Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kelaparan dan Bayangan Musuh
Cahaya pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah dedaunan raksasa, berupa sinar keemasan yang tipis dan samar, berjuang menembus kerimbunan hutan yang tampak seolah tak berujung itu. Kabut tebal yang semalam menyelimuti seluruh kawasan perlahan mulai menguap, berubah menjadi uap putih yang melayang rendah di atas tanah basah, membawa hawa dingin yang masih menusuk hingga ke tulang.
Raka membuka matanya perlahan. Ia tidak benar-benar tidur semalam, hanya memejamkan mata sambil tetap waspada, telinganya menangkap setiap suara kecil yang bergema di sekitar mereka. Di sampingnya, Bara sudah bangun lebih dulu, duduk bersila sambil mengamati sekeliling dengan pandangan yang tajam dan penuh perhitungan. Wajah sahabatnya itu tampak lebih keras dan serius dibandingkan kemarin, seolah peristiwa mengerikan yang mereka saksikan beberapa jam lalu telah mengukir satu lagi tanda kedewasaan yang pahit di wajahnya.
"Pagi," sapa Bara pelan, suaranya berbisik agar tidak menarik perhatian makhluk apa pun yang mungkin bersembunyi di dekat situ. "Matahari sudah naik. Kita punya waktu cahaya sekitar sepuluh jam ke depan. Itu keuntungan terbesar kita. Di siang hari, bahaya lebih mudah dilihat, tapi jejak kita juga lebih mudah diketahui orang lain."
Raka bangkit berdiri, mengibaskan daun-daun kering yang menempel di seragamnya yang sudah kotor dan berlumpur. Ia merentangkan kedua tangannya, merasakan setiap otot yang terasa kaku dan nyeri, namun rasa sakit itu kini tidak lagi berarti dibandingkan rasa waspada yang memenuhi seluruh pikirannya. Ia melirik ke arah tepian sungai, ke tempat di mana semalam mereka mendengar jeritan kematian itu. Di sana kini hanya terlihat tanah kosong yang rata, seolah tidak pernah ada apa-apa, seolah nyawa manusia yang melayang itu tidak lebih berharga dari sehelai daun yang gugur.
"Kita harus bergerak," kata Raka singkat, matanya kembali menatap Bara. "Tapi kita butuh makan. Perutku sudah kosong sejak kemarin sore. Kalau kita berjalan jauh tanpa energi, kita akan lemah, dan yang lemah di sini sama saja dengan mati."
Bara mengangguk setuju. Ia berdiri dan berjalan mendekati pinggiran sungai, matanya meneliti tanah berpasir dan bebatuan yang terbawa arus.
"Benar. Kelaparan adalah musuh kedua terbesar kita di sini, setelah rasa takut," jawab Bara sambil berjongkok, membalikkan sebuah batu pipih yang besar di pinggir air. Di bawahnya, ada sekumpulan serangga berkaki banyak dan cacing tanah yang bergerak-gerak. "Di sini tidak ada nasi, tidak ada daging enak. Kalau kau ingin bertahan hidup, kau harus makan apa saja yang diberikan alam. Tidak ada rasa jijik, tidak ada rasa mual. Yang ada hanya energi."
Ia mengambil seekor cacing tanah yang gemuk dan panjang, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya ke mulut dan menelannya begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Raka menahan rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokannya. Ia bukan orang yang manja, tapi melihat sahabatnya memakan makhluk tanah itu begitu saja membuat perutnya bergejolak.
Bara menyadari keraguan itu, ia menatap Raka dengan pandangan serius.
"Lihat aku, Raka. Ini bukan makanan, ini bahan bakar. Kalau kau tidak makan ini, kau akan lemas, kau akan lambat, dan saat musuh datang atau binatang buas menyerang, kau tidak punya tenaga untuk melawan atau lari. Kau mau mati hanya karena kau jijik? Ingat tujuanmu di sini. Ingat ibumu."
