Aku Berhak Bahagia

Aku Berhak Bahagia

Aku Berhak Bahagia - Episode 1

"Pak, Bu, aku tak kuat lagi hidup berumah tangga dengan Mas Hardi!"

Kata-kata itulah yang terlontar dari mulut Mila Rahma, 28 tahun, wanita bertubuh tinggi 155 centimeter dengan bobot 60 kilogram. Ia berlutut menghadap kedua orang tuanya yang duduk di sofa tamu yang warnanya mulai usang.

"Jangan buat malu kedua orang tuamu, Mila!!" sentak Maya menatap wajah putrinya, ia begitu terkejut ketika anak pertamanya itu mengucapkan kata-kata yang tak ingin didengarnya.

"Bu, aku tidak sanggup lagi. Aku ingin berpisah dengannya!" ucap Mila menunduk dan menangis.

"Di keluarga besar kita tak ada yang bercerai. Jika itu terjadi, kamulah orang pertama yang merusaknya!!" tuding Rahman. Pria berusia 50 tahun itu juga terkejut dan kesal.

Mila berpikir kedatangannya ke rumah orang tuanya dan mengadu akan membuatnya mendapatkan dukungan. Orang tuanya malah tak mengizinkannya berpisah dari Hardi. Pria yang selalu menyiksanya dengan pukulan dan kata-kata hinaan.

"Pulanglah ke rumah suamimu. Kamu ke sini tanpa dia sudah membuat para tetangga bertanya-tanya!" usir Maya. Ia bergegas berdiri dan menggunakan jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah pintu.

"Pak, Bu, apa kalian tidak kasihan dengan aku?" Mila menatap wajah kedua orang tuanya yang sama sekali tak memiliki empati padanya. Padahal, dirinya hampir sering menelepon dan mengirimkan pesan mengadukan sikap Hardi kepada keduanya. Tetapi, kedua orang tuanya hanya menyuruhnya buat sabar.

"Harusnya kamu kasihan dengan kami. Kalian belum enam bulan menikah tapi malah ingin berpisah. Mau diletakkan di mana wajah kami ini, Mila?" kesal Maya menatap putrinya.

"Aku benar-benar tidak kuat, Bu, Pak!" Mila menangkup kedua telapak tangannya.

"Jadilah istri penurut, pasti dia akan berubah!" kata Rahman membujuk dengan merendahkan suaranya.

"Hardi takkan pernah berubah, Pak!" Mila terus meyakinkan kedua orang tuanya.

"Bapak dan Ibumu tetap mau kamu mempertahankan pernikahan kalian!" kata Rahman tegas. "Ini juga demi nama baik keluarga kita!" lanjutnya.

"Aku tak bisa, Pak!" Mila menggelengkan kepalanya pelan.

"Kamu harus bisa dan kuat. Biaya pernikahan kalian itu bukannya sedikit, keluarga Hardi sudah banyak memberi ketika kalian menikah. Jika pernikahan kalian cuma seumur jagung, kami sebagai orang tuamu dianggap tak mampu mendidik kamu!!" sahut Rahman tegas.

"Jika dia tidak menyakiti dan mengkhianati pernikahan kami, aku pun tidak mau pernikahan ini berakhir dengan cepat!" kata Mila menjelaskan.

"Mila, sudah cukup. Jangan pernah membantah kata-kata kami!!" tegur Rahman.

"Pak, Bu, aku mohon izinkan aku menggugatnya. Jika tidak mau kehilangan anak kalian!" ucap Mila perlahan berdiri.

"Lebih baik kami kehilanganmu dalam keadaan terhormat daripada kamu menjadi seorang janda dari pernikahan yang baru dalam hitungan beberapa bulan saja!" tegas Rahman.

Jlebb...

Ucapan Rahman membuat hati Mila begitu sangat sakit. Ayah kandungnya lebih memilih kehilangan putrinya ditangan menantunya daripada menjadi janda muda.

"Cuci wajahmu dan lekas pulang ke rumahmu. Jangan sampai para tetangga tahu alasan kamu datang ke rumah ini!" titah Maya.

Mila menyeka air matanya, ia kemudian bergegas ke kamar mandi mencuci wajahnya dengan air. Setelah itu, meraih tasnya di meja dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pamit.

"Lihatlah, Pak. Sikapnya semakin tak sopan karena Bapak menyuruhnya untuk sekolah lebih tinggi. Coba saja dia sekolah cuma sampai SMP, pasti kita sudah punya cucu dan dia tak bisa melawan seperti ini!" kata Maya kesal. Kemarin itu dia ingin Mila sekolah hingga SMP saja dan anak laki-lakinya sampai perguruan tinggi. Tetapi, Rahman menginginkan Mila lulus SMA dengan alasan keponakannya tak ada yang sampai SMA. Mereka rata-rata menikah muda dengan pilihan sendiri atau dijodohkan.

"Bapak pikir dia menjadi anak yang penurut!" Rahman juga menyesal.

