Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Godaan yang Menggoda, Salah Paham yang Menusuk
Beberapa hari setelah kunjungan pertamanya ke rumah besar Adhitama, Sera Pradipta benar-benar mulai bergerak. Wanita itu tidak datang dengan ancaman atau kekerasan, melainkan dengan senyum paling manis, kecerdasan yang tajam, dan segala pesona yang dimilikinya. Baginya, Arkan Adhitama adalah pria paling berharga yang pernah ia temui—sempurna, kaya, berkuasa, dan sangat tampan. Dan baginya, posisi di sisi Arkan adalah hak mutlak yang seharusnya miliknya, karena mereka berasal dari dunia yang sama, memiliki status yang sama, dan dianggap oleh masyarakat sebagai pasangan ideal. Kehadiran Nara hanyalah sebuah gangguan kecil, halangan sementara yang harus disingkirkan, secepat mungkin.
Pagi itu, suasana di kantor pusat Adhitama Group kembali sibuk seperti biasa. Arkan sedang memimpin rapat penting mengenai proyek ekspansi bisnis ke luar pulau, ditemani Pak Wijaya dan para manajer senior. Di samping meja kerjanya, duduk Nara. Seperti biasa, Nara selalu ada di sana, membantu mengurutkan berkas, mencatat poin-poin penting, dan menjadi pendengar setia. Meskipun banyak yang masih memandang sebelah mata, kehadiran Nara di sana memberikan ketenangan tersendiri bagi Arkan. Hanya dengan menoleh sekilas dan melihat wajah tenang itu, segala beban di pundak Arkan terasa berkurang setengahnya.
Namun, pintu ruang rapat terbuka lebar, dan sekretaris masuk dengan ragu-ragu. "Maaf mengganggu, Tuan Arkan... Nona Sera Pradipta ada di depan. Beliau bilang ada dokumen penting yang harus diserahkan langsung kepada Anda, atas nama Bapak Pradipta."
Belum sempat Arkan menjawab, Sera sudah muncul di ambang pintu. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna putih bersih yang sangat mahal dan elegan, rambutnya digelung rapi, dan senyum percaya diri terukir di bibirnya. Aura kemewahan dan keanggunan memancar dari setiap langkahnya, membuat beberapa staf yang lewat menoleh kagum.
Sera berjalan masuk seolah itu adalah rumahnya sendiri. Ia tidak duduk di kursi tamu yang disediakan, melainkan berjalan langsung ke sisi meja Arkan, tepat di samping tempat duduk Nara. Tanpa ragu, ia meletakkan tumpukan dokumen tebal di atas meja, lalu membungkuk sedikit ke arah Arkan, memberikan pandangan yang sangat dekat dan tatapan yang sangat intens.
"Maaf mengganggu rapat Anda, Tuan Arkan. Ayah saya menyuruh saya mengantar ini langsung. Ini adalah rancangan perjanjian kerja sama yang sangat rahasia, yang hanya boleh dilihat oleh Anda dan saya saja," ucap Sera dengan suara lembut namun menggoda, sengaja tidak melirik ke arah Nara yang duduk di sana.
Sera kemudian sengaja mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi ke arah Arkan, hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum mahal dan mewah yang ia kenakan menyebar memenuhi ruangan, terasa sangat berbeda dengan aroma sederhana namun menenangkan yang selalu dibawa Nara.
"Di dalam berkas ini ada banyak poin penting, Arkan... bolehkah saya pimpin penjelasannya secara pribadi? Ada beberapa hal yang sangat detail dan rahasia, tidak pantas didengar orang lain," bisik Sera, matanya melirik sekilas ke arah Nara dengan senyum tipis yang penuh makna, seolah mengatakan bahwa Nara adalah "orang lain" yang tidak berhak ada di sana.
Arkan mengerutkan kening, sedikit mundur untuk menjaga jarak, namun Sera seolah tidak peka atau pura-pura tidak tahu. Di sisi lain, hati Nara seketika terasa dicekik. Ia melihat cara Sera memandang Arkan, cara ia berbicara, cara ia berusaha mendekat. Semuanya begitu luwes, begitu terlatih, begitu... cocok dengan dunia Arkan. Dan saat Sera menyebut "orang lain", Nara merasa seolah kata itu ditujukan tepat ke wajahnya. Ia merasa seperti orang asing yang terselip di antara dua orang yang memang ditakdirkan untuk bersama.