Kata-kata terakhir itu menampar kesadaran Raka seketika. Ia menghela napas panjang, menekan segala rasa jijik dan rasa kemanusiaan yang tersisa di hatinya. Ia berjongkok, membalikkan batu lain, dan mengambil seekor cacing yang gemuk, sama seperti yang dilakukan Bara. Ia menatap makhluk itu sebentar, lalu dengan cepat dan tegas memasukkannya ke mulutnya, menelannya mentah-mentah tanpa mengunyah. Rasa tanah dan bau amis memenuhi mulutnya, membuatnya hampir muntah, tapi ia menahannya sekuat tenaga.
"Bagus," ucap Bara puas. "Itu baru prajurit Garuda. Sekarang, mari kita cari yang lebih bernutrisi. Cacing ini hanya penahan lapar sebentar."
Mereka berjalan menyusuri tepian sungai ke arah hulu, bergerak melawan arus seperti yang diajarkan Bara. Menurut pengetahuan sahabatnya itu, jalan keluar hutan biasanya mengikuti aliran air menuju ke arah yang lebih luas, tapi berjalan melawan arus di awal bisa membantu mereka menemukan sumber air yang lebih jernih dan tempat hewan berkumpul.
Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka sampai di sebuah tikungan sungai yang airnya lebih tenang dan dangkal. Di sana, di antara bebatuan yang tertutup lumut, Bara melihat sesuatu yang membuat matanya berbinar. Ia berjalan cepat mendekat, lalu berjongkok di pinggir air.
"Lihat ini!" serunya berbisik penuh kemenangan. "Kerang air tawar. Dagingnya banyak, gurih, dan penuh energi. Ini makanan mewah di tempat seperti ini."
Dengan cepat mereka mengumpulkan beberapa kerang yang menempel di bebatuan. Menggunakan ujung pisau mereka, mereka membelah cangkang yang keras itu dan memakan isinya yang kenyal dan berlendir. Rasanya asin dan amis, jauh dari enak, tapi bagi perut yang kosong melompong, itu terasa seperti jamuan makan paling lezat di dunia. Setiap suapan adalah tenaga, setiap gigitan adalah kesempatan hidup lebih lama.
Saat sedang sibuk mengumpulkan makanan itu, telinga tajam Raka kembali menangkap suara yang tidak beres. Bukan suara alam, bukan suara air. Suara langkah kaki yang berat dan banyak, bergerak mendekat dari arah belakang mereka. Kali ini bukan satu atau dua orang, melainkan sekelompok orang yang berjalan bersama dengan langkah yang kurang hati-hati.
Raka langsung memberi isyarat tangan ke Bara, memberi tanda bahaya. Mereka berdua segera meraih pisau masing-masing, lalu bergerak cepat dan diam-diam bersembunyi di balik tumpukan bebatuan besar yang menjorok ke sungai, mengintai dari balik celah dedaunan.
Tidak lama kemudian, muncul lima orang pemuda lainnya berjalan beriringan di pinggir sungai. Wajah mereka tampak kotor, lelah, dan kelaparan, namun ada sorot mata yang ganas dan tidak bersahabat di sana. Mereka berjalan berkelompok, saling menjaga punggung, tapi cara mereka memandang sekeliling dan cara mereka berjalan menunjukkan bahwa mereka bukanlah kelompok yang damai. Di pinggang salah satu dari mereka, terlihat terikat sebilah pisau tambahan yang bukan miliknya—pisau standar yang sama persis dengan milik mereka semua.
"Itu kelompok yang kemarin kita dengar suaranya," bisik Bara pelan di samping telinga Raka. "Ada lima orang. Lihat tatapan mata mereka... mereka lapar, dan mereka terbiasa mengambil apa yang mereka mau. Pisau di pinggang orang itu... aku yakin itu milik orang yang tidak lagi hidup."
Raka mencengkeram gagang pisaunya erat-erat. Ia mengenali salah satu wajah di antara mereka. Itu adalah Dimas, pemuda berbadan besar dan kasar yang dulu satu barak dengan mereka. Dimas dikenal sebagai orang yang suka menindas dan menggunakan kekuatan fisik untuk menguasai yang lain.
