NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Valerius menyerap energi kehidupan Vargos hingga jenderal tua itu menua puluhan tahun dalam hitungan detik yang menyiksa. Tubuh Vargos mengering seperti mumi, sebelum akhirnya hancur menjadi debu abu-abu saat Valerius mencabut belatinya.

Valerius menyeka sisa darah di bilah belatinya menggunakan saputangan sutra, lalu menatap sisa jenderal yang kini menggigil ketakutan. "Apakah ada lagi di antara kalian yang ingin memberikan kritik konstruktif mengenai cara kepemimpinanku?"

"T-Tidak, Tuanku yang agung! Kami bersumpah setia sepenuhnya di bawah panji kekuasaan Anda!" seru kesebelas jenderal itu secara serempak. Mereka membenturkan dahi mereka ke lantai marmer yang dingin, menyerahkan seluruh harga diri mereka demi seutas nyawa.

Valerius kembali ke kursinya, senyum asimetris penuh kepuasan kembali terukir di wajah pucatnya. "Bagus sekali, karena mulai besok pagi, kita akan mengerahkan seluruh pasukan keluarga Draken untuk menguasai gerbang-gerbang strategis ibu kota."

Kaelos yang masih merunduk di dekat pintu tiba-tiba memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya sedikit. "T-Tapi Tuanku, menggerakkan pasukan tanpa persetujuan raja akan dianggap sebagai tindakan makar yang terbuka," cicitnya ketakutan.

"Raja boneka di istana pusat itu terlalu sibuk menghitung koin emasnya hingga tak akan menyadari lehernya telah tercekik," sahut Valerius merendahkan. "Fokus utama kita saat ini bukanlah takhta kerajaan, melainkan respons dari para pendeta munafik di Katedral Agung."

Sementara itu, di seberang ibu kota, Katedral Agung Cahaya Suci menjulang tinggi dengan pilar-pilar pualam yang memantulkan sinar mentari. Tempat ibadah terbesar di benua Aethelgard ini selalu dipenuhi oleh keharuman dupa suci dan lantunan doa yang menenangkan jiwa.

Uskup Agung Leoric, seorang pria tua berjubah putih bersih dengan mahkota emas di kepalanya, berjalan pelan menuju altar utama. Wajahnya yang damai memancarkan aura kesucian yang selalu dipuja oleh jutaan rakyat miskin yang mencari harapan.

Di belakangnya, puluhan ksatria suci berzirah perak berbaris rapi mengawal langkah sang pemimpin agama tertinggi tersebut. Mereka bersiap untuk memimpin ritual doa pagi yang rutin diadakan untuk memberkati seluruh daratan.

Namun, langkah Uskup Agung Leoric mendadak terhenti saat matanya menangkap sebuah benda aneh yang diletakkan tepat di tengah altar suci. Bau busuk daging yang membusuk langsung menyengat hidungnya, mengalahkan aroma wangi dupa mahal di dalam katedral.

"Dewa Cahaya, apa... apa yang telah terjadi di tempat suci ini?!" teriak Uskup Agung dengan suara bergetar yang memecah keheningan sakral. Jantungnya berdegup sangat kencang, matanya terbelalak ngeri melihat penistaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Di atas kain sutra putih penutup altar, tergeletak sebuah kepala babi berukuran besar yang sudah membusuk dan dipenuhi belatung. Darah hitam pekat menetes dari leher babi yang terpotong kasar itu, mengotori lambang suci matahari yang tersulam dari benang emas.

Tepat di dahi kepala babi yang menjijikkan itu, tertancap sebuah belati hitam yang menjepit secarik perkamen usang. Penistaan ini adalah sebuah tamparan langsung yang sangat keras ke wajah seluruh hierarki Gereja Cahaya Suci.

Para ksatria suci di belakangnya langsung menghunus pedang mereka, raut wajah mereka berubah merah padam karena amarah yang luar biasa hebat. "Siapa pun bidah yang berani melakukan ini, kita akan membakarnya hidup-hidup di tiang pancang!" raung komandan ksatria suci.

Uskup Agung Leoric maju dengan tangan gemetar, memberanikan diri untuk mencabut belati hitam itu dan mengambil secarik perkamennya. Tangannya yang keriput hampir menjatuhkan kertas itu saat membaca deretan kata yang ditulis menggunakan darah segar.

"Kalian menyembah dewa palsu di atas singgasana emas, sementara aku akan membangun singgasanaku di atas tulang belulang kalian," baca sang Uskup Agung lirih. Tulisan kaligrafi itu sangat familier, gaya khas dari keturunan bangsawan tingkat tinggi yang dididik dengan sangat baik.