"Semoga saja mereka tak jadi berpisah, kalau itu sampai terjadi Ibu takkan mengizinkan Mila tinggal bersama kita!" kata Maya.

Sementara itu, Mila kembali ke rumah suaminya dengan menaiki angkutan umum. Perjalanan yang ditempuhnya butuh waktu 1 jam. Mila sengaja pergi ke rumah orang tuanya saat suaminya sedang bekerja. Dia berangkat tanpa seizin suaminya, walaupun sebenarnya itu melanggar adab.

Sesampainya di rumah, tangis Mila kembali pecah. Penghinaan suaminya terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi, pesan-pesan di ponsel suaminya yang tanpa sengaja ia baca masih jelas dipikirannya. Suaminya memuji kecantikan dan kehebatan wanita lain sedangkan Mila sama sekali tak pernah dipuji. Padahal, dirinya sudah berusaha menjadi istri yang baik, lembut dan sopan.

Mila memungut puntung rokok yang berserakan di bawah meja tamu, ia kemudian membuangnya ke dalam tong sampah. Lalu lanjut membersihkan meja, menyapu dan mengepel.

Langkahnya selanjutnya menuju ruang dapur, peralatan makan kotor yang belum sempat dicuci karena buru-buru akhirnya ia cuci.

Mila kemudian melanjutkan pekerjaannya yaitu memasak. Menu yang sama hampir tiap hari selama mereka menikah, tempe tahu dan telur. Tak ada ayam, ikan laut atau daging sapi, Hardi selalu bilang jika dia tak bisa makan begitu. Kenyataannya, pesan yang dikirimkannya kepada seorang wanita sangat berbeda. Hardi memuji masakan daging balado wanita itu dan dia juga mengatakan sangat suka dengan menu makanan tersebut.

Selesai masak, Mila meletakkan sepiring tempe tahu goreng dan telur dadar di meja. Kemudian ia tutup dengan tudung saji agar tak dihinggapi lalat. Makan siang, dia akan menikmatinya sendiri. Hardi tak pernah makan siang di rumah meskipun itu hari libur.

Jarum jam menunjukkan pukul 2 siang, Mila yang hampir saja tertidur di karpet melangkah ke ruang makan. Menarik kursi dan menyantap masakannya sendirian. Dirinya sebenarnya sudah sangat bosan dengan menu masakannya yang itu-itu saja. Tapi, apalah daya ia tak punya uang banyak buat membelinya. Ongkos perjalanannya ke rumah orang tuanya ia sisihkan dari uang belanja sedikit demi sedikit.

Saat makan, Mila tiba-tiba teringat dengan sahabatnya yang telah lama tak berkomunikasi. Ia ingin mencurahkan isi hatinya dan berharap sahabatnya itu dapat memberikan solusinya.

Selepas makan dan mencuci piring, Mila mengambil ponselnya ia kemudian melangkah ke arah teras rumah. Ya, dia mendapatkan jaringan internet gratis dari rumah tetangganya. Beruntungnya, tetangganya itu tak pernah mengganti kata sandi jaringan internetnya.

Mila mencoba menelpon tetapi tak ada jawaban, ia kemudian mengirimkan pesan kepada sahabatnya. 'Hai, Della. Apa kabar? Maaf aku tak pernah mengabarimu. Aku butuh bantuanmu, aku ingin berpisah dengan suamiku.'

"Ayo Della, cepat balas pesanku!!" harap Mila cemas.

Sahabatnya belum membalas pesannya, suaminya Mila tiba-tiba pulang. Mila gegas menyimpan ponselnya ke dalam saku roknya.

Hardi turun dari motornya dengan raut wajah cemberut, Mila menghampiri suaminya dan meraih tangan suaminya lalu mengecupnya.

"Mau dibuatkan teh hangat?" tawar Mila.

"Tidak usah, teh buatanmu tidak enak!" tolak Hardi dengan hinaan.

"Atau mau aku buatkan mie instan?" Mila mencoba menawarkan lagi.

"Aku bilang, gak usah!" Hardi meninggikan suaranya.

Mila pun diam.

Hardi masuk ke rumah, melemparkan jaket kerjanya ke atas kursi tamu. Mila lantas memungutnya dan menggantungnya di balik pintu kamar tidur.

"Mila...!!" teriak Hardi memanggil.

Mila menghampiri suaminya dengan langkah tergopoh-gopoh, "Ya, Mas, ada apa?"

"Kenapa masakannya cuma segini saja?" Hardi mengebrak meja.

"Uang belanja yang Mas Hardi berikan cuma cukup beli itu saja. Mas Hardi 'kan sukanya hanya tempe, tahu dan telur saja!" kata Mila.

"Tapi, aku bosan. Kau memang tak pintar dan tak bisa masak. Harusnya uang segitu bisa beli daging!!" Hardi tampak marah.

"Sejak kapan Mas Hardi suka makan daging?" tanya Mila heran.

