NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Dimas berdiri terpaku di tempatnya, matanya tak berkedip menatap punggung Ani dan Damar yang berjalan beriringan menjauh menuju pintu lift. Tatapannya tajam, penuh kebingungan yang bercampur rasa tidak percaya yang mendalam. Di dalam kepalanya, ribuan pertanyaan berputar kacau bagai badai.

" Apa yang terjadi? Kenapa Ani ada di sini? Kenapa dia berjalan masuk ke kantor ini? Dan yang paling membuatku heran... kenapa dia berjalan bersama Damar?" batin Dimas bergemuruh.

Bagi Dimas, Damar bukanlah orang sembarangan. Damar adalah pemimpin perusahaan, orang nomor dua setelah pemilik utama, sosok yang dihormati, disegani, dan ditakuti oleh semua karyawan. Dimas sendiri saja harus berhati-hati dan sopan santun luar biasa setiap kali berhadapan dengan Damar. Ia mengingat betul dulu bagaimana ia bisa diterima bekerja di sini semata-mata karena permohonan Ani, karena Ani adalah sahabat dekat Damar.

 Namun setelah ia diterima, hubungan itu jarang tersentuh lagi. Damar bersikap profesional, menjaga jarak, dan Dimas pun merasa bangga bisa naik jabatan berkat kemampuannya sendiri, seolah melupakan siapa yang membukakan pintu itu.

Tapi pemandangan yang baru saja ia saksikan itu... Ani, wanita yang ia tinggalkan dalam keadaan hancur, wanita yang ia kira sedang meratapi nasib dan dikasihani orang, kini berjalan masuk ke kantornya dengan penampilan rapi, tegap, dan berwibawa. Lebih dari itu, Damar atasannya sendiri, orang yang jarang tersenyum pada siapa pun berjalan di samping Ani sambil menepuk bahunya dengan lembut, penuh perhatian dan rasa hormat.

Rasa heran itu perlahan berubah menjadi rasa tidak nyaman yang menjalar dingin masuk ke dalam relung jiwa Dimas. Perasaan aneh, asing, namun sangat menyakitkan itu mulai mencengkeram dadanya erat sekali.

Rina yang berdiri di sampingnya sejak tadi, mulai merasakan ketegangan yang melanda tubuh kekasihnya. Ia menarik lengan Dimas pelan, berusaha mengalihkan perhatian. "Mas... siapa wanita itu ? Kenapa Mas diam saja? Ayo masuk, nanti terlambat," bujuknya dengan nada manja, meski di matanya terselip rasa curiga dan tidak suka.

Namun Dimas seolah tidak mendengar. Ia melepaskan pelan genggaman tangan Rina di lengannya, matanya masih terpaku pada pintu lift yang kini sudah tertutup rapat, membawa Ani dan Damar naik ke lantai atas. Wajah Dimas berubah keruh, alisnya mengerut dalam, rahangnya mengeras menahan amarah yang tiba-tiba meledak tanpa sebab yang jelas.

"Kenapa... kenapa dia sama Pak Damar?" gumam Dimas pelan, suaranya berat dan penuh emosi yang tertahan.

Rina mengerutkan kening, ikut menatap pintu lift itu dengan pandangan benci. "Siapa dia sih, Mas? Kelihatannya akrab sekali sama Pak Damar. Jangan-jangan..." Rina sengaja menggantung kalimatnya, berusaha menanamkan kecurigaan.

Dimas menoleh tajam ke arah Rina, tatapannya tajam dan penuh amarah yang entah ditujukan pada siapa. "Dia itu Ani. Istriku... mantan istriku," jawab Dimas ketus, nada bicaranya kasar dan tidak bersahabat.

Jantung Dimas berdebar kencang, bukan lagi karena rasa rindu atau rasa bersalah, melainkan karena rasa cemburu yang membakar hatinya. Ya, cemburu. Perasaan itu datang tiba-tiba, kuat, dan menyiksa. Dimas tidak terima. Ia sama sekali tidak terima.

Di lubuk hatinya yang paling dalam, meski ia sudah meninggalkan Ani, meski ia sudah menyakiti dan mengkhianati istrinya itu, Dimas selalu merasa bahwa Ani adalah miliknya. Ia menganggap Ani sebagai barang miliknya yang sudah ia buang, barang bekas yang sudah tidak ia inginkan, dan ia pikir akan tergeletak rusak dan tidak ada yang menginginkannya lagi. Ia membayangkan Ani akan tetap menunggunya, akan tetap menderita, akan tetap menjadi wanita yang lemah yang hanya bisa bergantung padanya.

Tapi hari ini, kenyataan menamparnya keras-keras. Wanita yang ia buang itu, wanita yang ia anggap tidak berharga itu, kini berdiri tegak di tempat yang sama dengannya. Dan lebih parah lagi... wanita itu berjalan di samping Damar, pria yang memiliki segalanya, pria yang lebih berkuasa, lebih cerdas, lebih berkedudukan, dan jauh lebih baik darinya. Damar, atasannya sendiri.

