NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Shen Yu sudah siap berangkat.

Penampilannya hari ini benar-benar berbeda dari saat ia bertemu rombongan Tuan Muda kemarin. Ia sengaja ingin terlihat biasa saja, bahkan sedikit menyedihkan agar tidak menarik perhatian.

Di kepalanya ia mengenakan topi anyaman jerami yang lebar untuk menutupi wajahnya. Baju yang ia pakai bukanlah Hanfu bersih yang ia ambil dari supermarket—melainkan sehelai baju tebal yang terbuat dari karung goni yang kasar, warnanya pudar dan terlihat sangat lusuh.

"Yah, begini saja sudah cukup," gumamnya sambil membetulkan ikatan pinggangnya."Yang penting tidak kedinginan dan tidak terlihat seperti orang kaya. Di jalanan yang ramai itu penting."

Dengan keranjang bambu kosong di punggung dan langkah santai, Shen Yu meninggalkan Desa Mati untuk selamanya.

Ia mengingat baik-baik cerita yang pernah diceritakan oleh kakek tua yang dulu merawat Qin Yu. Desa ini sebenarnya tidak terlalu terpencil seperti yang dibayangkan orang.

Tidak jauh dari sini terdapat sebuah pelabuhan sungai besar yang menjadi jalur transportasi utama menuju Ibu Kota. Jika berjalan kaki melewati jalan setapak di pinggir hutan, waktu tempuhnya tidak terlalu lama.

Shen Yu berjalan terus tanpa henti. Hutan yang lebat perlahan berubah menjadi dataran yang lebih terbuka. Suara alam mulai bercampur dengan suara riuh rendah manusia yang semakin lama semakin jelas.

Setelah berjalan kurang lebih satu jam, keringat mulai membasahi dahinya. Akhirnya, pemandangan di depannya terbuka lebar.

"Wah..."

Shen Yu menghentikan langkahnya dan menghela napas panjang lega.

Di hadapannya terbentang sebuah sungai yang sangat lebar, airnya berwarna kecokelatan dan mengalir deras. Di sepanjang tepian sungai itu, berjejer ratusan perahu dan kapal besar kecil.

Suara teriakan para kuli, pedagang, dan nahkoda berbaur menjadi satu, menciptakan suasana yang sangat hidup dan ramai.

Ini dia... Pelabuhan!

Shen Yu membenarkan posisi topi jeraminya agar semakin menutupi wajah, lalu berjalan mendekat dengan sikap waspada.

"Oke, sekarang masalah utamanya: Bagaimana cara naik kapal di zaman kuno ini?" batinnya berpikir keras.

"Apakah harus membeli tiket? Bayar di tempat? Atau ada aturan khusus? Jangan sampai aku salah langkah dan dianggap pencuri atau orang jahat."

Ia mulai berkeliling pelan-pelan, mengamati orang-orang lain yang tampak seperti penumpang, mencoba mencari tahu prosedurnya tanpa terlihat mencolok.

Shen Yu berjalan menyusuri dermaga yang panjang dan padat. Suasana di sini benar-benar riuh rendah, jauh lebih hidup daripada yang ia bayangkan.

Namun, ia tidak perlu bingung mencari terlalu lama. Di zaman ini, belum ada papan petunjuk atau layar elektronik. Cara promosi paling efektif adalah dengan suara.

"Ke Ibu Kota! Ke Ibu Kota! Kapal besar berangkat sebentar lagi! Tempat duduk nyaman, harga murah!"

"Kapal cepat menuju Ibu Kota! Siap berangkat! Siapa yang mau naik, cepatlah!"

"Kapal barang dan penumpang! Berangkat sore ini! Langsung sampai tujuan!"

Terompet-terompet kecil ditiup, disertai teriakan para pekerja kapal dan calo yang berdiri di atas papan penghubung atau di tepi dermaga. Suara mereka lantang dan memecah kebisingan, memudahkan siapa saja yang mencari arah.

