"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 8
Mila menghubungi Hanny dan mengatakan bahwa dirinya sudah diusir dari rumah suaminya. Ia butuh tempat tinggal sementara sebelum mengajukan gugatan perceraian. Ia juga sudah membawa berkas-berkas asli yang dibutuhkan.
Hanny pun mempersilakan Mila menginap di rumah yang selama ini dibersihkannya. Mila tak tinggal sendiri melainkan ada 2 orang karyawan toko yang diminta buat menemaninya beberapa hari.
"Saya akan membantumu dan masalah yang kamu hadapi segera selesai!" janji Hanny yang kebetulan berada di tempat.
"Terima kasih banyak, Bu!" Mila beruntung sekali bertemu dengan Hanny.
"Kamu tidak usah memikirkan biaya, teman saya yang mengurusnya. Kamu bantu doa saja!" kata Hanny.
Setelah sejam Hanny di rumah miliknya, wanita itu kemudian pamit pulang karena ada urusan lain yang tak dapat ditinggalkan.
Mila memasuki kamar, duduk di pinggir ranjang. Memandang ponselnya, ia ingin sekali mengabarkan kedua orang tuanya jika dirinya telah diusir dan segera menggugat Hardi. Namun, diurungkannya karena pasti makian dan umpatan yang akan didengarnya.
"Semoga pilihanku tepat!" gumam Mila berharap.
Della yang mendapatkan kabar Mila diusir Hardi gegas menemui sahabatnya itu dikediamannya Hanny. Sebelum Della pernah mengunjungi Mila saat bekerja sebanyak 2 kali.
Della memeluk Mila, mereka menangis bersama-sama. Tak mudah masalah yang dijalani Mila, mendapatkan suami yang pelit, melakukan KDRT dan selingkuh. Orang tuanya tak memperdulikan nasib putrinya lebih memilih nama baik daripada harga diri anaknya.
"Aku yakin kamu kuat dan menghadapinya dengan tabah!" Della memberikan semangat.
"Terima kasih banyak, Del." Mila melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.
"Aku doakan semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik!" harap Della.
"Aku belum resmi bercerai darinya, kau malah mendoakan aku segera mendapatkannya penggantinya," kata Mila sambil tertawa tipis.
"Doa saja mulai sekarang, dikabulkan cepat atau lambat saja itu urusan belakangan. Keputusan kamu pergi dari rumah sudah termasuk hebat dan berani!" ucap Della.
"Ya, walaupun sangat berat," kata Mila lagi.
-
Sementara sore harinya dikediaman Hardi, pria itu pulang dan tak melihat keberadaan istrinya. Bukannya sedih atau kehilangan, Hardi malah senang. Beban hidupnya terasa berkurang dan ia tak perlu berpura-pura lagi.
"Ternyata dia benar-benar pergi. Lihat saja pasti dia tak tahan diluar sana dan kembali ke sini!" keyakinan Hardi begitu besar.
Hardi melangkah ke dapur, meja makan tampak kosong karena Mila memang pergi saat dirinya hendak berangkat kerja.
"Ckk..makan apa aku?" Hardi mengelus perutnya.
Hardi lalu membuka lemari es, tak ada satu telur pun di dalamnya. Ia kemudian membuka lemari makan, di sana tak ada juga mie instan atau pun makanan kering lainnya.
"Astaga, satupun tak ada makanan. Dia memang boros sekali!" umpatnya.
Hardi memutuskan membeli makanan diluar buat mengisi perutnya meskipun uang gajinya belum semua diambilnya.
****
Waktu terus bergulir, 2 bulan telah berlalu. Mila akhirnya dapat mengajukan gugatan perceraian. Surat gugatan telah diterima Hardi. Tanpa drama panjang, Hardi pun bersedia menceraikan istrinya.
Mila pun mengganti separuh uang hantaran yang diminta mantan suaminya agar suatu hari nanti Hardi tak menuntutnya dan Mila juga tak mau berurusan lagi dengan sang mantan. Mila juga membuat surat perjanjian biar Hardi tak banyak protes.
Semua karena Hanny dan temannya yang sudah membantunya mengurus segala keperluan perceraiannya.
Mila akhirnya memberanikan diri lagi menghubungi kedua orang tuanya. Saat dihubungi, Maya yang menerima panggilan teleponnya.
"Assalamualaikum, Bu!"
