NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:984
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: HILANGNYA SANG JANGKAR

Untuk pertama kalinya dalam sepekan terakhir, Axel akhirnya bisa bernapas lega. Mentari siang merambat hangat, menyirami taman belakang perpustakaan akademi dengan suasana yang tenang. Sambil bersandar di bawah pohon ek raksasa, ia menikmati sepotong roti isi tanpa perlu merasa diawasi oleh sepasang mata yang penuh nafsu membunuh.

Reynarda sedang memimpin patroli ksatria di perbatasan sektor timur, sementara Elysia mengurung diri di laboratorium menara sihir demi menuntaskan risetnya. Sepertinya, siasat persuasi yang Axel lakukan semalam benar-benar berbuah manis. Ia melirik ke arah udara kosong di hadapannya. Teks system muncul dengan format yang jauh lebih ringkas dan tidak lagi menyilaukan mata.

STATUS MONITORING

Reynarda Vance: Kewarasan 52% (Stabil - Jarak 5 KM)

Elysia Whisperwind: Kewarasan 50% (Stabil - Jarak 1 KM)

"Baguslah. Kalau situasinya tetap tenang begini, aku bisa punya waktu istirahat yang normal setiap siang," gumam Axel seraya mengunyah rotinya.

Sayangnya, ketenangan itu hanyalah fatamorgana yang sangat rapuh. Tanpa disadari, bayangan pohon ek tempatnya berteduh mendadak memanjang dengan cara yang janggal. Warna hijau rumput di sekelilingnya perlahan memudar menjadi kelabu. Kicauan burung dan keriuhan para taruna akademi di kejauhan senyap seketika, tergantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.

Axel berhenti mengunyah; bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya mendadak berubah sedingin es. Dari balik bayangan di bawah kakinya, tiga sosok manusia berpakaian serba hitam pekat muncul tanpa suara. Wajah mereka tersembunyi di balik topeng kain, hanya menyisakan celah sempit bagi mata yang memancarkan aura pembunuh profesional.

Spontan, Axel membuang rotinya dan melompat mundur. "Siapa kalian?! Ini area pusat Akademi Pentagon, pelindung sihirnya tidak mungkin bisa ditembus!"

Salah satu sosok bertopeng itu melangkah maju. Suaranya terdengar mekanis dan teredam. "Pelindung sihir tidak ada gunanya di dalam Shadow Dimension, Nak. Jangan melawan. Ratu kami menginginkanmu dalam kondisi utuh."

Ratu? Axel langsung memutar otak. Ia tidak punya waktu untuk menganalisis lebih jauh. Tanpa sihir ataupun kemampuan bertarung, lari adalah satu-satunya senjata yang ia miliki. Axel berbalik dan memacu kakinya sekuat tenaga. Namun, ia hanyalah manusia biasa. Salah satu pembunuh itu hanya menjentikkan jarinya, dan bayangan Axel sendiri tiba-tiba bangkit dari tanah, melilit pergelangan kaki pemuda itu layaknya rantai besi.

Bruk!

Axel jatuh tersungkur dengan keras. Sebelum ia sempat berteriak meminta tolong, sosok bertopeng lainnya sudah berada di atasnya. Sebuah saputangan yang telah direndam ramuan bius tingkat tinggi langsung dibekapkan ke hidung dan mulut Axel.

"Tidurlah yang nyenyak, Tuan Pawang," bisik si pembunuh.

Axel meronta hebat. Paru-parunya terasa terbakar oleh uap ramuan bius tersebut. Pandangannya mulai kabur. Di detik-detik terakhir kesadarannya, sebuah layar peringatan system berwarna merah darah muncul dengan paksa di depan matanya.

PERINGATAN KRITIS!

Host ditarik paksa keluar dari radius aman!

Koneksi penenang jiwa dengan target terputus secara brutal!

Mengirimkan sinyal darurat ke Reynarda Vance dan Elysia Whisperwind!

Axel menelan ludah terakhirnya sebelum dunia berubah menjadi gelap gulita. Hal terakhir yang melintas di pikirannya bukanlah keselamatannya sendiri, melainkan nasib kota ini. "Tamatlah riwayat ibu kota," batin Axel sesaat sebelum pingsan.

Di saat yang sama, lima kilometer dari akademi, Reynarda sedang memberikan instruksi kepada barisan ksatria penjaga gerbang timur. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang hingga rasanya nyaris pecah. Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Zirah peraknya mendadak retak. Aura emas suci yang biasanya teduh berubah menjadi badai merah pekat yang menyambar ke segala arah, melontarkan belasan ksatria di sekitarnya hingga menghantam tembok.

