"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Endusan Anjing Roh Jinyowon
"Cukup, Do-Hyun!" potong Seo-Jun tajam. Suasana seketika membeku.
"Jangan menyebutnya monster. Kalian tidak mengenalnya. Kalian hanya melihat apa yang ingin kalian lihat."
Nara tersentak. Ia menatap punggung Seo-Jun dengan perasaan tak percaya.
"Kenapa kau membelanya, Seo-Jun? Dia membunuh banyak rekan kita!" balas Do-Hyun.
"Dia melakukan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini," jawab Seo-Jun dingin. Ia menatap meja batu kosong itu dengan tatapan pedih, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang berharga untuk kedua kalinya.
"Kehilangan jasadnya adalah kegagalan kita, bukan kejahatannya."
Seo-Jun berbalik dan pergi dengan amarah yang tertahan.
"Kenapa dia selalu sensitif jika membahas Nara?" bisik Ji-Hoon pada Han-Seol dan Do-Hyun.
Han-Seol hanya mengedikkan bahu, sementara Do-Kwang dan yang lainnya mulai keluar meninggalkan mereka berdua.
Nara berdiri mematung, menatap kepergian Seo-Jun. Air mata yang hampir jatuh segera ia seka. Di tengah kebohongan ini, ia menyadari bahwa musuh yang ingin ia hancurkan adalah satu-satunya orang yang diam-diam masih menjaga kehormatannya.
Han-Seol mendekati Nara, berbisik pelan di sampingnya. "Kau dengar itu, Guru? Ada satu orang di sini yang meratapi kematianmu. Bagaimana rasanya dibela oleh orang yang kau anggap musuh?"
Nara tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya, menelan seluruh kepahitan itu bulat-bulat.
*****
Malam di halaman Cheon-gi Won terasa mencekam. Bau kain terbakar masih pekat, bercampur dengan kabut yang merayap dari Danau Cheon-gi.
Penyihir Do-Kwang berdiri di tengah aula, wajahnya mengeras di bawah cahaya obor.
"Serangan ini bukan kebetulan," desis Do-Kwang.
"Ada tikus yang membukakan gerbang dari dalam. Seseorang telah menuntun para penyusup itu langsung ke jantung kita untuk mencuri jasad Nara!"
Master Baek Si-On mengelus janggut peraknya. "Kita harus menjaga sisa artefak lain. Jika mereka bisa menembus Paviliun Jatmika, artinya keamanan kita hanyalah ilusi."
Sementara itu, di koridor yang remang-remang, Han-Seol menyudutkan Seol-Ah (Nara) ke dinding batu yang lembap.
"Seol-Ah... jadilah guruku," bisik Han-Seol, tatapannya membara oleh keputusasaan. "Hanya kau yang tahu cara menghancurkan segel ini. Jika aku tetap menjadi manusia cacat, aku tidak akan bisa melindungimu, apalagi merebut kembali jasadmu."
Nara mendengus, memalingkan wajah. "Aku sudah bilang, aku tidak sudi mengajari keturunan Han-Gyeol. Cari saja penyihir lain untuk melayanimu."
"Begitu? Sepertinya kau butuh sedikit... motivasi."
Han-Seol menekan sebuah batu rahasia di dinding.
KRAKK!
Jeruji besi sihir berpendar biru turun dari langit-langit, mengurung Nara di sudut koridor. Uap panas mulai keluar dari celah lantai, membuat suhu meningkat drastis.
"Kau gila, Han-Seol?! Buka pintunya!" teriak Nara. Ia mencoba menyentuh jeruji, namun CRIETTT! percikan listrik sihir menyengat tangannya.
Han-Seol berdiri di balik jeruji dengan wajah datar. "Aku hanya ingin kau merasa nyaman, Guru. Terimalah tawaranku, ajari aku cara mengalirkan energi, dan aku akan mematikan 'pemanas' ini. Adil, bukan?"
"Kau bajingan kecil yang licik!" Nara memaki sembari mencoba meraih kerah baju Han-Seol dari celah jeruji.
Mereka sempat terlibat aksi jambak-jambakan kecil yang konyol—Nara menarik rambut Han-Seol dan Han-Seol mencoba menahan tangan Nara—sebelum akhirnya Han-Seol luluh karena melihat wajah Seol-Ah mulai memerah pucat.
Setelah jebakan dimatikan, Nara menatap Han-Seol dengan tajam. "Baik. Aku terima. Tapi dengan satu syarat mutlak."
"Apa pun," sahut Han-Seol cepat.
"Bantu aku mendapatkan kembali pedang pusakaku. Pedang itu adalah bagian dari jiwaku. Tanpanya, sihirku tidak akan pulih seutuhnya. Jika pedang itu kembali, aku hanya butuh satu malam untuk menghancurkan segel di tubuhmu."
Percakapan mereka terhenti saat seorang pengawal muncul. "Kalian berdua! Ikuti aku ke aula depan! Penyihir Do-Kwang memerintahkan semua orang berkumpul untuk pemeriksaan!"
