Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Bunyi langkah sepatu hak tinggi Adiba Abbey yang menghantam lantai marmer koridor terdengar seperti ketukan genderang kematian yang terburu-buru.
Setelah ditinggalkan begitu saja di dalam ruang rapat yang dingin, ego dan seluruh benteng pertahanan mental Adiba runtuh sepenuhnya.
Rasa mual di perutnya diabaikan, digantikan oleh kepanikan yang teramat masif karena untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Louis Enver Osborn benar-benar berbalik arah dan berniat membuangnya dari garis takdir.
Dia berlari. Mengabaikan tatapan heran dari beberapa petugas keamanan dan staf malam yang masih tersisa di lobi menara Osborn Group.
Mantel bulu hitamnya tersampir berantakan di bahu, melambai-lambai seiring dengan langkah kakinya yang kian cepat menuju lift privat yang membawanya turun langsung ke area parkir bawah tanah khusus eksekutif.
Di area parkir B2, suasananya teramat sepi dan remang. Hanya ada barisan mobil-mobil mewah yang berderet bisu di bawah pendar lampu neon putih yang temaram. Udara di bawah tanah itu terasa pengap, dingin, dan sarat akan aroma bensin serta semen basah.
Begitu pintu lift berdenting dan terbuka, Adiba langsung menangkap sosok tegap yang sangat dia kenali. Louis sedang berjalan cepat dengan langkah lebar menuju mobil sport hitamnya yang terparkir di sudut ruangan.
"Louis! Tunggu!" teriak Adiba, suaranya melengking tinggi, menggema ngilu di antara pilar-pilar beton parkiran.
Louis menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil. Bahu kokohnya menegang, dan dia menarik napas panjang dengan kasar seolah-olah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis karena kehadiran wanita itu.
Louis berbalik lambat, menampilkan wajah yang tidak lagi sekadar dipenuhi oleh amarah, melainkan kejengkelan dan kemuakan yang telah mencapai ambang batas mutlak.
"Mau sampai kapan kau mengejarku, Kakak Ipar?" ucap Louis, suaranya begitu rendah, dingin, dan menusuk, sengaja menekankan sebutan 'Kakak Ipar' untuk menampar moralitas Adiba.
Adiba berhenti beberapa langkah di depan Louis, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak teratur.
Wajah pucatnya dipenuhi oleh keringat tipis, dan air mata kembali menggenang di sudut matanya yang sayu. Dia menatap Louis dengan pandangan memohon yang teramat dalam—sebuah pemandangan yang tidak akan pernah dipercayai oleh siapa pun yang mengenal keangkuhan seorang putri dinasti Abbey.
"Kenapa kau begitu kejam padaku, Louis?" ratap Adiba, suaranya parau, bergetar hebat oleh rasa sakit batin yang tak tertahankan.
"Aku melakukan ini semua demi melindungimu. Aku menyingkirkan orang-orang yang menyakitimu... aku merendahkan diriku agar bisa membantumu mengambil alih semua ini. Setelah apa yang kita lakukan, bagaimana bisa kau membuangku seolah-olah aku ini sampah?!"
Louis menatap Adiba dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa jijik yang murni—sebuah tatapan yang biasanya dia berikan kepada musuh-musuh jalanannya di Queens yang paling rendah.
"Kau ingin tahu kenapa?" Louis melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aura intimidasinya yang kasat mata menekan tubuh Adiba hingga ke titik nadir.
"Karena kau menjijikkan, Adiba. Kau adalah manusia rendah yang menyembunyikan kegilaan berdarahmu di balik topeng cinta palsumu itu!"
Lagi-Lagi Mendengar kata 'menjijikkan' dan 'manusia rendah' dari bibir pria yang menjadi satu-satunya pusat dunianya, Adiba seolah merasakan jantungnya diremas dengan kejam hingga hancur.
Namun, Louis belum selesai. Rentetan kalimat berikutnya yang keluar dari mulut pria itu adalah belati paling beracun yang sengaja diasah untuk menghancurkan sisa-sisa eksistensi Adiba.
"Dan jangan pernah berani menggunakan rahimmu untuk mengikatku," desis Louis, matanya menggelap ekstrem, memancarkan kilat kejian yang tak bertepi saat menatap lurus ke arah perut rata Adiba.
"Dengar baik-baik, Adiba Abbey. Aku tidak akan pernah sudi mengakui anak yang sama hina dan menjijikkannya seperti kau ibunya!"
