Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Usman langsung menatap rumah itu tajam. Lalu kembali menatap Amira. Dan untuk pertama kalinya lelaki itu mulai menyadari betapa rumitnya benang masa lalu yang ternyata menghubungkan dirinya dan Amira.
Begitu menatap rumah besar itu lebih lama benang-benang kusut dalam ingatan Amira mulai perlahan terurai. Napasnya memburu. Matanya bergerak gemetar menyusuri halaman rumah itu. Dan lalu tatapannya bergeser jauh ke ujung jalan kecil di samping rumah.
Di sana. Masih ada rumah kayu kecil itu. Rumah kakeknya. Rumah sederhana yang dulu terasa begitu hangat dibanding megahnya rumah kepala desa ini.
Air mata Amira langsung jatuh semakin deras. Potongan demi potongan kenangan mulai kembali utuh di kepalanya. Tentang dirinya kecil. Tentang rumah kakeknya. Tentang seorang perempuan cantik dan populer bernama Alya Syahida. Putri kedua keluarga kepala desa kampung Mlati.
Dan perlahan Amira mulai menghubungkan semuanya. Foto perempuan di kamar Habibi. Cerita Umi Salma tentang menantunya Tentang Alya. Tentang istri Usman.
Tubuh Amira langsung terasa dingin. “Enggak…” bisiknya lirih. “Enggak mungkin…” Tetapi semakin dipikir semuanya justru semakin jelas.
Alya Syahida. Perempuan yang usianya beberapa tahun di atasnya. Perempuan yang dulu sangat disukai banyak orang di kampung. Cantik. Pintar. Anak kepala desa. Dan perempuan yang paling menghancurkan masa kecil Amira.
Napas Amira mulai sesak lagi. Karena sekarang semuanya kembali jelas di kepalanya. Dulu entah karena alasan apa, Alya tiba-tiba membencinya.
Menuduhnya sebagai anak perempuan gatal yang suka mencari perhatian santri-santri lelaki.
Padahal waktu itu Amira masih sangat kecil. Namun sejak saat itu bullying dimulai. Diejek. Dikucilkan. Didorong. Dipermalukan di depan banyak orang. Dan puncaknya hari itu. Hari paling kelam dalam hidup Amira.
Tangannya mulai gemetar hebat. Hutan pinggir jalan tadi. Ya Allah, Itu tempatnya. Tempat Alya menyuruh teman-temannya menyeret dirinya. Mereka memukulnya. Membuka kerudung yang menutupi rambutnya sambil tertawa. Mendorong tubuhnya ke tanah. Dan yang paling menghancurka beberapa anak laki-laki hampir menodainya saat itu.
Amira langsung menutup mulutnya sendiri menahan sesak yang menyerang tiba-tiba. Tubuhnya gemetar hebat. Karena meski tubuh kecilnya dulu berhasil selamat jiwanya tidak pernah benar-benar pulih.
Untung saja kakeknya datang. Ustad Hasyim menyelamatkannya sebelum semuanya terlambat.
Tetapi sejak hari itu Amira berubah. Ia menjadi penakut. Pendiam. Dan mengubur cahaya dirinya sendiri agar tidak lagi menjadi sasaran siapa pun.
“Mira…” Suara Umi Salma terdengar jauh sekali sekarang.
Sementara Amira perlahan menoleh ke arah rumah besar itu lagi. Rumah milik keluarga Alya. Rumah ibu kandung Habibi. Dan mendadak dadanya terasa begitu sesak sampai sulit bernapas. Karena artinya selama ini ia hidup di rumah suami perempuan yang menghancurkan masa kecilnya sendiri.
Tubuh Amira masih membeku di dalam mobil. Namun kini bukan hanya karena takut. Melainkan karena ingatan-ingatan lama mulai tersusun dengan jelas di kepalanya.
Ais. Panggilan itu. Air mata Amira kembali jatuh perlahan.
Dulu hanya beberapa orang yang memanggilnya seperti itu. Kakeknya. Keluarga intinya. Dan Mas Us.
Napas Amira langsung tercekat. Matanya perlahan bergerak menatap Usman yang sedang berdiri di luar mobil sambil memandangnya penuh khawatir.
Mas Us. Santri kesayangan kakeknya. Pemuda pendiam yang dulu sering datang membawa kitab. Yang kadang diam-diam memberinya permen atau pita rambut. Yang sering kesal karena Amira kecil terlalu aktif.
