Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan yang Dicari-cari
Keesokan paginya, Ellara kembali bekerja seperti biasa. Matahari baru saja naik ketika ia sudah berada di kandang utama. Udara pagi masih terasa dingin dan dipenuhi aroma jerami segar yang bercampur dengan tanah basah sisa hujan semalam. Seperti biasanya, ia memulai hari dengan memeriksa kondisi para kuda, mengganti air minum, lalu menyiapkan pakan untuk mereka satu per satu. Namun ada satu hal yang terasa berbeda. Noah. Pria itu kini hampir selalu muncul di sekitarnya. Kadang saat Ellara sedang memberi makan kuda, Noah tiba-tiba berdiri di belakang pagar kandang sambil menyilangkan tangan, memperhatikannya tanpa alasan yang jelas.
"Kau memberi makan terlalu banyak untuk Star." Ellara menoleh.
"Saya sudah mengurusnya selama berbulan-bulan.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa Anda mengomentari?"
Noah terdiam beberapa detik. "Aku sedang mengawasi."
Padahal yang ia lakukan hanya berdiri di sana selama lima belas menit, lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Kadang Noah muncul ketika Ellara sedang membersihkan kandang. Pria itu berjalan masuk dengan pakaian rapi yang jelas tidak cocok untuk pekerjaan kandang.
"Kau sudah memeriksa kaki Thunder?"
"Sudah."
"Bagaimana hasilnya?"
"Tidak ada masalah."
Noah mengangguk. Lalu tetap berdiri di sana. Ellara menyapu lantai. Noah berdiri. Ellara mengangkat ember. Noah masih berdiri. Sampai akhirnya Ellara tak tahan.
"Tuan."
"Hm?"
"Kalau tidak ada pekerjaan...Kenapa Anda tidak kembali ke kantor?"
Noah tampak berpikir. Lalu menjawab dengan wajah datar. "Aku sedang memastikan kau bekerja dengan benar."
Ellara mendengus. "Kemarin Anda bilang saya pekerja terbaik."
"Hari ini aku sedang memeriksa apakah pujian itu berlebihan."
Ellara memutar bola mata. Noah justru tersenyum kecil. Dan anehnya...ia menikmati percakapan-percakapan sepele seperti itu. Bahkan ketika Ellara sedang beristirahat di siang hari sambil duduk di bawah pohon dekat kandang, Noah tiba-tiba muncul entah dari mana. Pria itu membawa dua gelas kopi. Satu untuk dirinya. Satu lagi diletakkan di samping Ellara.
Ellara mengerutkan kening. "Kenapa Anda ada di sini lagi?"
"Aku lewat."
"Kantor Anda di arah berlawanan."
Noah terdiam. Lalu meminum kopinya.
Ellara menatapnya tidak percaya. "Apa Anda sengaja mencari saya?"
"Tidak."
"Bohong."
"Tidak."
"Kalau begitu kenapa setiap saya menoleh, Anda selalu ada?"
Noah terdiam lebih lama kali ini. Karena bahkan ia sendiri mulai menyadarinya. Ia memang sengaja.
Sengaja mencari alasan untuk melewati kandang, sengaja memeriksa area yang biasanya diurus Ellara, sengaja menunda rapat, sengaja memperpanjang pekerjaannya di luar kantor. Semua itu hanya agar ia bisa melihat Ellara beberapa menit lebih lama.
Dan yang paling mengganggu...ia tidak merasa terganggu oleh kebiasaan itu. Justru sebaliknya.
Hari-harinya terasa aneh jika tidak melihat Ellara.
Jika gadis itu tidak muncul di kandang, Noah akan bertanya pada para pekerja. Jika Ellara terlambat datang, tanpa sadar ia akan melihat jam berkali-kali.
Jika Ellara sedang tertawa bersama pekerja lain, matanya otomatis mencari sosok gadis itu.
Awalnya Noah menganggap itu hanya rasa penasaran.
Lalu ketertarikan. Tetapi sekarang...ia mulai sadar. Ia hanya ingin berada di dekat Ellara, sesederhana itu. Dan sesulit itu untuk diakui. Sementara Ellara sendiri perlahan mulai menyadari perubahan itu. Noah yang dulu dingin dan sulit didekati, Noah yang jarang berbicara, Noah yang selalu terlihat sibuk. Sekarang justru sering berada di sekitarnya. Mencari-cari alasan.
Mengomentari hal-hal sepele, bahkan terkadang hanya berdiri diam sambil memperhatikannya bekerja. Dan yang paling membuat Ellara gugup...adalah kenyataan bahwa ia mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu.
