NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:36.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Untuk Memuaskan Hasrat

Sumarni menatap buruh cuci muda yang masih bergetar hebat di lantai semen itu. Air mata Wati jatuh menetes membasahi debu kotor di bawah lututnya. Alih-alih meledak dalam amarah, insting editor Sumarni memutar otak dengan kecepatan penuh menyusun strategi manipulasi.

"Yu Inem, angkat wajan utama yang berisi malam bersih ke gudang dalam sekarang juga," perintah Sumarni dengan nada suara mutlak. "Jangan sampai ada satu debu pun yang masuk ke dalam cairan itu."

Yu Inem dan dua pekerja lain segera memindahkan wajan tembaga berharga itu dengan sangat hati-hati. Hawa panas dari tungku kompor minyak tanah masih mengepul liar membakar udara di sekitarnya.

Sumarni berjalan cepat mengambil sebuah wajan usang yang berkarat dari sudut pelataran. Ia mengisinya dengan sisa lilin kotor dan minyak tanah kualitas paling rendah. Ia meletakkan wajan reyot itu tepat di atas kompor yang apinya masih menyala terang kemerahan.

"Wati, bangunlah dan masukkan getah pinus busuk itu ke dalam wajan usang ini," instruksi Sumarni dengan senyum miring yang memancarkan bahaya murni. "Kita akan memberikan tontonan yang sangat dramatis untuk memuaskan hasrat Nyonya Sulastri."

Wati menelan ludah dengan susah payah hingga kerongkongannya terasa perih. Tangan kasarnya yang masih pucat membuka bungkusan koran itu, lalu menumpahkan isinya ke dalam cairan lilin kotor yang mendidih.

Dalam hitungan detik, reaksi kimia yang sangat kacau terjadi di depan mata mereka. Cairan di dalam wajan itu bergolak hebat hingga menghasilkan buih hitam pekat yang meluber ke tepi besi.

Asap tebal berbau sangat busuk dan menyengat langsung mengepul tinggi ke udara siang. Bau tengik itu menyerupai campuran bangkai hewan busuk dan ban karet yang dibakar hangus.

Asap hitam pekat itu tertiup angin barat laut, membumbung melewati tembok pembatas tinggi. Gumpalan asap itu mengarah langsung membedaki area ruang tamu rumah utama yang berjarak belasan meter.

Sumarni tahu persis jadwal mingguan rumah tangga suaminya. Hari ini adalah hari Minggu, waktu wajib bagi keluarga besar Widjajanto berkunjung untuk jamuan makan siang. Mertua dan kerabat elit Tuan Harjono pasti sedang berkumpul di teras depan.

"Kalian semua, kembalilah membatik di dalam ruangan tertutup," arah Sumarni kepada para pekerjanya dengan tenang. "Wati, kamu tetap berdiri di sini bersamaku. Bersiaplah untuk berbicara dengan suara lantang dan jujur saat aku meminta."

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, suara derap langkah sepatu kulit dan hak tinggi terdengar beramai-ramai mendekati paviliun. Suara batuk-batuk keras dan omelan bernada tinggi memecah keheningan siang yang sebelumnya damai.

Pintu gerbang kayu paviliun didorong paksa dari luar hingga berdebum keras menghantam dinding. Sulastri melangkah masuk paling depan dengan saputangan sutra menutupi hidungnya. Wajah istri pertama itu dibuat seolah sangat panik dan terganggu.

Di belakang Sulastri, sosok tinggi tegap Harjono menyusul dengan rahang mengeras dan otot leher menegang. Pria pemilik pabrik kretek itu mengawal ibunda dan paman-pamannya dari keluarga besar Widjajanto.

Mereka semua mengenakan pakaian batik tulis rapi yang kini terpaksa terpapar asap hitam berbau busuk.

"Ya Tuhan, bau menjijikkan apa ini?!" jerit Nyonya Besar Widjajanto, bibi tertua Harjono. Wanita tua itu mengibaskan kipas lipatnya dengan raut wajah mual menahan muntah.

