NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Makan Malam Keluarga Pratama

Mentari pagi yang cerah menggantikan sisa-sisa awan mendung semalam, menembus celah gorden kamar dan memantulkan semburat cahaya keemasan di atas ranjang king size.

Naura mengerjapkan matanya perlahan, menghirup aroma maskulin yang akrab bercampur dengan sisa wangi esensial lavender. Ketika ia membalikkan tubuhnya ke sisi kanan kasur, tempat itu sudah kosong. Namun, seprai yang sedikit kusut dan bantal yang masih menyisakan cekungan menjadi bukti nyata bahwa semalam Arka benar-benar tidur di sampingnya memangkas jarak yang selama ini membentang di antara mereka.

Sebuah senyuman kecil terbit di bibir Naura saat ia melangkah turun dari ranjang. Rasa cemas dan ketakutan akibat teror Rama kemarin sore seolah telah tersapu bersih, digantikan oleh kehangatan baru yang memenuhi rongga dadanya.

Saat Naura berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, suara denting spatula dan aroma gurih mentega yang meleleh langsung menyapa indra penciumannya. Di sana, di balik konter dapur minimalis, berdiri Arka Pratama. Pria itu sudah rapi dengan celana bahan hitam dan kemeja abu-abu mudanya, meski kancing teratasnya masih terbuka dan dasinya belum terpasang. Ia tampak begitu telaten membalik telur mata sapi di atas wajan.

"Selamat pagi," sapa Arka tanpa menoleh, seolah hafal dengan irama langkah kaki Naura yang mendekat.

"Selamat pagi, Kak," jawab Naura, merasa sedikit jengah sekaligus takjub melihat seorang CEO muda yang disegani di dunia bisnis internasional kini sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Kenapa tidak membangunkan aku, Kak? Memasak sarapan kan sudah menjadi tugasku."

Arka mematikan kompor, lalu memindahkan telur mata sapi dan beberapa potong sosis ayam kukus ke atas piring porselen putih dengan rapi. Ia menoleh ke arah Naura, mata elangnya menatap sang istri dengan kelembutan yang dalam.

"Aku melihatmu tidur dengan sangat nyenyak semalam. Kurasa efek ketakutan kemarin membuat fisikmu sangat lelah, jadi aku memilih untuk membiarkanmu beristirahat lebih lama," ujar Arka, menarik salah satu kursi bar dan mengisyaratkan Naura untuk duduk. "Duduklah, aku sudah membuatkan roti gandum panggang dan susu hangat untukmu."

Naura duduk dengan perasaan haru yang membuncah. Perlakuan Arka yang selalu mendetail dan penuh perhatian kecil seperti ini secara konstan meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan di hatinya.

"Terima kasih banyak, Kak Arka. Kakak selalu memperlakukanku dengan sangat baik."

Arka duduk di kursi sebelah Naura, menyeduh kopi hitam tanpa gulanya sendiri. "Pernikahan adalah kerja sama, Naura. Aku sudah mengatakannya, bukan? Lagipula, melihatmu makan dengan lahap adalah energi tersendiri bagiku sebelum berangkat ke kantor."

Pujian tersirat itu sukses membuat pipi Naura kembali merona merah muda. Mereka menikmati sarapan pagi itu dalam keheningan yang nyaman dan penuh kedamaian. Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika ponsel pintar milik Arka yang diletakkan di atas konter bergetar nyaring, menampilkan nama "Ibu" di layarnya.

Arka meletakkan cangkir kopinya, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut. "Ya, Selamat pagi, Ibu."

Naura mendadak menghentikan kunyahannya. Ruangan yang sunyi membuat suara dari seberang telepon samar-samar terdengar di telinganya.

Suara seorang wanita paruh baya dengan nada bicara yang tegas, berwibawa, dan sarat akan protokoler khas keluarga kelas atas.

"Arka, bagaimana kabarmu?" tanya Sofia, ibu kandung Arka. "Sudah beberapa minggu sejak pernikahan tertutupmu, dan kamu belum juga membawa istrimu ke rumah utama. Akhir pekan ini, Ibu mengadakan makan malam keluarga besar Pratama. Ibu minta kamu membawa Naura datang. Seluruh keluarga besar ingin melihat wanita seperti apa yang dipilih oleh wasiat mendiang sahabat ayahmu itu."

