Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getar yang Terputus
Naira menatap Rama dengan dahi berkerut, mencoba mencari arti di balik sepasang mata hitam yang selalu tampak tenang namun menyimpan sejuta misteri itu. "Maksud kamu apa, Ram? Terancam karena apa? Posisi kamu terjepit karena siapa?"
Rentetan pertanyaan keluar dari bibir Naira. Dia butuh kepastian. Dia lelah ditebak-tebak seperti ini.
Rama baru saja membuka mulutnya, hendak menata kalimat yang tepat tanpa harus membongkar keterlibatan Tuan Danendra secara blak-blakan, ketika tiba-tiba kantong seragam Naira bergetar hebat.
Bzzzz... Bzzzz...
Lagu nada dering bawaan ponsel Naira memecah keheningan sunyi di antara mereka. Naira berdecak pelan, merutuki siapa pun yang berani merusak momen krusial ini. Dia merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera di layar: Pak Joko.
Naira menatap Rama sekilas, lalu menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo, Pak?"
"Halo? Non Naira?! Alhamdulillah akhirnya diangkat!" suara Pak Joko di seberang sana terdengar sangat panik dan terengah-engah. "Non Naira ada di mana sekarang? Bapak dari tadi nyariin Non di sekolah tapi kata penjaga gerbang Non udah pulang sama temannya. Den Tirta ditelepon juga gak aktif!"
Naira sempat melirik ke arah jalanan sepi di depan taman, lalu berbohong pelan demi melindungi situasi. "Naira... Naira lagi di taman kota dekat sekolah, Pak. Tadi habis nyari buku sebentar sama teman."
"Aduh, Non, cepat pulang ya, Non. Ini Tuan Danendra sudah ada di rumah dari sore.
Beliau nanyain Non terus dari tadi, mukanya kelihatan tegang banget. Bapak takut kalau Tuan sampai tahu Non belum pulang jam segini," bisik Pak Joko dengan nada cemas yang teramat sangat.
Mendengar nama ayahnya disebut, tubuh Naira otomatis menegang. Ketakutan lama yang tertanam di kepalanya mendadak bangkit. "I-iya, Pak. Ini Naira langsung pulang sekarang."
Naira mematikan sambungan telepon. Dia mengembuskan napas berat, menatap Rama dengan perasaan campur aduk. Obrolan mendalam yang baru saja dimulai itu terpaksa harus menguap begitu saja ke udara malam.
Rama yang sejak tadi mendengarkan lamat-lamat suara dari telepon Naira, langsung berdiri dari bangku taman. Ekspresi wajahnya kembali mengeras, beralih ke mode lempengnya yang semula. Dia tahu betul, jika Tuan Danendra sampai tahu Naira pulang terlambat karenanya, ruko ibunya besok pagi bisa langsung diratakan dengan tanah.
"Ayo," ucap Rama singkat sambil menyambar helm di atas jok motor. "aku anterin sampai gang depan rumah kamu."
Naira tidak membantah. Dia berdiri, membiarkan jaket hitam Rama tetap melingkar hangat di bahunya, lalu berjalan mengekor di belakang cowok lempeng itu. Malam ini, teka-teki tentang sikap Rama memang belum terjawab sepenuhnya, tetapi satu hal yang Naira sadari: di balik dinding es yang dibangun Rama, cowok itu selalu punya cara untuk menariknya kembali dari kegelapan.
Motor kopling hitam Rama akhirnya berhenti tepat di bawah pendar lampu jalan di depan gang masuk kompleks rumah mewah Naira. Rama sengaja tidak mengantar sampai ke depan pagar besi yang menjulang tinggi itu agar tidak memancing kecurigaan penjaga rumah atau Tuan Danendra sendiri.
Naira turun dari jok belakang, lalu melepas helm hitam milik Rama dan menyerahkannya. Setelah itu, kedua tangan Naira bergerak ke ritsleting jaket hitam besar yang masih melingkar di bahunya, bersiap untuk melepaskannya.
"Ram, ini jaket kamu—"
"Pakai aja dulu," potong Rama . Dia menerima helmnya, lalu menatap Naira datar namun sepasang matanya tidak bisa berbohong kalau dia masih mencemaskan kondisi gadis itu. "Badanmu masih gemeteran. Udah malam, dingin. Besok-besok aja balikinnya."