Sulastri menunjuk lurus ke arah wajan bergolak di depan Sumarni dengan jari telunjuk yang dihiasi cincin permata. Mata istri pertama itu memancarkan kilat kemenangan buas yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Lihatlah kelakuan istrimu ini, Mas Harjono!" serang Sulastri dengan suara melengking membelah telinga. "Dia tidak hanya bermain dukun kampung, tapi sekarang dia sengaja merusak acara keluarga besar kita dengan merebus racun berbau bangkai di belakang rumah!"

Harjono menatap wajan berasap hitam itu dengan kening berkerut dalam menahan amarah. Bau tengik getah pinus busuk itu sangat familier di ingatannya. Sebagai pengusaha kretek kawakan, ia tahu benda haram itu bisa merusak kualitas serat tembakau maupun kain sutra jika dibakar bersamaan.

"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, Sumarni?" tegur Harjono dengan suara bariton yang berat dan mematikan. Tatapan mata pria itu menuntut penjelasan logis sebelum ia bertindak keras.

Anggota keluarga besar Widjajanto mulai berbisik-bisik merendahkan martabat Sumarni. Mereka menatap istri kedua yang mengenakan kebaya katun sederhana itu dengan pandangan penuh cibiran tajam.

Namun, Sumarni berdiri tegak dengan punggung lurus tanpa rasa gentar sedikit pun. Ia menolak keras menundukkan kepalanya seperti wanita lemah yang sedang dihakimi. Ia menatap langsung ke dalam sepasang manik mata kelam suaminya dengan penuh tantangan.

"Saya sedang membersihkan hama kotor dari rumah ini, Mas Harjono," jawab Sumarni dengan intonasi suara yang sangat tenang namun bergema kuat di dada setiap pendengarnya.

Sulastri tertawa sinis, meremehkan jawaban tersebut secara terbuka. "Hama apa yang kamu maksud? Kamu sengaja mengacaukan acara keluarga karena kamu gagal membuat pesanan batik Nyonya Walikota. Mengakulah saja kalau kamu baru saja menghancurkan sutra mahal itu karena kebodohanmu!"

Sumarni menyunggingkan senyum tipis yang membekukan darah. Ia melangkah santai ke arah meja kayu jati di sudut pelataran yang teduh. Tangannya menarik selembar kain penutup berwarna putih, memperlihatkan tumpukan kain batik sutra yang sudah selesai dicanting dengan sempurna.

Warna alami malam lebah menempel rapi membenam ke dalam serat sutra merah marun tanpa ada satu pun garis yang meluber. Aroma melati murni menguar pelan dari tumpukan kain tersebut, menekan bau busuk asap wajan secara elegan.

Mata Harjono dan seluruh keluarga Widjajanto membelalak lebar melihat bukti fisik tersebut. Mahakarya bernilai tinggi itu membungkam tuduhan Sulastri seketika tanpa perlu banyak perdebatan.

Wajah Sulastri mendadak pucat pasi nyaris tanpa darah. Ia menoleh ke arah Wati yang berdiri gemetar di belakang Sumarni dengan mulut setengah terbuka. Istri pertama itu baru menyadari bahwa rencana busuknya telah hancur berantakan menabrak tembok beton.

"Jika produksi batik saya berdiri aman, lalu apa yang sedang direbus di wajan berkarat itu?" Sumarni memutar tubuhnya, menatap tajam bagai belati ke arah wajah pucat Sulastri. "Itu adalah getah pinus busuk yang sengaja diselundupkan oleh seseorang untuk menghancurkan usaha mandiri saya secara pengecut."

Sumarni merogoh saku kebayanya dengan gerakan lambat yang mematikan. Ia mengeluarkan amplop cokelat tebal yang sedikit lecek, lalu melemparnya tepat ke ujung sepatu kulit hitam Harjono.

Bunyi benturan tumpukan kertas tebal itu memecah keheningan yang mencekam seluruh pelataran.

"Wati, katakan dengan jelas pada Tuan Harjono dan seluruh keluarga besarnya," perintah Sumarni mutlak tanpa ampun. "Dari mana kamu mendapatkan amplop berisi uang sogokan kotor itu, dan apa ancaman yang menyertainya?"

