Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TUJUH
Klub malam itu dipenuhi riuh yang tak pernah padam. Lampu berkedip menyapu ruangan, menciptakan bayangan yang menari di wajah-wajah para pengunjung. Dari langit-langit, lampu strobo berputar cepat, membuat semua gerakan di lantai dansa terlihat patah-patah-seperti dunia yang bergerak terlalu cepat.
Aroma campuran begitu pekat: asap rokok yang menusuk hidung, wangi parfum mahal bercampur dengan keringat, dan bau tajam alkohol yang tumpah di meja-meja kaca. Di sudut ruangan, DJ berdiri di balik turntable, tubuhnya ikut bergerak mengikuti dentuman musik EDM yang memekakkan telinga. Bass yang berat membuat dada setiap orang bergetar, seakan jantung mereka dipaksa berdetak mengikuti irama.
Lantai dansa dipenuhi tubuh-tubuh berdesakan. Gaun mini berkilau, sepatu hak tinggi, kemeja basah oleh keringat, dan tangan-tangan yang terangkat ke udara. Mereka menari tanpa henti, sebagian dengan tawa keras, sebagian lagi dengan pandangan kosong-seolah hanya ingin melupakan sesuatu malam ini.
Di area VIP, suasananya berbeda. Sofa-sofa kulit hitam tersusun melingkar, meja kaca dipenuhi botol wine, champagne, dan whiskey mahal. Di sana, pengunjung tidak menari, melainkan bersandar santai, berbincang dengan suara setengah berteriak, ditemani wanita-wanita bergaun ketat yang tertawa manja. Pelayan-pelayan dengan seragam rapi mondar-mandir membawa nampan berisi minuman, wajah mereka datar meski sekeliling begitu gaduh.
Lampu-lampu kristal kecil yang menggantung di area VIP berusaha memberi kesan eksklusif, tapi tetap saja tak bisa menutupi hiruk-pikuk di sekitarnya.
Dan di tengah semua itu, ketika Rakha melangkah masuk, ia tampak begitu asing. Jas hitamnya terlalu formal untuk ruangan penuh peluh dan dentuman musik itu. Tatapannya dingin, kontras dengan semua tawa palsu dan senyum mabuk di sekelilingnya. Kehadirannya membuat beberapa wanita yang tadinya bercanda dengan klien kaya langsung terdiam, menoleh seakan ingin memastikan pria setampan dan setegap itu nyata.
Rakha melangkah mantap menuju area VIP, melewati kerumunan yang berdesak-desakan di lantai dansa. Dentuman musik menghantam telinga, tapi langkahnya sama sekali tak goyah. Seorang pelayan membungkuk sopan, membuka tali beludru merah, lalu mempersilakan masuk.
Di dalam, suasananya sedikit berbeda. Cahaya redup lampu kristal memberi kesan mewah, tapi tetap saja asap rokok menebal dan tawa keras bercampur suara botol beradu. Sofa kulit hitam tersusun setengah melingkar, meja kaca di tengah dipenuhi botol minuman berlabel asing, gelas-gelas kosong, dan piring berisi potongan buah segar yang sudah setengah layu.
Adit duduk santai dengan kaki disilangkan, kemejanya sedikit terbuka, lengan bajunya digulung asal. Di sebelahnya, seorang wanita bergaun merah ketat baru saja tertawa genit, namun begitu melihat Rakha datang, ia segera menyingkir dengan canggung-membiarkan ruang di samping Adit kosong.
"Bro, akhirnya datang juga lo," seru Adit, suaranya harus ditinggikan agar terdengar di antara dentuman bass. Ia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, menyuruh Rakha duduk. "Gue kira lo bakalan kabur lagi dengan alasan kerjaan."
Rakha menanggalkan jasnya, meletakkannya rapi di sandaran sofa sebelum duduk. Gerakannya tenang, kontras dengan keramaian di sekeliling. Ia hanya melirik sekilas botol whiskey yang masih setengah penuh di meja, lalu mengalihkan pandangan pada Adit.
"Gue nggak suka tempat berisik," ucap Rakha datar, suaranya dalam namun jelas terdengar meski musik menghantam.
Adit terkekeh, menuangkan whiskey ke dua gelas. "Tempat berisik justru bikin lo lupa sama masalah, Bro. Semua orang datang ke sini buat itu." Ia menyodorkan satu gelas ke arah Rakha. "Santai dikit lah. Hidup nggak melulu soal kerja dan dendam."
Rakha menerima gelas itu, menatap cairan keemasan yang bergoyang di dalamnya. Ia tidak langsung minum, hanya memutarnya pelan di tangan. Tatapannya dingin, tapi ada sesuatu yang dalam, seperti pikirannya sedang jauh melayang.
Beberapa wanita di sofa seberang VIP area mencuri pandang ke arah mereka. Tidak sulit menebak kenapa: dengan tinggi menjulang, rahang tegas, dan aura yang memancar kuat, Rakha terlihat lebih seperti eksekutif misterius dalam film daripada pengunjung klub biasa. Adit sadar betul akan itu, dan ia justru semakin tergelak.
Dentuman musik EDM masih bergema, cahaya lampu strobo berpendar liar menimpa wajah-wajah para pengunjung. Namun di sudut VIP, suasana seolah punya dunia sendiri. Rakha dan Adit duduk berhadapan di sofa kulit, meja kaca di depan mereka dipenuhi botol whiskey dan gelas-gelas kosong.
Adit menyalakan rokok, mengisapnya dalam-dalam lalu menghembuskan asap ke udara dengan gaya santai. Tatapannya nyaris mabuk, tapi mulutnya tetap cerewet.
"Gimana sidang tadi siang? Sukses, kan?" tanyanya, suaranya harus sedikit meninggi agar terdengar jelas.
