NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Pertanyaannya

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Daniel baru saja tiba di kantor setelah perjalanan panjang dari Surabaya. Matanya masih merah karena kurang tidur. Tapi begitu ia menyalakan monitor CCTV untuk memeriksa kandang seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi, semua rasa lelah itu lenyap digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dingin.

Ketakutan.

"Budi!" Suaranya menggelegar di seluruh lantai dua puluh tujuh. "BUDI!"

Budi berlari masuk, dasinya masih setengah terikat. "Ada apa, Pak?"

"Lihat ini." Daniel memutar layar laptopnya ke arah Budi. "Panel empat. Kandang belakang. Sekarang."

Budi menatap layar itu. Wajahnya langsung pucat. "Astaga... Mbak Saskia..."

"Itu darah. Banyak darah. Dia tidak bergerak."

"Pak, helikopter—"

"Saya sudah menelepon pilotnya. Dia sedang perjalanan dari hanggar." Daniel sudah berdiri, meraih jasnya, tangannya gemetar sedikit. Gemetar. Daniel Hardjono tidak pernah gemetar. "Tapi helikopter butuh waktu. Saya tidak bisa tunggu."

"Bapak mau ke mana?"

"Ke kandang. Sekarang."

"Tapi, Pak, jarak Jakarta ke Malang—"

"Saya tahu jaraknya!" bentaknya. "Makanya saya tidak bisa tunggu helikopter! Saya ke bandara sekarang. Helikopter susul di Abd Saleh. Kau urus semua dari sini. Telepon rumah sakit terdekat. UGD. Dokter terbaik. Apapun yang mereka minta, kasih. Tidak ada batas biaya."

"Baik, Pak."

Daniel sudah setengah jalan ke lift ketika ia berhenti. Berbalik. "Budi."

"Ya, Pak?"

"CCTV ini... kenapa mati selama satu jam?"

Budi menatap layar monitor. "Saya... saya tidak tahu, Pak. Sistem keamanan bilang tidak ada gangguan. Tapi rekamannya kosong dari jam setengah lima sampai setengah enam."

"Seseorang mematikannya."

"Tapi siapa yang bisa—"

"Itu pertanyaannya, Budi. Siapa yang bisa mematikan CCTV kandang tanpa alarm berbunyi? Siapa yang tahu password sistem keamanan kita? Siapa yang tahu jadwal jaga satpam? Siapa yang tahu kapan sumur belakang tidak terjaga?"

Budi diam. Wajahnya berubah dari pucat menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap.

"Penyusupan," bisiknya.

"Penyusupan dari dalam." Mata Daniel menyipit. "Cari tahu. Sekarang."

Lima menit kemudian, Alphard hitam melaju keluar dari basement Hardjono Tower dengan kecepatan yang membuat ban belakangnya berdecit. Daniel di kursi kemudi. Bukan sopir. Bukan Budi. Dia sendiri. Tangannya mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih. Matanya menatap lurus ke depan, tidak berkedip, tidak bergerak.

"Pak, kecepatannya—" suara Budi dari speaker ponsel.

"Budi. Diam."

Jakarta ke Malang biasanya delapan jam lewat tol. Daniel menempuhnya dalam lima jam. Mobilnya melesat di jalan tol seperti peluru hitam. Beberapa kali nyaris ditabrak truk. Beberapa kali klakson meraung di belakangnya. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya sesekali melirik ponselnya yang menampilkan siaran langsung CCTV kandang.

Saskia masih belum bergerak.

"Pak, helikopter sudah di Bandara Abd Saleh. Kita bisa langsung ke rumah sakit begitu Bapak sampai."

"Rumah sakitnya?"

"Sudah siap. Dokter spesialis sudah menunggu."

"Bagus."

Alphard hitam berhenti di depan kandang dengan bunyi rem yang memekik. Debu jalanan beterbangan. Warga desa yang mulai beraktivitas pagi menoleh dengan kaget. Daniel keluar sebelum mobil benar-benar berhenti. Sepatu kulitnya menginjak lumpur. Jas mahalnya tersangkut di pagar bambu yang patah, ia robek begitu saja tanpa peduli.

Pintu kandang terkunci dari dalam.

"MBAK SASKIA!"

Tidak ada jawaban.

Daniel menggedor pintu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hanya gema dari dalam kandang yang menjawab. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara apa pun.

"MBAK SASKIA! BUKA PINTUNYA!"

Hening.

Daniel mundur beberapa langkah. Matanya menatap pintu kayu lapuk yang sudah diperbaiki berkali-kali. Engselnya sudah berkarat. Kayunya sudah dimakan rayap. Tapi hari ini, pintu itu menjadi penghalang antara dia dan Saskia.

"Baiklah."

Ia berlari kembali ke Alphard. Mesin meraung. Mobil mundur lima meter, lalu melaju ke depan. Bemper depan menghantam pintu kandang dengan suara yang mengerikan. Kayu lapuk itu hancur berkeping-keping. Pecahannya beterbangan ke segala arah.

Daniel masuk.

Pemandangan yang menyambutnya tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Delapan sapi Wagyu berdiri sehat di kandang mereka. Bulu hitam mengkilap. Mata jernih. Nafas tenang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Di kandang kesembilan, seekor sapi tergeletak mati, mulutnya masih berbusa, lidahnya kebiruan. Tapi itu bukan yang membuat Daniel berhenti bernafas.

Di tengah kandang, di atas jerami yang basah oleh darah, Saskia tergeletak.