“Kapan kamu kalem, Ais?”
Kalimat itu. Amira langsung menutup mulutnya sendiri. Air matanya pecah lagi. Ya Allah. Benar. Itu dia. Mas Us.
Lelaki yang dulu sering melindunginya dari anak-anak lain. Yang selalu membiarkannya duduk di dekat saat belajar. Yang pernah turun ke sungai hanya untuk mengambil pita rambutnya yang hanyut. Dan yang setelah kejadian di hutan itu… menghilang dari hidupnya karena Amira dibawa pindah oleh kakeknya.
Tubuh Amira gemetar lagi. Tetapi kali ini bukan karena trauma semata. Melainkan karena syok. Karena ternyata selama ini ia hidup sangat dekat dengan seseorang dari masa lalunya sendiri.
Dan lebih mengejutkan lagi lelaki itu adalah suami Alya. Perempuan yang menghancurkan hidupnya.
Usman yang sejak tadi memperhatikan perubahan wajah Amira akhirnya mendekat sedikit. “Ais?” Suara itu lembut sekali.
Dan kali ini Amira benar-benar mendengar suara Mas Us kecil di dalamnya. Air mata Amira jatuh makin deras. Bibirnya gemetar sebelum akhirnya berbisik lirih, “Mas Us?”
Wajah Usman langsung berubah. Matanya membesar. Seolah tidak percaya akhirnya Amira mengingat dirinya. Suasana mendadak terasa sunyi. Sangat sunyi. Sampai angin yang berembus pelan pun terasa begitu jelas. Dan perlahan mata Usman mulai memerah. Karena setelah bertahun-tahun akhirnya gadis kecil itu benar-benar kembali mengenalinya.
Usman berdiri terpaku di samping pintu mobil. Tatapannya tidak lepas dari wajah Amira yang penuh air mata.
Sementara perempuan itu masih gemetar memandangnya. “Mas Us?”
Suara lirih itu terasa seperti menarik Usman kembali belasan tahun ke belakang. Ke masa ketika seorang gadis kecil selalu mengikutinya sambil membawa buku iqra terbalik. Dan perlahan senyum tipis yang sangat getir muncul di wajah Usman. “Kamu akhirnya mengingat saya.” Suaranya rendah. Tenang. Namun jelas menyimpan begitu banyak hal yang selama ini tertahan.
Air mata Amira jatuh lagi. Karena sekarang semuanya terasa begitu jelas. Pantas lelaki ini mengenal kakeknya. Pantas ia tahu panggilan kecilnya. Pantas tatapannya sering terasa aneh sejak awal.
Ya Allah, Selama ini ia benar-benar tidak sadar. Amira langsung menunduk cepat. Entah kenapa dadanya terasa semakin sesak sekarang. Air mata Amira terus jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
Tubuhnya masih gemetar. Sementara semua kenangan lama terasa seperti baru saja dibuka paksa dari luka yang belum pernah benar-benar sembuh.
Usman masih memandangnya dalam diam. Tatapan lelaki itu penuh sesak sekarang. “Ais,”
“Jangan…” Suara Amira tiba-tiba memotong. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dipenuhi air mata. “Tolong jangan panggil begitu lagi.”
Usman langsung terdiam.
Napas Amira memburu. “Ais,” bibirnya bergetar menyebut nama itu sendiri, “Aisyah sudah mati.” Air matanya jatuh semakin deras. “Terkubur waktu usianya masih kecil.”
Kalimat itu menghantam semua orang di sana. Bahkan Umi Salma sampai langsung berkaca-kaca. Sementara Usman membeku mendengar suara Amira yang begitu hancur.
“Anak itu,” Amira tersenyum pahit sambil menangis, “hilang sejak hari itu.”
Hari ketika dirinya dipermalukan. Hari ketika kerudungnya ditarik. Hari ketika tubuh kecilnya hampir dirusak. Hari ketika rasa aman dalam hidupnya hancur selamanya.
Amira menutup wajahnya sambil menangis sesenggukan. “Saya capek…” Suara itu pecah penuh kelelahan. “Saya capek takut terus…”
Dada Usman terasa sesak luar biasa. Karena baru sekarang ia memahami betapa besar luka yang dibawa Amira sepanjang hidupnya. Dan yang paling menyakitkan semua itu terjadi di dekatnya. Di kampungnya. Tetapi Usman tak tahu bagaimana kisah selengkapnya.