Shen Yu menyeringai tipis di balik topi jeraminya. "Mudah juga ternyata. Cukup ikuti suara teriakan itu."

Matanya menyapu ke arah sebuah kapal yang cukup besar, terbuat dari kayu kokoh dengan cat merah dan hitam yang masih terlihat bagus. Di atas dek, seorang pria bertubuh kekar sedang berdiri sambil memegang bendera kecil, berteriak tanpa henti.

"Kapal 'Naga Laut' berangkat ke Ibu Kota! Tinggal menunggu sedikit penumpang lagi! Kapasitas banyak, aman dan cepat!"

Shen Yu mengamati kapal itu. Penumpangnya cukup banyak, terlihat dari orang-orang yang sedang mengangkut barang dan naik turun tangga. Itu pasti kapal yang tepat.

Dengan langkah tenang, Shen Yu mendekati papan jembatan yang menghubungkan dermaga dengan kapal.

"Hei, Adik! Mau naik kapal ke Ibu Kota kan? Cepat naik, sebentar lagi berangkat!" teriak si pria kekar itu melihat Shen Yu mendekat.

Shen Yu mengangguk pelan, tetap mempertahankan citranya sebagai pemuda pendiam. "Mn... berangkat kapan?"

"Sebentar lagi! Matahari sudah mulai condong, segera berangkat!" jawab pria itu ramah."Masuk saja dulu, cari tempat duduk Nanti kami yang keliling minta ongkos."

Ooh, jadi sistemnya bayar di dalam setelah naik, batin Shen Yu mengerti.

"Baik."

Shen Yu pun melangkah menaiki papan itu dengan hati-hati. Kakinya menginjak dek kayu kapal yang keras. Getaran dari tenaga kuda air dan angin terasa sedikit di bawah telapak kakinya.

Ia berhasil. Ia sudah berada di kapal yang akan membawanya menuju pusat keramaian, menuju Ibu Kota yang megah!

Shen Yu berjalan menyusuri geladak kapal. Ia memilih duduk di sisi yang agak jauh dari keramaian, tepat di dekat tiang penyangga layar. Tempat ini cukup teduh dan tidak terlalu padat, cocok untuknya bersembunyi dan mengamati situasi tanpa terlalu diperhatikan.

Ia meletakkan keranjang bambunya di samping tubuhnya, lalu duduk bersila dengan santai namun tetap waspada.

"Syukurlah, dapat tempat yang lumayan nyaman," gumamnya pelan.

Sebelum benar-benar duduk tenang, ia menyelinapkan tangannya sebentar ke dalam keranjang. Di sana, ia sudah menyiapkan sebuah kantung air yang terbuat dari labu kering yang sudah dibersihkan. Didalamnya bukan air—melainkan cola!

"Nah, begini saja," bisiknya sambil tersenyum-senyum. "Kalau nanti tidak punya uang kecil atau tidak cukup, aku bisa menukarnya dengan 'air ajaib' ini. Pasti enak menurut mereka."

Rencananya matang. Ia sama sekali tidak berniat mengeluarkan kepingan emas tael itu sekarang.

Di tempat umum yang ramai seperti ini, mengeluarkan emas sama saja dengan menulis papan tulis "Aku Orang Kaya" di dahi—it sangat berbahaya dan bisa mengundang mata jahat, pencopet, atau bahkan perampokan.

Lebih baik bersikap seperti orang biasa yang pas-pasan.

Baru saja ia selesai mengatur barang-barangnya, terdengar suara teriakan komando dari nahkoda di bagian depan kapal.

"Siap-siap! Angkat jangkar! Siapkan layar!"

Kriuk... berat...

Suara rantai besi bergesekan dengan kayu terdengar keras. Para awak kapal yang sigap bekerja sama mengangkat jangkar besar dari dasar sungai.

"Tarik! Tarik! Besarkan layar!"

Satu per satu layar besar yang terbuat dari kain tebal terbentang luas, menangkap tiupan angin yang kencang. Kapal kayu besar itu perlahan mulai bergetar, lalu perlahan meninggalkan dermaga.

