NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Mendadak Memuja

Panas terik matahari siang membakar atap seng teras paviliun tua itu dengan kejam. Hawa gerah merayap masuk perlahan menyentuh kulit. Udara panas ini bercampur dengan sisa bau kemenyan yang sempat mengotori hidung Sumarni pagi tadi.

Sumarni mengabaikan rasa pening yang masih berdenyut keras di pelipis kirinya. Tangan wanita itu bergerak hati-hati melipat lembaran terakhir dari dua puluh potong seragam batik Dharma Wanita.

Ia menyusun kain-kain beraroma malam lebah itu ke dalam dua kotak anyaman rotan berukuran besar. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras dari dahinya membasahi kerah kebaya kuning gading yang ia kenakan.

Tepat pukul satu siang, seluruh pesanan Nyonya Wardoyo akhirnya siap dikirim ke rumah dinas. Sumarni segera memanggil becak langganan yang biasa mangkal di depan gerbang pabrik kretek suaminya.

Sepanjang perjalanan, guncangan roda becak di jalanan berbatu membuat perutnya bergejolak mual. Debu jalanan beterbangan liar menempel di wajahnya yang kelelahan. Sumarni memeluk dua kotak rotan itu erat-erat sebagai tameng masa depannya.

Setengah jam kemudian, becak itu berhenti tepat di depan rumah dinas Walikota. Bangunan megah bergaya arsitektur Belanda itu berdiri kokoh memamerkan pilar-pilar putih tinggi.

Suara tawa melengking dan obrolan para wanita terdengar nyaring dari area taman samping. Sumarni melangkah masuk melewati gerbang besi dengan punggung tegak menantang keraguan.

Sepatu pantofel hitamnya menapak mantap di atas paving blok yang panas. Di area taman berumput hijau itu, belasan nyonya besar penguasa sosial kota sedang berkumpul menggelar acara teh sore.

Kedatangan Sumarni dengan membawa dua kotak rotan besar sontak menghentikan tawa renyah mereka. Belasan pasang mata langsung menatap istri kedua Harjono itu dengan pandangan menilai yang merendahkan.

Beberapa wanita sosialita itu sengaja menutup hidung mereka dengan saputangan renda buatan luar negeri. Sulastri ternyata sudah duduk di kursi terdepan dengan wajah angkuh memancarkan kebencian.

Gosip murahan tentang istri muda udik yang menggunakan ilmu pelet di dapur jelas sudah ia tiupkan ke telinga para nyonya pejabat ini.

"Lihat siapa yang datang membawa keranjang rotan," sindir Nyonya Sasongko, istri seorang pejabat distrik, dengan nada mencibir tajam. "Apakah pabrik suamimu sedang bangkrut sampai kamu harus turun ke jalan menjadi kurir barang?"

Beberapa wanita tertawa pelan mendengar hinaan menyakitkan tersebut. Sumarni hanya tersenyum tipis tanpa menundukkan kepalanya sedikit pun.

Ia membusungkan dada, terus melangkah maju mendekati meja kaca bundar tempat Nyonya Wardoyo duduk.

"Selamat sore, Nyonya Wardoyo," sapa Sumarni dengan suara bariton yang jernih dan menguasai keadaan. "Saya datang mengantarkan dua puluh potong seragam batik tulis pesanan Anda tepat pada waktunya."

Nyonya Wardoyo meletakkan cangkir teh porselennya dengan gerakan kasar. Terdengar bunyi dentingan nyaring memecah kesunyian di taman tersebut. Wajah istri Walikota itu tampak sangat tegang dan penuh selidik.

"Saya hampir mengira kamu akan lari dari tanggung jawab akibat masalah keluargamu," serang Nyonya Wardoyo dengan suara dingin. "Kudengar dari Mbak Sulastri, rumahmu dipenuhi benda kutukan dan kemenyan. Jangan bilang kamu membawa kain berbau klenik dukun ke rumahku hari ini."

Sulastri menyunggingkan senyum kemenangan dari sudut bibirnya. Ia merasa taktik fitnahnya pagi tadi berhasil menghancurkan kepercayaan Nyonya Walikota.

Namun, Sumarni tidak menjawab dengan kata-kata pembelaan kosong yang mengemis simpati. Ia meletakkan dua kotak rotan itu tepat di tengah meja kaca pelindung panas.

Jari-jemarinya yang lentik membuka penutup anyaman tersebut secara bersamaan. Aroma melati murni yang segar bercampur dengan wangi khas malam lebah seketika menguar kuat.

Bau harum pewarna alami itu langsung menekan dan mengalahkan aroma parfum buatan di sekeliling para sosialita. Tumpukan kain batik tulis dengan motif seragam Dharma Wanita tersusun sangat presisi memanjakan pandangan mata.

Gradasi warna cokelat kemerahan dan biru gelap dari motif Wahyu Tumurun itu tampak sangat hidup menantang cahaya matahari. Sapuan lilin malamnya begitu rata tanpa ada satu pun garis corak yang meluber.