Kelima orang itu berhenti tepat di tempat yang baru saja ditinggalkan Raka dan Bara. Mereka melihat sisa-sisa cangkang kerang yang tergeletak di tanah. Wajah Dimas langsung berubah marah dan curiga.
"Ada orang di sini baru saja," ucap Dimas dengan suara keras dan kasar, matanya meneliti sekeliling dengan pandangan buas. "Mereka dapat makanan. Berarti mereka tahu cara cari makan. Dan kalau mereka bisa cari makan, berarti mereka punya pengetahuan. Atau mungkin... mereka punya bekal tersembunyi."
Ia menoleh ke arah kawan-kawannya yang tampak kelaparan dan lemah.
"Kita tidak perlu susah payah cari makan sendiri," ucap Dimas lagi dengan senyum licik yang mengerikan. "Di hutan ini, ada aturan lain selain hukum alam. Ada hukum kekuatan. Yang kuat mengambil milik yang lemah. Dan kita kelima orang ini adalah yang paling kuat sejauh ini."
Salah satu kawannya yang kurus dan tampak ragu-ragu angkat bicara.
"Tapi Dimas... Komandan bilang kita boleh kerja sama. Mungkin lebih baik kita ajak mereka gabung? Kita bisa lebih kuat kalau jumlah kita banyak."
Dimas langsung menatap tajam pemuda itu, membuatnya langsung menunduk ketakutan.
"Gabung? Untuk berbagi makanan? Berbagi air? Kau mau membagi sedikit makanan yang ada untuk orang asing? Kau gila ya? Makanan di sini sedikit, nyawa kita bergantung pada sepotong daging kecil saja. Semakin banyak orang, semakin cepat kita mati kelaparan. Lebih baik kita sedikit, tapi kenyang dan kuat."
Dimas berdiri tegak, mengacungkan pisaunya ke udara.
"Dan siapa pun yang ada di sekitar sini... dengar baik-baik! Keluarlah sekarang! Serahkan apa pun yang kalian punya, pisau, obat, makanan, atau pengetahuan... dan kami mungkin akan membiarkan kalian hidup dan bergabung sebagai bawahan kami. Tapi kalau kalian bersembunyi dan menolak... kami akan cari kalian sampai dapat, dan saat kami dapat, kalian akan menyesal telah lahir ke dunia!"
Ancaman itu bergema keras di antara pepohonan, memecah keheningan pagi yang damai.
Di balik batu persembunyian mereka, darah Raka mendidih lagi. Keberanian dan keserakahan Dimas membuatnya muak. Ini persis seperti apa yang dikatakan Komandan Hendra, persis seperti apa yang mereka saksikan semalam: manusia berubah menjadi binatang buas hanya karena rasa takut mati dan kelaparan.
"Kita harus apa?" tanya Raka berbisik, matanya menatap tajam ke arah Dimas dan kelompoknya. "Kita diam saja, atau kita hadapi?"
Bara mengerutkan keningnya, berpikir cepat.
"Kalau kita diam saja, mereka mungkin pergi, tapi mereka akan terus berburu orang lain. Dan kalau suatu saat mereka bertemu kita dalam keadaan lemah, mereka akan menyerang kita tanpa ampun. Tapi kalau kita hadapi sekarang... kita cuma dua orang, mereka lima orang. Mereka lebih banyak, lebih besar, dan mereka tidak punya hati nurani. Kita bisa kalah jumlah."
Bara diam sejenak, matanya menatap aliran sungai yang deras dan bebatuan licin di pinggirnya. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya.
"Tapi... kita punya keuntungan. Kita tahu tempat ini, kita tahu jalur di belakang sini, dan kita tahu sifat mereka: serakah dan ceroboh. Mereka pikir mereka kuat karena jumlahnya banyak, jadi mereka akan lengah dan sombong. Kita tidak perlu berkelahi secara langsung, Raka. Kita gunakan apa yang ada di sini: alam dan kecerdikan."
