria yang bisa dipercaya.”

Zhao Fei dengan cepat menyela ucapan itu guna meluruskan kesalahpahaman. “Aku sama sekali tidak memiliki keahlian medis, dan aku tidak berprofesi sebagai seorang tabib sejati.”

Mendengar penolakan itu, Liu Xue mencondongkan posisi tubuhnya ke arah depan. Tangan kanannya yang menggenggam sebuah kipas lipat yang tertutup segera terangkat, menudingkan ujung kipas itu tepat di hadapan wajah Zhao Fei. “Aku telah merasakan sendiri bagaimana keajaiban dari khasiat ramuan obatmu pada malam itu berjalan menyembuhkan racun mematikan di tubuhku. Oleh karena itu, aku tidak bersedia menerima segala bentuk alasan penolakan dari mulutmu.”

Zhao Fei seketika terdiam membisu, kehilangan kata-kata untuk membalas ketegasan dari gadis di hadapannya.

Jantungnya mendadak berdebar lebih cepat saat memandangi wajah ayu Liu Xue dari jarak dekat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia didera oleh sebuah kebingungan. Gadis di depannya ini hanyalah seorang wanita biasa dari kalangan Dunia Bawah, sementara dirinya adalah seorang dewa terkuat yang pernah memimpin langit tertinggi. Lalu, mengapa kehadiran dan pesona kecantikan dari wanita muda ini sanggup membuat fokus pikirannya menjadi berantakan?

“Kau melamun lagi, ya?” cetus Liu Xue, membuyarkan lamunannya.

Bilah kipas lipat di tangan gadis itu bergerak maju demi memukul bagian atas kepala Zhao Fei dengan gerakan yang sangat pelan namun cukup untuk mengembalikan kesadarannya. “Bagaimana keputusan akhir yang akan kau ambil atas tawaran ini?”

“Oh, ya! Maafkan aku... “ Zhao Fei segera tersadar dari pergolakan batinnya. “Aku setuju dengan tawaranmu. Tentu saja.”

“Tapi... kenapa Senior memilih untuk menceritakan seluruh detail kejadian malam penuh bahaya itu kepada Tetua Utama? Bukankah sebelumnya kita telah menyepakati sebuah komitmen agar tidak ada satu orang pun yang mengetahui tentang insiden penyergapan itu?”

Liu Xue pun menjawab sembari membuka lebar kipasnya. “Kakekku adalah pemimpin tertinggi dari dewan sekte ini. Jika aku kembali dengan kondisi fisik yang mengalami cedera parah akibat racun tanpa adanya alasan yang jelas, dia pasti akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyelidiki masalah itu dengan caranya sendiri. Langkah itu akan jauh lebih berbahaya, sehingga akan lebih aman jika aku yang menceritakan kebenaran ini secara langsung daripada beliau mencari tahu sendiri lalu menaruh kecurigaan besar pada motif tindakanmu. Bagaimanapun juga, bekas racun itu masih ada sebelum benar-benar lenyap, meski tubuhku sudah tidak merasakan efeknya, tapi Kakek pasti akan menyadari itu cepat atau lambat.”

Zhao Fei memahami kalkulasi taktis yang dipikirkan oleh gadis itu sebelum langkah kaki terdengar dari arah luar koridor. Mereka berdua segera memosisikan diri untuk berdiri tegak dengan penuh rasa hormat saat daun pintu ruangan terbuka lebar.

“Aku mohon maaf karena telah membuat kalian berdua menghabiskan waktu cukup lama untuk menunggu,” ucap Tetua Utama sembari melangkah masuk ke dalam ruangan. “Kebetulan ada urusan pertahanan wilayah yang mendesak yang harus aku selesaikan di aula depan.”

Pria tua berambut putih itu segera mengambil posisi duduk di atas kursi kebesarannya yang megah, lalu merapatkan kedua belah telapak tangannya di atas permukaan meja kayu. “Aku telah mendengarkan dengan sangat saksama seluruh rangkaian cerita yang disampaikan oleh cucuku mengenai insiden di hutan Gunung Cemara.” Sepasang matanya yang bijaksana menatap lurus ke arah Zhao Fei. “Atas nama keselamatan jiwa anggota keluargaku, aku memiliki kewajiban untuk menyampaikan rasa terima kasih yang besar kepadamu.”