Kain katun primisima tingkat tinggi itu menjuntai lembut bak aliran air saat Sumarni mengangkat salah satu potongannya.

Suara helaan napas kagum terdengar serentak dari belasan mulut di taman itu. Mata para wanita yang awalnya menatap remeh kini membelalak lebar melihat kualitas mahakarya seni tersebut.

Nyonya Wardoyo berdiri kaku dari kursi rotannya seolah kehilangan kata-kata. Ia menyentuh permukaan kain batik itu dengan kedua tangan yang bergetar pelan karena takjub.

"Ini sungguh luar biasa indah," bisik Nyonya Wardoyo dengan suara serak menahan haru. "Seumur hidupku, belum pernah aku melihat warna alam yang meresap secantik ini ke dalam serat kain. Kainnya terasa sangat sejuk menempel di telapak tanganku."

Wajah Sulastri seketika berubah pucat pasi melihat reaksi kagum tersebut. Niat jahat istri pertama itu untuk menghancurkan nama Sumarni dengan gosip ilmu hitam hancur lebur seketika. Pembuktian kualitas produk adalah tamparan paling menyakitkan bagi sebuah fitnah murahan.

"Pewarnaan ini menggunakan ekstrak daun tarum dan kayu secang asli yang direbus perlahan selama berjam-jam," jelas Sumarni dengan suara lantang memecah keheningan. "Kualitas ketekunan dan keringat manusia tidak akan pernah bisa ditipu oleh gosip kotor, Nyonya."

Kalimat itu menampar wajah Sulastri dengan sangat telak hingga wanita itu harus menundukkan pandangannya. Nyonya Sasongko yang tadi mencibir tajam kini melangkah mendekat nyaris setengah berlari.

Istri pejabat distrik itu menyentuh ujung kain batik Sekar Malam dengan mata menyiratkan rasa iri yang membara. Kerumunan nyonya besar itu seketika bergeser merapat, mengelilingi meja kaca dengan antusiasme buas.

Layar hijau neon berkedip sangat terang di sudut mata Sumarni secara mendadak.

[Penaklukan Publik Tingkat Tinggi Berhasil! Status Sosial Anda kini mendominasi para elit kota.]

[Poin tambahan: 500 Poin. Kepercayaan konsumen absolut telah tercapai.]

Sumarni menelan ludahnya yang terasa mengering melihat notifikasi memuaskan tersebut.

"Nyonya Sumarni, tolong buatkan saya sepuluh potong kain motif seperti ini untuk keluarga besar saya!" pinta Nyonya Sasongko sambil menggenggam lengan Sumarni dengan erat. Wajah angkuhnya kini berubah memelas menuntut kepastian pesanan.

"Saya butuh lima belas potong untuk panitia resepsi pernikahan putri saya bulan depan! Saya akan bayar tunai hari ini juga!" sahut wanita berkalung mutiara saling dorong dari arah belakang.

"Tolong masukkan nama saya di daftar urutan pertama!" jerit wanita lainnya tidak mau kalah gengsi dalam lingkaran sosial itu.

Suara pesanan yang saling berebut itu menggema seperti rentetan ledakan kembang api di telinga Sumarni. Nyonya Wardoyo bahkan memerintahkan ajudannya untuk segera membawa kotak rotan itu ke dalam rumah dengan senyum kebanggaan luar biasa.

Sumarni berdiri kaku di tengah kepungan wanita kaya yang mendadak memuja kemampuannya setinggi langit. Udara di sekitarnya terasa semakin menipis akibat himpitan tubuh para sosialita yang berebut perhatiannya.

Dada kiri Sumarni bergemuruh merespons sebuah kenyataan bisnis yang menakutkan sekaligus mendebarkan. Tumpukan pesanan baru yang dibayar di muka ini terlalu masif untuk dikerjakan seorang diri.

Ia tidak mungkin mencanting malam dan menjahit puluhan potong kain sendirian di dalam paviliun yang sempit. Mesin jahit dan tubuhnya akan hancur lebur jika dipaksa bekerja tanpa henti siang dan malam.

Sumarni perlahan memutar kepalanya, menatap lurus menembus pagar besi rumah dinas megah tersebut. Di seberang jalan berbatu yang berdebu, ia melihat pemandangan yang bertolak belakang dengan kemewahan taman ini.

Sekelompok ibu-ibu pekerja kasar berdaster lusuh sedang duduk berteduh kelelahan di bawah pohon beringin besar. Tangan-tangan beralas kapalan milik mereka terbiasa memeras keringat di pasar atau memburuh cuci dengan upah yang sangat murah.

Otak Sumarni berputar cepat menyusun strategi bisnis yang jauh lebih liar dan berani. Ia menyadari bahwa kekuatannya tidak terletak pada kemampuannya bekerja sendiri.

1
Wiecipa Wicipha
suka..../Rose//Heart/
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!