Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
"Paman, ini sudah sangat genting dan kita tidak bisa bila hanya diam saja." Arka mendatangi Cakra untuk membicarakan masalah yang sudah ada di desa mereka saat ini.
"Apa yang sedang kamu bicarakan ini?" Cakra menoleh karena dia masih belum paham.
"Tamrin dan Joko meninggal dalam waktu yang sangat dekat dan yang paling penting lagi mereka meninggal dalam keadaan yang sama." Arka berkata dengan perasaan begitu resah.
"Emang Kau menemukan ada yang aneh dari kematian mereka berdua?" Seruni menatap sepupu dia yang baru datang ini.
"Ya, ketika menemukan Joko yang sudah meninggal dunia itu maka aku mencium arwah yang pernah datang ke sana." Arka mengangguk dengan sangat yakin.
Seruni dan Cakra saling pandang satu sama lain karena mereka masih belum tahu ini mau memulai dari mana dan apa nanti akan mendapat izin dari Purnama, mereka juga memiliki kemampuan karena dalam satu keluarga pasti tidak ada yang lemah dan selalu saja ada kekuatan di dalam diri.
Namun yang menjadi masalah saat ini adalah izin dari Purnama itu dan bila memang permasalahan sangat genting maka nanti yang ada mereka bisa saja celaka, oleh sebab itu terkadang ketika Purnama akan pergi jauh maka dia memberi pesan kepada para member atau bahkan para saudara juga agar tidak perlu ikut campur dalam urusan yang tidak penting.
Sebab Purnama sudah takut bila nanti mereka justru akan mendapat kemalangan sehingga dia juga akan merasa menyesal dengan hal itu, sama seperti Maharani yang tidak bisa langsung mengambil keputusan untuk menyelidiki tentang kasus pembunuhan yang ada di desa pandan Arum saat ini.
Cakra juga merasa ragu dan takut bila nanti terjadi kesalahan sehingga dia harus bertanggung jawab penuh kepada Purnama, tahu sendiri bahwa wanita itu sangat tegas dan dia tidak akan pernah bisa mentoleransi bila terjadi kesalahan yang begitu fatal, Cakra sudah takut membayangkan hukuman apa yang akan dia terima bila nanti sampai salah.
Purnama tidak pernah peduli mau itu anak atau saudara atau bahkan adik karena bila memang salah maka dia akan tetap berkata salah, membayangkan dirinya masuk ke dalam penjara bawah tanah itu atau masuk ke dalam lembah kematian membuat Cakra merasa tidak sanggup untuk mengambil langkah saat ini.
Dari pada dia nanti terkena masalah tersebut maka lebih baik untuk cuek saja terlebih dahulu dan menunggu Purnama pulang, sebab sepertinya itu adalah keputusan yang terbaik dan tidak perlu mereka mengambil tindakan terlebih dahulu, dari pada nanti harus menderita maka lebih baik mereka bersikap cuek demi keselamatan diri mereka sendiri.
Arka ini sebenarnya juga takut ketika akan mengambil langkah sendirian untuk mendalami kasus tersebut, selain karena kekuatan dia juga sudah mulai memudar. maka tambah lagi bila terjadi kesalahan nanti yang ada Purnama akan mengamuk kepada dia, sebab Arka tidak memiliki kemampuan penuh sehingga pasti nanti akan terjadi kesalahan dalam kasus tersebut.
"Bila kau sendiri sudah merasa ragu seperti itu maka lebih baik tidak usah dilanjutkan lagi untuk sekarang." Cakra memberi pesan kepada sang keponakan.
"Benar, kau tahu sendiri kalau mama Purnama sangat galak dan dia tidak akan pernah memberi ampun." imbuh Seruni.
"Tapi kalau menunggu Mama dan yang lain pulang maka akan sangat lama sekali." ujar Arka.
"Ya kita mau bagaimana selain menunggu dia saja? terus terang aku tidak berani untuk mengambil langkah sendiri!" Cakra berkata dengan tegas.
"Resiko yang akan kita hadapi dalam masalah ini masih belum tahu, bila terjadi kesalahan maka Mama akan mengamuk dan kita tidak akan selamat." Seruni berkata dengan sangat yakin.
Seruni memiliki kemampuan yang cukup tinggi namun dia juga tidak ingin mengambil resiko bila menyelidiki sendiri tentang kematian Joko dan juga Tamrin, wanita kalem Dan lemah lembut ini tidak berani untuk resiko yang harus dia tanggung ketika nanti terjadi kesalahan yang cukup besar.
...****************...
"Ya Allah Kenapa mendadak saja desa kita menjadi seperti ini?" Riski menatap para teman yang duduk di pos ronda.
"Ar, apa kau tidak ingin bergerak mencari tahu?" Digo menatap Arka yang ada di sebelah dia.
"Aku tentu saja ada niat tapi kau tahu sendiri bahwa aku tidak sekuat dulu lagi." Arka menjawab pelan karena sejak tadi dia memang sudah banyak pikiran.
Digo menarik nafas panjang Karena dia dan Arka ini sebenarnya juga sama, walau Digo memiliki kemampuan namun tetap saja dia tidak berani bila sampai mengurus sendirian untuk mencari tahu siapa yang sudah membuat masalah di desa tempat mereka tinggal ini.
"Siapa menurut Kau yang sudah menjadi arwah gentayangan dan mencari tumbal?" Riski bertanya dengan kesedihan yang masih tersisa.
"Ini yang masih belum bisa aku ketahui karena saat di sana hanya mencium aroma saja." jawab Arka.
"Bahkan jejak dari arwah itu sama sekali tidak ada di dalam rumah Joko." timpal Digo.
"Itu karena kalian memiliki kekuatan lemah sehingga tidak bisa melihat jejak dari arwah itu." celetuk Riski.
Arka dan juga Digo saling pandang satu sama lain karena baru saja direndahkan oleh sang sahabat, tapi mungkin saja memang benar bahwa mereka tidak memiliki kekuatan tinggi sehingga tidak bisa melihat jejak dari arwah yang ada di dalam rumah Joko saat itu, bahkan ketika ada di rumah Tamrin mereka juga tidak bisa melihat jejak dari sang arwah.
"Mama muda juga Kenapa lama sekali dia pergi." Riski mengeluh Karena dia sudah tidak sabar.
"Kan mereka pesta di Pulau itu jadi kemungkinan besar memang sangat lama." ujar Digo.
Riski menarik nafas panjang karena sampai saat ini dia masih tidak percaya bahwa Joko sudah meninggal dunia, teman mereka yang selalu bersama kini sudah tidak ada lagi sehingga jelas menimbulkan luka yang cukup dalam di dalam diri mereka saat ini, wajar saja bila Rizki bersikap sedih terus-menerus sejak kemarin.
"Hei Maaf ya aku telat karena tadi masih melihat kebun dulu." Udin baru datang dan ikut berkumpul dengan mereka.
"Aku kira malah kau tidak datang di sini." Digo mengambil kantong kresek yang Udin bawa.
"Sekalian aku beli martabak juga Karena perut sedang lapar, malah antri sehingga sudah pastilah agak lama." Udin sedikit tersenyum agar mereka juga bisa tersenyum.
Sebab Udin juga tahu bahwa mereka semua sedang bersedih atas kematian Joko sang sahabat mereka, selama ini selalu bersama dan sekarang malah mendadak saja ditinggal meninggal dunia seperti ini sehingga pasti terasa begitu sedih di dalam hati mereka semua.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
si Anisa meresahkan🙁
udh terlanjur tak suka SMA mu
makin lama tak suka dengan sikap Kiara,
padahal Digo tulus sama dia