NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melepaskan—22

Di tengah hamparan laut lepas, mawar-mawar putih dan kelopak bunga yang ditaburkan Aletha mulai terapung, berdansa mengikuti irama ombak yang bergulung. Angin laut berembus semakin kencang, menyapu air mata yang terus mengalir di pipi Aletha.

Gadis itu menatap kelopak bunga yang perlahan menjauh, terbawa arus menuju samudra yang luas. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Aletha berbisik lirih, membiarkan suaranya larut bersama deburan ombak.

"Mah... kalau nanti ada kehidupan selanjutnya, tolong jadi mamaku lagi," ucap Aletha, suaranya bergetar namun terdengar begitu tulus dari lubuk hatinya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum melepaskan kalimat yang selama dua tahun ini paling berat untuk ia ucapkan.

"Kali ini... aku ikhlasin Mama. Pergi nggak apa-apa, Mah... kalau mau pergi, pergi ke tempat indah yang Mama mau." Aletha menjeda kalimatnya, meremas pembatas besi kapal sebelum melanjutkan dengan bisikan yang menyayat hati, "Jangan lupa jemput Ale kalau dunia di depan sana jahat sama Ale..."

Mendengar kalimat kepasrahan dan duka yang begitu dalam dari calon istri kontraknya, Danny yang berdiri di sebelah Aletha merasa dadanya berdenyut nyeri. Tanpa sepatah kata pun, sang CEO kaku itu melangkah maju tepat di sisi pembatas dek.

Dengan ekspresi wajah yang sangat serius dan penuh rasa hormat, Danny memosisikan tubuh tegapnya menghadap lurus ke arah samudra luas. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, membentuk sudut 90 derajat ke arah laut. Sebuah gestur formal dan penuh rasa hormat yang tinggi, yang ia berikan sebagai seorang pria untuk menghargai kematian .Mama Aletha—ilmuwan hebat yang telah melahirkan gadis sekuat di sampingnya ini.

Begitu Danny menegakkan kembali tubuhnya, pertahanan Aletha benar-benar habis. Energi ketangguhan yang ia paksakan sejak pagi mendadak lumpuh.

Bruk.

Aletha jatuh terduduk, berlutut di atas dek kapal yang dingin. Kedua tangannya mencengkeram dadanya sendiri yang terasa luar biasa sesak.

"AAAAAAAARRRGGHHH!!!"

Sebuah teriakan histeris dan pilu meluncur deras dari tenggorokan Aletha. Pekikan itu terdengar begitu keras, panjang, dan menyayat hati, memecah kesunyian laut lepas. Itu adalah suara dari sebuah jiwa yang selama dua tahun dipaksa membungkam mulutnya sendiri di dalam kegelapan. Sebuah jeritan dari luka yang akhirnya dipaksa keluar agar bisa diobati.

Danny yang menyaksikan hal itu langsung menjatuhkan lututnya di atas dek. Tanpa keraguan sedikit pun, lengan kekarnya merengkuh tubuh serba hitam Aletha ke dalam pelukan hangatnya. Kali ini, Danny membiarkan kaos oblong putihnya basah oleh air mata dan keringat gadis itu.

Saat tubuh Aletha bergetar hebat di dalam dekapannya, Danny bisa merasakan dengan sangat nyata seberapa dalam dan hancurnya luka yang dialami Aletha selama ini. Rasa sakit itu menular ke dalam dada Danny, meruntuhkan sisa-sisa dinding ego dinginnya sebagai seorang penguasa bisnis.

Namun, di balik rasa simpati dan debaran aneh yang merayap di hatinya, otak tajam sang CEO Dirgantara Group mulai bekerja. Ucapan Aletha di mobil tentang "kecelakaan yang disengaja oleh rekan bisnis papanya" terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Sebagai pria yang hidup di dunia yang kejam, Danny tahu betul seberapa kotor intrik di balik persaingan bisnis kelas atas. Kematian ibu Aletha bukan sekadar kecelakaan biasa— ada konspirasi besar dan tangan-tangan hitam yang bermain di balik meledaknya kapal selam dua tahun lalu. Dan Danny, entah sejak kapan, mulai merasa terusik. Pria itu tidak suka jika ada hal yang mengancam atau menyakiti apa yang sudah masuk ke dalam teritorinya—termasuk gadis di dalam pelukannya ini.