Wati maju selangkah dengan napas tersengal menahan tangis. Keberanian mendadak merasuki nadinya saat melihat perlindungan kuat dari sosok Sumarni yang berdiri tegak membelanya.

"Nyonya Sulastri yang memberikan uang itu melalui Ningsih, Tuan Besar!" isak Wati dengan suara nyaring yang menggema memantul di dinding bata. "Beliau mengancam akan memecat suami saya dari pabrik kretek Tuan jika saya tidak merusak wajan Nyonya Sumarni hari ini juga!"

Udara siang yang panas itu mendadak membeku kaku. Anggota keluarga besar Widjajanto terkesiap kaget mendengar pengakuan pemerasan yang sangat kotor tersebut.

Harjono menunduk perlahan, mengambil amplop cokelat itu dari atas lantai tegel yang berdebu. Jari-jari besarnya membuka penutup amplop dengan gerakan kaku. Matanya menatap lekat tumpukan uang kertas pecahan besar di dalamnya.

Darah di dalam tubuh Harjono mendidih hebat naik ke ubun-ubun seketika. Terdapat stempel biru pudar berlogo pabrik kretek miliknya tercetak jelas di sudut dalam amplop tersebut. Itu adalah amplop kas operasional pabrik yang hanya bisa diakses oleh istri pertamanya untuk kebutuhan darurat rumah tangga.

Uang perusahaannya sendiri telah dirampas secara diam-diam untuk menyabotase bisnis istrinya yang lain di wilayah kekuasaannya. Ini adalah pengkhianatan fatal yang merobek habis wibawa Harjono sebagai seorang pemimpin keluarga.

"Ini fitnah keji, Mas! Buruh cuci miskin ini pasti dibayar oleh Sumarni untuk menuduhku di depan ibunda!" jerit Sulastri panik, berusaha meraih lengan kemeja suaminya dengan tangan bergetar.

Namun, Harjono menepis tangan Sulastri dengan sangat kasar hingga wanita berkebaya hijau itu terhuyung mundur menabrak pilar kayu. Tatapan mata Harjono kini segelap langit malam yang bersiap memuntahkan badai kehancuran.

Layar hijau transparan berkedip sangat terang di depan mata Sumarni, membawa euforia kemenangan mutlak.

[Jebakan Sukses Sempurna. Indikator Kehancuran Reputasi Musuh. Poin tambahan: 800 Poin.]

1
sukensri hardiati
aneh banget ni suryo....dia kan andil ngrusak lastri....
sukensri hardiati
klo sulastri lolos lagi....?
Dede Dedeh
d gantung........ /Scream/
sukensri hardiati: yg digantung ni ceritanya othor ato sulastri dek De....?
total 1 replies
sukensri hardiati
sulastri akhirnya divonis gila ...dan sekarang bebas?
sukensri hardiati
jangan php lah thor....
nanti tahu2 lastri bebas lagi....
sukensri hardiati
mbok berhenti manggil suamimu dengan anda to marnii.
sukensri hardiati
cinta buta rendra bener2 bikin dia nubras2....nunjang palang...eror parah...
sukensri hardiati
klo marni dah nyiapin cerutu ...berarti
dah niat nyelamitin bisnis suaminya...
gina altira
masih ada antek" Sulastri
Dwi Agustina
Boleh g sih berharap Sulastri cpt mati sajaaaaa tp novel ini g cpt tamat🥹🙏
INeeTha: trus antagonis nya siapa🤣🤣🙏
total 1 replies
gina altira
Harjono gercep,
gina altira
Masih ada kroco"Sulastri.
gina altira
nahhh,, gitu Hardjono,,
gina altira
untung sistemnya balik lagii
gina altira
Sulastri belom kapok
Dwi Agustina
Ih syukaaaaa bngt sama Sumarni 👍👍👍💪
SaRW
Yooo... yoooo..... Ratna bin Sumarni di lawan.... 😄
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... jadi penasaran thor.. lanjut lagi dong😁
Siskasuryaningsih
👍, keren
Dede Dedeh
lanjuttttty
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!