Naira tertegun. Jantungnya berdesir hangat mendengar kepedulian kecil yang keluar dari cowok sedingin es ini. "Makasih ya, Ram... buat yang tadi juga."
"Hmm. Masuk sana, jangan bikin bokap lu nunggu," jawab Rama pendek.
Begitu Naira berbalik dan melangkah masuk ke dalam gang, Rama baru memutar motornya dan melesat pergi membelah kegelapan malam.
Langkah kaki Naira terasa seberat timah saat dia melewati gerbang rumah mewahnya. Di halaman, Pak Joko sudah berdiri menyambutnya dengan wajah pucat pasi.
"Aduh, Non... langsung ke ruang tengah ya. Tuan Danendra sudah nunggu," bisik Pak Joko dengan suara gemetar ketakutan.
Naira menarik napas dalam-dalam, mengeratkan jaket hitam milik Rama yang masih dipakainya untuk mencari sedikit kekuatan, lalu melangkah masuk. Begitu pintu utama terbuka, atmosfer dingin dan mencekam langsung menyergapnya.
Di atas sofa kulit ruang tengah, Tuan Danendra sudah duduk tegap. Begitu mendengar suara pintu, pria paruh baya itu langsung berdiri. Wajahnya mengeras, matanya menatap Naira dengan kilatan amarah yang luar biasa.
"Dari mana kamu, Naira Alisha?!" suara bariton Tuan Danendra menggelegar, menggema di langit-langit rumah yang luas itu. "Jam berapa ini?! Kamu sengaja mau bikin malu nama papa dengan keluyuran gak jelas setelah jam sekolah?!"
DEG.
Naira mematung di tempatnya. Lidahnya mendadak kelu. Dia ingin sekali berteriak dan jujur bahwa dia baru saja dijebak di rumah kosong oleh Tirta. Dia ingin mengadu pada ayahnya kalau dia hampir saja celaka.
Tetapi, ego dan ketakutan menahan semuanya di tenggorokan. Naira tahu persis watak ayahnya. Jika dia jujur bahwa dia nekat pacaran pura-pura dengan Tirta hanya demi membalas dendam pada Rama, ayahnya tidak akan bersimpati. Tuan Danendra justru akan semakin murka, mencapnya sebagai anak yang memalukan, memperketat penjagaan, dan yang paling mengerikan: ayahnya pasti akan menyelidiki keterlibatan Rama.
Naira terpaksa menelan bulat-bulat rasa sakit dan traumanya sendiri.
"Naira... Naira tadi cuma kerja kelompok di rumah teman, pa. Terus ketiduran karena capek," bohong Naira dengan suara yang bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata elang sang Ayah.
"Kerja kelompok sampai jam segini?! Kamu pikir papa bodoh?!" bentak Tuan Danendra lagi, melangkah mendekat. Matanya tiba-tiba tertuju pada jaket hitam besar yang melekat di tubuh putrinya. "Lalu itu jaket siapa?! Sejak kapan kamu punya selera pakai pakaian kumal kayak begitu?!"
Naira refleks memegangi ujung jaket Rama, mencengkeramnya erat-erat seolah jaket itu adalah satu-satunya pelindung yang dia miliki dari amukan ayahnya. "Ini... ini pinjam punya teman cewek, pah. Tadi di jalan dingin karena naik ojek."
Tuan Danendra mengembuskan napas kasar, wajahnya masih merah padam karena emosi. "Masuk ke kamar kamu sekarang! Jangan keluar sampai besok pagi! Dan ingat, kalau sampai papa tahu kamu berbohong, papa gak akan segan-segan kasih kamu hukuman yang jauh lebih berat!"
Tanpa menjawab lagi, Naira langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan air mata yang kembali merebak. Dia menutup pintu kamar rapat-rapat, menguncinya, lalu merosot di balik pintu sambil memeluk jaket hitam Rama erat-erat.
Di kamar mewah yang sepi itu, Naira menangis dalam diam. Dia terjepit di antara ancaman ayahnya yang kejam dan rasa aman pada Rama yang tak bisa dia ungkapkan.