Sambil terus mengusap punggung Aletha yang sesenggukan, sepasang mata elang Danny menatap tajam ke arah laut dengan kilat yang berbahaya.

Di dalam senyap, di tengah laut Jakarta yang menjadi saksi bisu, Danny Atonio bersumpah pada dirinya sendiri. Dia akan mulai menggunakan seluruh jaringan, kekuasaan, dan intelijen terbaik yang dimiliki Dirgantara Group untuk menyelidiki kembali kasus kematian ibu Aletha secara diam-diam. Siapa pun rekan bisnis Pak Adinata yang berani menyentuh keluarga ini dan membuat Aletha hidup dalam duka serba hitam, Danny akan memastikan mereka membayar harganya dengan sangat mahal.

Isak tangis Aletha perlahan mulai mereda, menyisakan napasnya yang masih memburu di dalam dekapan Danny. Aroma laut yang berpadu dengan kehangatan kaos oblong Danny yang kini basah kuyup. Perlahan, Aletha menegakkan tubuhnya, menjauh sedikit untuk merapikan rambutnya yang berantakan karena angin laut. Topengnya mencoba kembali naik, namun matanya yang sembap tidak bisa berbohong.

Danny masih berlutut di depannya. Tatapan mata elang sang CEO tampak dipenuhi pergolakan batin yang sangat hebat. Menyaksikan kehancuran Aletha hari ini, ditambah fakta bahwa dirinya berniat menyelidiki konspirasi pembunuhan ibu gadis ini, membuat ego Danny mendadak goyah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya.

"Tha," panggil Danny, suaranya terdengar lebih rendah dan berat dari biasanya.

Aletha menoleh, menaikkan sebelah alisnya.

"Soal kontraknya..." Danny menjeda kalimatnya, menatap lekat gaun hitam yang melekat di tubuh Aletha. "Lo kalau mau batalin sekarang juga gak apa-apa. Lagian... lo juga gak cinta sama gue. Gue gak mau panggung sandiwara ini malah jadi beban baru buat hidup lo."

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut seorang Danny Atonio, Aletha sempat tertegun selama beberapa detik. Detik berikutnya, sebuah tawa hambar yang khas meluncur dari bibir ranumnya. Rasa sedih yang tadi mendominasi mendadak digantikan oleh sebuah pikiran konyol seorang Danny Atonio menurut Aletha.

Aletha menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar, lalu menatap Danny dengan pandangan menantang yang tajam.

"Lo mikirin apa sih, Dan?" tanya Aletha, nadanya terdengar sangsi. "Maksudnya kita gak jadi nikah? Liat noh, orang tua kita udah pada seneng. Lo mau liat nyokap lo pingsan gara-gara lo gagal lagi? Atau lo mau liat bokap gue ngerasa bersalah lagi karena gak bisa mastiin masa depan gue aman?"

Danny terdiam, tidak menyangka akan mendapat serangan balik se-skakmat ini dari gadis yang baru saja menangis meraung-raung.

Aletha bangkit berdiri, membersihkan debu atau cipratan air yang menempel di gaun hitam milik ibunya. Ia bersedekap, menatap menjulang ke arah Danny yang masih berlutut di atas dek, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang penuh percaya diri—senyuman yang membuat Danny sadar bahwa Aletha yang berbahaya telah kembali.

"Udahlah, jalanin aja dulu," lanjut Aletha santai, suaranya kembali datar namun sarat akan keyakinan mutlak. Ia mengulurkan tangannya ke arah Danny, berniat membantu pria itu berdiri. "Gue jamin... hidup sama gue gak bakal semenyedihkan ini."

Danny menatap telapak tangan lentik Aletha yang terulur di depannya. Seringai tipis yang menawan perlahan terukir di wajah tegas sang CEO. Rasa kagumnya pada mental baja gadis ini naik satu tingkat lagi.

Danny menyambut uluran tangan Aletha, bangkit berdiri hingga tubuh jangkungnya kembali menjulang di depan gadis itu. Jarak mereka mengikis, dan di bawah saksi bisu hamparan laut luas, komitmen di antara kedua orang yang keras kepala ini justru terasa semakin mengunci rapat, melampaui batas dari apa yang tertulis di atas kertas kontrak mereka.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!