Rasa harga dirinya yang tinggi, keangkuhannya, dan rasa kepemilikannya yang semu itu runtuh seketika. Dimas merasa terhina, merasa diremehkan, merasa dikalahkan. Bagaimana bisa wanita yang ia tinggalkan, wanita yang ia remehkan, justru mendapatkan perhatian dan kedudukan yang jauh lebih terhormat daripada dirinya? Bagaimana bisa Ani berjalan bebas, tersenyum tenang, dan berjalan berdampingan dengan orang yang paling ia segani, sementara Ani dulu tidak pernah berani berjalan beriringan dengannya dengan setenang itu?

Dia pergi sama Pak Damar... Dia akrab sama Pak Damar... pikiran itu terus berputar di kepala Dimas, menusuk-nusuk hatinya bagai duri.

Amarah perlahan naik ke ubun - ubunnya. Dimas merasa tidak terima. Ia merasa Ani telah berani "berkhianat" lagi, berani mendekati pria lain, apalagi pria itu adalah atasannya sendiri. Di benak Dimas yang picik dan penuh ego itu, ia merasa Ani melakukan hal ini hanya untuk membalasnya, untuk membuatnya cemburu, untuk menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan pria yang lebih baik. Dan pemikiran itu justru membuat rasa tidak sukanya makin membara.

"Mas, kok diam saja sih? Memangnya ada apa kalau dia sama Pak Damar? Kan dia sudah bukan siapa-siapa lagi buat Mas," suara Rina kembali terdengar, kali ini bernada sinis dan ingin mengadu domba. "Mungkin saja dia cari peruntungan di sini. Wanita seperti dia... mana tahan hidup susah. Pasti cari jalan pintas."

Kata-kata Rina seolah menumpahkan bensin ke atas api yang sudah berkobar di hati Dimas. Ia menatap Rina dengan pandangan tajam yang membuat wanita itu tersentak kaget. Dimas tidak suka mendengar orang lain bicara buruk tentang Ani, meski dialah orang pertama yang menyakiti dan membuang Ani. Ada rasa posesif yang kacau di sana.

"Diam kamu! Kamu tidak tahu apa-apa!" bentak Dimas kasar, suaranya tinggi dan penuh emosi.

Rina terbelalak, matanya berkaca-kaca karena kaget dan marah. "Mas Dimas... Mas marah sama aku? Demi wanita itu? Demi mantan istri Mas yang sudah dibuang itu?" suaranya meninggi, mulai emosi juga.

Namun Dimas tidak menanggapi lagi. Ia berbalik badan dengan langkah berat dan cepat, masuk ke dalam gedung kantor. Dadanya sesak, napasnya berat. Ia merasa terganggu, sangat terganggu. Kehadiran Ani di sini, kemewahan tempat tinggalnya yang tersirat dari penampilannya, dan yang paling parah kedekatannya dengan Damar... semua itu membuat rasa percaya dirinya yang palsu runtuh seketika.

Ia naik ke lantai atas dengan perasaan kacau balau. Di dalam hatinya, rasa tidak terima itu semakin membesar. Ia merasa posisinya terancam. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia tidak terima melihat Ani bahagia, tidak terima melihat Ani bersinar, dan paling tidak terima... melihat Ani berada dekat dengan Damar, pria yang selama ini ia kagumi dan segani, namun kini justru pria itu terlihat lebih menghargai Ani daripada dirinya sendiri.

Dimas duduk di kursi kerjanya, menatap pintu ruangan Damar yang tertutup rapat di ujung lorong. Di dalam sana, Ani ada di sana. Di dalam sana, Ani sedang diterima, dihargai, dan diberi tempat. Rasa cemburu yang menyakitkan, rasa iri yang keliru, dan rasa tidak terima yang beracun bercampur menjadi satu di hati Dimas.

"Kamu pikir kamu sudah jadi siapa, Ani?" batin Dimas geram, tangannya mengepal kuat di atas meja. "Kamu milikku! Sekalipun aku buang kamu, kamu tetap milikku! Tidak boleh ada orang lain yang punya kamu, apalagi dia... apalagi Pak Damar! Aku tidak akan membiarkanmu bersinar lebih terang dariku. Aku tidak akan membiarkanmu menang!"

Di saat Ani sedang duduk tenang di ruangan Damar, mendengarkan penjelasan tugas dengan penuh semangat dan ketulusan, di sisi lain gedung itu, Dimas sedang dipenuhi oleh api kecemburuan dan kebencian yang keliru. Ia tidak sadar, bahwa rasa tidak terima yang ia rasakan itu sesungguhnya adalah tanda bahwa ia masih menginginkan Ani, bukan karena cinta, melainkan karena ego semata. Ia tidak rela kehilangan apa pun yang pernah menjadi miliknya, meski ia sendiri sudah membuangnya jauh-jauh.

Dan di situlah, di detik itu juga, benih-benih persaingan dan masalah baru mulai tertanam. Dimas bertekad dalam hati yang gelap itu: ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia akan mengganggu. Ia akan menghalangi. Ia akan memastikan, bahwa Ani tidak akan pernah bisa lebih baik darinya, tidak akan pernah bisa bahagia tanpa dirinya, dan tidak akan pernah bisa berada di dekat Damar atau siapa pun lagi. Baginya, kehadiran Ani di sini bukanlah kebangkitan wanita itu, melainkan ancaman bagi harga dirinya yang rapuh.

Bersambung,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!