"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafa Menyesal
Usai mengajar dan bel pulang berbunyi, Aryan keluar dari kelas. Ia berniat kembali ke kampus untuk melanjutkan kuliahnya. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya dari belakang.
“Pak Aryan!”
Aryan menoleh. Ternyata seorang perempuan berhijab cokelat muda dengan seragam guru yang senada sedang berjalan menghampirinya. Perempuan itu adalah Cindy.
“Ada apa, Bu Cindy?” tanya Aryan sopan.
“Enggak ada apa-apa, kok.” Cindy tersenyum kecil sambil menyodorkan sebuah kotak bekal. “Saya cuma mau kasih Pak Aryan sarapan. Kebetulan tadi masak lebih.”
Aryan menatap kotak makan itu beberapa detik sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Cindy.
“Maaf, Bu Cindy.” Aryan mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. “Saya sudah menikah.”
Senyum di wajah Cindy perlahan memudar. Matanya tampak sedikit terkejut mendengar pengakuan tersebut.
Aryan melanjutkan dengan nada tenang namun tegas. “Jadi percuma kalau Bu Cindy berusaha mencari perhatian saya. Karena saya gak akan berpaling ke perempuan mana pun selain istri saya.”
Cindy terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar penolakan yang begitu jelas, meski disampaikan tanpa nada kasar.
“Maafkan saya. Permisi.”
Setelah mengatakan itu, Aryan kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor sekolah, meninggalkan Cindy yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Perempuan itu mengembuskan napas panjang sambil menunduk menatap kotak bekal di tangannya.
Sejak Aryan mulai mengajar di sekolah itu, Cindy memang sudah menaruh ketertarikan. Sikap Aryan yang dingin, tenang, dan berwibawa justru membuatnya penasaran. Ia berkali-kali mencoba mencairkan suasana dan mendekati laki-laki tersebut, tetapi Aryan selalu menjaga jarak dengan sopan.
Dan kini, bahkan sebelum Cindy sempat berharap lebih jauh, laki-laki itu sudah lebih dulu menjadi milik perempuan lain.
***
Pukul satu siang, Zaskia yang baru saja keluar dari mushola kampus dikejutkan oleh keberadaan Kafa yang berdiri tak jauh dari tempatnya mengenakan sepatu. Begitu melihat laki-laki itu mulai berjalan menghampiri, Zaskia refleks mempercepat gerakannya.
Setelah selesai memakai sepatu, ia segera berdiri dan berniat pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti ketika Kafa menghadang jalannya.
“Kakak mau ngobrol sebentar.”
“Enggak perlu ada yang diobrolin, Kak,” jawab Zaskia dengan suara bergetar. “Buat apa? Semuanya udah terlambat.”
Pandangan Zaskia terus mengarah ke tempat lain. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah Kafa.
“Kakak tau,” ucap Kafa lirih. “Kakak cuma mau minta maaf.”
Zaskia terdiam. Tanpa sadar air matanya luruh begitu saja.
“Kakak tau ini terlambat, tapi Kakak benar-benar minta maaf, Kia.”
Pada akhirnya mereka sudah berpindah ke sisi barat mushola. Di bawah pohon rindang terdapat kursi beton yang kini mereka duduki dengan jarak hampir satu meter sebagai pembatas.
Zaskia terus membuang muka. Rasa kecewa yang menumpuk membuat dadanya sesak. Air matanya berkali-kali jatuh meski ia berusaha menahannya.
“Udah, Kak, ngobrolnya?” ucap Zaskia datar sambil mengusap wajahnya. “Kia mau balik. Kak Aryan mungkin bentar lagi jemput Kia. Kia gak mau bikin dia salah paham karena pertemuan kita di sini.”
Ucapan itu membuat hati Kafa mencelos.
Ya, semua ini memang salahnya.
Jika waktu bisa diputar ulang, Kafa ingin menarik kembali kata-katanya malam itu—kata-kata yang justru meminta Aryan melanjutkan hubungan bersama Zaskia.
Helaan napas berat keluar dari mulutnya.
Namun bagaimanapun juga, sekarang Zaskia sudah menjadi istri Aryan.
“Kia…”
“Kia pamit ya, Kak.”
Zaskia bangkit dari duduknya tanpa memedulikan tatapan Kafa yang masih ingin menahannya.
“Tunggu, Kia. Lima menit aja.”
Zaskia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya duduk kembali.
“Makasih ya…”
Zaskia diam.
“Malam itu Kakak syok. Kakak gak bisa berpikir jernih. Kakak enggak bisa ambil keputusan saat kepala Kakak lagi kacau…”
“Tapi kenapa Kak Aryan bisa, Kak?”
Kafa langsung terdiam.