"Lady Reynarda! Ada apa?!" teriak wakil komandannya dengan panik.

Mata biru jernih Reynarda telah berubah sepenuhnya menjadi merah menyala. Urat-urat di lehernya menonjol. Kehangatan yang selama ini menopang kewarasannya menghilang secara paksa, digantikan oleh rasa hampa yang membakar.

"Axel..." suara Reynarda terdengar tidak seperti manusia lagi. Itu adalah suara monster yang kehilangan hartanya yang paling berharga. "Mereka mengambil milikku!"

Di tempat lain, tepatnya di puncak Menara Sihir, sebuah ledakan dahsyat menghancurkan separuh atap laboratorium. Elysia melayang di udara, dikelilingi oleh badai elemen yang mengamuk beringas. Tabung-tabung riset hancur berkeping-keping. Suara bising elemen alam yang selama ini diredam oleh Axel mendadak kembali menghantam otaknya sepuluh kali lipat lebih keras.

Air mata darah mengalir dari sudut mata sang elf. "Keheninganku... siapa yang berani mencuri keheninganku?!"

Hari itu, seluruh ibu kota kekaisaran membunyikan sirene darurat tingkat tertinggi. Langit di sebelah timur berubah menjadi merah darah karena aura ksatria suci yang mengamuk, sementara badai topan hijau menyelimuti langit akademi. Dua bencana alam hidup baru saja lepas kendali.

*

Entah berapa lama waktu berlalu, Axel perlahan membuka matanya. Kepalanya berdenyut nyeri. Ia mendapati dirinya sedang duduk terikat di atas sebuah kursi kayu berukir mewah. Ruangan di sekitarnya sangat luas, temaram, dan didekorasi dengan beludru merah gelap. Bau mawar layu dan besi berkarat memenuhi udara.

"Akhirnya kau bangun juga, manusia kecil."

Suara wanita yang sangat sensual, serak, namun dipenuhi aura intimidasi yang luar biasa menggema di dalam ruangan. Axel mendongak. Di depannya, duduk santai di atas singgasana yang terbuat dari jajaran pedang hitam, adalah seorang wanita yang kecantikannya terasa mematikan. Kulitnya sepucat pualam, rambut hitamnya tergerai panjang menyentuh lantai, dan matanya berwarna merah gelap persis seperti darah segar.

Wanita itu mengenakan gaun sutra hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas, namun Axel tidak punya waktu untuk mengagumi hal itu. Kuku-kuku hitam wanita yang panjang dan tajam itu sedang mengetuk-ngetuk sandaran kursi, mengirimkan hawa dingin ke tulang punggung Axel. System langsung memunculkan informasi di depan matanya.

STATUS HEROINE BARU TERDETEKSI

Nama: Valeria Crowley (Sang Ratu Dunia Bawah)

Kewarasan: 5% (Kritis - Ambang Batas Paranoia)

Status Mental: Trauma Pengkhianatan, Trust Issue Ekstrem, Haus Darah.

Catatan: Target bisa membunuh Host kapan saja karena tidak mempercayai siapa pun.

Axel menelan ludah. Inilah dia, bom waktu ketiga. Berbeda dengan Reynarda atau Elysia yang memiliki status sosial yang baik, wanita di depannya ini adalah pimpinan kriminal sejati yang tidak terikat hukum apa pun. Valeria berdiri dari singgasananya, melangkah pelan mendekati Axel dengan gaya berjalan layaknya seekor macan kumbang yang sedang mengincar mangsa.

"Aku punya mata-mata di mana-mana," bisik Valeria, kini wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Axel. Ujung kukunya yang tajam menelusuri rahang Axel secara perlahan. "Mereka bilang, anjing pesuruh kekaisaran dan si penyihir tua bertelinga runcing itu menjadi jinak hanya dengan sentuhanmu. Benarkah itu?"

Axel tidak menjawab. Ia berusaha keras menjaga napasnya tetap teratur. Valeria menyeringai, memperlihatkan taring kecilnya. "Kepalaku sakit sekali belakangan ini. Kutukan pengkhianatan ini membuatku tidak bisa tidur. Jika kau benar-benar memiliki aura itu, sembuhkan aku."

Valeria menekan ujung kukunya ke leher Axel, sedikit menggores kulitnya hingga setitik darah keluar. "Tapi jika kau terbukti palsu, atau mencoba mengkhianatiku..." mata merah Valeria berkilat kejam, "...aku akan menguliti tubuhmu hidup-hidup dan mengirimkannya ke akademi di dalam kotak kado."

Axel menghela napas panjang dalam hati. Manajemen risikonya baru saja melesat menuju level neraka.

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!