Bara mendekatkan mulutnya ke telinga Raka, menjelaskan rencananya dengan cepat dan singkat. Raka mendengarkan dengan saksama, dan perlahan senyum tipis namun dingin terukir di bibirnya. Rencana itu berisiko, tapi itu satu-satunya cara untuk menyingkirkan ancaman ini sebelum mereka tumbuh semakin besar dan berbahaya.
Mereka berdua bergerak perlahan, mundur selangkah demi selangkah menjauh dari persembunyian itu, berjalan memutar ke arah belakang kelompok Dimas melalui jalur sempit yang tertutup semak belukar rapat. Sesampainya di posisi yang tepat, Raka mengambil sepotong kayu kering yang berat, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah seberang sungai, tepat ke dalam semak belukar yang lebat.
BRAKK!!
Suara benturan kayu dan gemerisik dedaunan terdengar sangat keras dan jelas di seberang sana.
Dimas dan kawan-kawannya langsung tersentak kaget, memutar badan dengan cepat, mengacungkan pisau mereka ke arah suara itu.
"ADA DI SANA! Di seberang!" teriak Dimas penuh kemenangan, yakin bahwa orang yang mereka cari sedang bersembunyi di sana. "Mereka mau lari! Kejar!"
Tanpa berpikir panjang, karena rasa serakah dan keinginan menguasai mengalahkan akal sehat mereka, kelima orang itu berlarian menyeberangi sungai yang dangkal namun bebatuan dasarnya licin dan berlumut tebal. Mereka bergegas menyeberang, saling dorong dan berebut, ingin sampai ke sana lebih dulu.
Tepat saat mereka berada di tengah arus sungai yang agak deras dan bebatuan paling licin, Raka dan Bara tiba-tiba muncul dari balik pepohonan di pinggir sungai, berdiri tegak dan tenang, pisau tergenggam kuat di tangan mereka.
"Kalian mencari kami?" teriak Raka dengan suara lantang dan dingin, suaranya bergema menyaingi suara air sungai.
Kelima orang itu terkejut setengah mati, berhenti mendadak di tengah air, membuat keseimbangan mereka goyah. Mereka menoleh ke arah pinggir, melihat hanya ada dua orang, namun cara mereka berdiri dan sorot mata mereka begitu tenang dan berwibawa, membuat ketakutan samar mulai merayap di hati mereka.
"Kalian... berani-beraninya mengerjai kami!" geram Dimas marah, wajahnya memerah menahan amarah dan rasa malu. "Kalian berdua akan mati sekarang! Ayo kejar!"
Namun saat mereka hendak melangkah kembali, Bara dengan cepat mengangkat sebilah tongkat panjang yang ujungnya tajam, lalu menusukkan ujungnya ke arah bebatuan besar yang tidak stabil di pinggir sungai bagian atas. Dengan tenaga yang cukup, batu besar itu terguling dan jatuh tepat ke aliran air di depan mereka, memercikkan air tinggi-tinggi dan menciptakan gelombang kecil yang kuat.
Beberapa dari mereka yang sudah goyah keseimbangannya langsung terpeleset karena bebatuan yang makin licin dan dorongan air itu. Salah satu kawannya yang paling kurus langsung terjatuh terbawa arus, berteriak histeris saat tubuhnya terseret ke arah jeram yang lebih dalam dan deras.
"TOLONG! TOLONG AKU!" teriaknya, tangannya meraih udara.
Sama seperti apa yang mereka lakukan pada orang lain semalam, sama seperti hukum kejam yang mereka buat sendiri... tidak ada satu pun dari kawan-kawannya yang berani menolong. Semua orang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, berjuang agar tidak ikut terpeleset dan terbawa arus. Dimas sendiri malah mundur ke belakang, menjauh dari tepian, takut ikut terseret.
Pemuda itu hilang dibawa arus sungai yang bergejolak, menghilang di balik tikungan tajam tak lama kemudian. Suara teriakannya lenyap ditelan gemuruh air.
