NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Gerakannya berlanjut, sulit namun dilakukan dengan sangat santai. Ia memutar tubuhnya, melakukan backflip kecil, hingga akhirnya ia berjalan mundur mendekati dinding, menumpukan kedua tangannya ke lantai, dan perlahan mengangkat kedua kakinya lurus ke atas ke arah langit-langit.

Posisi hand stand sempurna. Tubuhnya kaku seperti batang besi, seimbang dan stabil, bersandar ringan pada dinding kamar.

Di luar pintu, Xin Yuning baru saja mendapat perintah dari Kakek untuk memanggil adiknya turun makan malam.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Matanya menyipit melihat pemandangan di dalam.

Apa yang dilakukan anak ini?

Gadis itu berdiri terbalik! Kepala di bawah, kaki di atas, posisinya tegak lurus sempurna di dinding.

"Yoga?" gumam Yuning pelan, bingung. "Malam-malam begini melakukan hal aneh..."

Tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa melihat otot-otot kaki dan perut yang terbentuk jelas saat melakukan gerakan itu, serta keseimbangan yang luar biasa... gadis ini benar-benar tidak biasa. Bukan sekadar yoga biasa, ini lebih mirip latihan fisik militer atau seni bela diri.

Xin Yuning menghela napas pelan, lalu mengetuk pintu pelan. Tok.. tok..

"Adik kecil..." panggilnya ragu-ragu. "Sudah waktunya makan malam."

Tanpa sedikit pun goyah atau kehilangan keseimbangan, Xin Yi dengan gerakan luwes dan cepat menurunkan kedua kakinya dari posisi terbalik itu.

Sret.

Dalam sekejap, tubuhnya kembali tegak berdiri sempurna. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda berayun mengikuti gerakan, namun ia berdiri tegak dan stabil seolah tidak melakukan hal berat sama sekali.

Ia menoleh ke arah pintu, menatap Xin Yuning yang masih berdiri mematung di sana. Wajahnya kembali datar, napasnya pun terdengar masih teratur, tidak terengah-engah sama sekali.

"Tunggu sebentar," ucapnya singkat, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Terdengar suara air mengalir sebentar sebelum gadis itu keluar dengan pakaian baru, seolah ia telah mengganti pakaiannya.

Xin Yi lalu pergi keluar dari kamar, dan Xin Yuning sedikit mundur memberi jalan. Matanya tak sengaja melirik ke tangan adiknya yang masih dibalut perban tipis, lalu ke otot kakinya yang terlihat kokoh namun lentik.

Gila... kekuatannya benar-benar di luar akal sehat., batinnya bergumam. Ia semakin yakin, gadis ini bukan sekadar anak desa biasa yang dibawa pulang. Ada sesuatu yang sangat berbeda dan kuat di dalam diri adik tirinya ini.

Meja makan yang panjang dan megah itu terasa hening dan kaku. Xin Yi duduk di sebelah kiri Xin Yuning, sementara di sisi kanan kakaknya itu, duduk Xin Yiran.

Kursi di sebelah Xin Yi kosong—tanda bahwa Xin Fuyang belum juga pulang dari perjalanannya, atau mungkin sengaja menghindari makan malam bersama.

Suasana berjalan sunyi, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring. Hingga akhirnya, Xin Wei membuka suara.

"Bagaimana sekolahmu, Xin Yi? Apakah pelajarannya berat?" tanyanya dengan nada ringan.

Xin Yi menelan makanannya lalu menjawab dengan tenang, "Tidak sulit, Bibi. Kurikulumnya sebenarnya sama saja dengan di pulau. Hanya saja di sini lebih banyak penekanan pada pelajaran bahasa asing."

Xin Yuning yang sedang memotong daging sapi lalu menoleh sedikit. "Kalau begitu, apakah kamu berniat mengambil kelas tambahan bahasa? Atau ikut klub bahasa?"

Xin Yi mengunyah sayuran di mulutnya perlahan. Sebenarnya, kemampuan bahasanya mungkin jauh di atas teman-temannya. Sejak kecil, ia sering dititipkan di rumah Kakek dan Nenek Gu—seorang mantan profesor yang memiliki ribuan buku koleksi pribadi.

