"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba menjalani
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Berulang kali Aryan mengatur irama napasnya sesaat sebelum membuka pintu kamar Zaskia. Untuk sementara waktu, ia akan tinggal di kediaman Zhafran selama seminggu. Setelah keadaan Zaskia benar-benar membaik, barulah mereka pindah ke apartemen hadiah dari Opa Athar.
Tangan Aryan gemetar saat hendak menyentuh gagang pintu. Berkali-kali ia menyemangati diri sendiri, tetapi rasa gugup itu tak juga menghilang. Setelah mengembuskan napas panjang sambil membaca basmalah, Aryan akhirnya membuka pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jantung Aryan langsung berdebar tak karuan. Begitu masuk, ia mendapati Zaskia duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap kedatangan suaminya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Aryan basa-basi, padahal ia sudah tahu jawabannya.
"Nunggu kakak."
Deg!
Aryan hampir merasa nyawanya copot detik itu juga.
Lututnya mendadak lemas. Rasanya ia bahkan kesulitan melangkah, tetapi keadaan memaksanya untuk tetap terlihat tenang. Ia harus bersikap biasa saja.
"Kalau udah ngantuk, tidur aja, Kia."
Aryan berjalan ke arah lemari, entah apa yang sebenarnya ingin ia cari di sana. Padahal baju gantinya sudah terlipat rapi di atas ranjang.
"Kakak cari apa? Baju Kak Aryan udah Kia taruh di atas kasur."
Aryan meringis malu. Ia menggigit bibirnya kesal pada diri sendiri. Namun begitu berbalik, wajahnya kembali dibuat setenang mungkin. Ia berjalan ke arah ranjang lalu mengambil bajunya.
"Kakak mau ganti baju dulu."
"Iya."
Aryan segera masuk ke kamar mandi. Dari luar ia tampak tenang, tetapi siapa sangka di dalam dirinya sedang terjadi perang besar antara gugup dan salah tingkah.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Aryan langsung mengembuskan napas lega seperti seseorang yang baru saja lolos dari kejaran penjahat.
"Tenang, Yan... tenang."
Tak lama kemudian, Aryan selesai mengganti pakaian. Agar pikirannya sedikit lebih tenang, ia mengambil wudhu. Barangkali air wudhu bisa membantu meredakan gugup yang sejak tadi memenuhi dadanya.
Selesai berwudhu, Aryan kembali menyemangati dirinya sendiri sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.
Ia berjalan canggung menuju ranjang lalu duduk dengan jarak sekitar setengah meter dari Zaskia.
"Nggak usah dipikirin, Kia. Kita tidur kayak biasa aja."
Zaskia perlahan mengangkat wajah menatap Aryan. Bekas air wudhu yang masih membasahi wajah laki-laki itu membuat tatapan Zaskia sempat terpaku.
Rambut depan Aryan yang sedikit basah dan jatuh ke kening tiba-tiba mengingatkannya pada Kafa.
Seketika, Zaskia kembali menundukkan pandangan.
"Kia, boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Kenapa kakak mau nikahin Kia?"
Aryan terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Kakak gak tau. Allah yang tiba-tiba gerakin hati kakak buat nikahin kamu."
Zaskia membisu. Ucapan itu terasa sulit untuk dibantah.
"Kamu kecewa ya karena bukan Kafa yang nikahin kamu?" tanya Aryan lagi.
Rasa canggung yang sebelumnya menyelimuti mereka perlahan berubah menjadi rasa perih yang menyesakkan.
Zaskia menggeleng pelan.
"Maaf ya."
"Buat apa, Kak?"
"Atas tindakan kakak."
Zaskia tersentak. Jadi selama ini sikapnya malah melukai Aryan?
"Jangan ngomong gitu. Maafin Kia... maafin sikap Kia."
Air mata langsung jatuh tanpa diminta.
Aryan hanya diam menatap sendu istrinya. Ia mengerti kenapa Zaskia meminta maaf.
"Gapapa. Kakak ngerti," ucap Aryan lembut sambil mengusap air mata di pipi Zaskia.
Setelah itu ia bangkit berdiri.
"Kalau kamu belum siap tidur sekamar, kakak tidur di kamar Zaid aja ya?"
Zaskia diam.
Aryan tersenyum pahit karena tidak mendapat penolakan. Ia mengusap singkat pucuk kepala istrinya yang masih tertutup kerudung sebelum berbalik hendak pergi.
"Kak."
Langkah Aryan terhenti ketika Zaskia tiba-tiba menahan lengannya.