Sudah hampir dua minggu sejak Noah mulai mengajaknya berkeliling ranch. Arena dressage, Area pembiakan, Arena show jumping, Gudang pakan, bahkan pusat data silsilah kuda. Awalnya Ellara mengira itu hanya sesaat. Namun ternyata Noah terus melakukannya. Seolah selalu ada tempat baru yang ingin ia tunjukkan. Seolah selalu ada alasan baru untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Dan yang lebih aneh...Ellara tidak lagi menolak. Ia mulai menunggu. Menunggu Noah datang. Menunggu pria itu berkata, "Ayo ikut denganku." Kadang ia kesal pada dirinya sendiri. Karena tanpa sadar...ia juga mulai kecanduan.
Hari itu Noah mengajaknya ke arena latihan anak-anak kuda. Area itu jauh lebih santai dibanding tempat lain. Puluhan anak kuda berlari bebas di padang rumput.
Beberapa pelatih mengawasi dari kejauhan. Seekor anak kuda hitam kecil tiba-tiba berlari mendekati Ellara. Lalu berhenti tepat di depannya.
Ellara berjongkok. "Halo."
Anak kuda itu mendekat. Mengendus tangannya.
Lalu menggesekkan kepalanya pelan ke bahu Ellara.
Noah yang melihat dari belakang mengangkat alis.
"Itu aneh." Ellara menoleh.
"Kenapa?"
"Kuda itu tidak suka orang asing."
"Tapi dia mendekati saya."
"Itulah anehnya."
Noah menyilangkan tangan. Sudah berkali-kali ia melihat hal seperti ini. Star, anak-anak kuda, bahkan kuda liar yang sulit dikendalikan. Mereka semua menyukai Ellara. Seolah gadis itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Ellara mengusap kepala anak kuda itu perlahan. Matanya lembut, gerakannya tenang, Dan ajaibnya...anak kuda yang tadinya gelisah langsung diam. Noah memperhatikannya beberapa saat. Lalu berkata,
"Kau tahu?"
"Apa?"
"Kadang aku iri pada para kuda."
Ellara tertawa. "Kenapa?"
"Mereka selalu mendapat perhatianmu."
Ellara membeku. Lalu buru-buru berdiri. "A-Anda bicara aneh."
Noah tersenyum. Dan itu membuat Ellara semakin salah tingkah.
Sore harinya, mereka sedang berjalan kembali menuju kandang utama. Langit mulai berubah jingga. Cahaya matahari sore menyinari hamparan padang rumput dan membuat seluruh Blackwood Ranch terlihat hangat. Ellara berjalan beberapa langkah di belakang Noah sambil masih memikirkan semua yang baru saja ia pelajari tentang area pembiakan, namun langkah Noah tiba-tiba terhenti. Ellara ikut berhenti.
Sebuah mobil sport putih baru saja memasuki halaman mansion. Mobil itu bergerak perlahan menyusuri jalan berbatu sebelum akhirnya berhenti tepat di depan tangga utama. Seorang sopir segera turun membukakan pintu. Dan seorang wanita muncul dari dalam.
Gaun putih sederhana namun elegan membalut tubuhnya. Rambut cokelat panjangnya tergerai lembut di atas bahunya. Wajahnya cantik, kulitnya mulus, dan dari caranya berjalan saja sudah terlihat bahwa ia berasal dari kalangan atas, wanita itu tersenyum lebar.
"Noah."
Suaranya lembut dan akrab. Ia berjalan mendekat tanpa ragu, lalu memeluk Noah dengan hangat. Ellara spontan berhenti melangkah. Dadanya tiba-tiba terasa aneh. Noah tidak membalas pelukan itu dengan antusias, tetapi ia juga tidak menolak. Dan itu justru membuat dada Ellara semakin sesak. Wanita itu melepaskan pelukannya perlahan. Lalu menoleh. Tatapan matanya jatuh pada Ellara. Dari atas ke bawah, tidak kasar, tidak meremehkan. Tetapi cukup membuat Ellara merasa sedang dinilai.
Entah kenapa, telapak tangannya mendadak dingin.
Karena Ellara tahu. Wanita ini adalah Bianca Laurent.
Tunangan Noah. Nama yang selalu ia dengar di kalangan pekerja ranch. Nama yang selama ini selalu ia gunakan untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu dekat dengan Noah. Tetapi sekarang...orang itu berdiri tepat di depannya. Cantik, elegan, dan terlihat sangat cocok berada di sisi Noah
Ellara menunduk sedikit. Tiba-tiba ingatan yang selama ini ia coba kubur kembali muncul begitu saja.