“Kenapa orang yang Kia percaya malah gak bisa?”
Pertanyaan itu menghantam telak dadanya.
Kafa kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan malam itu.
“Saat ini Kia sadar…” suara Zaskia mulai bergetar lagi, “perasaan Kakak ternyata gak nyata. Kakak gak serius.”
Air mata kembali jatuh dari matanya.
“Kia nyesel pernah pacaran sama Kakak. Harusnya dari awal kita gak usah punya hubungan apa-apa. Jadi Kia gak bakal kecewa separah ini.”
“Kia…”
Sambil mengusap matanya, Zaskia buru-buru berdiri. Ia berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Kafa hanya bisa memandangi punggung mantan kekasihnya yang perlahan menjauh dari pandangan. Tatapannya kosong dan sendu.
Selama berjalan menjauh dari area mushola, Zaskia berkali-kali menarik napas panjang untuk menenangkan sesak di dadanya. Pertemuan dengan Kafa benar-benar mengacaukan perasaannya.
Setelah tangis tanpa suaranya mulai reda, Zaskia berjalan dengan tatapan kosong ke arah jalan di depannya.
Namun langkahnya mendadak terhenti ketika sebuah motor berhenti tepat di hadapannya.
Zaskia mengangkat wajah.
Di sana ada Aryan yang langsung tersenyum begitu melihatnya.
“Kok sendirian?” tanya Aryan.
Bukannya menjawab, Zaskia justru kembali ingin menangis. Melihat Aryan saat itu terasa seperti menemukan tempat pulang di tengah kekacauan.
Aryan mengernyit bingung.
“Kamu kenapa?”
“Kak…” Tanpa banyak bicara, Zaskia mendekat lalu memeluk Aryan dari samping.
Tubuh Aryan langsung menegang. “Kia?”
“Makasih ya udah jemput…”
Aryan mengembuskan napas perlahan untuk mengusir gugup di dadanya. Setelah itu ia melirik sekitar, memastikan tidak banyak mahasiswa yang memperhatikan mereka.
Beruntung suasana kampus sedang tidak terlalu ramai.
“Iya,” jawab Aryan pelan.
Zaskia melepaskan pelukannya sambil mengusap matanya yang memerah.
“Kamu nangis begini cuma karena Kakak jemput?” tanya Aryan heran. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata di pipi istrinya.
Zaskia terkekeh malu sambil menundukkan kepala.
Aryan tersenyum kecil, lalu menjawil gemas pipinya sebelum mengambil helm dan memasangkannya ke kepala Zaskia dengan hati-hati. “Yuk.”
Zaskia mengangguk pelan. Setelah helm terpasang, ia duduk di belakang Aryan dengan posisi menyamping.
“Taruh sini tangannya.” Aryan meraih kedua tangan Zaskia dan membawanya melingkar ke pinggangnya.
Zaskia menurut saja. !+Toh sekarang Aryan memang suaminya.
Bahkan setelah pertemuannya dengan Kafa tadi, Zaskia semakin yakin untuk perlahan membuka hati dan belajar menerima Aryan sepenuhnya.
Motor pun melaju meninggalkan area kampus.
Sepanjang perjalanan, senyum Aryan tak benar-benar hilang dari wajahnya.
Namun di sisi lain, tanpa mereka sadari, Kafa melihat semua itu.
Ia menyugar rambutnya kasar sambil mencoba meredam gemuruh menyakitkan di dalam dada.
Tak pernah ia sangka rasanya akan sesakit ini melihat perempuan yang dicintainya kini menjadi milik orang lain.
“Kafa!”
Kafa segera mengusap ujung matanya sebelum menoleh ke arah suara itu.
“Shaf.”
“Gue cariin ke mana-mana, enggak taunya lo di sini. Balik yuk.”
Kafa hanya mengangguk pelan.
Arshaf merangkul pundaknya, lalu membawa Kafa berjalan menuju parkiran. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, kendaraan itu pun melaju perlahan meninggalkan area kampus.
Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Arshaf beberapa kali melirik ke arah Kafa yang duduk di kursi penumpang sambil menatap kosong ke luar jendela. Rahang laki-laki itu tampak mengeras, sementara tangannya mengepal di atas paha.
“Lo habis nangis?” tanya Arshaf tiba-tiba.
Kafa mengembuskan napas pelan. “Enggak.”
“Bohong. Mata lo merah begitu.”
Kafa tidak menjawab. Ia malah memejamkan mata sejenak sambil menyandarkan kepalanya ke jok.
Arshaf akhirnya menghela napas. “Kaf… gue tau lo suka sama Kia.”
Kalimat itu membuat Kafa perlahan membuka matanya.
“Tapi sekarang dia udah jadi istrinya Aryan.”