"Kakak mau ke mana? Kamar kakak kan di sini... sama Kia. Kia takut tidur sendiri."
Aryan tertegun.
Apakah itu berarti dirinya sudah diterima?
"Jangan pergi ya," lanjut Zaskia lirih.
Aryan mengembuskan napas pelan sambil tersenyum kecil. Ia kembali duduk di samping Zaskia.
"Ya udah... yuk tidur."
"Tapi gimana sama yang diomongin Ustadz Mansyur?"
"Kalau kamu belum siap, gak usah dipaksa, Kia."
"Terus kalau Kia mimpi lagi gimana, Kak?"
"Kakak gak mau kamu ngelakuin itu karena terpaksa."
Zaskia kembali diam. Matanya berkaca-kaca saat menatap Aryan. "Kia siap, Kak."
"Enggak. Kamu belum siap, Kia."
Zaskia mengusap matanya lalu kembali menunduk.
"Terus gimana kalau Kia mimpi buruk lagi? Siap gak siap, Kia harus siap, Kak. Lagian sekarang kakak suami Kia. Kakak berhak atas diri Kia."
Aryan membisu.
Ia bingung harus bagaimana. Apa ucapan itu bisa dianggap sebagai izin?
"Kia..."
Zaskia mengangkat kepala.
Dan di detik itulah Aryan tiba-tiba mengecup singkat bibirnya.
Mata Zaskia langsung membelalak kaget. Jantungnya berguncang hebat seolah ingin melompat keluar dari dada.
Aryan menarik wajahnya usai memberi kecupan singkat di bibir Zaskia. Jika jantungnya bisa berbicara, mungkin organ itu sudah berteriak sekencang-kencangnya sejak tadi. Walau sebenarnya masih canggung—bahkan semakin canggung setelah kejadian barusan—Aryan tetap berusaha bersikap normal.
Ia tersenyum kecil sambil mengusap pipi Zaskia menggunakan ibu jarinya.
"Tidur kayak biasanya aja ya," ucap Aryan pelan.
Zaskia yang masih syok hanya mampu mengangguk tanpa membuka suara. Mau protes pun rasanya percuma, karena apa yang dilakukan Aryan bukan sebuah kesalahan.
Aryan lalu bangkit berdiri, memberi ruang agar Zaskia bisa berbaring dengan nyaman. Gadis itu menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang lalu merebahkan diri perlahan. Aryan ikut menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh istrinya. Kerudung masih terpasang rapi di kepala Zaskia.
"Kakak gak tidur?" tanya Zaskia pelan.
"Tidur."
Aryan kemudian berjalan ke sisi ranjang yang lain. Begitu sampai, ia langsung naik ke atas kasur lalu berbaring terlentang, sama seperti Zaskia.
Rasanya aneh sekali jika dipikirkan kembali.
Gadis yang tak pernah Aryan bayangkan bisa ia nikahi kini berada di sampingnya. Sudah halal untuk ia jaga, sentuh, dan bahagiakan kapan pun ia mau.
Begitu pula dengan Zaskia.
Laki-laki yang sejak kecil ia anggap seperti kakaknya sendiri kini telah berubah status menjadi suaminya. Sedikit pun tak pernah terlintas di pikirannya bahwa ia dan Aryan akan berakhir sebagai pasangan suami istri.
Keduanya diam.
Sama-sama menatap langit-langit kamar dengan pikiran masing-masing.
"Kia."
"Iya, Kak?" Zaskia menoleh pelan pada Aryan yang masih menatap lurus ke atas.
"Maaf buat yang tadi."
Zaskia langsung tertegun. Pipi gadis itu mendadak terasa panas. Ia buru-buru membuang wajah ke arah lain, menjauh dari tatapan Aryan.
"Ngapain minta maaf? Kak Aryan gak ngelakuin hal yang salah," jawabnya lirih, tetapi masih cukup jelas untuk didengar Aryan.
Aryan tersenyum tipis, lalu perlahan mengubah posisi tubuhnya membelakangi Zaskia. "Kakak tidur ya."
Pergerakan itu membuat Zaskia kembali menoleh. Ia mengembuskan napas pelan saat melihat Aryan sudah memunggunginya.
"Iya," jawabnya pelan.
Setelah itu, kamar kembali dipenuhi kesunyian.
Hanya suara detik jarum jam di dinding yang terdengar jelas, seolah menjadi satu-satunya hal yang hidup di ruangan itu.
Namun Zaskia tidak bisa tidur.
Pikirannya kembali dipenuhi sosok Kafa.
