NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Ketegangan di ruang makan Mansion Widjaja mendadak naik ke titik tertinggi, bahkan sebelum pelayan selesai menuangkan sup pembuka ke mangkuk porselen masing-masing. Di kepala meja, Anggara Widjaja sedari tadi tidak berhenti menatap Marco. Tatapan mantan Anggota DPR itu tajam, menyelidik, dan dipenuhi oleh kilatan ketidaksukaan yang sangat kentara.

Haura yang duduk tidak jauh dari sana mulai merasa tidak tenang. Ia melirik ke arah Arlo yang berada di seberang meja. Kedua bibi dan keponakan itu saling pandang dengan guratan kecemasan yang sama di wajah mereka. Arlo bahkan sampai meletakkan sendoknya kembali, mendadak kehilangan selera makan melihat kakeknya yang mulai mengeluarkan aura mengintimidasi.

Ehem.

Anggara berdehem keras, memutus untaian obrolan bisnis antara Elang dan Andi Permana yang sempat mengalir beberapa detik lalu. Pria tua itu menegakkan punggungnya, menumpu kedua tangannya di atas meja, lalu mengarahkan telunjuknya lurus ke arah pemuda yang duduk di ujung meja tamu.

"Kamu... cowok yang kemarin malam mengantar anak saya Haura pulang, kan?"

Pertanyaan retoris yang diucapkan dengan nada dingin itu seketika membuat seluruh ruangan hening. Suara denting garpu dan sendok yang beradu langsung lenyap. Semua orang di meja makan terdiam, dan dalam sekejap, mata semua orang—mulai dari Elang, Silviana, Aurora, Langit, hingga keluarga Permana—menoleh serempak ke arah Marco.

Andi Permana mengernyitkan keningnya dalam-dalam, menatap putranya dengan pandangan menuntut penjelasan. Sementara Anggun, ibu tiri Marco, langsung memasang wajah sinis, seolah sudah menebak bahwa anak tirinya ini pasti telah membuat masalah besar di luar sana.

Anggara tidak memberikan jeda bagi siapa pun untuk memotong. Ia melanjutkan kalimatnya dengan suara yang menggelegar, memenuhi setiap sudut ruang makan yang mendadak terasa mencekam. "Kemarin malam kamu berani sekali membentak saya di teras rumah saya sendiri. Lancang. Apa Pak Andi ini tidak pernah mengajari sopan santun pada orang yang lebih tua, sampai kamu bisa bertingkah seberandalan itu di depan saya?"

"Pa, udah... Ini acara Kak Elang," potong Haura cepat. Suaranya bergetar, perpaduan antara rasa malu yang luar biasa karena urusan pribadinya diumbar di depan kolega bisnis kakaknya, dan rasa takut kalau papanya akan mempermalukan Marco lebih jauh lagi. Tangannya di bawah meja meremas kain blus marunnya hingga kusut.

Namun, Anggara mengabaikan interupsi putrinya. Matanya tetap mengunci Marco yang anehnya, masih duduk dengan posisi tegap dan ekspresi wajah yang sangat tenang. Tidak ada riak ketakutan atau kepanikan di wajah tampan mahasiswa DKV itu.

Di sisi lain meja, wajah Andi Permana langsung memerah padam menahan malu sekaligus murka. Posisinya sebagai kolega bisnis Elang Widjaja mendadak terancam jatuh hanya karena kelakuan putrinya yang dianggap tidak berpendidikan. Andi menoleh tajam ke arah Marco, suaranya bergetar menahan amarah yang siap meledak.

"Marco... bisa jelaskan pada Papa apa yang terjadi? Apa benar yang dikatakan Pak Anggara? Jawab!" tuntut Andi, nadanya rendah namun menusuk, menekan Marco agar segera bersuara.

"Mas, tolong tenang dulu. Kita dengerin penjelasannya," Langit mencoba menengahi, menyadari bahwa situasi ini bisa merusak hubungan profesional yang sedang dibangun oleh Elang. Namun, Aurora di sebelahnya justru menatap Marco dengan binar ketertarikan yang aneh—jiwa pemberontak Aurora diam-diam kagum karena ada anak muda yang berani membentak ayahnya semalam.

Marco mengembuskan napas pendek. Ia meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan yang sangat rapi dan pelan, menunjukkan bahwa mentalnya sama sekali tidak goyah oleh gertakan dua pria paruh baya yang berkuasa di ruangan ini. Ia menatap Andi Permana, lalu beralih menatap Anggara Widjaja dengan tatapan lurus, tanpa ada rasa gentar sedikit pun.

"Benar, Pa. Saya yang antar Tante Haura pulang semalam," jawab Marco, suaranya berat, stabil, dan sangat tenang. Ia sengaja menekankan kata 'Tante Haura' untuk menjaga profesionalitas di depan orang tua mereka.