Pemandangan pelabuhan yang ramai mulai menjauh, berganti dengan pemandangan sungai yang lebar dan hijau di kedua sisinya.

"Woohooo... berangkat!" Shen Yu bersorak dalam hati.

Ia bersandar santai membelakangi tiang kapal, membiarkan angin menerpa wajahnya. Perjalanan panjang menuju Ibu Kota resmi dimulai!

Tak lama setelah kapal bergerak stabil, seorang petugas kapal berjalan menyusuri barisan penumpang sambil membawa tas kulit kecil untuk menampung bayaran.

"Ongkos kapal! Silakan bayar ongkosnya masing-masing! Harganya 5 Wen per orang!"serunya lantang.

Suasana menjadi sedikit ramai. Ada yang menyerahkan koin tembaga, ada yang mengeluarkan beras, dan ada juga yang menukarnya dengan sayuran segar atau ikan kering yang mereka bawa.

Di zaman ini, barter masih sangat lumrah dilakukan.

Akhirnya, petugas itu sampai di hadapan Shen Yu.

"Kamu juga, bayar 5 Wen atau barang setara,"kata petugas itu sambil menatap Shen Yu yang berpakaian lusuh.

Shen Yu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu berkata dengan suara pelan,"Aku...tidak bawa koin. Boleh tidak aku bayar pakai ini?"

Ia mengangkat kantung labu air yang tadi sudah ia isi dengan minuman bersoda manis.

Petugas itu mengerutkan alisnya, wajahnya langsung berubah masam. "Hah? Cuma air? Jangan bercanda! Air sungai ada di mana-mana!"

Ia sudah mau marah dan mengusir Shen Yu, mengira pemuda ini ingin menumpang gratis.

"Eh, tunggu dulu! Bukan air biasa!" Shen Yu cepat-cepat menghentikannya. Ia lalu memberi isyarat tangan, "Kakak, sini... jongkok sebentar, jangan keras-keras. Rahasia."

Petugas itu bingung, tapi melihat wajah Shen Yu yang serius, ia akhirnya menuruti permintaan aneh itu dan membungkukkan badannya mendekat.

"Ada apa? Jangan main-main..." bisik petugas itu curiga.

Shen Yu mendekatkan mulutnya ke telinga petugas, berbisik penuh misteri, "Ini bukan air biasa, Kak. Ini... Air Ajaib."

"Air Ajaib?"

"Iya," Shen Yu mengangguk mantap, matanya berkilat. "Ini air yang aku dapatkan dari mata air tersembunyi di dalam gunung. Rasanya manis, segar, dan bisa menghilangkan lelah langsung. Kalau Kakak percaya, coba saja cicipi sedikit. Kalau tidak enak, aku akan cari cara lain buat bayar."

Petugas itu semakin penasaran. Walaupun terlihat ragu, tangannya tetap mengambil kantung labu itu.

"Hah, anak ini sok misterius... Coba aku cicipi dulu," batinnya.

Petugas itu membuka tutup labu, lalu meneguk sedikit saja isinya untuk mencicipi.

Awalnya ia berharap mungkin airnya agak manis atau beraroma harum. Tapi begitu cairan itu masuk ke mulutnya...

DEG!

Matanya langsung melebar membelalak! Wajahnya berubah kaget setengah mati!

Rasanya sungguh luar biasa! Manis, dingin, dan ada sensasi gelembung kecil yang menari-nari di lidah, memberikan kesegaran yang meledak-ledak hingga ke tenggorokan! Belum pernah ia minum sesuatu semewah dan sesegar ini seumur hidupnya!

"Wah! Ini... ini..." Ia hendak berteriak keras karena kaget dan takjub, ingin memberitahu semua orang bahwa dia menemukan minuman surgawi.

"Hmph!"

Tapi sebelum suaranya keluar, tangan cepat Shen Yu langsung menutup rapat mulut petugas itu!

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!