"Terima kasih, Nona Sera. Silakan tinggalkan berkas itu di sini. Nara akan membacakan poin-poin pentingnya untuk saya nanti. Dia bisa dipercaya sepenuhnya," jawab Arkan tegas, mencoba menegaskan posisi Nara di sana.
Namun Sera hanya tertawa kecil, seolah mendengar leluasa lucu. Ia menoleh ke arah Nara untuk pertama kalinya, menatap gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran rasa kasihan, merendahkan, dan kemenangan.
"Ah, benar juga... saya lupa. Teman Anda ini memang selalu ada di mana-mana ya? Tapi Tuan Arkan, urusan bisnis keluarga Pradipta dan Adhitama ini sangat rumit, penuh dengan istilah hukum dan keuangan tingkat tinggi. Saya khawatir... maksud saya, saya takut Nona Nara akan kesulitan memahaminya. Lagipula, ini urusan dua keluarga besar. Rasanya tidak pantas jika orang luar ikut campur terlalu dalam, bukan?"
Kata-kata Sera halus, sopan, namun sangat tajam. Ia terus-menerus mengingatkan bahwa Nara adalah "orang luar", bahwa Nara tidak mampu, bahwa Nara tidak mengerti dunia ini. Nara menundukkan wajahnya, tangannya mengepal kuat di atas pangkuan. Ia ingin berteriak bahwa ia ada di sini karena Arkan yang menginginkannya, tapi di hadapan Sera yang begitu berkilau dan sempurna, suara itu seolah tercekik di tenggorokannya.
"Keputusan ada di saya, Nona Sera. Dan Nara adalah bagian dari saya. Apa yang saya miliki, apa yang saya kerjakan, semuanya melibatkan dia," jawab Arkan dingin, tegas membela kekasihnya. "Jika tidak ada hal lain, saya harus melanjutkan rapat."
Sera tersenyum manis, tidak merasa ditolak sama sekali. Ia tahu cara kerjanya. Ia tidak buta, ia melihat tatapan Arkan pada Nara, tapi ia juga melihat keraguan di mata Nara. Dan keraguan itulah yang akan ia gunakan sebagai senjata utamanya.
"Baiklah kalau begitu. Saya tunggu Anda makan malam di restoran 'Le Grand' nanti malam, Tuan Arkan. Ayah saya akan datang juga, dan kami berharap... Anda datang sendirian. Ini soal bisnis serius, bukan acara santai. Saya yakin Anda mengerti." Sera mengedipkan satu matanya dengan genit, lalu berbalik berjalan pergi dengan anggun, meninggalkan aroma wangi yang terasa menyesakkan di ruangan itu.
Sore itu, suasana hati Nara hancur berkeping-keping. Sepanjang sisa hari itu, ia diam saja. Kata-kata Sera terus berputar di kepalanya. Orang luar. Tidak mengerti. Tidak pantas. Tidak setara. Meskipun Arkan sudah berusaha meyakinkan dan memeluknya berkali-kali, benih keraguan itu sudah tertanam dan tumbuh cepat.
Saat kembali ke rumah, Arkan bersiap-siap untuk pergi memenuhi undangan makan malam itu. Ia tidak ingin pergi, tapi Pak Wijaya menegaskan bahwa penolakan saat ini akan berisiko besar bagi keberlangsungan perusahaan yang baru pulih. Arkan berjanji akan pergi sebentar, hanya berbicara urusan bisnis, lalu segera pulang.
"Kamu tunggu aku di rumah ya, sayang? Aku janji paling lama dua jam aku sudah kembali. Aku tidak mau ada di sana lebih lama dari itu," kata Arkan sambil mengenakan jas, berlutut di depan Nara yang duduk di tepi ranjang. Ia memegang kedua tangan Nara, menatapnya dalam-dalam. "Ingat, apa pun yang dikatakan atau dilakukan Sera, hatiku tetap di sini, bersamamu. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Nara memaksakan senyum, mengangguk pelan. "Hati-hati ya... aku tunggu di sini."
Namun saat mobil Arkan meluncur pergi, air mata Nara akhirnya jatuh. Ia berjalan ke jendela, menatap ke luar ke arah gerbang yang tertutup. Di dalam hatinya, rasa takut itu datang lagi. Ia membayangkan Arkan duduk di sana, di restoran mewah, berdampingan dengan Sera yang cantik, cerdas, dan berkelas. Ia membayangkan orang-orang di sana melihat mereka sebagai pasangan paling serasi di dunia, sementara ia hanya gadis desa yang menunggu sendirian di rumah besar ini.
