Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Zhang Yi Lin, 21 tahun. Dokter muda di Rumah Sakit Pusat Orinthal. Hidupnya 30 hari terakhir lebih banyak dihabiskan di IGD daripada di apartemen mewahnya sendiri.
Semua itu karena satu orang: Lu Minghan. Direktur utama rumah saki tempatnya bekerja.
Karena menolak cintanya, Alin dilempar ke Xinglan—negara monarki di utara, jauh dari segala kenyamanan. Segala bentuk hidup nyaman dan kemewahannya harus ia lepaskan demi mengabdikan diri sesuai dengan janji hidupnya yang dipenuhi oleh janji Hipokrates.
Satu minggu sebelum penugasan sukarelawan.
“Alin… Kau sudah mau pulang?” Tanya rekan sejawatnya, Feng Ziyan.
“Ya Zi. Aku heran siapa yang membuat jadwalnya bulan ini?” Kesal Alin, “Aku sudah 6 hari jaga malam.”
“Alin…” Zizi menarik lengan sahabatnya itu, “Presdir yang mengubah jadwal para dokter muda. Apa kau ada berbuat kesalahan atau menyinggung tuan Lu?” Tanyanya berbisik.
“Aku?” Tanya Alin memastikan.
“Kau dekat dengannya. Kenapa tiba-tiba dia membuatmu bekerja non-stop?”
“Apa menolak cintanya termasuk menyinggung?” Tanya Alin polos, “Aku mengatakannya dengan sopan. Maksud ku, saat ini aku sedang sibuk. Aku bahkan berniat melanjutkan gelar spesialis ku.”
“ASTAGA ALIN…”
”Pria gila itu menyalahgunakan kewenangannya untuk menindasku?!” Duga Alin, “Sungguh dia melakukannya?”
“Dokter Zhang Yi, dokter Feng. Kalian berdua setelah selesai bertugas jangan lupa untuk menghadiri rapat.” Ingatkan seorang perawat pada mereka berdua.
“Ini hari liburku. Bisa-bisanya dia menyuruhku untuk ikut rapat.” Geram Alin, “Akan aku bunuh dia.”
“Dia atasan kita. Jangan kau lupakan itu.” Lirih Zizi.
“Takut apa?! Aku akan melempar surat pengunduran diri ku, tepat di wajahnya.” Geramnya lagi dan mengambil jas dokternya menuju ruang rapat yang dimaksud.
...****************...
Satu minggu setelah penugasan sukarelawan.
Negara Xinglan.
“SEMUA BERSIAGA!” Ucap dokter IGD saat itu, “Terjadi ledakan kapal di pelabuhan. Siapkan tiga ambulance dengan tiga dokter untuk menuju lokasi. Sisanya stand by menerima korban di rumah sakit.” Perintah kepala ruang IGD kembali.
“Lin… ikutlah.” Pinta dokter itu kembali. Dokter Gu, senior sekaligus pembinging Zhang Yi Lin.
Alin dengan sigap mengikuti perintah seniornya, segera ia masuk kedalam mobil ambulance. Dalam sepekan ini sudah lebih dari tiga kali Alin menaiki mobil ambulance untuk menjemput langsung pasien akibat kecelakaan.
Dermaga kota Linggu sungguh kacau. Pelabuhan terbesar di negara Xinglan terbakar. Memakan banyak korban.
“Didalam kapal ada yang terjebak. Trauma dikakinya membuat sulit dievakuasi. Dia kesakitan. Ada yang bisa…”
“ALIN TOLONG IKUTI PETUGAS ITU.” Perintah seniornya menyela tenaga sukarelawan tersebut.
Alin seperti biasa. Ia sangat patuh. Ia tidak pernah merasa diatas segalanya meski Alin terlahir dari keluarga terpandang di Negaranya. Ia juga tidak pernah merasa paling pintar meski sederet penghargaan ia raih sejak kecil. Baginya hidup adalah terus belajar dan saling menghargai.