"Jangan banyak tanya, kau saja yang bodoh dan tak bisa mengatur uang belanja!!" jawab Hardi dengan membentak.

Episodes
1 Aku Berhak Bahagia - Episode 1
2 Aku Berhak Bahagia - Episode 2
3 Aku Berhak Bahagia - Episode 3
4 Aku Berhak Bahagia - episode 4
5 Aku Berhak Bahagia - episode 5
6 Aku Berhak Bahagia - episode 6
7 Aku Berhak Bahagia - episode 7
8 Aku Berhak Bahagia - episode 8
9 Aku Berhak Bahagia - episode 9
10 Aku Berhak Bahagia - episode 10
11 Aku Berhak Bahagia - episode 11
12 Aku Berhak Bahagia - episode 12
13 Aku Berhak Bahagia - episode 13
14 Aku Berhak Bahagia - episode 14
15 Aku Berhak Bahagia - episode 15
16 Aku Berhak Bahagia - episode 16
17 Aku Berhak Bahagia - episode 17
18 Aku Berhak Bahagia - episode 18
19 Aku Berhak Bahagia - episode 19
20 Aku Berhak Bahagia - episode 20
21 Aku Berhak Bahagia - episode 21
22 Aku Berhak Bahagia - episode 22
23 Aku Berhak Bahagia - episode 23
24 Aku Berhak Bahagia - episode 24
25 Aku Berhak Bahagia - episode 25
26 Aku Berhak Bahagia - episode 26
27 Aku Berhak Bahagia - episode 27
28 Aku Berhak Bahagia - episode 28
29 Aku Berhak Bahagia - episode 29
30 Aku Berhak Bahagia - episode 30
31 Aku Berhak Bahagia - episode 31
32 Aku Berhak Bahagia - episode 32
33 Aku Berhak Bahagia - episode 33
34 Aku Berhak Bahagia - episode 34
35 Aku Berhak Bahagia - episode 35
36 Aku Berhak Bahagia - episode 36
37 Aku Berhak Bahagia - episode 37
38 Aku Berhak Bahagia - episode 38
39 Aku Berhak Bahagia - episode 39
40 Aku Berhak Bahagia - episode 40
41 Aku Berhak Bahagia - episode 41
42 Aku Berhak Bahagia - episode 42
43 Aku Berhak Bahagia - episode 43
44 Aku Berhak Bahagia - episode 44
45 Aku Berhak Bahagia - episode 45
46 Aku Berhak Bahagia - episode 46
47 Aku Berhak Bahagia - episode 47
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Aku Berhak Bahagia - Episode 1
2
Aku Berhak Bahagia - Episode 2
3
Aku Berhak Bahagia - Episode 3
4
Aku Berhak Bahagia - episode 4
5
Aku Berhak Bahagia - episode 5
6
Aku Berhak Bahagia - episode 6
7
Aku Berhak Bahagia - episode 7
8
Aku Berhak Bahagia - episode 8
9
Aku Berhak Bahagia - episode 9
10
Aku Berhak Bahagia - episode 10
11
Aku Berhak Bahagia - episode 11
12
Aku Berhak Bahagia - episode 12
13
Aku Berhak Bahagia - episode 13
14
Aku Berhak Bahagia - episode 14
15
Aku Berhak Bahagia - episode 15
16
Aku Berhak Bahagia - episode 16
17
Aku Berhak Bahagia - episode 17
18
Aku Berhak Bahagia - episode 18
19
Aku Berhak Bahagia - episode 19
20
Aku Berhak Bahagia - episode 20
21
Aku Berhak Bahagia - episode 21
22
Aku Berhak Bahagia - episode 22
23
Aku Berhak Bahagia - episode 23
24
Aku Berhak Bahagia - episode 24
25
Aku Berhak Bahagia - episode 25
26
Aku Berhak Bahagia - episode 26
27
Aku Berhak Bahagia - episode 27
28
Aku Berhak Bahagia - episode 28
29
Aku Berhak Bahagia - episode 29
30
Aku Berhak Bahagia - episode 30
31
Aku Berhak Bahagia - episode 31
32
Aku Berhak Bahagia - episode 32
33
Aku Berhak Bahagia - episode 33
34
Aku Berhak Bahagia - episode 34
35
Aku Berhak Bahagia - episode 35
36
Aku Berhak Bahagia - episode 36
37
Aku Berhak Bahagia - episode 37
38
Aku Berhak Bahagia - episode 38
39
Aku Berhak Bahagia - episode 39
40
Aku Berhak Bahagia - episode 40
41
Aku Berhak Bahagia - episode 41
42
Aku Berhak Bahagia - episode 42
43
Aku Berhak Bahagia - episode 43
44
Aku Berhak Bahagia - episode 44
45
Aku Berhak Bahagia - episode 45
46
Aku Berhak Bahagia - episode 46
47
Aku Berhak Bahagia - episode 47

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!