Jam demi jam berlalu. Dua jam yang dijanjikan berlalu, lalu menjadi tiga jam, lalu empat jam. Tidak ada kabar dari Arkan. Padahal biasanya Arkan selalu mengirim pesan setiap jam jika sedang di luar. Nara mulai gelisah. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan. Mungkin Sera menggodanya. Mungkin Arkan mulai melihat betapa sempurnanya wanita itu. Mungkin Arkan sadar bahwa Sera memang lebih cocok untuknya. Mungkin... dia tidak akan kembali.
Pukul sepuluh malam, ponsel Nara berdering. Itu dari nomor tidak dikenal.
"Halo?" jawab Nara dengan suara bergetar.
"Halo, ini Nona Nara ya? Ini pembantu di rumah makan Le Grand... Eh, saya cuma mau bilang, Tuan Arkan ada di sini... dia sepertinya minum sedikit terlalu banyak, dan Nona Sera sedang menuntunnya masuk ke dalam mobil pribadinya. Katanya mau diajak ke vila keluarga Pradipta untuk istirahat karena dia tidak mau pulang dalam keadaan mabuk. Kasihan sekali Tuan Arkan, wajahnya merah sekali dan terus menyebut nama... eh, tidak ada apa-apa. Maaf mengganggu."
Telepon terputus. Dunia seolah runtuh di bawah kaki Nara. Berita itu, ditambah dengan ketidakhadiran Arkan hingga larut malam, dan fakta bahwa Sera membawanya pergi ke vila pribadi... bagi Nara, itu adalah kenyataan pahit yang paling ia takutkan. Ia menangis terisak, jatuh berlutut di lantai kamar. Dia menyerah. Dia memilih Sera. Dia bosan padaku. Dia sadar aku tidak ada apa-apanya dibanding wanita itu.
Rasa sakit, marah, sedih, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu. Nara merasa bodoh karena percaya bahwa cinta saja cukup untuk mengalahkan dunia. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena bermimpi bisa menjadi istri dari pewaris keluarga Adhitama.
Di sisi lain, di dalam mobil mewah Sera yang melaju menuju kota, suasana sangat tegang. Arkan memang meminum sedikit anggur untuk menghormati Bapak Pradipta, tapi ia sadar sepenuhnya. Ia baru saja menyadari bahwa Sera sengaja memperpanjang waktu makan malam, mengajak ke tempat hiburan lain, dan kini berusaha membawanya ke arah yang berlawanan dari rumahnya.
"Turunkan mobilmu, Sera. Aku mau pulang ke rumahku. Ke rumahku sendiri," ucap Arkan dingin, matanya menatap tajam ke arah wanita yang duduk di kursi pengemudi itu.
"Aduh, Arkan... jangan kaku dong. Kamu sudah lelah sekali hari ini. Di vila kita lebih tenang, lebih indah. Di sana ada kolam renang, pemandangan bagus... dan cuma ada kita berdua. Ayahku sudah pulang duluan kok. Kita bisa ngobrol lebih dalam, tentang masa depan kita..." Sera tersenyum menggoda, tangannya berusaha menyentuh paha Arkan, namun segera ditepis kasar.
"Masa depan apa? Aku sudah punya masa depan, dan itu ada di rumahku, sedang menunggu aku," bentak Arkan. "Berputar balik sekarang juga, atau aku akan turun dan berjalan kaki. Dan ingat, kerja sama kita batal sekarang juga jika kamu terus memaksakan kehendakmu."
Melihat wajah Arkan yang begitu serius dan marah, Sera akhirnya mengerti bahwa ia tidak akan mudah mendapatkan pria ini. Ia menggerutu pelan, lalu memutar setir mobil kembali menuju arah rumah Adhitama. Namun ia tersenyum licik. Ia sudah melakukan rencananya. Ia sudah menyuruh pembantunya menelepon Nara dan mengatakan hal-hal yang menyesatkan. Ia tahu, saat Arkan pulang, pintu hatinya mungkin sudah tertutup oleh rasa curiga dan salah paham. Itulah awal kehancuran hubungan mereka.
Mobil Arkan akhirnya sampai di halaman rumah besar itu hampir jam dua belas malam. Arkan berjalan cepat masuk, merasa bersalah karena pulang terlambat tanpa sempat memberi kabar—ponselnya tadi diambil oleh Sera dengan alasan tidak sengaja, lalu disembunyikan. Ia berharap Nara sudah tidur, tapi saat masuk ke kamar utama, ia melihat Nara duduk di sudut ruangan, lutut ditekuk ke dada, matanya bengkak merah karena menangis.