Ia masih tidak mengerti kenapa laki-laki itu berubah begitu drastis. Padahal sebelumnya Kafa selalu berbicara tentang masa depan mereka dengan penuh keyakinan.
Mata Zaskia perlahan berubah sendu sebelum akhirnya air mata jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Semua ucapan manis Kafa tentang rumah tangga yang ingin mereka bangun bersama kembali berputar di kepalanya.
Zaskia tidak berharap Kafa kembali.
Itu sudah tidak mungkin.
Lagipula, Kafa sendiri yang memilih melepaskannya untuk orang lain.
Namun yang terus mengganggu pikirannya adalah perubahan sikap laki-laki itu tepat di saat dirinya sangat berharap Kafa datang dan menikahinya.
Ada apa sebenarnya?
Apa Kafa jijik setelah mengetahui mimpi buruk yang ia alami?
Zaskia mengembuskan napas panjang dari mulutnya, mencoba membuang sesak yang memenuhi dada sambil mengusap kedua matanya cepat-cepat.
Tak lama kemudian, ia ikut mengubah posisi tubuh membelakangi Aryan. Gadis itu memejamkan mata, mencoba tidur dan melupakan semuanya tentang Kafa.
Waktu terus berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Namun siapa sangka, Aryan sebenarnya juga belum tidur.
Laki-laki itu masih terjaga dalam diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Aryan merasa ragu.
Apakah ia benar-benar mampu membuat Zaskia mencintainya suatu hari nanti?
“Jangan! Aaaa, Bunda! Tolong, Bunda!”
Teriakan Zaskia membuat Aryan langsung terbangun. Dengan napas memburu, ia segera bangkit duduk menghadap istrinya. Gadis itu masih memejamkan mata, tetapi tubuhnya gemetar hebat sambil menangis seolah benar-benar melihat sesuatu.
“Kia? Kia!” Aryan menepuk lembut pipi Zaskia, panik.
Namun Zaskia belum juga sadar. Tangisnya justru semakin sesak, membuat dada Aryan ikut mencelos. Ucapan Ustadz Mansyur tadi malam kembali terngiang di kepalanya. Gangguan itu belum benar-benar pergi.
“Kia, sadar… hei, lihat kakak.”
Zaskia tersentak. Napasnya memburu saat matanya terbuka lebar. Begitu melihat Aryan di depannya, ia langsung bangkit dan memeluk laki-laki itu erat tanpa ragu.
Aryan terdiam sesaat. Ia bisa merasakan tubuh Zaskia dingin dan bergetar hebat.
“Kia takut, Kak…” suara gadis itu pecah oleh isak. “Dia masih ada… masih ngikutin Kia…”
Kedua tangan Aryan sempat menggantung canggung sebelum akhirnya perlahan membalas pelukan itu. Ia merengkuh tubuh Zaskia hati-hati, seolah takut gadis itu semakin rapuh.
“Gapapa,” bisiknya lembut sambil mengusap punggung Zaskia. “Ada kakak di sini.”
Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Zaskia semakin pecah. Sudah terlalu lama ia memendam takut seorang diri.
Aryan terus menepuk-nepuk bahunya pelan, membiarkan Zaskia menenangkan diri di pelukannya.
Beberapa menit kemudian, Zaskia mulai melepaskan pelukan. Ia mundur perlahan sambil mengusap matanya yang basah.
“Sekarang gimana, Kak?” tanyanya lirih. “Kia takut tidur lagi.”
Aryan menghela napas panjang. Dadanya terasa berat. Ia tahu apa yang dimaksud Zaskia. Ia juga tau apa yang dikatakan Ustadz Mansyur sebelumnya.
“Gak ada cara lain selain kita…” Aryan menghentikan ucapannya di tengah jalan. Lidahnya mendadak kelu.
Zaskia menatapnya dengan mata merah dan penuh lelah..“Ayo lakuin, Kak,” ucapnya pelan namun terdengar memaksa dirinya sendiri. “Insya Allah Kia siap.”
“Kia…”
“Kia capek…” Suara gadis itu kembali bergetar. “Kia capek dimimpiin buruk terus.”
Aryan memejamkan mata sejenak. Hatinya semakin kacau. Ia memang laki-laki normal yang mencintai istrinya, tetapi melihat kondisi Zaskia saat ini justru membuatnya tidak tega.
Ia menggenggam kedua tangan Zaskia perlahan. “Kakak takut kamu maksa diri.”
“Nggak,” Zaskia menggeleng cepat walau air matanya kembali jatuh. “Kia cuma takut mimpi itu datang lagi.”