Di sanalah ia belajar tidak hanya membaca dan menulis, tapi juga diajarkan bahasa Inggris, Jerman, hingga Perancis dengan fasih.

Tapi itu rahasianya. Ia tidak perlu memamerkan apa yang ia punya pada orang-orang ini.

"Tidak tertarik," jawabnya singkat dan datar.

Xin Yiran yang mendengarnya langsung meletakkan garpunya dengan keras. Ia menatap Xin Yi dengan senyum sinis.

"Kakak, di keluarga kaya seperti kita ini, menguasai bahasa asing itu standar minimal tau. Kalau tidak bisa, malah bikin malu keluarga saja kalau diajak keluar negeri," ejeknya dengan nada merendahkan.

Suasana seketika membeku. Kakek Xin menaruh sumpitnya dengan keras di atas meja, wajahnya mulai gelap ingin menegur cucunya yang kurang ajar itu.

Namun, sebelum Kakek sempat bicara, Xin Yi lebih dulu angkat suara. Ia menatap lurus ke arah Xin Yiran.

"Kalau begitu... Xin Yiran, apakah kamu sudah benar-benar menguasai Bahasa Mandarin dengan baik?"

Xin Yiran mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan wajah angkuh. "Tentu saja! Nilai bahasa Mandarinku selalu yang tertinggi di sekolah. Jauh beda sama orang desa yang mungkin bahasanya saja belepotan."

Xin Yi mengambil sepotong daging sapi ke mangkuknya dengan tenang, lalu bertanya lagi:

"Kalau begitu, apa artinya kalimat ini: Chī dé kǔ zhōng kǔ, fāng wéi rén shàng rén?"

Xin Yiran tertawa kecil, merasa pertanyaan itu terlalu mudah. "Itu kan pepatah terkenal! Artinya: Hanya orang yang mau menanggung kesusahan, yang bisa menjadi orang sukses dan dihormati. Dasar, gak tahu apa-apa."

"Ooh, begitu..." Xin Yi mengangguk pelan, seolah baru paham. Ia lalu menatap sepupunya itu dengan mata tajam namun wajah tetap datar.

"Kalau yang ini bagaimana? Qiè ér bù shě, jīn shí kě lòu?"

Xin Yiran semakin percaya diri, ia menjawab cepat dengan senyum kemenangan, "Itu juga mudah! Artinya: Kalau tekun dan tidak pernah menyerah, bahkan batu keras dan logam pun bisa diukir. Lihat kan Kak? Aku tahu semua! Kakak sendiri yang bodoh sampai hal dasar saja tidak tahu!"

Suasana hening total.

Xin Wei menatap putrinya dengan bangga, sementara Kakek dan Nenek Xin serta dua orang lainnya menatap Xin Yi dengan tatapan aneh. Namun, Xin Yi hanya tersenyum tipis—senyum yang sangat dingin dan menakutkan.

"Kalau kamu tahu artinya sebaik itu..." ucap Xin Yi pelan, suaranya terdengar jelas di seluruh meja makan.

"...kenapa sikapmu tidak pernah mencerminkan apa yang kamu baca?"

Wajah Xin Yiran seketika berubah pucat. Mulutnya terbuka tertutup tak bisa menjawab.

Xin Yi menatapnya tajam, "Kamu tahu arti 'tekun', tapi kamu malas belajar hal yang benar. Kamu tahu arti 'menanggung kesusahan', tapi kamu hidup dimanja dan hanya bisa menyakiti orang lain. Mengetahui arti kata-kata bijak tidak membuatmu jadi orang pintar, Yiran. Itu hanya membuatmu terlihat... sok tahu."

Hening.

Sungguh, tidak ada satu pun suara yang terdengar di ruang makan megah itu selama beberapa detik. Bahkan suara napas pun seolah tertahan.

Semua orang menyadari satu hal: Xin Yi tidak sedang mencari masalah. Ia hanya sedang memberikan pelajaran berharga bagi sepupunya yang terlalu sombong dan merasa paling benar.

