"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Labrakan Sang Dokter
BAB 20: Labrakan Sang Dokter
Awan mendung bergelayut manja di atas langit kampus siang itu, menciptakan atmosfer sejuk namun entah mengapa terasa begitu menyesakkan bagi Kiara. Setelah momen manis nan manja di dapur apartemen semalam, hubungan Kiara dan Adrian memang sedikit mencair. Namun, Kiara tetap menanamkan benteng kewaspadaan di hatinya. Ia tahu, dunia mereka terlalu berbeda.
Siang ini, setelah menyelesaikan kelas makroekonomi, Kiara berjalan sendirian menyusuri koridor lantai tiga gedung pascasarjana. Ia berniat mengantarkan buku referensi milik dosen lain ke ruang administrasi. Koridor di lantai ini terkenal sangat sepi pada jam istirahat, hanya ada deretan pintu lab yang tertutup rapat.
Klek. Klek. Klek.
Suara ketukan sepatu hak tinggi yang bergaung nyaring di lantai selasar mendadak menghentikan langkah kaki Kiara. Suara itu terdengar begitu tegas, angkuh, dan sangat familiar di telinganya.
Kiara membalikkan badannya perlahan. Dan benar saja, jantungnya langsung berdegup memburu dengan ekstrem.
dr. Clarissa sudah berdiri di sana, hanya berjarak beberapa meter darinya. Wanita itu tampak luar biasa elegan sekaligus mengintimidasi dengan setelan blazer kerja berwarna putih gading dan kacamata hitam desainer yang bertengger di hidung mancungnya. Di tangannya, ia memegang sebuah map dokumen tebal berlambang perusahaan keluarga Alkatiri—sebuah alasan sempurna yang sengaja ia gunakan untuk bisa masuk ke area kampus Adrian.
Clarissa menurunkan kacamata hitamnya perlahan, menatap Kiara dengan sepasang mata yang memancarkan kilat kebencian, kejengkelan, dan penghinaan yang teramat pekat. Tidak ada lagi senyuman palsu seperti di lobi restoran kemarin. Di tempat sepi ini, topeng keanggunannya terlepas sepenuhnya.
"Ternyata benar, kamu mahasiswi murahan yang kemarin," ucap Clarissa, suara femininnya yang berkelas kini terdengar begitu sengit dan menusuk indra pendengaran Kiara.
Kiara meremas buku di pelukannya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia mendongakkan dagunya, menatap langsung ke arah wanita kalangan atas itu. "Maaf, Dokter Clarissa. Jika Anda mencari Profesor Adrian, ruang kerjanya ada di lantai dasar, bukan di sini," jawab Kiara sesopan mungkin, walau batinnya membara oleh rasa cemburu yang kembali terusik.
"Aku ke sini bukan untuk menemui Adrian, bocah ingusan. Aku ke sini khusus untuk menemuimu," desis Clarissa sembari melangkah maju, memangkas jarak hingga ia bisa mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuhnya, mencoba menekan mental Kiara dengan tinggi badannya.
Clarissa tertawa sinis, menatap tajam ke arah Kiara. "Jangan pikir aku bodoh ya, Kiara. Aku ini dokter, aku tahu bagaimana cara membaca gerak-gerik manusia. Hubunganmu dengan Adrian kemarin di restoran sama sekali tidak terlihat seperti dosen dan mahasiswi pembantu riset. Tatapan mata Adrian padamu... dan caramu menatapnya, itu menjijikkan."
Dada Kiara bergemuruh hebat, pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis. "Saya tidak tahu apa maksud Anda—"
"Halah, tidak usah berlagak polos!" potong Clarissa kasar, jarinya menunjuk tepat di depan wajah Kiara. "Kamu itu cuma mahasiswi miskin penerima beasiswa yang kebetulan berwajah lumayan, kan? Berani-beraninya kamu menggunakan keluguanmu untuk menggoda pria terhormat seperti Adrian! Kamu tahu siapa Adrian? Dia calon penerus Alkatiri Group! Dia sudah dijodohkan denganku oleh ibunya sendiri!"
Clarissa melangkah satu kali lagi, memojokkan tubuh mungil Kiara hingga punggung gadis itu membentur dinding koridor yang dingin.
