Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jejak Serbuk Sari
"Kita harus keluar dari sini sekarang juga!" teriak Cala tertahan. Napasnya memburu cepat melihat buket lili putih di atas meja baja itu.
Ronan menggeleng tegas. Pria itu melepaskan capit besinya perlahan. "Tidak. Bergerak keluar saat musuh sudah mengetahui titik buta kita adalah tindakan bunuh diri."
Cala meremas ujung bajunya. "Tapi dia tahu alamat apartemenmu! Dia mengirimkan bunga duka cita! Orang gila itu sedang merayakan kematianku sebelum waktunya!"
"Tenanglah. Kepanikanmu tidak akan menyelesaikan masalah." Ronan meraih nampan logam kecil. Ia memindahkan sekuntum bunga lili putih itu ke atas nampan dengan sangat hati-hati. Pria itu berjalan cepat menuju sudut ruang tamu yang sudah ia sulap menjadi area kerja khusus. Sebuah meja kaca dengan mikroskop digital canggih dan layar monitor ganda berdiri kokoh di sana.
Cala mengekor rapat di belakang Ronan. Tubuhnya masih gemetar, tapi ia memaksa otaknya untuk tetap rasional. Ia bukan wanita lemah yang hanya bisa menangis ketakutan.
"Bagaimana kurir itu bisa lolos sampai ke lantai delapan? Kamu bilang keamanan gedung ini setara markas militer," cecar Cala. Suaranya masih bergetar.
Ronan menghidupkan layar monitornya. "Kurir paket biasa selalu ditahan di lobi bawah. Tapi petugas lobi punya kelemahan. Mereka manusia. Celah keamanan terbesar dalam sistem apa pun selalu ada pada manusia yang mengoperasikannya."
"Maksudmu petugas lobi disuap?"
"Atau diancam," jawab Ronan singkat. Tangannya dengan cekatan mengambil kaca preparat kecil. Ia menggunakan pinset runcing untuk mengambil serbuk sari berwarna kuning pucat dari tengah kelopak lili putih tersebut.
Cala menatap bunga-bunga di dalam kardus cokelat itu dengan dahi berkerut. Sebagai perencana pernikahan, bunga adalah makanan sehari-harinya. Otaknya mulai menyusun potongan informasi untuk melawan rasa takutnya sendiri.
"Lili putih segar seperti ini butuh suhu dingin yang stabil agar kelopaknya tidak layu," ucap Cala cepat. Ia menunjuk sisa bunga di dalam kotak. "Lihat ujung tangkainya. Potongannya sangat rapi dan lurus. Ini bukan potongan gunting biasa. Ini potongan pisau tajam khusus penjual bunga profesional."
Ronan menoleh sekilas, sedikit terkesan dengan analisis dadakan Cala. "Lanjutkan."
"Vendor bunga lokal jarang menyimpan stok lili putih segar dalam jumlah banyak kecuali ada pesanan khusus untuk acara pemakaman besar. Bunga ini mahal dan cepat busuk jika tidak ditaruh di lemari pendingin segera." Cala melipat tangannya di dada. Matanya menyipit penuh perhitungan tajam. "Siapa pun yang mengirim ini, dia tidak membelinya dari pedagang kaki lima. Dia memesannya dari toko bunga kelas atas yang punya fasilitas ruang pendingin khusus. Kita bisa melacak daftar pesanan mereka hari ini."
Ronan meneteskan cairan bening khusus ke atas serbuk sari di kaca preparat. "Analisis logistik yang lumayan tajam untuk ukuran orang yang biasanya hanya meributkan warna pita kursi tamu."
"Aku sedang mempertaruhkan nyawaku, Dokter. Berhenti mengejek profesiku," balas Cala ketus. "Kamu mau mencari sidik jarinya sekarang? Percuma saja, kan? Komandan polisi bilang pembunuh itu pakai sarung tangan khusus."
"Aku tidak mencari sidik jari manusia." Ronan meletakkan kaca preparat itu tepat di bawah lensa mikroskop digitalnya. Pria itu memutar tombol pengatur fokus dengan sangat teliti. "Pelaku kejahatan profesional tahu cara menghapus jejak fisik seperti rambut, keringat, atau sidik jari. Tapi mereka sering melupakan elemen biologis mikroskopis yang menempel pada barang yang mereka kirim."