"Sayang! Maaf aku pulang terlambat. Sengaja sekali Sera menahan aku, dia ambil ponselku, aku—"
"Jangan mendekat!" teriak Nara tiba-tiba, suaranya parau dan pecah, matanya menatap Arkan dengan tatapan yang menyakitkan, campuran antara cinta dan kecewa yang dalam. "Jangan sentuh aku! Kamu mau bilang apa? Kamu bilang kamu cuma urusan bisnis? Lalu kenapa kamu dibawa ke vila pribadinya? Kenapa kamu tidak pulang sampai jam segini? Kenapa kamu biarkan dia menuntun kamu seolah kamu miliknya?"
Arkan tertegun, bingung. "Apa? Vila? Siapa yang bilang hal itu padamu? Nara, aku tidak ke vila mana pun! Aku minta dia putar balik! Aku—"
"Aku dengar langsung!" Nara berteriak, air matanya mengalir deras lagi. "Ada orang yang menelepon! Dia bilang kamu mabuk, dia bilang Sera membawamu pergi ke tempat sepi! Aku bodoh ya, Arkan? Aku bodoh karena percaya omonganmu bahwa aku yang paling berharga! Lihatlah dirimu dan lihatlah dia! Dia segalanya, aku bukan apa-apa! Kamu pasti malu punya aku, kamu pasti menyesal kan? Kamu pasti lebih bahagia bersamanya!"
Salah paham itu meledak begitu saja, didorong oleh rasa rendah diri Nara yang sudah lama terpendam dan rencana licik Sera. Nara merasa hancur, Arkan merasa tidak adil dan marah karena difitnah, dan keduanya sama-sama terluka.
"Aku tidak pernah menyesal! Aku tidak pernah mau dia! Kamu satu-satunya wanita yang aku mau!" Arkan maju mendekat, mencoba memegang tangan Nara, tapi gadis itu menepisnya keras, mundur menjauh.
"Jangan sentuh! Bau kamu... kamu bau wangi parfum dia! Kamu biarkan dia menyentuhmu kan? Kamu biarkan dia dekat? Apa aku cuma pelarianmu saat kamu susah? Sekarang kamu kaya lagi, kamu hebat lagi, kamu mau yang setara seperti dia!" Nara menangis histeris, rasa sakitnya begitu dalam hingga ia tidak bisa berpikir jernih lagi. "Mungkin benar kata semua orang... aku cuma beban. Aku cuma pengganggu. Seharusnya aku tidak pernah datang ke sini."
Melihat Nara yang begitu terluka, yang begitu tidak percaya padanya, Arkan merasa hatinya disayat-sayat. Ia tidak bisa berdebat lagi. Ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata lagi. Ia tahu, satu-satunya cara untuk menghapus keraguan itu adalah dengan membuktikannya. Dengan memaksanya melihat kebenaran di dalam hati dan raga Arkan.
Dengan satu gerakan cepat dan kuat namun kasar karena emosi, Arkan menangkap tubuh Nara yang berusaha lari ke sudut ruangan. Ia mengangkat tubuh gadis itu, membawanya ke atas kasur, lalu mengunci pintu kamar dan mendorong lemari di depan pintu agar tidak ada jalan keluar. Wajah Arkan merah padam, matanya berkaca-kaca antara marah dan sakit hati, tapi tatapannya penuh dengan cinta yang menggebu-gebu.
"Kamu mau lari ke mana hah? Kamu mau bilang kamu bukan siapa-siapa? Kamu mau bilang aku mau wanita lain? Baik! Kalau mulutku tidak cukup meyakinkanmu, biar tubuhku yang bicara! Biar setiap sentuhan ini bilang padamu, siapa pemiliknya!"
Arkan merobek kemeja yang ia kenakan, melemparkannya sembarangan. Ia bergerak ke arah Nara yang masih menangis dan berontak lemah. Ia menahan kedua tangan Nara di atas kepala gadis itu dengan satu tangannya, sementara tangan bebasnya bergerak cepat melepas pakaian yang menutupi tubuh Nara.
