“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Maju kalean!
Kai menjerit ketakutan dan melompat mundur saat mata kapak berkarat itu meleset hanya beberapa inci dari wajahnya, lalu menancap dalam-dalam ke dinding kayu rumah hingga menembus keluar.
Beni tidak mencabut kapak itu. Ia membiarkannya tertancap di sana sebagai peringatan, lalu menatap Kai dengan pandangan mata yanh begitu dingin dan mematikan, membuat nyali anak kepala desa itu menciut seketika.
"Bukan berarti selama ini aku diam karena aku takut padamu, Kai. Ingat itu baik-baik," desis Beni dengan suara rendah yang menyeramkan.
Kai menelan ludah, tubuhnya gemetar hebat melihat kegilaan di mata Beni. Serena di atas ranjang pun ikut menangis ketakutan, menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"A-akan aku laporkan tindakanmu ini kepada ayahku, sialan! Kau berani mengancam b-pembunuhan!" teriak Kai dengan suara terbata-bata mencoba mengembalikan harga dirinya yang runtuh. "Ingat, Beni! Orang tuamu dulu mati memiliki utang budi yang sangat besar kepada ayahku! Kau tidak akan selamat di desa ini!"
Beni tidak memedulikan ancaman itu lagi. Hatinya sudah mati rasa. Ia berbalik, melangkah keluar dari rumah kayu itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna merah darah di cakrawala. Beni duduk sendirian di atas batu karang besar di tepi pantai yang sepi. Angin laut bertiup kencang, menerbangkan rambutnya yang kusut.
Ia menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan. "Ayah... Ibu..." gumam Beni dengan suara yang parau, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya yang lebam. "Nasib anakmu ini benar-benar menyedihkan. Sudah miskin, diselingkuhi, dikhianati, bahkan tidak dapat melawan dengan layak hanya karena mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan di tempat ini..."
Tiba-tiba, keheningan pantai itu pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru. Belasan warga desa, dipimpin oleh beberapa pemuda berbadan kekar, datang mengepung batu karang tempat Beni duduk. Mereka semua membawa kayu pemukul dan cangkul.
"Beni! Turun kau dari sana!" teriak salah satu pemuda desa. "Apa benar kau mencoba membunuh Tuan Muda Kai dengan kapak?! Kau benar-benar sudah gila dan menjadi ancaman bagi desa ini!"
Beni berdiri perlahan di atas batu karang. Tatapannya menatap dingin ke arah kerumunan warga desa yang munafik itu. Rasa sedihnya kini seutuhnya telah menguap, berganti dengan kemarahan murni.
"Diam, kalian semua anjing!" teriak Beni, suaranya menggelegar mengalahkan suara deburan ombak. "Ayo, maju sini! Kalian boleh keroyokan, aku tidak takut! Sini maju kalau kalian punya nyali!"
Para warga desa terdiam sejenak, terkejut melihat keberanian Beni yang biasanya selalu mengalah dan menundukkan kepala. Namun, rasa terkejut itu segera berganti dengan kemarahan yang dipicu oleh ego kelompok.
"Ck, pantas saja orang tuamu dulu mati bunuh diri karena stres! Ternyata mereka tahu kalau anak mereka hanya akan tumbuh menjadi berandalan gila!" teriak seorang pria paruh baya dari belakang kerumunan.
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Beni. Menghina dirinya, ia bisa tahan. Tapi menghina mendiang orang tuanya? Itu adalah garis batas yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun.
"Apa kau bilang?! Ke sini kau, tua bangka sialan! Tutup mulut busukmu itu!" Raung Beni sambil melompat turun dari batu karang dan berlari kencang, menerjang langsung ke arah warga desa.