NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - PINTU YANG TIDAK LAGI AMAN

Pintu kayu itu masih bergetar. Ketukannya tidak sekeras tadi, tapi konstan. Cukup untuk membuat isi kepala Damar mendadak kosong.

*Tok… tok… tok…*

Pelan sekali. Seolah sesuatu di luar sana sedang memastikan apakah makhluk di dalam kamar ini masih bernyawa.

Damar merapatkan punggungnya ke dinding. Dingin semen terasa menembus kausnya, berbanding terbalik dengan telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin.

“Siapa itu…?” bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Sama sekali tidak ada jawaban. Keheningan itu justru digantikan oleh suara napas yang berat, basah, dan serak—seperti suara tenggorokan yang tersumbat lendir. Suaranya konstan, seperti seseorang yang habis berlari maraton tapi dipaksa terus berdiri.

Mata Damar terpaku pada gagang pintu. Perlahan, logam bulat itu bergerak turun.

*Kreeek…*

Suara gesekan kayu yang tertekan membuat Damar refleks menahan napas. "Ini bukan orang biasa," gumamnya lirih.

*BRAK!*

Hantaman mendadak itu begitu keras hingga membuat seluruh kusen pintu bergetar. Damar spontan melangkah mundur. Di bagian bawah, tripleks pintu mulai retak dan mencuat retakannya.

“Anjir…” umpatnya pelan, jantungnya mencelos.

Dari luar kamar, suara-suara aneh mulai bersahutan. Ada teriakan histeris, derap langkah kaki yang serong, dan bunyi barang-barang yang terguling. Suasananya kacau, seolah-olah seluruh penghuni kosan sedang kehilangan akal sehat mereka secara bersamaan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, satu teriakan melengking terdengar paling jelas dari arah koridor:

“JANGAN GIGIT GUE!!”

Lalu, jeritan itu terputus begitu saja. Senyap seketika.

Hanya jeda beberapa detik sebelum suara mengerikan itu terdengar: suara kunyahan basah dan robekan kain—atau mungkin kulit.

Tubuh Damar kaku seketika. “Enggak… enggak mungkin…”

Pikirannya buntu. Tangannya gemetar hebat saat matanya bergerak liar dari pintu ke arah jendela kamar, mencoba menimbang pilihan. Kalau dia nekat membuka pintu, dia tidak tahu kengerian apa yang sudah menunggu di luar. Tapi kalau dia tetap diam di sini, pintu itu jelas tidak akan bertahan lama.

*BRAK!*

Hantaman kedua jauh lebih brutal. Gagang pintu langsung dol dan miring ke bawah.

"Aing kudu kaluar!"

Panik, Damar melompat ke arah jendela dan membuka paksa pengaitnya. Angin malam langsung menerpa wajahnya. Dia melongok ke bawah; ini lantai dua kosan lamanya, jarak ke tanah sebenarnya cukup tinggi dan rawan bikin patah kaki kalau mendaratnya salah. Ditambah lagi, ventilasi jendelanya ternyata terlalu sempit untuk ukuran badannya. Mustahil bisa lolos cepat.

​BRAK! Pintu di belakangnya jebol. Separuh engselnya terlepas.

​Damar menoleh cepat. Di celah pintu yang miring itu, sebuah tangan merangsek masuk. Kulitnya pucat kelabu, kaku, dengan kuku-kuku yang menghitam pecah.

​Sial, jalurnya buntu. Tidak ada waktu untuk mikir lagi. Damar meraih guling di kasurnya, melemparkannya ke arah pintu untuk menghalangi pandangan makhluk itu, lalu dia nekat menerobos keluar lewat celah pintu kamarnya sendiri yang sudah setengah menganga, memilih bertaruh nyawa di koridor.

​Koridor kosan yang biasanya sepi kini mendadak seperti neraka kecil. Pintu-pintu kamar terbuka lebar, barang-barang berserakan di lantai, lambaran kertas, dan sandal-sandal teronggok tak beraturan.

Di dekat tempat sampah, seorang Mbak-mbak penghuni kamar ujung terduduk sambil menangis histeris. “Mas… tolong, Mas…”

Damar sempat memperlambat langkah, berniat menarik tangan perempuan itu. Namun langkahnya terhenti total saat mendengar suara raungan dari arah belakang.

Seorang cowok berkaus kutang ambruk ke lantai, lalu bangkit lagi dengan gerakan yang sama sekali tidak manusiawi. Kepalanya patah ke samping, matanya putih pudar tanpa pupil, dan mulutnya berlumuran darah segar.

“Ini beneran…” Damar mundur teratur, bulu kuduknya meremang.

Dia berbalik dan langsung lari sekencang-kencangnya menuju ujung lorong, mengabaikan segala hal di sekitarnya. Yang ada di otaknya cuma satu: turun ke lantai bawah dan keluar dari bangunan ini.