Arka melirik ke arah Naura yang mendadak menegang di kursinya. Wajah istrinya itu tampak sedikit pucat. Arka tahu betul apa yang sedang dikhawatirkan Naura. Masuk ke dalam lingkaran keluarga Pratama yang penuh dengan tradisi, kemewahan, dan standar sosial yang tinggi tentu menjadi tekanan mental tersendiri bagi Naura yang berlatar belakang keluarga sederhana.

"Baik, Ibu. Kami akan datang hari Sabtu malam jam tujuh," jawab Arka tenang namun tegas, memberikan kepastian tanpa ruang untuk perdebatan. "Tapi aku harap Ibu bisa memastikan bahwa makan malam ini berjalan dengan santai, tanpa perlu ada tekanan formalitas yang berlebihan."

"Tentu saja. Ibu hanya ingin mengenal menantu Ibu lebih dekat. Sampai jumpa hari Sabtu, Arka," ucap Sofia sebelum mengakhiri panggilan.

Setelah sambungan telepon terputus, Arka meletakkan kembali ponselnya. Ia menoleh ke arah Naura yang kini menatap piring sarapannya dengan pandangan cemas, jemarinya meremas pinggiran celemek kain yang belum sempat ia lepas.

"Kak ... apakah keluarga besar Kakak akan menerimaku?" tanya Naura lirih, menyuarakan ketakutan terbesar yang sejak tadi bercokol di kepalanya. "Aku ... aku tidak tahu bagaimana cara bersikap di depan keluarga konglomerat seperti keluarga Pratama. Aku takut aku akan membuat Kak Arka malu."

Melihat kegelisahan Naura, Arka menggeser duduknya lebih dekat. Ia meraih tangan Naura yang terasa mendingin, menggenggamnya dengan erat di atas meja konter untuk menyalurkan kekuatan fisik dan mental.

"Naura, lihat aku," pinta Arka lembut.

Naura mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arka yang memancarkan keyakinan yang kokoh seperti batu karang.

"Kamu adalah istri sahku. Kamu tidak perlu merubah dirimu menjadi orang lain, dan kamu tidak perlu merasa minder di depan siapa pun, termasuk keluargaku," ucap Arka, suaranya berat dan penuh penekanan yang menenangkan. "Mereka mungkin memiliki harta dan status sosial, tapi kamu memiliki ketulusan, bakat, dan kehormatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Hari Sabtu nanti, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Aku akan berada tepat di sampingmu, menggandeng tanganmu, dan memastikan tidak akan ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu."

Janji perlindungan yang diucapkan Arka dengan begitu jantan membuat separuh rasa takut di hati Naura menguap. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. "Baik, Kak. Aku akan berusaha sebaik mungkin."

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sejak sore, suasana di dalam kamar utama sudah dipenuhi oleh kesibukan kecil. Naura berdiri di depan cermin lemari pakaian yang besar, menatap deretan gaun yang ia miliki dengan perasaan bingung dan frustrasi. Ia merasa tidak ada satu pun pakaiannya yang cukup layak untuk menghadiri makan malam di kediaman utama keluarga Pratama.

Arka yang baru saja selesai mandi dan mengenakan kemeja batik sutra hitam bercorak elegan, berjalan mendekati istrinya. Ia memperhatikan bagaimana Naura terus membolak-balik gantungan baju dengan raut wajah yang panik.

Arka tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya ke dalam lemari. Ia mengambil sebuah gaun kasual berpotongan midi dengan warna pastel yang anggun gaun yang sederhana namun memiliki potongan yang sangat pas untuk menonjolkan keanggunan alami tubuh Naura.

"Gunakan yang ini," ujar Arka, menyerahkan gaun tersebut ke tangan Naura. "Warna ini sangat cocok dengan warna kulitmu yang cerah. Kamu akan terlihat sangat cantik tanpa perlu berlebihan."

Naura menerima gaun itu dengan perasaan lega. "Terima kasih, Kak. Aku akan segera bersiap."