“Bagaimana, Dok?” Cemas tenaga sukarelawan itu.
“Tulangnya bergeser. Aku akan mengembalikannya.” Ujar Alin sambil berjongkok disisi pasiennya.
“Tidak tidak. Aku tidak mau, ini sakit sekali.” Tangis remaja pria itu menahan Alin.
“Hanya sebentar. Jika tidak kulakukan, kau akan tetap merasa sakit sampai di rumah sakit. Disana pun mereka juga akan melakukan hal yang sama.” Jelas Alin.
“Aku tidak mau.” Tegasnya.
“Hei nak tolonglah kerja sama mu. Kami disini kekurangan orang, masih banyak yang perlu…”
“AKU TIDAK MAU.” Selanya pada tenaga sukarelawan itu.
“Siapa nama mu?” Tanya Alin akhirnya dengan tenang.
“Andu.”
“Baiklah Andu.” Alin menuliskan diagnosanya pada perut Andu, “Dia tetap akan mengevakuasi mu. Kapal ini akan tenggelam. Dan selama kau dievakuasi ke daratan kau harus melawan rasa sakit mu.”
“Kalau begitu biarkan aku disini. Kau dokter apa tidak bisa memberikan ku obat pereda…”
“Kami kekurangan obat itu. Kalau kau mempercayai ku, aku pastikan rasa sakit yang kau rasakan tidak lebih dari lima menit.”
“Kau yakin?” Ragunya.
“Sejauh ini aku tidak pernah mengecewakan.” Senyum Alin.
Dengan pelan Andu mengangguk mengizinkan Alin mengembalikan posisi tulangnya yang terdistorsi. Tak ingin membuang lama atas banyaknya waktu yang telah terbuang, Alin menginstruksikan bahwa ia akan menarik pergelangan kaki Andu yang dislokasi.
“Hitungan ketiga, kau bisa teriak sekencang yang kau bisa. Satu… dua… tiga.”
KLAK
“ARGH…”
Terdengar raungan jerit kesakitan Andu yang memekakkan telinga. Namun sesuai perkataan Alin, sakit itu hanya sesaat. Dokter di hadapan Andu tidak mengecewakannya.
“Angkat dia sekarang. Perlahan, lumbar belakangnya cedera. Dia membutuhkan operasi sekarang.” Jelas Alin kemudian pada tenaga sukarelawan tersebut.
“DOKTER KEMARI. AKU BUTUH BANTUANMU.”
Dengan sigap Alin berlari menuju suara yang memanggilnya. Perempuan itu meski hidupnya sejak dulu sangat dimanjakan dengan segala kebutuhan nya terpenuhi, namun ia cukup tangguh saat seseorang membutuhkan kemampuannya di situasi terberat sekalipun.
“Alin… kau dimana?” Tanya seniornya, dokter Gu. Suaranya terdenga tegang.
Dari earphone yang terpasang pada masing-masing telinga petugas tenaga medis, Alin dan lainnya dapat saling memantau kinerja dan keadaan mereka disaat sinyal handphone tidak memungkinkan menghubungi mereka satu per satu.
“Aku di lumbung kapal. Korban didalam sini lebih parah. Mereka…”
“Alin… tidak semua dapat kau selamatkan. Apa kau mengerti. Tidak dalam kapal itu, mereka mengatakan tidak ada 10 menit kapal akan tenggelam.”
Alin tak menjawab. Tangannya tengah memompa dada pasien, CPR tidak mengenal waktu. Perempuan itu tidak memikirkan waktu 10 menit yang diberikan. Saat ini justru dirinya sedang berjuang dengan waktu, melawan takdir kematian menjemput pasiennya.
“ALIN KAU DENGAR AKU?” Teriak dokter Gu kembali, pria itu pun sama sibuknya. Melakukan operasi darurat di dalam mobil ambulance.