Kini tinggal empat orang saja. Wajah mereka sudah tidak lagi sombong dan buas. Rasa takut mulai menggantikan rasa serakah. Mereka sadar, dua orang di pinggir sana bukanlah mangsa mudah. Mereka adalah pemangsa yang lebih cerdas dan lebih tenang.
Raka menatap mereka dengan pandangan yang tajam dan tanpa belas kasihan.
"Dengar baik-baik, Dimas..." ucap Raka tegas, suaranya dingin dan mengancam. "Di sini, aturan kami adalah: setiap orang berjuang untuk dirinya sendiri, tapi tidak boleh merampas hak orang lain. Kalau kau mau makan, kau cari sendiri. Kalau kau mau hidup, kau berjuang sendiri. Kalau kau berani sekali lagi mengancam kami atau orang lain yang lemah... ingatlah hari ini. Ingatlah sungai ini. Dan ingatlah nasib kawanmu yang baru saja kau biarkan mati itu."
Ia diam sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hati mereka.
"Pergi. Dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depan kami lagi. Lain kali, kami tidak akan hanya membuatmu jatuh ke air."
Dimas menggertakkan giginya, marah dan malu, tapi ia sadar posisinya sudah lemah. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan sekarang, apalagi setelah melihat betapa cerdik dan beraninya kedua pemuda itu. Dengan tatapan penuh dendam yang membara, Dimas memberi isyarat sisa kawan-kawannya untuk mundur, berjalan menjauh dengan langkah berat dan penuh rasa benci.
"Kau kira ini selesai, 117?" desis Dimas pelan sebelum menghilang di balik pepohonan. "Masih ada satu setengah hari lagi. Dan di hutan ini, bahaya tidak hanya datang dari alam. Hati-hati... karena saat kau lengah sedikit saja, aku akan datang mengambil nyawamu."
Raka dan Bara berdiri diam di pinggir sungai, menatap kepergian kelompok itu sampai hilang sama sekali. Napas mereka sedikit memburu, bukan karena lelah, tapi karena ketegangan yang baru saja berlalu.
"Musuh baru kita terbentuk hari ini," ucap Bara pelan, memecah keheningan. "Dimas punya dendam. Dia tidak akan berhenti sampai dia membalas ini. Kita harus lebih waspada dari sebelumnya. Dia mungkin akan mengajak orang lain, atau dia akan menyerang saat kita sedang tidur atau sedang berjuang melawan bahaya lain."
Raka mengangguk, matanya menatap aliran sungai yang membawa nyawa pemuda malang itu menjauh.
"Biarkan dia datang," jawab Raka dingin, tangannya mencengkeram gagang pisau lebih erat lagi. "Setiap kali dia datang, dia akan belajar hal baru. Di dunia ini, kekuatan fisik saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Diperlukan juga akal, ketenangan, dan hati yang tidak mudah dikendalikan oleh nafsu serakah."
Ia menoleh ke arah Bara, sorot matanya makin tajam dan penuh tekad.
"Kita lanjutkan perjalanan, Bara. Matahari makin tinggi, waktu makin sedikit. Kita harus keluar dari hutan ini sebelum malam kedua turun. Karena aku punya firasat... malam nanti akan jauh lebih mengerikan dan berbahaya dibandingkan malam kemarin."
Mereka berdua kembali melangkah, terus menyusuri tepian sungai, bergerak maju menembus kerimbunan hutan yang seolah tak berujung itu. Di belakang mereka, tertinggal jejak konflik dan darah. Di depan mereka, masih terbentang bahaya yang tak terhitung jumlahnya, persaingan yang makin kejam, dan ujian yang makin berat.
Namun satu hal yang pasti: Raka Pratama bukan lagi orang yang sama yang masuk ke hutan ini kemarin malam. Hutan ini, kenyataan pahit ini, dan pertemuan dengan manusia-manusia buas ini telah mengubahnya menjadi sosok yang lebih keras, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya.
Dan perjalanan menuju keluar dari neraka ini, menuju jati diri seorang prajurit elit Garuda Security, baru saja memasuki babak yang paling gelap.