Pemeriksaan di Aula Utama
Ratusan orang berbaris rapi di aula besar. Di depan mereka berdiri Jin Chae-Rin, pewaris Jinyowon yang anggun. Ia memegang sebuah artefak kuningan kuno yang mengeluarkan suara berdenging rendah.
"Chae-Rin, silakan dimulai," perintah Do-Kwang.
Jin Chae-Rin merapal mantra pendek. Seketika, asap hitam pekat keluar dari tabung tersebut, menggumpal, dan membentuk sosok Anjing Roh Jinyowon.
Makhluk itu sebesar singa, tubuhnya dari bayangan yang bergejolak dengan mata kuning menyala seperti api neraka.
GRRRRR...
Anjing itu mengendus udara, melompat di antara kerumunan dengan gerakan patah-patah yang mengerikan.
Han-Seol secara refleks menggenggam tangan Seol-Ah di balik punggungnya, mencoba meredam energi Nara yang mungkin bocor.
Seol-Ah berkeringat dingin; jika anjing itu mendeteksi jiwanya yang berpindah, semuanya berakhir.
Anjing itu mendekat, moncongnya yang gelap hanya berjarak beberapa senti dari wajah Seol-Ah. Nara menahan napas, matanya terpejam rapat.
GRAAAAWR!
Tiba-tiba, seorang pengawal di barisan belakang menjerit. Tubuhnya mengejang, matanya memutih, dan kulitnya perlahan mengeras menjadi batu hitam yang retak-retak. Anjing roh itu langsung memutar tubuhnya dan melompat ke arah lantai dua, mengejar pria yang ternyata sudah dirasuki oleh energi hitam.
"Itu pengkhianatnya! Tangkap dia!" teriak Master Baek.
Suasana menjadi kacau balau. Pengawal yang telah menjadi monster batu itu melompat turun, menghancurkan lantai batu.
BRAKK!
Ia mengayunkan tangannya yang sekeras baja, memukul mundur lima penyihir sekaligus.
Han-Seol menarik Seol-Ah ke balik pilar besar.
"Tetap di sini!" perintah Han-Seol.
"Jangan bodoh, Han-Seol!" Nara berbisik tajam.
"Monster itu bukan manusia lagi. Tanpa energi naga, kau hanya akan jadi rempeyek di tangannya!"
Namun Han-Seol justru menyeringai tipis. "Maka ini adalah pelajaran pertamaku, Guru. Perhatikan baik-baik bagaimana muridmu bertahan hidup tanpa sihir."
Han-Seol berlari menerjang, menyambar tombak dari tangan pengawal yang tumbang. Ia melesat bersama para penyihir lain, mengejar sosok yang kehilangan kendali itu hingga ke tengah halaman luas Cheon-gi Won. Dengan seluruh tenaga fisiknya, Han-Seol melempar tombak itu tepat ke arah punggung si pengkhianat.
TRAK!
Tombak itu menghantam kulit keras si monster, namun alih-alih menembus, gagang kayunya justru patah berkeping-keping.
Monster itu berhenti, perlahan memutar lehernya yang berderit seperti gesekan batu, lalu menggeram ke arah Han-Seol dengan mata yang meredup.
"Sial!" desis Han-Seol sembari mundur selangkah.
Para penyihir elit segera mengepung, mengayunkan pedang sihir mereka secara bersamaan. Namun, monster itu mengeluarkan ledakan energi hitam yang dahsyat.
DUAR!
Belasan penyihir terpental ke udara dan ambruk seketika.
Kini, tidak ada lagi penghalang antara si monster dan Han-Seol. Makhluk itu melompat dengan tangan sekeras granit yang siap menghancurkan kepala Han-Seol. Di tengah kekacauan itu, sebuah kilatan perak melesat secepat cahaya, membelah kabut malam.
SING!
Baek Seo-Jun muncul dari balik pilar megah. Pedangnya bersinar dengan aura putih yang murni dan menindas. Dengan satu gerakan yang sangat presisi, Seo-Jun meliuk menghindari pukulan maut si monster dan dalam satu tarikan napas, ia menghujamkan pedangnya tepat ke jantung sang pengkhianat.
JLEBB!
Energi suci dari pedang Seo-Jun menjalar seperti kilat di dalam tubuh si monster. Detik itu juga, proses pembatuan yang tadinya lambat menjadi absolut.
Suara derit batu yang mengeras memenuhi udara. Tubuh pengawal itu membeku seutuhnya dalam posisi berdiri; wajahnya yang penuh ketakutan dan mata yang membelalak kini abadi dalam batu hitam yang retak-retak. Ia tidak hancur, melainkan berdiri tegak layaknya patung kutukan di tengah halaman, menjadi saksi bisu atas kegagalan sihir terlarang.
Keheningan kembali menyelimuti Cheon-gi Won. Seo-Jun menyarungkan pedangnya dengan dentingan yang dingin, matanya menatap tajam ke arah patung batu itu tanpa sedikit pun belas kasihan.
"Bawa patung ini ke ruang bawah tanah," perintah Seo-Jun dingin kepada para pengawal yang tersisa. "Jangan biarkan rakyat melihat noda ini."