Pondok tua itu, malam yang sunyi, dan gubuk jerami di belakang ranch. Tempat-tempat yang menyimpan rahasia mereka berdua. Rahasia yang seharusnya tidak pernah ada.
Ellara memejamkan mata sejenak. Ia masih mengingat bagaimana semuanya bermula. Kedekatan yang awalnya berawal dari terjebak berdua di pondok tua, tatapan-tatapan yang terlalu lama, hingga akhirnya berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi ia kendalikan. Mereka telah melanggar batas. Bukan sekali, tetapi dua kali. Dan sejak saat itu, tidak ada satu hari pun di mana Ellara benar-benar bisa menganggap Noah hanya sebagai atasannya. Itulah yang membuatnya takut. Karena setiap kali Noah mendekat, ia ingin menjauh. Tetapi setiap kali Noah menjauh, justru ia yang merasa kehilangan. Hubungan mereka tidak memiliki nama. Tidak memiliki masa depan yang jelas. Hanya ada rahasia yang semakin besar dari hari ke hari.
Namun rasa sakit terbesar bukanlah itu. Melainkan kenangan yang pernah ia lihat dengan matanya sendiri, nalam itu. Lorong mansion yang sepi, di ruangan kerja Noah yang hanya ada mereka berdua. Ellara tidak sengaja melihat mereka berdua saling menuntaskan hasrat tanpa sehelai benang pun yang tersisa melekat di tubuh mereka. Ia langsung pergi.
Cepat-cepat. Seolah dengan tidak melihat lebih jauh, rasa sakit di dadanya akan berkurang. Tetapi ternyata tidak.
Pemandangan singkat itu terus menghantuinya.
Karena saat itu ia sadar. Noah memang milik dunianya Bianca. Mereka berasal dari kalangan yang sama, memiliki keluarga yang saling mengenal, masa depan yang sudah dibicarakan banyak orang. Sementara Ellara...hanyalah seorang pekerja di ranch. Seseorang yang seharusnya tidak terlibat terlalu jauh. Lalu kenapa sekarang ia justru berdiri di sini? Menyimpan rahasia dengan Noah, mengingat setiap tatapan pria itu. Dan diam-diam merasa sakit ketika melihat Bianca memeluknya dengan begitu wajar.
Ellara menggigit bibirnya pelan. Dadanya terasa sesak. Karena ia sadar satu hal, yang paling berbahaya bukanlah rahasia mereka. Melainkan kenyataan bahwa ia mulai berharap. Berharap Noah memilihnya, berharap semua perbedaan di antara mereka tidak berarti. Padahal jauh di dalam hatinya, Ellara tahu.
Harapan itu mungkin akan menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
Suara Bianca membuyarkan lamunannya,
Aku sering mendengar namamu akhir-akhir ini."
Ellara membeku.
"Apa?"
Bianca melirik Noah sekilas. "Para pekerja sering membicarakanmu. Kata mereka Noah sering mengajakmu berkeliling ranch."
Ellara spontan menoleh pada Noah. Pria itu hanya memasang wajah datar. Seolah tidak ada yang aneh. Tetapi justru sikap itulah yang membuat Ellara semakin gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang benar, belakangan ini Noah hampir selalu berada di dekatnya. Mengajaknya ke arena dressage, ke area pembiakan, ke arena show jumping, mengenalkan seluruh dunia Blackwood Ranch kepadanya. Hal-hal yang mungkin bahkan tidak diketahui oleh kebanyakan pekerja lain.nyaman Tiba-tiba Ellara sadar. Jika dilihat dari luar...hubungannya dengan Noah memang terlihat berbeda. Dan pikiran itu membuat dadanya semakin tidak nyaman.
Bianca masih tersenyum. Tetapi untuk sesaat... tatapannya kembali berpindah antara Noah dan Ellara.
Ada sesuatu yang berubah pada Noah. Sesuatu yang belum bisa Bianca jelaskan. Cara pria itu memandang Ellara, cara ia tanpa sadar berdiri sedikit lebih dekat, cara nada suaranya menjadi lebih lembut. Sangat tipis, hampir tidak terlihat. Tetapi Bianca mengenal Noah terlalu lama untuk melewatkannya.
Sementara Ellara justru ingin segera pergi. Karena untuk pertama kalinya...ia merasa begitu kecil. Dan untuk pertama kalinya juga...ia benar-benar takut. Takut bahwa semua yang terjadi antara dirinya dan Noah hanyalah mimpi singkat. Yang suatu hari nanti harus ia lepaskan.