“HAN JEMPUT DIA.” Perintahnya kemudian.
Alin dengan bermandikan peluh keringat dan pakaiannya yang sudah basah, berjuang mengembalikan detak jantung pasiennya bertarung dalam tiap ritme waktu.
“Tuan Rei… kapal ini akan tenggelam. Segeralah keluar.” Pinta asistennya.
“Yuchen… kau keluarlah dulu. Aku akan menyusulmu.”
“Tidak disini tuan. Lumbung ini akan meledak. Api sedang menjalar ke ruang penyimpanan tabung gas.” Cemasnya.
“Ini didalam air. Ledakannya tidak akan besar.” Rei tak ingin lama berdebat, segera berlari menghampiri Alin yang terlihat sibuk mengurus para korban.
“Bantu dia Yuchen.” Perintah Rei menangani korban lainnya.
Rei saat hendak keluar, ia terpaku menatap upaya Alin menyelamatkan pasiennya tanpa memikirkan kondisi nya sendiri saat itu. Terlihat Alin yang begitu kelelahan melakukan tindakan CPR namun tetap berupaya berpindah ke tubuh pasien lainnya untuk dikeluarkan dari dalam ruangan itu.
BAAAAAMMM
Ledakan pertama mengguncang kapal. Rei melihat keadaan Alin yang terlihat menyembunyikan ketakutannya. Alin tak bisa berkompromi dengan perasaan takut gemetar yang keluar dari dalam dirinya, otaknya seakan bekerja terus-menerus mengatakan semua akan baik-baik saja. Ia ketakutan namun tidak berlari.
“ALIIIIINN KELUAR.” Perintah dokter Gu meneriakkan namanya yang memekakkan telinga.
Earphone tersebut terhubung dengan seluruh tenaga medis dari rumah sakit pusat yang bertugas di lapangan saat ini. Dan setiap nama Alin dipanggil, perempuan itu bahkan tidak akan menjawabnya.
“Dokter Gu, aku tidak bisa menyusul ke dalam lumbung kapal. Jalurnya tertutup.” Ujar Han rekan Alin.
“SIAL. ALIN KAU BISA DENGAR AKU.” Cemas dokter Gu.
Alin menekan tombol di earphone nya untuk ia dapat menyampaikan perkataannya.
“Dokter Gu didalam sini masih ada dua, tidak. Ada empat pasien yang perlu dievakuasi.” Ujar Alin mengoreksi jumlah saat melihat Rei berdiri di hadapannya dengan lengan terluka.
“DEWA LAUT. ALIN AKU SUDAH KATAKAN UNTUK…”
BAAAAAAAAMM
Kembali lagi suara ledakan terdengar lebih nyaring dan lebih besar dari sebelumnya.
“Yuchen bantu orang itu keluar.” Perintah Rei.
“Tapi kau…” Yuchen melihat lengan Rei yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Lekas. Kita akan keluar.”
“Kau bisa jalan?” Tanya Alin menghampiri dengan mengikatkan sebuah perban darurat untuk lengan Rei. Membuat jalur darah yang keluar terhenti sesaat akibat tekanan. Pria itu terlihat pucat karena darahnya terus mengalir tanpa henti.
“Kau tidak apa?” Tanya Rei, pria itu memperhatikan pergelangan kaki Alin yang tergores luka cukup besar.
Alin mendengar ucapan Rei seakan tak percaya menatap nya. Selama ini tidak pernah ada yang menanyakan kondisi seorang dokter. Tidak dalam kondisi saat itu.
BAAAAAMM
Alin mencengkram pakaian Rei dan memejamkan mata. Terlihat is mengontrol rasa takutnya.
“Kita keluar.” Perintah Rei menggenggam erat tangan Alin. Dan ini untuk kesekian kalinya Rei melihat dokter itu menelan semua rasa takutnya, menahan rasa sakitnya.