Kerja keras memang penting, dan kemampuan memang harus dibanggakan.

Tapi memamerkan kelebihan diri dengan cara merendahkan orang lain, membuat orang lain merasa kecil dan bodoh... itu sama sekali tidak mencerminkan hasil dari usaha dan pembelajaran yang sesungguhnya. Itu hanya mencerminkan kesombongan kosong.

Xin Yiran duduk terpaku, wajahnya memerah padam antara malu dan marah, tapi tak mampu membalas sepatah kata pun. Mulutnya terkunci rapat.

Xin Yi sendiri tampak tak peduli dengan dampak yang ia tinggalkan. Setelah memastikan perutnya kenyang dan makanannya habis, ia meletakkan sendok dan garpunya dengan rapi.

"Aku sudah selesai. Selamat makan," ucapnya singkat, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan dengan langkah tenang.

Punggungnya menghilang di balik tangga, meninggalkan suasana yang sangat canggung dan dingin.

Di meja makan, Xin Yuning menghela napas panjang yang terdengar lelah. Ia meletakkan sumpitnya di atas piring dengan suara plak yang pelan namun tegas.

Rasanya... nafsu makannya langsung hilang.

"Aku juga sudah kenyang," ucapnya datar, lalu ikut berdiri dan berjalan cepat naik ke lantai atas, meninggalkan orang dewasa yang masih terdiam mencerna kejadian barusan.

Malam ini, meja makan keluarga Xin kembali menjadi tempat yang paling menegangkan di dunia.

Xin Yi baru saja menutup pintu kamarnya dan hendak berjalan menuju meja belajar yang luas di sudut ruangan, ketika suara ketukan pelan terdengar.

Tok.. tok.. tok..

"Xin Yi... boleh aku masuk?"

Suara itu milik Xin Yuning—kakak tirinya.

Xin Yi menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah pintu, berpikir sejenak. Tidak ada alasan untuk menolak, lagipula ia tidak melakukan sesuatu yang perlu disembunyikan.

"Masuk," jawabnya singkat.

Pintu didorong perlahan terbuka. Xin Yuning masuk dengan tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya. Wajahnya tampak serius, berbeda dengan saat di meja makan tadi. Ia melihat-lihat sekilas kamar yang rapi itu, lalu menatap adiknya.

"Barusan... terima kasih," ucap Yuning tiba-tiba.

Xin Yi mengerutkan kening bingung. "Untuk apa?"

"Karena sudah mengajari Yiran cara bersikap," jelas Yuning sambil berjalan mendekat. "Anak itu memang manja dan sombong sejak kecil. Jarang ada yang berani menegurnya secara langsung seperti caramu tadi. Caranya... cukup tajam dan tepat sasaran."

Xin Yi kembali duduk di kursi belajarnya, membuka sebuah buku catatan. "Aku hanya mengembalikan apa yang dia katakan. Dia sombong karena tahu arti pepatah, tapi lupa mempraktikkannya. Itu buang-buang waktu saja kalau cuma bisa menghafal tapi tidak paham maknanya."

Yuning tersenyum tipis, kali ini senyum yang tulus dan sedikit lega.

"Kamu benar. Ngomong-ngomong..." Ia menatap wajah adiknya yang datar itu."Soal bahasa tadi... aku agak curiga. Kamu tahu kalimat-kalimat sastra seindah itu dengan lancar, tapi bilang tidak tertarik pelajaran bahasa. Sebenarnya... kemampuanmu sudah sampai mana?"

Xin Yi menatap bolpoin di tangannya. Ia tidak menjawab langsung. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa kakaknya ini... tidak seburuk yang ia kira.

"Rahasia," jawab Xin Yi singkat dengan nada sedikit lebih lunak. "Tapi tenang saja, aku tidak akan membuat malu nama keluarga Xin di sekolah."

Xin Yuning tertawa pelan, suara tawanya jarang terdengar. "Baiklah ,Tidur yang nyenyak, Adik."

Ia pun berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Xin Yi sendirian lagi dengan buku-bukunya.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!