"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Pergerakan dari Rumah Kurungan
****
Langkah kaki lebarku berayun mantap menyusuri jalanan aspal yang memisahkan area kantin bawah dengan wilayah parkiran belakang gedung SMA Tunas Bangsa. Begitu minibus perak yang membawa Mikaela dan Risa melesat pergi membelah jalur alternatif tikus kota, aku segera menghampiri motor sport hitamku yang terparkir di sudut bawah pohon puring. Aku memasukkan kunci kontak, memutar tuas gas hingga raungan mesin silinder besarnya memecah keheningan sore yang tenang tepat pada pukul tiga sore ini.
Aku memacu motorku dengan kecepatan konstan, keluar melewati pintu gerbang belakang sekolah tanpa memedulikan tatapan beberapa guru piket yang berjaga di pos depan. Pikiranku sama sekali tidak terfokus pada draf bersih dokumen beasiswa penuh kuliah milik Mikaela yang baru saja kuelus di koridor tadi. Fokus utamanya kini bergeser sepenuhnya pada laporan rahasia anak-anak pangkalan IPS mengenai situasi di dalam rumah mewah kediaman keluarga besar Dirgantara. Sanksi skorsing dua minggu yang dijatuhkan oleh Pak Malik bukanlah akhir dari segalanya; itu hanyalah sebuah masa karantina yang bisa membuat racun manipulasi psikologis milik Devan menjadi jauh lebih liar dan ugal-ugalan karena dia sudah tidak memiliki beban reputasi jabatan Ketua OSIS lagi untuk dijaga di depan umum.
Motor sport hitamku berbelok tajam memasuki halaman luas bengkel tua yang terbengkalai di belakang pasar lama. Begitu roda motorku berhenti di atas kerikil, Reno bersama beberapa anggota inti pangkalan langsung berjalan mendekat dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kesiagaan tingkat tinggi yang kaku.
"Sak, laporan terbaru dari tim pengawas luar rumah Devan baru saja masuk lewat radio pangkalan lima belas menit yang lalu," ucap Reno tanpa basa-basi, langsung menyodorkan selembar draf catatan logistik pergerakan kepada ku.
Aku mematikan mesin motor, menurunkan standar, lalu bangkit berdiri dengan posisi tubuh yang tegap menjulang. Seteram-seteramnya setelan seragam putih abu-abuku yang masih terkancing rapi mematuhi aturan sekolah sore ini, aura keagresifan tulus berandal luar sekolah dari dalam diriku tetap memancar dengan sangat pekat, mengunci fokus seluruh anak pangkalan yang berkumpul di sekitar meja kayu penuh noda oli.
"Gimana pergerakan si ular manipulatif itu dari dalam rumahnya, Ren?" tanyaku dengan nada suara bariton yang serak, rendah, dan sarat akan intonasi perintah yang mengintimidasi.
Reno mengembuskan napas pendek, menunjuk baris draf catatan bagian bawah. "Sejak bapaknya menarik laporan di ruang Kepala Sekolah kemarin, Devan dikunci total di dalam kamarnya oleh pengawalan ketat keluarga Dirgantara. Ponsel pribadinya disita, dan akses internetnya diputus sepihak demi menjaga stabilitas saham perusahaan ayahnya di luar kota. Tapi... satu jam yang lalu, mata-mata kita melihat ada sebuah kurir sepeda motor asing yang masuk lewat pintu belakang rumahnya, mengantarkan sebuah draf amplop dokumen tebal berwarna putih langsung ke tangan pembantu setianya."
Aku menyipitkan mata elangku lekat-lekat, sebuah seringai dingin nan sangat tajam perlahan-lahan terukir di sudut bibirku yang kokoh. Aku melipat kedua tanganku di depan dada, merasakan getaran bandul bintang kecil di gelang perak Mikaela yang sempat membekas di telapak tanganku saat di koridor tangga sekolah tadi. Sifat protektif dan obsesi posesifku terhadap kebebasan hidup Mikaela tidak akan pernah memberikan ruang bagi kubu Devan untuk bernapas sedikit pun sebelum permainan berbahaya ini selesai seutuhnya di dunia nyata.
"Devan gak bakal pernah menyerah hanya karena akses komunikasinya diputus, Ren. Dia itu tipe orang yang selalu menyiapkan draf rencana cadangan sebelum melangkah masuk ke dalam jebakan," tuturku dengan nada suara yang merendah, sangat lambat, namun memiliki penekanan tak terbantahkan yang membekukan atmosfer bengkel tua sore ini. "Amplop putih yang dikirim lewat pintu belakang itu pasti berisi instruksi tertulis buat sisa-sisa anak buahnya di kepengurusan OSIS lama yang masih belum bersih ditarik dari meja kesiswaan. Dia mau menggunakan tangan orang lain di luar sekolah untuk memeras emosi Mikaela lagi."
"Terus taktik kita selanjutnya gimana, Sak? Apa kita perlu mendatangi rumahnya malam ini buat memberikan gertakan fisik secara ugal-ugalan?" tanya salah satu anak pangkalan dari kelas XII IPS 3 yang memegang kunci pas besi di tangannya.