Deg.
Dunia Adiba seketika runtuh total. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kehilangan kekuatan, laksana seluruh darah di pembuluh darahnya membeku menjadi es dalam satu detik penuh.
Kata-kata Louis yang menyinggung calon anaknya—darah daging Louis sendiri yang sedang tumbuh di dalam rahimnya—menjadi hantaman palu pemutus yang menghancurkan seluruh bangunan ilusinya selama sepuluh tahun terakhir.
Louis tidak hanya menolaknya; pria itu bahkan mengutuk dan menghina anak mereka sendiri sebelum anak itu sempat melihat dunia.
Adiba mundur dua langkah secara spontan. Tubuhnya limbung, nyaris terjatuh jika dia tidak segera menguasai keseimbangan kakinya.
Sepasang telapak tangannya secara refleks bergerak naik, mendekap erat perutnya dengan penuh rasa takut dan protektif.
Di bawah pendar lampu parkiran yang remang, bibir tipisnya yang pucat dan terluka mulai bergetar hebat.
Dia tidak pernah menyangka. Benar-benar tidak pernah menyangka bahwa Louis Osborn—pria yang dia puja, pria yang dia bela dengan menumpahkan darah orang lain—akan begitu tidak menginginkan kehadirannya, bahkan sampai tega mengutuk buah cinta terlarang mereka.
Sebuah senyuman pahit perlahan terukir di bibir Adiba yang bergetar.
Air matanya berhenti mengalir, mengering di atas pipinya yang lebam akibat tamparan Raynazh semalam. Tatapan matanya yang semula dipenuhi oleh obsesi gila mendadak berubah menjadi kekosongan yang teramat sunyi, hambar, dan mati.
Louis menatap perubahan drastis pada gestur tubuh Adiba, namun egonya yang terlanjur terluka dan muak membuatnya tidak mau menurunkan intensitas serangannya.
"Hapus cinta murahanmu itu dari hidupku, Adiba. Aku tidak butuh pahlawan gila sepertimu," ucap Louis dingin sembari membuka pintu mobil sportnya.
Adiba tertawa kecil—sebuah tawa hambar yang terdengar sangat memilukan, menggema lirih di dalam kesunyian pelataran parkir.
Dia menurunkan tangannya dari perut, berdiri tegak dengan sisa-sisa harga diri terakhir dari seorang wanita yang jiwanya telah mati total malam ini.
"Baik... Louis," ucap Adiba, suaranya tidak lagi melengking tinggi, melainkan terdengar sangat datar, tenang, namun sarat akan kepasrahan yang teramat dalam.
"Sejujurnya... aku tidak pernah menginginkan balasan untuk perasaan ini. Selama sepuluh tahun, melihatmu dari jauh saja sudah cukup untuk membuatku bernapas."
Adiba mengambil napas panjang, bibirnya kembali bergetar tipis saat menatap wajah tampan Louis untuk terakhir kalinya dengan pandangan yang sepenuhnya berbeda.
"Namun ternyata... perasaanku begitu serakah. Perasaanku ini tumbuh menjadi monster yang begitu serakah hingga dia ingin memilikimu seutuhnya, ingin menarikmu masuk ke dalam duniaku."
Adiba tersenyum pahit, kepalanya menggeleng kecil penuh dengan penyesalan yang terlambat. "Namun hari ini aku sadar. Kata-katamu barusan... hinaanmu pada anak kita... anakku... itu benar-benar membuatku terbangun dari mimpi panjangku, Louis."
Adiba memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap detak menyakitkan di dadanya sebelum kembali membuka mata dengan ketetapan hati yang telah membeku.
"Aku bersumpah di depan tempat ini... aku akan menghapus cinta ini dari hidupku. Aku akan melenyapkan setiap jengkal perasaan menjijikkan ini dari dalam kepalaku."
Adiba melangkah mundur satu langkah lagi, mengikis seluruh kedekatan fisik yang pernah mereka miliki.
"Maafkan aku... maafkan aku karena telah memaksakan kehendakku untuk menarikmu masuk ke dalam neraka yang kubuat. Maafkan aku karena telah mengotori hidupmu dengan obsesiku."
Dengan gerakan yang teramat pelan, Adiba membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Louis—sebuah gestur penghormatan dan perpisahan terakhir dari seorang putri Abbey.