Kafa tersenyum miris. “Gue tau.”
“Terus kenapa lo masih nyari dia?”
Kafa tertunduk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan suara lirih. "Karena gue nyesel, Shaf.”
Mobil mendadak terasa semakin sesak.
Arshaf diam. Untuk pertama kalinya ia melihat Kafa seterpuruk itu hanya karena seorang perempuan.. Gue kira waktu itu gue ngelakuin hal yang benar.” Kafa terkekeh hambar. “Gue pikir gue bisa ngalah demi semuanya. Tapi ternyata pas gue lihat Kia sama Aryan…” Suaranya tercekat sesaat. “Gue gak sekuat itu.”
Arshaf menggigit bibir bawahnya pelan. “Kaf.”
“Hmm?”
“Kalau lo emang sayang sama...." sahabatnya sekilas sebelum kembali fokus menyetir. “Harusnya lo berhenti bikin diri lo sendiri sakit.”
Kafa tertawa kecil, namun terdengar getir. “Gampang ngomongnya.”
“Iya. Tapi itu kenyataannya.”
Kafa kembali menatap keluar jendela. Bayangan Zaskia yang memeluk Aryan tadi terus terputar di kepalanya tanpa ampun.
Perempuan yang dulu selalu mencari dirinya kini justru mencari laki-laki lain ketika menangis.
Dan yang paling menyakitkan…Laki-laki itu adalah sahabatnya sendiri.
Sementara di sisi lain jalanan kota, motor yang dikendarai Aryan terus melaju membelah siang. Angin menerpa lembut pakaian keduanya. Tangan Zaskia yang melingkar di pinggang Aryan perlahan mengerat tanpa sadar.
Aryan yang merasakannya tersenyum kecil..“Kamu capek, Kia?”
Zaskia menggeleng pelan walaupun Aryan tidak bisa melihatnya.
“Enggak.”
“Terus kenapa meluknya makin kenceng?”
Zaskia tersipu malu di balik helmnya. “Biar enggak jatuh.”
Aryan terkekeh kecil. “Padahal jalannya lurus.”
Zaskia mendengus pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedikit tenang.
Dan anehnya, rasa tenang itu hadir ketika bersama Aryan.
***
Arshaf dan Kafa akhirnya tiba di apartemen. Setelah seharian berkutat dengan kuliah dan pikiran masing-masing, keduanya memilih merebahkan tubuh di sofa ruang TV untuk sekadar beristirahat.
Belum lama suasana hening tercipta, ponsel Kafa tiba-tiba berdering. Nama Andara muncul di layar.
Kafa langsung mengangkat panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, Kak!” suara ceria gadis kecil itu langsung memenuhi ruangan.
“Wa’alaikumussalam. Baru pulang sekolah, Dek?” tanya Kafa santai.
Arshaf yang duduk di sampingnya ikut mendengarkan. Ia tau betul Andara memang jauh lebih dekat dengan Kafa dibanding anggota keluarga lainnya.
“Loh, kok Kak Kafa tau?” tanya Andara heran.
Kafa terkekeh pelan. “Ya karena kamu masih pakai seragam sekolah.”
Andara langsung menunduk melihat bajunya sendiri sebelum tertawa malu. “Eh iya, hehehe.”
“Ada apa nelepon?”
“Dek, mana Om sama Tante? Kok malah main HP?” suara lain terdengar dari seberang sana.
Andara langsung mendekatkan wajah ke layar. “Eh, itu suara Kak Arshaf ya?”
“Iya, betul,” jawab Kafa sambil menggeser layar ponselnya ke arah Arshaf.
Arshaf melambaikan tangan. “Hai, sepupuku yang paling cerewet.”
Andara terkekeh geli. “Eh, kasihan banget ya Kak Arshaf. Ditikung Kak Aryan nikah duluan.”
“Huh, gak masalah dong,” balas Arshaf santai. “Berarti jodoh Aryan emang datang lebih cepat.”
“Iya sih… terus jodoh aku kapan datangnya ya?”
“Dek,” tegur Kafa cepat, “masih sekolah jangan mikirin jodoh dulu.”
Andara malah tertawa makin keras. “Nah tuh, jodoh masa depan aku mulai protes.”
“Astaghfirullah, Andara!” Kafa memijat pelipisnya dibuat pusing oleh tingkah gadis kelas lima SD itu.
Namun andara di seberang sana masih tertawa.
"Jangan ketawa terus dek, sakit tar perut kamu."
"Cielah perhatiannya jodoh orang. Tapi orang itu aku."
Arshaf sampai menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan sepupunya itu. Andara memang selalu senang menggoda Kafa, meskipun hubungan mereka sebenarnya hanya saudara angkat dan Kafa sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
Sayangnya, baik Arshaf maupun Kafa sama sekali tidak menyadari bahwa perhatian Andara bukan sekadar rasa kagum seorang adik kepada kakaknya.