“Oleh karena alasan kontribusi besar itu, aku telah mengambil sebuah keputusan resmi untuk menaikkan level status kedudukanmu di dalam organisasi sekte ini,” lanjut pemimpin tertinggi sekte itu. “Mulai detik ini juga, kau akan dipindahkan untuk bekerja secara langsung di bawah komando Liu Xue, sebagai anggota resmi dari divisi khusus yang dipimpin oleh dirinya. Aku menyadari bahwa cucuku telah menyampaikan garis besar mengenai tanggung jawab baru ini kepadamu, tapi aku ingin memastikan secara langsung dari mulutmu sendiri. Apakah kau memiliki rasa keberatan atas keputusan mutlak ini?”

Zhao Fei pun segera memosisikan dirinya untuk membungkuk dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sang pemimpin. “Saya tidak memiliki rasa keberatan sama sekali dan sangat setuju dengan keputusan ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan yang Anda berikan, Tetua.”

Tetua Utama pun terkekeh, sementara tangan kanannya bergerak mengelus jenggot putih panjangnya yang terurai.

“Tapi Zhao Fei, ingatlah untuk selalu tanamkan peringatan ini di dalam benakmu,” wajah sang Tetua Utama mendadak berubah menjadi serius. “Seluruh pergerakan dari sekte-sekte rival di perbatasan saat ini sudah mulai memperlihatkan aktivitas mobilisasi pasukan yang mencurigakan. Badai pertempuran besar akan segera datang melanda wilayah kita, cepat ataupun lambat. Aku sangat menghargai kualitas keberanian yang tersimpan di dalam jiwamu.”

Zhao Fei menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah untuk menunjukkan kesiapan mentalnya. “Saya sama sekali tidak memiliki rasa takut atau keberatan untuk menghadapi badai pertempuran itu, Tetua. Anda bisa mengandalkanku.”

Tetua Utama bangkit berdiri dari kursi kebesarannya sebelum melangkah perlahan mendekati posisi berdiri Zhao Fei. Tangan kanannya mulai menepuk-nepuk bagian bahu pemuda itu beberapa kali dengan kebanggaan yang terpancar dari wajahnya, lalu mendekatkan posisi bibirnya ke arah telinga Zhao Fei, dan membisikkan sesuatu.

“Selesaikan seluruh rangkaian misi pertempuran di garis depan itu dengan hasil yang baik. Setelah konflik ini mereda, segera kembalilah ke mari untuk melangsungkan upacara pernikahan resmi dengan cucu kesayanganku ini. Organisasi sekte ini sangat membutuhkan kehadiran dari seorang pemuda tangguh sepertimu untuk meneruskan takhta kepemimpinan di masa depan.”

Zhao Fei seketika meringis kecut mendengar bisikan tak terduga yang meluncur dari mulut sang kakek. Tangan kanannya bergerak spontan untuk menggaruk bagian pelipisnya yang tidak gatal, mencoba menetralkan gejolak rasa terkejutnya.

“Saya akan berusaha melakukan yang terbaik, Tetua,” jawab Zhao Fei dengan cara yang ditekan sangat rendah guna menyembunyikan rasa canggungnya.

Sedangkan Liu Xue yang berdiri dengan jarak tidak terlalu jauh dari posisi mereka berdua, tampak menyipitkan sepasang matanya penuh rasa curiga. Dia melipat kedua belah tangannya di depan dada, berusaha keras untuk menangkap frekuensi suara bisikan rahasia yang dilayangkan oleh kakeknya, namun usahanya berujung pada kegagalan.

Tetua Utama kembali melangkah menuju ke meja kerjanya yang besar. Dari dalam laci kayu yang terletak di sisi bawah, dia mengeluarkan sebuah objek berupa ikat rambut sederhana berwarna biru gelap yang terbuat dari jalinan kain berkualitas tinggi.

“Terimalah benda ini,” ucap sang pemimpin sembari menyerahkan ikat rambut itu secara langsung ke dalam genggaman tangan Zhao Fei. “Anggap saja pemberian sederhana ini sebagai sebuah tanda penghargaan kecil atas jasa pertolongan yang telah kau berikan kepada keluarga kami.”

Zhao Fei menerima objek itu dengan kedua belah tangannya yang terbuka. “Terima kasih yang sebesar-besarnya atas pemberian berharga ini, Tetua.”

“Sekarang, kalian berdua diperbolehkan untuk segera meninggalkan ruangan ini dan mempersiapkan diri. Aku masih memiliki tumpukan dokumen administrasi perang yang harus segera diselesaikan sebelum malam tiba,” perintah Tetua Utama dengan tegas yang mengakhiri pertemuan itu.

Zhao Fei bersama Liu Xue memberikan sebuah gerakan membungkuk hormat yang dalam secara bersamaan, sebelum akhirnya melangkahkan kaki bersama-sama untuk keluar.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!