"Waalaikumussalam, iya, ada apa? Mau mengadu lagi ingin bercerai?" Maya coba menerka dengan nada ketus.
"Tidak, Bu. Aku cuma mau bilang kalau aku dan Mas Hardi telah resmi berpisah."
"Apa?? Kamu pasti berbohong. Jangan main-main dengan kata-kata itu, Mila!" tegur Maya.
"Aku tidak berbohong, aku serius, Bu. Mas Hardi pun setuju kami berpisah."
"Ibu tidak percaya!" tegas Maya.
"Terserah Ibu mau percaya atau tidak. Aku bukan lagi istri dari menantu kesayangan Ibu dan Bapak itu!"
"Mila, jangan pikir kami mau menerima kamu setelah berpisah darinya!"
"Baiklah, kalau memang Ibu tidak mau menerima aku. Anggap saja anak kalian telah tiada!"
"Mila, jaga ucapanmu itu!!" sentak Maya dari kejauhan.
"Aku berhak bahagia, Bu!" tangis Mila pun tak terbendung.
"Mila, kamu sudah mempermalukan keluarga kita!!" Maya mengeraskan rahangnya.
"Lebih baik Ibu menutup rapat mulut, aku juga tidak akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Jadi, Ibu tak perlu takut lagi dengan kehormatan keluarga yang sudah aku hancurkan!!"
"Mila, semakin lama bicaramu tidak ada sopannya, ya!!" bentak Maya geram.
"Aku begini juga karena kalian tak pernah mendengarkan keluh kesahku. Jaga diri baik-baik kalian, aku menyayangi Bapak dan Ibu!" Mila menutup panggilan teleponnya.
Air mata Mila semakin deras. Keputusannya bercerai ternyata masih menjadi ancaman bagi keluarganya. Orang tuanya lebih baik menjaga kehormatan keluarga dengan membiarkan anaknya bertahan dalam kehancuran daripada berpisah.
Mila berjanji sesakit apapun dirinya di kota orang lain, pantang baginya kembali ke kampung halamannya buat mengemis.
Apalagi mengajak rujuk mantan suaminya.
Mila mengemaskan pakaiannya ke dalam tas dan koper. Hari ini memutuskan pergi dari provinsi tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan hidup tanpa bayangan mantan suaminya. Dia juga mau menunjukkan kebahagiaannya bukan bersama Hardi.
Selepas salat Ashar, Mila berpamitan kepada Hanny dan para karyawan toko. Ia mengucapkan beribu terima kasih karena sudah membantu mengurus perceraiannya dan memberikan tempat tinggal sementara.
"Jika kamu membutuhkan bantuan, jangan sungkan mengabari saya!" kata Hanny.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak!" ucap Mila dengan mata berkaca-kaca.
"Sering-seringlah bertukar kabar!" kata Hanny lagi.
Mila mengangguk mengiyakan.
"Jaga dirimu di kota orang!" nasehat Hanny.
"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bu Hanny dan Bu Mayang."
Hanny mengangguk pelan.
"Kalau begitu saya pamit!" Mila sedikit menunduk, meraih tangan Bu Hanny dengan menempelkan punggung tangannya di kening sejenak lalu melepaskannya dan menegakkan kepala serta tubuhnya.
"Hati-hati, Mil!" ucap Hanny ketika Mila hendak masuk ke taksi online.
Mila sekilas menoleh dan melambaikan tangan kepada Hanny dan para pelayan toko.
Hanny dan para karyawannya melepaskan Mila dengan raut wajah sedih.
Mila kini berada di dalam taksi online. Mobil pun perlahan melaju menuju terminal bus antar provinsi. Mila duduk memandangi jalanan dengan mata sembab. Esok dirinya akan tiba di kota orang dan memulai hidup baru sendirian.
Mila membuka ponselnya dan memblokir nomor kedua orang tuanya. Dia tak mau, orang tuanya menghubunginya dan memakai dirinya karena telah berani menggugat cerai Hardi. Dia juga mau menghindari konflik dengan kedua orang tuanya dan berharap orang tuanya berubah pikiran lalu menerima keputusan yang telah diambilnya.
Selang 2 jam, bus yang akan membawa Mila berpindah mulai bergerak pelan. Mila memandangi jalanan dengan mata berkaca-kaca. "Selamat tinggal kotaku, aku janji pasti kembali dengan kehidupan yang baru dan lebih baik," gumamnya.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