Rakha meneguk whiskey, lalu menaruh gelasnya kembali di meja. Senyum tipis pongah terukir di bibirnya.
"As always. Memang pernah Wiratama Law Firm mengecewakan klien?"
Adit terkekeh keras, menepuk meja sampai botol bergetar. "Hahaha! Good, good. Gue suka gaya lo, Bro. Tetep arogan, tetep elegan. Ciri khas lo banget."
Rakha hanya mendecak pelan, mencondongkan tubuh ke sandaran sofa. Sorot matanya tak bergeming, dingin seperti biasa.
Adit meliriknya nakal, lalu bersandar dengan ekspresi cengengesan. "Eh, gue denger... kemarin lo ketemu Maharani ya? Itu anak Soetomo, si artis. Gimana? Cantik nggak tuh cewek?"
Rakha mengangkat alis tipis, seolah pertanyaan itu terlalu remeh. "Biasa aja."
Adit langsung terbahak, sampai hampir menyemburkan asap rokoknya. "Biasa? Gila lo, Bro! Cewek secantik dia lo bilang biasa? Itu national girlfriend, semua cowok Indo mimpiin dia. Wajahnya-gila, mulus banget. Badannya... beuh, aduhai. Apalagi kalau-" ia menurunkan suara, senyumannya makin cabul, "-dadanya, Bro. Itu sih masterpiece."
Rakha menoleh perlahan, tatapannya menusuk tajam seperti bilah dingin. Suaranya rendah, berat, tapi jelas terdengar meski musik menghantam telinga.
"Bangsat, Dit. Otak lo kalau nggak mikir jorok kayaknya nggak bisa, ya?"
Adit masih tertawa ngakak, mengangkat gelas whiskey untuk menenggak lagi. "Yaelah, Bro. Realistis aja lah. Kita cowok, punya kebutuhan. Lo jangan pura-pura alim. Lagian, kalau gue jadi lo, ketemu cewek secantik Maharani, gue nggak akan cuma bilang 'biasa'."
Rakha menghela napas pelan, menatap ke dalam gelasnya. Senyum miring samar menghiasi wajahnya-senyum yang membuat Adit mendadak terdiam beberapa detik, menyadari ada sesuatu di balik ketenangan itu.
Adit menyalakan rokok lagi, ujungnya menyala merah dalam temaram lampu klub. Ia mengisap dalam, lalu menghembuskan asap ke udara sambil melirik Rakha. Tatapannya mendadak serius, meski nada suaranya tetap santai.
"Tapi... lo tau nggak, Bro? Si Maharani lagi kena skandal hari ini. Nama dia trending di mana-mana."
Rakha, yang sedari tadi tenang memutar gelas whiskey di tangannya, spontan menghentikan gerakan. Matanya menyipit, lalu menatap Adit tajam.
"Skandal?" suaranya rendah, dingin, tapi ada ketertarikan jelas di balik nada itu.
Adit mengangguk penuh gaya, lalu menyeringai. "Yoi. Gosipnya, dia sempet cinlok sama lawan mainnya di film. Aktor muda itu, si Risyad. Nah, katanya ada video mereka yang agak... panas." Adit menurunkan suaranya, senyumnya melebar nakal. "Dan kabarnya, rekaman itu udah sempet bocor ke forum-forum. Pantes aja netizen rame."
Rakha terdiam. Hanya suara dentuman bass dari DJ yang menutupi keheningannya. Tapi tangannya yang menggenggam gelas tampak mengeras, urat-uratnya menegang. Matanya menatap lurus, dalam, seolah menembus ruang.
"Video syur?" ucap Rakha akhirnya, pelan namun setiap kata terdengar berbahaya.
"Belum ada yang bisa buktiin keasliannya sih," Adit cepat menambahkan, mengangkat bahu santai. "Namanya juga gosip, kan? Bisa aja cuma strategi buat naikin hype film mereka. Tapi lo tau sendiri lah, netizen-udah keburu liar duluan. Timeline gue penuh sama omongan itu. Bahkan ada yang bilang Maharani sengaja bikin sensasi."
Rakha menyandarkan tubuhnya ke sofa, menutup mata sebentar seakan sedang menimbang sesuatu. Dalam kepalanya, potongan wajah Maharani muncul lagi-tatapan rapuh saat ia menunduk di meja lounge, senyum gugup yang berusaha menutupi perasaan, bahkan suaranya yang bergetar saat bicara. Tidak, itu bukan wajah perempuan yang sengaja cari sensasi.
"Dia bukan tipe yang begitu..." Rakha bergumam nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
Adit mendengar dan langsung tergelak. "Hahaha! Lah, lo kok jadi bela dia, Bro? Jangan bilang lo beneran kepincut sama si national girlfriend itu?"
Rakha membuka mata, menatap Adit tajam. Senyum tipis muncul, tapi dingin, menusuk.
"Gue cuma bilang... orang nggak selalu kayak yang kelihatan di media. Dan lo, Dit-jangan terlalu gampang menelan gosip."
Adit menaikkan alisnya, lalu mengisap rokok lagi sambil menggeleng. "Wih, defensif banget. Gue makin yakin nih, ada sesuatu antara lo sama Maharani."
Rakha tidak menanggapi. Ia hanya mengangkat gelasnya, menenggak sisa whiskey hingga habis. Tapi dalam diamnya, pikirannya berputar cepat. Jika benar Maharani terjerat skandal seperti itu... bisa jadi pintu masuk. Sebuah celah yang bisa ia manfaatkan untuk masuk lebih dalam ke dalam hidupnya.
Dan untuk Rakha Adiwangsa Wiratama, setiap celah adalah kesempatan emas.