"Dengar ya, Kiara. Wanita seperti kamu itu tidak tahu diri. Kamu tidak level berada di samping Adrian, bahkan untuk sekadar menjadi bayangannya. Kamu hanya akan menjadi noda hitam di karier cemerlangnya. Berapa yang Adrian berikan padamu untuk bermain-main di belakangku, hm? Sebutkan angkanya, aku bisa membayarmu dua kali lipat asal kamu angkat kaki dari kehidupan Adrian sekarang juga!" labrak Clarissa dengan kalimat yang teramat meremehkan, menginjak-injak harga diri Kiara hingga titik terendah.
Mendengar kalimat penghinaan yang begitu kejam itu, ada sesuatu yang patah di dalam dada Kiara. Rasa sedihnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa marah yang membakar seluruh jiwanya. Ia sudah lelah ditindas oleh keadaan. Jika di depan Adrian ia terpaksa mengalah karena kontrak, maka di depan wanita ini, Kiara tidak akan tinggal diam.
Kiara menurunkan buku di pelukannya, menatap lurus ke dalam manik mata Clarissa dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan mati rasa. Sebuah senyuman sinis yang menohok terukir di bibir ranum Kiara.
"Dokter Clarissa yang terhormat dan berpendidikan tinggi..." lirih Kiara, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan tekanan batin yang mematikan. "Jika Anda begitu percaya diri dengan status perjodohan Anda, dan jika Anda merasa begitu berkelas... lalu kenapa Anda harus repot-repot datang ke kampus ini hanya untuk melabrak mahasiswi miskin seperti saya?"
Clarissa tersentak, matanya membelalak tidak percaya mendengar perlawanan Kiara.
"Apakah seorang dokter spesialis sehebat Anda merasa terancam oleh 'bocah ingusan' seperti saya?" skakmat Kiara dengan nada sarkasme yang teramat tajam. "Jika Adrian benar-benar menginginkan Anda, dia tidak akan membiarkan saya berada di dekatnya. Jadi, daripada Anda membuang waktu mengancam saya dengan uang Anda... bukankah lebih baik Anda mengemis cinta pada Adrian agar dia mau menatap Anda seperti cara dia menatap saya kemarin?"
PLAK!
Ucapannya belum sempat selesai, Clarissa yang sudah meradang hebat karena egonya diinjak-injak langsung mengangkat tangan kanannya, mengayunkannya dengan kecepatan penuh bersiap untuk mendaratkan tamparan keras di pipi mulus Kiara. Kiara memejamkan matanya pasrah, bersiap menerima hantaman itu.
Namun, tamparan itu tidak pernah terjadi.
GREEP!
Sebuah tangan kekar dengan kekuatan yang luar biasa besar mendadak muncul dari udara, mencengkeram pergelangan tangan Clarissa di udara tepat beberapa sentimeter sebelum menyentuh wajah Kiara. Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat Clarissa memekik kesakitan.
"Ah! Sakit! Lepas—Adrian?!" Clarissa menjerit kaget saat menoleh dan mendapati sosok yang mencengkeram tangannya.
Profesor Adrian sudah berdiri di sana.
Pria itu entah sejak kapan muncul, namun kini auranya benar-benar mengerikan—jauh lebih menakutkan daripada monster mana pun. Wajah tampannya mengeras total, garis rahangnya tercetak kaku, dan sepasang mata elangnya yang tajam menghunus langsung ke arah Clarissa dengan kilat kemarahan gila yang siap menghancurkan apa saja di hadapannya. Napas Adrian memburu, mengindikasikan bahwa ia sempat berlari setelah mendengar kabar dari stafnya bahwa Clarissa mendatangi gedung ini.
Adrian tidak mengenakan kacamata bacanya, membuat tatapan mengintimidasi itu terlihat dua kali lipat lebih mematikan. Aura alpha male yang protektif menguar nyata dari tubuh tegapnya, mengunci pergerakan Clarissa sepenuhnya.
"Berani-beraninya kamu mengangkat tanganmu di area kekuasaanku, Clarissa," bisik Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang mematikan, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang hebat.