"Gak perlu," potongku dingin dengan satu sentakan tangan yang kokoh. "Kita jangan masuk ke wilayah rumahnya selama bapaknya masih memasang pengacara korporat di sana. Kita main cantik di luar sistem, tapi dengan cara keagresifan yang jauh lebih mematikan. Reno... lo suruh anak-anak pangkalan yang berjaga di sekitar persimpangan jalan komplek rumah Mikaela untuk memperketat pos pengawasan sepanjang malam ini sampai besok pagi. Jangan ada satu pun kurir atau motor asing yang diizinkan melintas mendekati teras depan rumah Mikaela tanpa pemeriksaan draf identitas dari kita."
Aku melangkah maju satu langkah, merebut draf catatan logistik dari tangan Reno, lalu membantingnya kembali ke atas meja kayu dengan suara hantaman yang konstan.
"Dan buat sisa-sisa anak buah Devan di kelas XII MIPA 1 yang masih nekat memegang instruksi tertulis si ular... besok siang tepat jam tiga sore setelah bel pulang sekolah berbunyi, gue sendiri yang bakal mendatangi ruang organisasi mereka buat menyapu bersih seluruh amunisi sisa yang mereka miliki sebelum mereka sempat bergerak melukai kebebasan hidup cewek gue lagi. Selama gelang bintang itu masih melingkar di tangan Mikaela... dia adalah hak milik perlindungan mutlak dari seorang Saka Aditya, dan gue gak bakal pernah ragu buat menggunakan cara ugal-ugalan gue untuk menghancurkan siapa saja yang berani mengusik hidupnya," tegas ku dengan binar mata yang memancarkan kilat amarah yang letup-letup di balik ketenangannya yang dingin.
Seluruh anak pangkalan IPS yang berada di dalam bengkel tua itu langsung mengangguk patuh serentak, membeku seutuhnya di bawah intimidasi mengerikan dan tekad maut yang luar biasa besar memancar dari dalam diriku. Mereka tahu betul, tingkat sifat *red flag* perlindungan posesif yang kumiliki terhadap keselamatan Mikaela sudah tidak lagi mengenal batas-batas logika hukum kaku manusia. Aku siap mempertaruhkan seluruh sisa masa SMA-ku di atas aspal jalanan, asalkan tidak ada satu pun ular manipulatif yang berani menyentuh atau merusak sangkar kebebasan baru yang sudah kubangun susah payah buat Mikaela di sekolah ini. Perang psikologis asmara ini telah resmi bergeser ke ranah penguncian total di luar sekolah, dan kami selalu siap menghantam badai baru apa pun yang akan melanda hubungan kami di esok hari.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Selamat sore dan selamat datang kembali di kelanjutan novel RED FLAG!** Senang sekali rasanya bisa menyapa kalian semua para pembaca setia tepat pada pukul **15:00 WIB** sore hari ini! Semoga kehadiran bab terbaru pada jam tiga sore ini bisa menemani waktu santai kalian dengan asupan ketegangan asmara berkarakter *red flag* penuh proteksi beracun yang selalu bikin candu dan memacu adrenalin ya!
> Di Bab 35 ini, atmosfer cerita bener-bener bergeser ke ranah pengawasan total luar sekolah yang makin intens dan padat taktik! Meskipun Devan sudah resmi dikurung di dalam rumahnya dengan akses komunikasi yang diputus sepihak oleh keluarganya, kelihaian manipulasinya terbukti masih sangat berbahaya lewat pengiriman draf amplop putih misterius ke pintu belakang rumahnya. Sumbu konflik baru bener-bener sengaja ditarik semakin dalam demi memuaskan rasa penasaran kalian!
> Namun, respons taktis, posesif, dan keagresifan tulus yang ditunjukkan oleh seorang Saka Aditya bersama seluruh pasukan pangkalan IPS belakang pasar lama di bab ini membuktikan kalau benteng perlindungan Mikaela bener-bener tak tertembus oleh ancaman modal mana pun di dunia nyata. Momen pas Saka mengunci seluruh jalur masuk komplek rumah Mika bener-bener mempertegas dominasi pesona *bad boy* versi rapi-posesif miliknya yang gak kenal rasa takut sedikit pun!
> Kira-kira apa isi instruksi tertulis di dalam amplop putih yang dikirimkan oleh Devan dari dalam kamarnya malam ini? Apakah besok siang jam tiga sore bakal terjadi konfrontasi fisik baru yang jauh lebih liar di ruang organisasi OSIS antara Saka dan sisa-sisa sekutu Devan? Yuk, jangan sampai ketinggalan kelanjutan kisahnya yang makin seru besok sore! Jangan lupa klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk kelancaran kontrak novel kita di NovelToon, dan ramaikan selalu kolom **Komentar** dengan seluruh teori gila kalian! Sampai berjumpa di Bab 36 besok sore jam tiga tepat, *keep reading, stay sharp, and stay alert, guys!*
>