"Pergilah, Louis... Aku tidak akan pernah mengejarmu lagi. Demi Tuhan... aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku tidak akan pernah mengejarmu atau mengusik hidupmu lagi. Anggap saja malam-malam kita dan semua kegilaan ini tidak pernah ada."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Adiba berbalik.
Dia melangkah pergi menuju lift privat dengan langkah yang stabil, lambat, namun teramat dingin.
Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi senyuman gila, dan tidak ada lagi sisa-sisa Adiba Abbey yang memuja Louis Osborn.
Yang tersisa hanyalah seorang wanita dengan jiwa yang telah kosong, yang berjalan membawa rahasia rahimnya pergi menjauh dari kehidupan sang pria.
Deg.
Di balik kemudi mobil sport hitamnya, Louis Osborn mendadak merasakan dadanya berdenyut oleh sebuah sentakan aneh yang tak kasat mata.
Dia menatap punggung Adiba yang perlahan menghilang di balik pintu lift yang tertutup melalui kaca spion. Kata-kata maaf dan sumpah terakhir dari wanita itu mendadak terasa seperti sebuah kutukan baru yang jauh lebih sunyi, meninggalkan rasa hampa yang teramat ganjil di dalam pelataran parkir Manhattan yang dingin.
Louis masih terpaku di balik kemudi, tangannya mencengkeram erat setir mobil sport hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Gemeretak giginya beradu dengan kesunyian basemen parkir yang kian mencekam setelah pintu lift privat itu tertutup, menelan sosok Adiba sepenuhnya. Dadanya naik-turun, bergemuruh oleh badai emosi yang mendadak terasa asing dan menyesakkan.
Ada rasa bersalah yang samar, namun dengan cepat Louis menepisnya menggunakan logika keras kepalanya.
Aku terpaksa mengatakannya, batin Louis membela diri, mencoba meyakinkan nuraninya yang mulai terusik. Wanita itu penipu ulung. Dia pandai memanipulasi keadaan.
Sejujurnya, alasan utama Louis melontarkan kalimat sekasar dan sehina itu tentang anak di rahim Adiba adalah karena dia sama sekali tidak percaya.
Louis sangat yakin bahwa Adiba tidak sedang hamil.
Baginya, seluruh pengakuan tentang janin dan ikatan darah itu hanyalah bualan besar berikutnya—sebuah taktik kotor dan kebohongan baru yang dirancang dengan cerdas oleh Adiba untuk mengikatnya, menjeratnya ke dalam labirin kegilaan yang wanita itu buat.
Bagaimana mungkin Adiba bisa hamil secepat itu? Logika maskulin Louis menolak keras kenyataan tersebut.
Mereka hanya melakukannya dua kali.
Pertama, di malam pertama pernikahan itu di Manhattan, dan yang kedua adalah penyatuan gila mereka di penthouse Brooklyn seminggu lalu.
Hanya dua kali. Di dalam kepala Louis yang dihantui skeptisisme, mustahil sebuah kehamilan bisa terjadi semudah dan secepat itu, kecuali jika wanita itu memang sengaja mengarang cerita demi memojokkannya.
"Itu pasti kebohongan," gumam Louis lirih, suaranya parau memecah keheningan mobil.
Dia mencoba tertawa sinis, namun yang keluar justru helaan napas yang terdengar teramat berat. "Dia hanya ingin menguji batasan egoku. Dia ingin melihat seberapa jauh aku akan bertekuk lutut di bawah ancaman anak fiktif itu."
Namun, meski otaknya terus merasionalkan bahwa itu adalah tipuan, getaran dari sumpah terakhir Adiba di depan wajahnya tadi tidak bisa hilang begitu saja.
Cara Adiba secara refleks melindungi perutnya, kemunduran dua langkahnya yang sarat akan kehancuran murni, dan tatapan matanya yang mendadak mati rasa... semua itu tidak tampak seperti sebuah akting dari seorang konspirator.
Louis menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, memejamkan mata elang abu-abunya dengan frustrasi yang kian memuncak.
Di bawah pendar temaram lampu parkiran, pria berandal itu kini mulai dihantui oleh sebuah ketakutan baru yang tak kasat mata.
Bagaimana jika tebakannya salah?
Bagaimana jika Adiba tidak sedang berbohong?
Jika dua malam penuh dosa itu benar-benar membuahkan hasil, maka kalimat jahanam yang baru saja dia lemparkan pada darah dagingnya sendiri akan menjadi penyesalan terbesar yang siap menguliti kemanusiaannya sampai mati.