Cala memiringkan kepalanya bingung. "Maksudnya bagaimana?"
"Serbuk sari," jawab Ronan datar. Mata pria itu kini menatap lurus ke arah layar monitor besar yang mulai menampilkan gambar perbesaran ribuan kali lipat. "Serbuk sari punya struktur cangkang luar yang sangat unik dan berbeda-beda untuk setiap jenis tanaman. Ibarat sidik jari bagi tumbuhan. Struktur ini tahan banting, tidak mudah hancur, dan bisa menempel erat di pakaian atau kotak kemasan."
Layar monitor kini menampilkan gambar butiran-butiran berbentuk bulat dengan tekstur berduri yang sangat aneh. Cala bergidik ngeri melihat bentuk serbuk sari yang diperbesar itu. Mirip seperti ranjau laut berduri tajam yang siap meledak kapan saja.
"Lalu apa bedanya? Bukankah itu hanya serbuk sari lili putih biasa? Kamu mau mencari toko bunganya dari serbuk sari itu? Itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami," cecar Cala bertubi-tubi.
Ronan tidak segera menjawab rentetan pertanyaan itu. Wajah tampan pria itu perlahan berubah kaku. Rahangnya mengeras kuat hingga otot-otot di pipinya menonjol jelas. Jari-jarinya menari cepat di atas papan ketik virtual, memasukkan gambar serbuk sari itu ke dalam basis data forensik internasional kepolisian.
Cala bisa merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu secara drastis. Udara terasa semakin berat. Ketegangan memancar sangat kuat dari tubuh Ronan.
"Ada apa? Kenapa diam saja?" desak Cala tidak sabar. Tangannya meremas sandaran kursi Ronan dengan gelisah.
Layar monitor berkedip hijau terang. Proses pencocokan data selesai. Sederet tulisan merah muncul di layar, diiringi grafik kecocokan genetik yang menembus angka mutlak.
Ronan menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi. Ia menatap layar itu dengan pandangan mematikan, seolah layar monitor itu adalah musuh bebuyutannya sendiri. Tangannya terkepal kuat di atas meja kaca.
"Kamu salah, Cala," suara Ronan terdengar sangat berat dan dalam. Pria itu memutar kursinya perlahan, menatap lurus ke dalam mata Cala yang membulat penuh ketakutan.
"Salah apanya?" Cala membalas tatapan itu tanpa berkedip. Jantungnya kembali berdegup liar menabrak rongga dada.
Ronan menunjuk layar monitor di belakangnya dengan ibu jari. "Tebakanmu tentang toko bunga lokal mewah itu salah besar. Bunga lili putih ini memang terlihat sangat biasa dari luar. Tapi struktur mikroskopis serbuk sarinya menceritakan fakta yang jauh lebih mengerikan dari sekadar pesan ancaman duka cita biasa."
Cala menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering kerontang. "Fakta mengerikan apa maksudmu?"
"Ini bukan lili putih biasa." Ronan berdiri dari kursinya dengan tegap. Tubuhnya yang tinggi besar menjulang di hadapan Cala, memberikan aura intimidasi sekaligus perlindungan. "Ini adalah lili putih hibrida hasil mutasi silang. Sebuah produk rekayasa genetik tingkat tinggi. Tidak ada satupun toko bunga mewah atau petani lokal di negara ini yang punya izin resmi untuk menanam atau mengimpornya dari luar negeri."
Cala mundur selangkah, kakinya terasa lemas hingga nyaris menabrak meja konsol di belakangnya. Napasnya tercekat hebat. "Lalu dari mana bunga mengerikan ini berasal, Dokter?"
"Bunga ini hanya dikembangkan di satu tempat rahasia. Fasilitas botani tertutup milik jaringan elit pembunuh bayaran itu sendiri," jelas Ronan dengan suara sedingin es yang membekukan darah. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Matanya menyorotkan ancaman bahaya yang sangat nyata dan mematikan.
Ronan memeriksa serbuk sari di bawah mikroskop, menatap layar dengan rahang mengeras, lalu menoleh pada Cala, "Bunga ini varietas langka. Dia tahu persis kita ada di sini."