"Lalu kenapa kamu sampai membentak Pak Anggara, Marco?! Kamu tahu siapa beliau?!" potong Andi Permana, suaranya meninggi satu oktav, tidak tahan dengan sikap santai putrinya. "Kamu benar-benar mempermalukan nama keluarga kita!"

"Saya tidak membentak, Pa. Saya hanya berbicara dengan intonasi yang tegas karena situasinya darurat," bela Marco, matanya kini mengunci pandangan Anggara yang masih menatapnya berang. "Semalam Tante Haura sakit parah di jalan sampai muntah-muntah karena maag-nya kambuh. Saya yang menyetir mobilnya pulang karena dia sudah tidak sanggup menginjak pedal rem. Tapi begitu sampai di sini, alih-alih ditanya kondisinya atau dipanggilkan dokter, Tante Haura malah langsung dimarahi habis-habisan karena masalah kencan yang batal. Saya hanya menyampaikan fakta kalau anak Pak Anggara sedang sakit sakitan, bukan sedang cari alasan untuk kabur."

"Kamu—" Anggara hendak memotong, namun Marco belum selesai bicara.

"Kalau menurut Pak Anggara membela seorang wanita yang sedang kesakitan dan lemas di depan matanya sendiri adalah tindakan yang 'lancang' dan 'tidak punya sopan santun'..." Marco menjeda kalimatnya, seulas senyum miring yang tipis dan penuh provokasi terbit di bibirnya, "...maka saya minta maaf. Berarti standar sopan santun yang diajarkan di keluarga saya memang berbeda dengan apa yang Pak Anggara harapkan."

DEG.

Haura menahan napasnya, matanya membelalak menatap Marco. Pemuda ini beralibi dengan sangat cerdas. Di satu sisi dia meminta maaf, tapi di sisi lain, dia justru membalikkan keadaan dan menyindir balik ego Anggara yang tidak memedulikan kondisi kesehatan anaknya sendiri.

"Marco! Jaga mulut kamu!" Anggun ikut bersuara, pura-pura panik padahal di dalam hatinya ia senang karena Marco semakin menyudutkan dirinya sendiri di depan keluarga Widjaja. "Pak Anggara, mohon maaf sebesar-besarnya. Anak ini memang agak kurang bergaul di lingkungan atas, jadi bicaranya kadang tidak disaring."

Elang Widjaja, sebagai pemilik acara malam ini, akhirnya berdeham panjang untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur membeku. "Sudah, sudah. Pak Andi, Papa, mari kita tidak memperpanjang masalah kesalahpahaman semalam. Yang terpenting sekarang Haura sudah sehat dan ada di sini bersama kita. Marco juga niatnya baik untuk menolong adik saya, meskipun mungkin caranya kemarin malam agak terlalu impulsif khas anak muda."

Elang melirik Haura, memberikan kode agar adiknya itu ikut meredakan situasi. Haura menarik napas panjang, menekan rasa gugupnya, lalu menatap papanya. "Iya, Pa. Marco nggak salah. Kalau semalam nggak ada Marco sama Arlo, mungkin aku udah pingsan di jalanan Menteng dan mobil aku entah menabrak apa. Jadi tolong... jangan bahas ini lagi."

Anggara mengepalkan tangannya di atas meja. Meskipun hatinya masih dipenuhi rasa jengkel karena harga dirinya disenggol oleh anak muda berusia dua puluh tahun, pembelaan dari Elang dan Haura membuatnya tidak punya pilihan selain menahan diri demi kelancaran bisnis anak sulungnya.

"Hm. Ya sudah. Anggap masalah ini selesai," ketus Anggara akhirnya, kembali bersandar pada kursinya dengan wajah yang masih masam. "Silakan dinikmati hidangannya."

Andi Permana menghela napas lega, meskipun matanya tetap memberikan tatapan membunuh pada Marco yang diabaikan begitu saja oleh pemuda itu.

Di ujung meja, Marco kembali meraih sendoknya. Sebelum mulai makan, ia sengaja melirik ke arah Haura. Saat mata mereka bertemu, Marco mengedipkan sebelah matanya dengan sangat cepat dan tipis—sebuah gerakan rahasia yang hanya bisa dilihat oleh Haura.

Wajah Haura seketika memanas kembali. Di dalam hatinya, rasa jengkel karena ketengilan Marco beradu hebat dengan rasa kagum yang luar biasa. Bocah berumur dua puluh tahun itu, di bawah tekanan dua pria paling berkuasa di hidup mereka, baru saja berdiri kokoh dan melindunginya sekali lagi. Dan malam ini, Haura tahu, dia benar-benar tidak akan bisa lepas dari jerat pesona si Brat yang satu ini.

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!