Tangga kosan dilewatinya dengan melompat dua-tiga anak tangga sekaligus. Beberapa kali dia hampir terseret dan jatuh, tapi adrenalin membuatnya terus melaju. Di area lobi bawah, gerbang kosan sudah terbuka lebar. Orang-orang berlarian keluar dengan panik; ada yang sempat menyampirkan tas ransel, ada yang bertelanjang kaki, dan ada yang berlari tanpa arah seperti ayam kehilangan induk.

Begitu berhasil menginjakkan kaki di aspal jalanan, udara terasa lebih lega, tapi suasananya tidak lebih aman. Suara sirine ambulans atau polisi terdengar bersahutan dari kejauhan, tapi bunyinya tenggelam oleh kekacauan yang ada di depan mata.

Motor-motor bergelimpangan di jalan. Orang-orang saling berteriak dan menabrak satu sama lain. Tak jauh dari sana, seorang bapak-bapak berlari pincang sambil menekan lengannya yang robek dan bersimbah darah.

“INI BUKAN HOAX! LARI ANJING!” teriak seseorang.

Damar mematung di tepi jalan. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Sial, semuanya kacau. Tidak ada sudut yang kelihatan aman. "Urang harus ke mana...?"

“HEI!”

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Damar hampir melayangkan jotosan karena kaget. Seorang cowok berjaket jinjing lusuh dengan napas memburu sudah berdiri di sampingnya.

“Lo dari kosan itu, kan?” tanya cowok itu cepat, matanya awas menatap sekeliling.

Damar hanya bisa mengangguk kaku. “Iya…”

“Kalau lo diem aja di sini, lo mati.”

“Sebenarnya ini apaan sih?!” tuntut Damar, suaranya mulai meninggi karena stres.

Cowok itu malah terkekeh geli—sebuah tawa getir yang lahir dari rasa panik yang teramat sangat. “Gue juga lagi nyari tahu jawabannya.” Dia kemudian mengedikkan dagunya ke arah belakang Damar. “Lo liat tuh.”

Di tengah temaram lampu jalan, sesosok tubuh berdiri membelakangi mereka. Posisinya terlalu tegak, kaku, dan diam di antara manusia lain yang berlarian.

Lalu, kepalanya berputar ke arah mereka dengan gerakan patah-patah yang lambat. Matanya keruh, kosong, dan sejurus kemudian, makhluk itu mulai menyeret langkahnya. Targetnya jelas: mereka berdua.

Damar otomatis melangkah mundur, "Anjir..."

Cowok di sebelahnya langsung menarik napas dalam-dalam. “LARI!”

Mereka berdua membelah kegelapan, berbelok tanpa arah yang jelas. Merangsek ke dalam jalan tikus di samping kosan, lalu memotong lewat gang sempit yang gelap. Di belakang mereka, gemuruh suara langkah kaki justru terdengar makin ramai. Bukan cuma satu atau dua, tapi belasan.

Damar tidak berani menoleh ke belakang. Namun, telinganya menangkap ritme langkah yang aneh. Langkah-langkah kaki itu tidak seperti orang berlari cepat, tapi juga bukan jalan santai. Bunyinya berat dan terseret, seperti segerombolan mayat yang dipaksa bergerak.

“Maneh...Saha?” tanya Damar terengah-engah, dadanya mulai terasa terbakar.

“Rendi,” jawabnya singkat tanpa mengurangi kecepatan. “Gue udah mantau keganjilan ini dari pagi.”

“Maksudnya gimana?”

“Orang-orang berubah jadi aneh setelah digigit.” Rendi melirik sekilas. “Dan ini jelas bukan karena virus flu biasa.”

Langkah mereka melambat begitu sampai di sebuah gang buntu yang dijepit dinding batako. Rendi segera menarik sebuah pintu besi berkarat di sana, lalu memposisikan badannya untuk menahan pintu itu dari dalam.

“Dengerin gue,” kata Rendi, suaranya ditekan serendah mungkin. “Jangan pernah kepikiran buat nyari tempat rame atau posko penyelamatan.”

“Kenapa emangnya?”

“Karena di tempat kayak begitu, penularannya bakal jauh lebih cepet. Area komunal itu tempat paling pertama yang bakal hancur.”

Damar menyandarkan kepalanya ke dinding gang, mencoba mencerna rentetan kejadian gila ini. “Tapi yang tadi itu… apa? Orang gila? Efek narkoba?”

Rendi menatap Damar lurus-lurus dengan tatapan dingin. “Kalau itu cuma orang gila, kita berdua nggak bakal lari seketakutan ini, Mas.”

Dari arah jalan raya, suara sirine terdengar makin melengking, bersahutan dengan gema jeritan histeris yang entah datang dari sudut kota sebelah mana.

Damar akhirnya tersadar. Kota yang dia tinggali sekarang bukan lagi kota yang sama dengan yang dia kenal kemarin. Semuanya sudah runtuh. Dan sialnya, dia baru terlambat beberapa jam saja untuk menyadari bahwa kiamat kecil sudah dimulai.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!