Di bawah tulisan ancaman tersebut, terdapat stempel cincin naga hitam milik keluarga Draken yang sangat jelas dan tak terbantahkan. Kemarahan Uskup Agung Leoric meledak seketika, wajahnya yang damai kini berkerut dipenuhi oleh dendam kesumat yang buta.

"Keluarga Draken telah benar-benar kehilangan akal sehatnya dan berpaling pada pelukan iblis kegelapan!" seru Leoric dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru katedral. "Tindakan penistaan ini tidak bisa diampuni oleh doa maupun persembahan emas seberat apa pun!"

Ia meremas perkamen berdarah itu hingga hancur di dalam genggamannya, napasnya tersengal-sengal menahan emosi yang meluap-luap. "Bunyikan Lonceng Pemurnian sekarang juga! Panggil seluruh Pasukan Inkuisisi dari seluruh penjuru benua untuk berkumpul di ibu kota!"

Perintah absolut itu langsung dilaksanakan oleh para bawahannya, membuat lonceng raksasa di menara katedral berdentang dengan nada yang sangat memekakkan telinga. Suara dentangan itu menyebar bagaikan gelombang kejut, membawa pesan perang suci ke seluruh penjuru ibu kota Aethelgard.

Di ruang pertemuannya yang jauh, Valerius mendengar sayup-sayup dentangan lonceng tersebut dari balik jendela kaca patrinya. Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela dan menatap ke arah Katedral Agung yang menjulang di kejauhan.

Senyum iblisnya mengembang semakin lebar, kepuasan yang luar biasa gelap memenuhi setiap rongga dadanya. Umpan busuk yang ia lemparkan telah ditelan mentah-mentah oleh para raksasa agama yang sangat mudah diprovokasi.

Layar merah sistem holografik langsung bermunculan di depan matanya, memberikan rentetan notifikasi yang sangat dinantikan. Teks berdarah itu berkedip terang, menandai dimulainya babak pembantaian yang sesungguhnya.

[Provokasi Agama Berhasil Sempurna. Pasukan Inkuisisi Suci mulai dimobilisasi menuju lokasi Host.]

[Arc 3: 'Perang Suci yang Ternoda' resmi dimulai. Poin Dosa: +3000. Seluruh atribut pertahanan istana meningkat sementara.]

Valerius mengusap Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya, merasakan getaran energi gelap yang beresonansi dengan dentangan lonceng katedral. Ia sama sekali tidak merasa terancam oleh datangnya puluhan ribu ksatria suci yang haus akan keadilan fana.

Baginya, mereka semua hanyalah sekumpulan domba bodoh yang secara sukarela berbaris rapi menuju rumah potong hewan. "Biarkan mereka datang membawa cahaya suci mereka, Nyonya Karat," ucap Valerius memecah keheningan ruangan.

"Cahaya seterang apa pun pada akhirnya akan selalu ditelan habis oleh kegelapan absolut," lanjutnya dengan nada berbisik yang menggetarkan udara. Wanita bertopeng itu hanya bisa menunduk hormat, menyadari bahwa majikannya ini benar-benar inkarnasi dari kiamat itu sendiri.

Valerius berbalik menatap kesebelas jenderalnya yang masih bersujud ketakutan di atas lantai pualam. "Siapkan seluruh prajurit kita, ubah istana naga ini menjadi sebuah benteng kematian yang tak bisa ditembus oleh anjing-anjing suci itu."

Para jenderal itu mengangguk cepat, mereka segera bangkit dan berlari keluar ruangan untuk melaksanakan perintah dengan kepanikan luar biasa. Mereka lebih takut menerima hukuman dari tiran muda ini daripada mati ditebas oleh pedang para inkuisitor gereja.

Permainan catur berdarah Valerius kini telah memasuki fase pertengahan yang paling menentukan dan mematikan. Ia telah memegang kendali penuh atas bidak-bidak militernya, dan siap mengorbankan mereka semua demi menjatuhkan raja musuh.

Langit ibu kota Aethelgard perlahan berubah menjadi semakin mendung, seolah dewa di langit pun enggan melihat pertumpahan darah ini. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi jalanan pualam yang sebentar lagi akan berubah warna menjadi lautan merah pekat.

Valerius kembali duduk di kursinya, menuangkan segelas anggur merah yang warnanya sangat mirip dengan cairan darah manusia. Ia menyesapnya perlahan, merayakan dimulainya perang suci yang akan mencoreng seluruh nilai kemanusiaan di dunia ini selamanya.

Singgasana berdarahnya kini bukan lagi sekadar kiasan, melainkan sebuah realitas yang sedang ia bangun tulang demi tulang.

1
Ysya Jeje
roman
Lucy Sandy
seru caritaanya romantis bantaiii
Roy Kkk
bantaiiiiii
King Salman
seru banget
Sarndi Kurma
menarik
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!