Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Apa Kamu Pantas Jadi Ayah?
Dua hari berlalu begitu saja. Selain Yan Shong—ayah kandungnya—Nara akhirnya sudah melihat semua orang di rumah ini.
Dari generasi tua ada Kakek Yan dan Nenek Lou. Lalu ada ibu tiri bernama Han Ruo, Paman Yan Ming, Bibi Yan Ling, si manja Yan Ran, anak laki-laki sulung bernama Yan Quan, serta si bungsu Yan Bao.
Selama beberapa hari di sini, Nara makin paham betapa buruknya sifat keluarga ini. Mereka sangat dingin dan tidak punya hati, sama sekali tidak pantas disebut keluarga.
Sementara ibu kandungnya, Nyonya Mu, hanyalah wanita penurut yang terlalu lemah dan gampang diinjak-injak.
Siang itu, pas Nara dan Yan Ning baru pulang membawa kayu bakar, suara tangisan histeris mendadak terdengar dari dalam halaman rumah.
Wajah Yan Ning langsung berubah panik. Dia menjatuhkan ikatan kayu di pundaknya lalu berlari kencang ke dalam.
Nara mengerutkan keningnya. Biarpun belum lama di sini, dia tahu betul kalau itu suara tangisan ibunya yang lemah. Ada masalah apa lagi sekarang?
Pas melangkah masuk ke halaman, Nara melihat seorang wanita bertubuh gemuk memakai baju warna merah mawar sedang berdiri sambil bersedekap. Wanita itu menatap ke arah kamar barat dengan senyuman puas yang mengejek.
"Anak pembawa sial itu pulang!" teriak seorang bocah laki-laki umur lima tahunan yang berdiri di dekat wanita itu, ingusnya yang panjang tampak naik turun.
Nara melemparkan tatapan dingin kepada mereka berdua. Mereka adalah Han Ruo, si ibu tiri, dan anak laki-laki kesayangan ayahnya, Yan Bao.
"Wah, anak sulung kebanggaan kita sudah pulang," sindir Han Ruo dengan suara melengking yang dibuat-buat pas melihat Nara.
"Sana cepat lihat ibumu di dalam, jangan sampai dia mati dipukuli," lanjutnya sambil menunjuk ke arah kamar barat.
Nara tidak peduli sama sekali dengan omongan sinis itu. Dengan wajah tegang, dia langsung berjalan cepat menuju kamar barat.
Begitu sampai di ambang pintu, dia melihat ibunya sedang meringkuk di sudut bawah ranjang kayu sambil menangis tersedu-sedu.
Yan Ning berdiri di depan ibunya sambil merentangkan kedua tangan lebar-lebar, menatap tajam seorang pria yang berdiri di hadapan mereka.
"Kakak..." panggil Yan Ning begitu melihat Nara datang. Air mata sudah menggenang di matanya, tapi anak itu menolak untuk menangis.
Mendengar teriakan Yan Ning, pria di dalam kamar langsung berbalik dan tatapannya langsung beradu dengan mata Nara.
Umurnya sekitar tiga puluh lima tahun dengan perut yang mulai membuncit. Rambutnya diikat rapi, dia memakai jubah panjang serta sepatu kain hitam yang kelihatan mahal.
Penampilannya jauh lebih rapi dan terhormat dibandingkan dengan warga desa lainnya. Tapi sayang, wajahnya yang lumayan tampan itu sekarang terlihat sangat beringas.
Alisnya terangkat tinggi, menatap Nara dengan pandangan jijik yang luar biasa, seolah-olah sedang melihat seonggok sampah.
Ini dia Yan Shong, ayah kandung Nara yang egois itu. Nara tahu dari ingatan pemilik tubuh kalau pria ini bekerja jadi kurir di toko milik mertua barunya.
Pantas saja badannya gemuk dan segar, beda jauh dengan kondisi mereka bertiga yang kurus kering kayak kurang makan. Nara tersenyum sinis dalam hati.
Berdasarkan sisa ingatan di otaknya, pria tidak berguna ini tidak pernah berbuat baik. Kerjanya cuma memukul dan memaki anak istrinya sendiri tanpa pernah memberi nafkah yang layak.
Nara merasa muak dan memilih untuk mengabaikan keberadaan pria itu. Tanpa menyapa sama sekali, dia melangkah melewatinya begitu saja untuk mendekati ibunya.
"Ayo bangun, Bu," kata Nara pelan sambil mengulurkan tangan untuk membantu Nyonya Mu berdiri.
"Ara..." Nyonya Mu meraih tangan Nara dengan tubuh gemetar, wajahnya dipenuhi rasa takut sekaligus malu.
Mata Nara mendadak melihat dua bekas jejak kaki kotor menempel di baju ibunya yang penuh tambalan. Detik itu juga, wajah Nara langsung menggelap.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mengibaskan tangan untuk membersihkan bekas kotoran itu. Baginya, laki-laki yang suka main tangan sama perempuan adalah bajingan.
Yan Shong yang merasa diabaikan sepenuhnya langsung naik pitam. Ditambah lagi belakangan ini pekerjaannya sedang banyak masalah, emosinya jadi makin meledak-ledak.
Dia menunjuk wajah Nara dengan kasar dan mulai memaki. "Kurang ajar ya kamu! Sekarang sudah berani tidak panggil aku ayah?! Dapat keberanian dari mana kamu?!"
"Kalau memang berani memotong jarimu sendiri, kenapa tidak sekalian saja potong lehermu? Anak sialan, cuma bikin malu keluarga saja!" bentak Yan Shong emosi.
Semakin bicara, dia malah makin frustrasi. Yan Shong kemudian mengalihkan telunjuknya ke arah Nyonya Mu yang masih ketakutan.
"Kamu juga sama saja, wanita pembawa sial! Melahirkan anak cacat begini cuma bikin hidupku ikutan apes. Tahu begini, pas lahir sudah aku tenggelamkan dia ke ember kotoran!"
Mendengar kalimat kejam itu, Nara langsung membalikkan badannya. Dia menatap lurus ke dalam mata Yan Shong dengan pandangan yang sangat tajam dan dingin.
"Ayah macam apa?" ucap Nara dengan nada suara yang tenang tapi menusuk. "emang kamu merasa pantas disebut seorang ayah?"