Tepat pukul setengah tujuh malam, mobil sedan mewah Arka membelah jalanan kota Jakarta menuju kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan, tempat rumah utama keluarga Pratama berdiri.

Sepanjang perjalanan, Naura terus meremas tas tangan kecilnya untuk meredakan rasa mual di perutnya akibat rasa gugup yang luar biasa. Arka yang menyadari hal itu sesekali melepaskan satu tangannya dari kemudi hanya untuk menggenggam tangan Naura, memberikan ketenangan tanpa perlu banyak kata.

Ketika mobil memasuki gerbang besi tinggi yang dijaga oleh beberapa sekuriti berseragam, sebuah rumah megah berarsitektur klasik modern dengan pilar-pilar putih yang menjulang tinggi langsung menyambut pandangan Naura. Halaman rumah yang luas dipenuhi oleh jejeran mobil-mobil mewah milik anggota keluarga besar Pratama yang lain.

Arka turun dari mobil, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Naura. Ia mengulurkan tangannya, dan Naura menyambutnya dengan jemari yang sedikit gemetar.

Begitu kaki Naura menginjak lantai teras rumah utama, Arka langsung melingkarkan tangan kirinya di pinggang Naura, menarik tubuh istrinya agar berjalan merapat dengannya.

"Ingat kataku, jadilah dirimu sendiri. Aku bersamamu," bisik Arka tepat di telinga Naura sebelum pintu ganda besar rumah itu dibuka oleh pelayan.

Mereka dituntun menuju ruang makan utama yang megah. Di sana, sebuah meja makan panjang dari kayu mahoni berukir indah sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan mewah. Beberapa orang anggota keluarga besar Pratama sudah duduk rapi, berdiskusi dengan nada suara yang anggun. Di ujung meja, duduk Sofia Pratama, sang ibu yang tampak sangat berwibawa dengan sanggul rapi dan perhiasan mutiara yang elegan.

Namun, perhatian Naura mendadak tersedot pada sosok wanita muda yang duduk tidak jauh dari Sofia. Wanita itu mengenakan gaun desainer ternama dengan riasan wajah yang tajam. Dia adalah Sonya, sepupu jauh Arka yang dikenal memiliki sifat angkuh dan selalu mengagungkan status sosial keluarganya.

Begitu Arka dan Naura melangkah masuk, seluruh atensi ruangan langsung tertuju pada mereka. Arka membawa Naura mendekat ke arah ibunya.

"Selamat malam, Ibu," sapa Arka, menundukkan kepalanya sedikit, diikuti oleh Naura yang memberikan salam dengan sangat sopan.

"Selamat malam, Arka. Jadi ini Naura?" Sofia menatap Naura dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang dingin namun tetap menjaga tata krama.

"Duduklah, makanan sudah siap disajikan."

Mereka berdua duduk di kursi yang telah disediakan.

Suasana makan malam dimulai dengan perbincangan mengenai perkembangan bisnis Pratama Group di antara para pria, sementara Naura hanya memilih untuk mendengarkan dengan patuh seraya sesekali menikmati hidangannya dengan gerakan yang sangat sopan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Sonya meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan ketukan yang sengaja dibuat sedikit keras, memotong pembicaraan yang sedang berlangsung.

"Jadi, Naura ..." panggil Sonya dengan nada suara yang diseret, matanya menatap Naura dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. "Kudengar dari bibi, kamu itu suka memasak sendiri di rumah dan tidak menggunakan asisten rumah tangga? Wah, beruntung sekali ya Arka. Menikah dengan wanita pilihan wasiat itu ternyata sama saja seperti mendapatkan istri yang merangkap jadi asisten rumah tangga gratisan. Hemat pengeluaran rumah tangga, kan?"

Kalimat sindiran yang sarat akan penghinaan itu seketika membuat suasana di ruang makan yang megah itu mendadak mendingin menembus tulang. Beberapa anggota keluarga yang lain tampak terdiam, sementara Naura merasa seluruh darahnya mendadak naik ke wajah, menyisakan rasa malu dan terhina yang teramat sangat di dalam dadanya.

Jemarinya di bawah meja meremas gaun pastelnya dengan erat, mencoba menahan air mata yang hampir luruh akibat serangan mental yang tiba-tiba tersebut.

1
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!