“Udah dulu ya, Kak. Aku mau pipis!” seru Andara tiba-tiba.
Kafa refleks tertawa kecil. “Yaudah sana.”
Panggilan pun terputus.
Kafa menghela napas sambil menggeleng pelan, tetapi raut wajahnya terlihat jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Tingkah Andara memang selalu berhasil memperbaiki suasana hati.
Arshaf melirik jahil ke arah sahabatnya itu. “Jangan-jangan jodoh lo nanti si Andara, Kaf.”
Kafa langsung menatap tajam. “Jangan ngawur lo. Enggak mungkin.”
“Kenapa enggak mungkin? Anak kecil suka nempel banget tuh biasanya tanda-tanda.”
“Shaf, dia masih bocah.”
“Iya sekarang. Nanti kalau udah gede?”
Kafa melempar bantal sofa ke arah Arshaf hingga laki-laki itu tertawa keras. “Udah gila lo!"
“Ya siapa tau kan? Takdir enggak ada yang tau.”
Kafa mendengkus malas lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa. Namun entah kenapa, ucapan Arshaf tadi sempat terlintas beberapa detik di kepalanya sebelum akhirnya ia membuang jauh-jauh pikiran absurd tersebut.
"Lagian ngapain juga bahas begituan,” gerutu Kafa sambil mengambil botol minum di meja. “Aneh.”
Arshaf masih cekikikan melihat ekspresi sahabatnya yang tampak terganggu.
“Ya habis lucu aja. Dia tuh kalau sama gue biasa, tapi kalau sama lo beda banget.”
“Beda gimana?”
“Lengket.”
“Itu karena dia nyaman.”
“Nah, nyaman kan awalnya.” Arshaf mengangkat kedua alisnya menggoda.
Kafa mendecih malas. “Gue lagi enggak mood bercanda.”
Seketika senyum jahil Arshaf sedikit memudar. Ia tau apa yang sebenarnya mengganggu pikiran Kafa sejak tadi siang.
Suasana mendadak hening beberapa saat.
Arshaf lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menatap langit-langit apartemen. “Masih kepikiran Kia?”
Pertanyaan itu membuat Kafa diam cukup lama.
Laki-laki itu menunduk pelan, jemarinya memainkan tutup botol air mineral tanpa fokus.
“Gue berusaha buat enggak mikirin,” jawabnya lirih. “Tapi susah.”
Arshaf menghela napas pelan. “Lo nyesel banget ya?”
Kafa tertawa hambar. “Menurut lo?”
Arshaf tidak menjawab.
Karena memang sejak awal ia tau sebesar apa perasaan Kafa pada Zaskia. Bahkan mungkin lebih besar dari yang diperlihatkan laki-laki itu selama ini.
“Gue cuma…” Kafa menggantung ucapannya. “Enggak nyangka semuanya bakal berubah secepat ini.”
Bayangan Zaskia yang memeluk Aryan tadi siang kembali muncul di kepalanya.
Cara perempuan itu menangis di samping Aryan. Cara Aryan mengusap pipinya. Dan bagaimana Zaskia terlihat nyaman berada di dekat laki-laki itu.
Sakit. Sangat sakit.
Namun Kafa sadar, semua itu terjadi akibat keputusannya sendiri.
“Shaf,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kalau waktu itu gue enggak nyuruh Aryan nikahin Kia… kira-kira semuanya bakal beda enggak?”
Arshaf terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab hati-hati. “Entah.”
Kafa menunduk makin dalam.
“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Arshaf, “Aryan serius sama Kia.”
Kafa memejamkan mata. “Iya. Gue tau.”
Dan justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak.
Karena di saat dirinya memilih mundur akibat ketakutan dan kebingungan, Aryan malah maju dan berdiri paling depan untuk Zaskia.
“Lo tau enggak hal paling nyebelin?” ucap Kafa lirih sambil tertawa pahit.
“Apa?”
“Gue gak bisa benci sama Aryan.”
Arshaf memandang sahabatnya lama. “Karena dia sahabat lo?”
Kafa mengangguk kecil.
“Dan karena dia orang baik.” Rahangnya mengeras. “Kalau yang nikahin Kia cowok brengsek mungkin gue masih bisa marah. Tapi Aryan…” Ia menghembuskan napas berat. “Dia bahkan lebih bisa jagain Kia dibanding gue.”
Ucapan itu membuat suasana kembali sunyi.
Arshaf akhirnya menepuk pundak Kafa pelan. “Udah, Kaf. Pelan-pelan aja.”
Kafa tersenyum tipis meski matanya terlihat lelah. “Iya.”