Wajahnya pucat. Sangat pucat. Hampir sewarna kertas. Dari hidungnya, dari telinganya, dari sudut matanya, darah masih menetes pelan. Menggenang di bawah kepalanya, membentuk kolam kecil berwarna merah gelap. Tangannya terulur ke arah sapi kesembilan, seolah bahkan dalam keadaan sekarat pun ia masih berusaha menyelamatkan ternaknya. Matanya setengah terbuka, tapi tidak ada kesadaran di dalamnya. Hanya kekosongan.

"Saskia..."

Daniel berlari ke arahnya. Sepatu kulitnya menginjak genangan darah, meninggalkan jejak merah di lantai kandang. Ia jatuh berlutut di samping Saskia, celana jasnya langsung basah oleh darah. Tangannya yang selalu bersih dan terawat sekarang menggenggam tubuh gadis itu, membalikkannya perlahan, memeriksa nafasnya.

Masih bernafas. Lemah. Sangat lemah. Hampir tidak terasa. Tapi masih ada.

"Budi! Bawa mobil ke depan! Sekarang!"

Daniel menggendong Saskia. Lagi. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia menggendong gadis ini. Tubuh itu terasa lebih ringan dari sebelumnya. Terlalu ringan. Seperti menggendong kerangka yang dibungkus kulit. Seperti menggendong seseorang yang sudah setengah pergi. Darah dari hidung Saskia menetes ke jas putih Daniel, mengotori kemeja mahalnya, mengenai dasi abu-abunya. Ia tidak peduli. Ia tidak peduli sama sekali.

"Kau tidak boleh mati," bisiknya sambil berjalan keluar kandang. "Kau dengar? Kau tidak boleh mati."

Saskia tidak menjawab. Kepalanya terkulai di bahu Daniel. Darahnya terus mengalir, membasahi bahu jas Daniel, menetes ke tanah di setiap langkah.

Ia berlari keluar kandang. Melewati pintu yang hancur. Melewati halaman tanah yang becek. Melewati pagar bambu yang sudah reyot. Warga desa yang berkumpul menyingkir ketakutan. Mereka belum pernah melihat pemandangan seperti ini: seorang CEO dengan jas mahal, berlumuran darah, menggendong gadis desa yang hampir mati.

Alphard sudah menunggu dengan pintu belakang terbuka. Budi berdiri di sampingnya, wajahnya pucat.

"Ke bandara. Cepat."

Mobil melaju. Daniel duduk di kursi belakang, memangku Saskia. Kepala gadis itu bersandar di dadanya. Darahnya terus mengalir, membasahi setelan jas Daniel, menetes ke jok kulit. Tapi Daniel tidak melepaskan pelukannya. Tangannya yang satu memegang kepala Saskia, menahannya agar tidak terbentur. Tangannya yang lain menggenggam jemari Saskia yang sedingin es.

"Bertahan. Kau dengar? Bertahan."

Saskia tidak menjawab. Matanya masih setengah terbuka, kosong, menatap ke langit-langit mobil tanpa melihat apapun.

"Ini perintah. Bukan permintaan. Kau belum lunasi utangmu. Dua sapi mati. Audit belum selesai. Kontrak masih berlaku. Pengacara saya masih menunggu jawaban atas surat peringatan. Kau tidak bisa pergi sebelum semuanya selesai. Kau dengar?"

Tidak ada jawaban. Hanya nafasnya yang semakin lemah, semakin pelan.

"Kau... kau bilang kau sudah mati sekali. Waktu di lobi Hardjono Tower, kau bilang itu. Aku ingat. Kau bilang, 'Aku sudah pernah mati sekali, ini bukan apa-apa.' Jadi ini bukan apa-apa, kan? KAN?"

Hening. Hanya suara mesin mobil dan nafas Saskia yang seperti bisikan terakhir.

Air mata itu jatuh tanpa peringatan.

Satu tetes. Dari sudut mata kiri Daniel. Mengalir pelan di pipinya yang biasanya tidak pernah menunjukkan emosi apapun. Jatuh ke pipi Saskia, bercampur dengan darah yang masih mengalir dari hidungnya.

Daniel Hardjono tidak ingat kapan terakhir kali ia menangis. Lima belas tahun yang lalu? Waktu ibunya meninggal di rumah sakit yang sama yang sekarang ia tuju? Atau lebih lama lagi? Ia tidak ingat. Ia sudah terlalu lama mematikan bagian dirinya yang bisa merasakan hal-hal seperti ini. Bagian yang bisa peduli. Bagian yang bisa takut kehilangan. Bagian yang bisa mencintai.

Tapi sekarang bagian itu hidup lagi. Dan rasanya sakit. Sangat sakit. Sakit seperti ditusuk ribuan jarum dari dalam dada. Sakit seperti seseorang meremas jantungnya dengan tangan besi. Sakit seperti...

"Pak, kita sudah di bandara."

Helikopter sudah menunggu dengan baling-baling yang berputar kencang. Suaranya memekakkan telinga. Debu beterbangan ke segala arah. Daniel turun dari Alphard sambil menggendong Saskia. Ia berlari ke helikopter, membungkuk di bawah baling-baling, naik ke kabin. Saskia tetap di pangkuannya. Ia tidak melepaskannya. Tidak akan melepaskannya.

Helikopter lepas landas. Suara baling-baling memenuhi seluruh kabin. Di bawah sana, kota Malang mengecil, lalu menghilang, digantikan oleh hamparan sawah dan pegunungan.

"Rumah sakitnya?"

"Sudah siap, Pak. Dokter spesialis sudah menunggu. Ruang ICU sudah disiapkan."

"Bagus."

"Pak Daniel..." Budi berhenti, ragu. "Bapak... Bapak baik-baik saja?"

Daniel tidak menjawab. Matanya masih menatap wajah Saskia yang pucat di pangkuannya. Jemarinya masih menggenggam tangan Saskia yang dingin.

"Bertahan, bodoh. Kau belum lunasi utang."

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!