Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintai
Satu minggu kemudian...
Di dalam ruang kerja pribadi Om Bramantyo yang megah, ketegangan terasa begitu pekat. Di hadapan meja jati besar, tiga orang pria berjaket kulit hitam dari agensi penyelidik gelap 'Garis Depan' berdiri dengan kepala tertunduk. Di seberang mereka, Bramantyo mondar-mandir dengan napas memburu, sementara Tante Ratna duduk di sofa kulit dengan wajah masam yang dipenuhi kedengkian.
"Kami sudah membayar kalian dengan nominal yang sangat fantastis!" pekik Tante Ratna sembari memukul lengan sofa dengan tas bermereknya. BUK!
"Bagaimana mungkin agensi terbaik di negeri ini bahkan tidak bisa membawa satu pun nama orang tua kandung dari anak beasiswa itu?!"
Ketua tim Garis Depan, seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya, mendongak perlahan. "Mohon maaf, Nyonya Ratna, Om Bramantyo. Masalahnya bukan pada tim kami. Identitas Gala Putra Langit ini dikunci sistem sandi kuantum berlapis sembilan berskala global. Enkripsi selevel ini hanya dimiliki oleh badan intelijen militer tertinggi. Data lahirnya bersih, sekolahnya di pelosok terdaftar resmi, namun tidak ada celah sekecil lubang jarum pun untuk melihat masa lalunya. Dia mutlak terlahir sebagai Gala Putra Langit di atas sistem."
Bramantyo menghentikan langkahnya, rahangnya mengeras mendengar laporan tersebut. Ia menatap tajam ke arah ketua tim Garis Depan. "Artinya, kalian ingin mengatakan bahwa anak sialan itu hantu? Atau dia sengaja ditaruh oleh musuh besar Samudra Group untuk menghancurkan posisi saya?!"
"Kami masih terus memantau pergerakannya, Tuan," sahut ketua tim itu dengan nada suara yang rendah dan formal.
"Namun, secara digital, dia tidak bisa ditembus oleh siapa pun."
Ratna berdiri dari sofanya, melangkah mendekati suaminya dengan mata yang berkilat penuh amarah. "Bram, ini tidak bisa dibiarkan. Besok turnamen simulasi bisnis dan perdagangan saham riil itu sudah dimulai di aula utama kampus. Kita tidak boleh lengah."
Bramantyo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai tidak beraturan. Sebuah senyum miring yang penuh kelicikan perlahan muncul di wajahnya yang dingin.
"Tenang, Ratna. Justru turnamen besok adalah kesempatan emas kita. Aku dan tim IT pribadi kita sudah menyuntikkan dana segar sebesar lima puluh miliar rupiah ke akun perlombaan Kenzo melalui perusahaan cangkang kita."
Bramantyo menoleh kembali ke arah para agen Garis Depan. "Besok, aku dan Ratna akan datang langsung ke kampus untuk melihat turnamen itu. Kami ingin menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Kenzo menghancurkan portofolio saham anak beasiswa itu. Dan yang paling penting... aku ingin melihat langsung seperti apa rupa Gala Putra Langit dari dekat. Wajahnya, gerak-geriknya, aku harus memastikan siapa dia sebenarnya."
"Apakah Anda ingin kami melakukan tindakan fisik di lokasi, Tuan?" tanya salah satu agen Garis Depan sembari membetulkan letak sarung tangannya.
"Tidak perlu di dalam aula," potong Bramantyo dengan lambaian tangan yang tegas.
"Biarkan Kenzo memojokkannya terlebih dahulu di bursa saham. Begitu kelompok Gala terdesak dan kehabisan modal, dia pasti terpaksa menyuntikkan dana dari pihak luar yang melindunginya. Saat aliran dana misterius itu masuk ke sistem keuangan kampus, di situlah tugas kalian untuk melacak dari mana asal rekening tersebut!"
Ratna menyunggingkan senyum licik yang sangat lebar, rasa percaya dirinya kembali membubung tinggi. "Bagus, Bram. Besok kita akan melihat langsung kesombongan anak beasiswa itu runtuh. Mau dia dilindungi oleh kekuatan militer sekalipun, di dalam Universitas Samudra, uang dan pengaruh kita yang memegang kendali penuh!"
Di balik tembok-tembok mewah kediaman mereka, para serigala serakah itu merasa telah menyusun rencana yang sangat sempurna untuk menjebak Gala. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa identitas Gala terkunci rapat karena diatur langsung oleh Kakek Wijaya. Dan besok, kehadiran Om dan Tantenya di aula utama justru akan menjadi awal dari pertunjukan taktik luar biasa yang sudah disiapkan oleh pewaris sejati, Cakrawala Bintang Samudra.