Aryan menatap wajah istrinya lama. Gadis itu terlihat begitu rapuh malam ini.
"Sebelum kita ngelakuin itu, kakak boleh tanya sesuatu?" . Zaskia mengangguk.
"Kalau kamu hamil, gimana? Kamu udah siap?"
Zaskia diam, ia lalu menunduk. "Memangnya bakalan langsung hamil, ya?" tanyanya malu-malu.
Aryan meringis. Entahlah, Aryan pun tidak tau. Seharusnya ia bertanya dulu pada yang sudah berpengalaman, pada Abinya misalnya.
"Kakak juga gak tau."
"Kayaknya kalau cuma ngelakuin sekali gak akan ada masalah, kan?" Zaskia sangat malu ketika berkata demikian. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Aryan.
Aryan tertegun. Cuma? apa artinya setelah mereka melewati malam pertama ini, Zaskia akan melarangnya untuk menyentuh lagi di lain hari?
"Ayo, kak," ajakan Zaskia selanjutnya membuat jantung Aryan kian memberi sentakan gila. Apa semenakutkan itu mimpi yang dialami Zaskia sehingga ia berani mendesak Aryan.
Sebelum memulai, Aryan lebih dulu menetralkan jalan pernafasannya supaya tenang ketika akan membawa Zaskiaa untuk melakukan ibadah pertama mereka setelah menikah. Setelah itu kedua tangan Aryan menangkap kedua pipi Zaskia membawa gadis tu agar menghadapnya. "Kamu ikhlas, kia?"
Zaskia mengangguk.
"Kakak mulai, ya?"
"Pelan-pelan ya, kak."
Aryan mengangguk menghembuskan nafas sekali lagi. Pemuda itu menatap wajah Zaskia untuk kemudian ia kecup keningnya lalu kedua pipinya setelah itu dan pada bagian bibir, Aryan berhenti.
Zaskia memejamkan mata tatkala bibir Aryan menyentuh kulit wajahnya lantaran gugup kedua tangan gadis itu mengepal meremas dress tidur yang ia kenakan. Jangan ditanyakan lagi bagaimana kondisi jantungnya. Aryan tersenyum lembut sebelum akhirnya kembali menempelkan bibirnya ke bibir Zaskia. Bertemunya bibir mereka membuat Zaskia merasakan darahnya seolah berdesir cepat menyentak jantung. Kedua tangannya kia erat mengepal.
Aryan mulai membuka mulut untuk mencakup bibir Zaskia yang masih terkatup rapat.
Zaskia merasakan aneh pada dirinya ketika merasakan sentuhan mulut Aryan di bibir bawahnya. Ia harus apa sekarang? Apakah diam seperti ini saja cukup?
"Buka mulutnya, Kia." Aryan berbisik dengan hembusan nafas yang sedikit memburu.
Zaskia melakukan apa yang diperintahkan, walau sebenarnya berat baginya untuk melakukan kegiatan tersebut. Jujur saja bayang-bayang Kafa masih menatap di benaknya. Meski sudah dibuat kecewa tapi tetap saja tidak semudah itu menghilangkan keberadaan Kafa di hatinya.
Zaskia hanya diam ketika bibir Aryan bergerilya di bibirnya. Diam-diam air mata bergulir. Ada apa dengan dirinya? Ia tidak boleh begini. Aryan adalah suaminya. Laki-laki itu berhak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami.
Merasakan cairan hangat menyentuh tangannya. Aryan terkejut, ia lekas melepaskan ciuman di bibir Zaskia dan beralih menatap istrinya yang ternyata sudah menangis. "Maafin kakak. Kakak terlalu kasar ya?" Tatapan Aryan lantas meneliti khawatir mencari jawaban dalam sorot mata Zaskia yang berair
Gadis itu menggeleng lemah. "Maaf kak."
Hati Aryan mencelos. Sekarang ia mengerti kenapa Zaskia menangis. "Enggak apa-apa. Kakak tau ini berat buat kamu karena kamu gak menginginkan pernikahan ini. Seharusnya dari awal kakak sadar dan enggak memaksa keadaan. Maafin kakak ya, Kia. Besok kakak akan ngomong sama Kafa supaya dia mau menggantikan kakak."
Zaskia terkejut dengan pernyataan Aryan, "Kak."
"Enggak apa-apa. Kakak turun ya. Kakak mau sholat," ucapnya hendak beranjak dari kasur.
"Kak, jangan pergi. Maafin Zaskia." Zaskia menahan lengan Aryan dan setelah itu kembali memeluknya.