"Lihat aku, Nara! Lihat mataku! Apakah ada sedikit pun ruang di sini untuk Sera? Untuk wanita lain siapa pun? Tidak ada! Hanya kamu! Hanya wajahmu yang aku lihat setiap malam! Hanya suaramu yang aku rindukan! Hanya tubuhmu yang aku inginkan!"
Arkan menciumnya, bukan lagi lembut seperti biasa, tapi dengan penuh kegilaan, keputusasaan, dan cinta yang meluap. Ciuman itu keras, menuntut, dan mendesak, seolah ingin menyatukan napas mereka menjadi satu agar Nara bisa merasakan langsung apa yang ada di dalam dada Arkan. Tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh Nara dengan gairah yang membara, namun penuh dengan rasa hormat dan kelembutan yang mendalam. Ia menyentuh setiap bagian seolah ingin mengukir tanda bahwa ini miliknya, dan ia milik ini.
"Kamu bilang aku bau dia? Baunya tidak ada apa-apanya dibandingkan baumu yang satu-satunya yang membuatku waras!" bisik Arkan di sela-sela ciuman yang turun ke leher dan dada Nara. "Kamu pikir aku mau wanita lain? Coba lihat reaksi tubuhku! Coba rasakan betapa gilanya aku hanya untuk kamu! Kalau aku mau Sera, aku tidak akan berlari pulang secepat ini! Aku tidak akan merasakan sakit sehancur ini saat kamu tidak percaya padaku!"
Nara yang awalnya melawan dan menangis, perlahan melemah. Rasa rindu, rasa cinta, dan keinginan yang tak bisa disangkal mengalahkan rasa marah dan curiganya. Ia merasakan betapa gilanya Arkan padanya. Ia merasakan betapa bergetarnya tubuh pria itu hanya karena sentuhannya. Ia merasakan betapa besar rasa sakit dan ketakutan Arkan saat dikira mengkhianati.
"Arkan... aku takut... aku cuma takut kehilanganmu..." isak Nara, melingkarkan kakinya di pinggang Arkan, menyerahkan dirinya sepenuhnya.
"Kamu tidak akan pernah kehilangan aku... sampai mati pun aku tidak akan pergi... Aku akan buktikan malam ini, sampai kamu tidak bisa lagi berpikir apa pun selain kenyataan bahwa kamu adalah satu-satunya wanita di dunia bagiku..."
Malam itu, penyatuan mereka bukan lagi sekadar cinta, tapi adalah pertempuran melawan keraguan, kecemasan, dan kebohongan orang lain. Arkan menyatu dengan Nara dengan penuh gairah yang tak tertahankan, setiap gerakan, setiap desahan, setiap bisikan adalah pembuktian bahwa tidak ada siapa pun yang bisa menggantikan posisi Nara. Ia menyentuh dan membelai gadis itu dengan begitu dalam, seolah ingin menyatukan jiwa mereka agar Nara bisa melihat kebenaran yang tersembunyi di balik pandangan mata Arkan.
Di tengah keringat yang bercampur air mata, di tengah detak jantung yang berpacu kencang satu irama, Nara akhirnya sadar. Bahwa meski dunia berusaha memisahkan, meski ada orang yang berusaha menanam benih kebencian dan salah paham, ikatan di antara mereka terlalu kuat untuk diputus. Arkan miliknya, sepenuhnya. Dan ia milik Arkan, seutuhnya.
Saat kelelahan akhirnya membuat mereka terbaring berpelukan erat di atas kasur yang berantakan itu, Arkan mengusap rambut Nara yang basah oleh keringat dan air mata. Ia mencium kening gadis itu dengan lembut sekali.
"Sera mungkin bisa mengatur orang menelepon, dia bisa mengatur apa yang orang lihat atau dengar... tapi dia tidak bisa mengatur hatiku. Hati ini punya kunci cuma satu, dan itu ada di tanganmu, Nara. Jangan pernah biarkan siapa pun masuk ke sini selain kamu."
Nara memeluk pinggang Arkan lebih erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, merasa sangat aman dan damai. "Maafkan aku... aku cuma takut... aku janji akan lebih percaya padamu. Aku akan berjuang bersamamu."
Arkan tersenyum, meski tahu bahwa Sera tidak akan berhenti sampai di sini. Ujian ke depan akan semakin berat, rintangan semakin tinggi, dan mungkin akan ada rahasia masa lalu yang muncul kembali. Namun satu hal yang pasti: selama mereka saling percaya dan saling mencintai sekuat ini, tidak ada apa pun yang bisa mengalahkan mereka.
Bersambung...