Stefani Agnesia Smith, Dokter cantik berumur 22 tahun yang terlahir dari keluarga terpandang. Memiliki otak super cerdas dan cantik membuat semua pria tertarik kepadanya. Tapi karena sifatnya yang judes dan dingin membuat semua lelaki tidak berani untuk mendekatinya. Hingga ada seorang pria tampan yang merupakan ceo muda dari perusahaan terkenal mendekatinya.
Bisakah sang Ceo menaklukan hati si Dokter cantik?
Tunggu lanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leo nyebelin
Leo pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. ia meninggalkan Stefani yang masih menangis di kamar tidurnya. Sudah 3 jam lamanya gadis itu masih menangis.
"Huft....lo nggak capek nangis terus?" ucap Leo saat dirinya telah kembali ke kamar dan melihat Stefani masih betah dengan tangisannya.
"Hiks...lo jahat sama gue...hiks...kenapa lo lakuin itu...hiks..gue benci sama lo.." belum sempat Stefani menyelesaikan ucapannya, Leo sudah meletakkan jari telunjuknya di bibir Stefani. Hal itu langsung membuatnya terdiam seketika.
"Sttt...dengerin gue baik-baik" ucap Leo dengan serius. Stefani menatap lekat ke manik hitam pekat milik Leo dengan jari telunjuk Leo yang masih menempel di bibirnya.
"Gue minta maaf...gue nggak bermaksud ngelakuin ini ke lo. Tapi..." Leo menggantungkan kalimatnya, ia lalu menarik nafas dalam².
"Gue cuma bercanda, gue nggak nidurin lo kok. Sumpah hehe..." lanjut Leo dengan menyengir memamerkan deretan giginya yang rapi. Hal ini membuat Stefani naik pitam. ia memukul Leo dengan bantal.
"aaaa leo....lo nyebelin banget sih. Lo udah bikin gue hampir janyungan tau nggak. hiks..lo nyebelin..nyebelin...nyebelin" Teriak Stefani sambil terus memukul Leo dengan bantal.
"Ampun..ampun..iya² gue minta maaf" ucap Leo sambil menghalau timpukan Stefani. Stefani menghentikan aksinya. ia menatap tajam kearah Leo sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lo nyebelin...kenapa lo bohongin gue coba" ketus Stefani sambil memalingkan wajahnya dari Leo.
"Emang lo mau kalo kejadian beneran?...kalo lo mau sih gapapa. Gue mah siap lahir batin. Sekarang pun gue layanin kalo lo mau" goda Leo.
"ihhh...apaan sih lo. Dasar otak mesum" cebik Stefani kembali memukul Leo dengan bantal.
"Stop please. " ucap Leo. Stefani menghentikan tindakannya. ia bahkan melupakan tubuhnya yang tengah telanjang.
"Lo mau goda gue?" ucap Leo sambil menyeringai
"Maksud lo?" tanya Stefani tak mengerti.
Leo menatap belahan dada Stefani yang sedikit terekspos karena selimutnya melorot saat dia bergerak tadi. Stefani mengikuti arah tatapan Leo, sontak ia segera menarik selimut itu hingga menutupnya sampai ke leher.
"Dasar mesum!!!" seru Stefani.
"Siapa suruh diliatin. Cowok mana coba yang nggak kegoda di suguhin sama keindahan duniawi. Untung gue kuat iman" ucap Leo santai. Stefani hanya mendengus malas.
"Terus tadi siapa yang buka baju gue?" tanya Stefani dengan tatapan mengintimidasi.
"Gue lah siapa lagi" jawab Leo dengan senyum jahilnya.
"Leo gue serius" tukas Stefani.
"gue juga serius Fan. Emang lo liat disini ada orang lain selain kita berdua" ucap Leo santai. Berbeda dengan Stefani yang mulai panik tak karuan.
"Gak. Lo pasti bohongkan sama gue. Lo pasti nggak serius kan" bantah Stefani.
"Terserah kalo lo nggak percaya" jawab Leo. Stefani terdiam. Perasaannya campur aduk sekarang. Antara malu, takut, dan bingung menyatu jadi satu. Jadi, leo udah liat semuanya. Arghhh kenapa ini harus terjadi tuhan, batin Stefani.
Leo tersenyum puas saat melihat raut wajah masam Stefani. ia tau apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Tapi dia memilih diam.
"Lo mending mandi sana. atau lo mau mandi bareng sama gue" goda Leo. Stefani mencebik kesal. ia lalu berjalan dengan selimut yang melilit tubuh polosnya meninggalkan Leo tanpa sepatah kata pun. ia lalu masuk kamar mandi, tak lupa ia juga mengunci pintu. Takut sewaktu-waktu hal tidak diinginkan terjadi.
30 menit berlalu. Stefani keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya. memanerkan paha dan dada mulusnya. ia membiarkan rambutnya yang basah tergerai. Leo yang tadi membaca majalah beralih menatap Stefani. Leo menelan salivanya kasar. Bagaimana pun dia adalah lelaki normal yang pasti tergoda melihat hal itu di depannya.
Stefani melihat Leo yang menatapnya tak berkedip. ia merasa sangat malu. Sebenarnya dia ragu untuk keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Bagaimana pun ia ingat jelas bahwa ini adalah kamar seorang pria, Leo. Tapi tak ada pilihan lain, ia tidak membawa baju sama sekali dan dia lupa tidak bertanya pada Leo dimana bajunya. Lagi pula dia tidak betah berlama-lama di kamar mandi.
"Apa tidak ada baju yang bisa ku pakai?" tanya Stefani dengan pipi merona. Leo tersadar dari lamunannya. ia mencoba mengontrol diri agar tidak lepas kendali saat ini juga. Bisa² dia melakukan kesalahan yang amat fatal. Sebrengsekk-brengsekknya Leo, ia tidak pernah mau meniduri perempuan manapun kecuali istrinya kelak. Apalagi dengan cara memaksa (Pemerkosaan)
"Emm ini..gue udah beliin baju buat lo" jawab Leo dengan gugup. ia lalu menyerahkan paper bag ke Stefani. Stefani menerima paper bag itu dan lekas masuk ke kamar mandi untuk memakai baju.
Saat Stefani membuka paper bag itu, ia tercengang saat melihat pakaian itu lengkap dengan pakaian dalamnya.
"Gila...mau ditaroh mana muka gue nanti" gerutu Stefani. ia merasa sangat malu. Leo membelikan pakaian untuknya dan beserta pakaian dalamnya
..Oh god....Stefani sangat ingin menghilang dari tempat ini saat ini juga. Apalagi Leo adalah seorang laki² yang baru dia kenal.
Stefani tak mau ambil pusing, ia lalu memakai pakaian dari Leo karena dia sudah sangat kedinginan. Dan anehnya, pakaian itu sangat pas ditubuh Stefani. Dress selutut tanpa lengan berwarna navy sangat cocok pada kulitnya yang putih.
Stefani keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Leo menatap Stefani tanpa berkedip.
"Cantik" gumamnya dalam hati
Stefani jadi salting sendiri melihat Leo menatapnya begitu lekat.
"Nih orang ngapain coba ngeliatin gue sampek segitunya" batin Stefani
Tring.....tringg....
Bunyi ponsel berdering membuyarkan lamunan mereka. Suara itu berasal dari ponsel Stefani, ia lalu mengambil ponselnya dan mengangkat pamggilan itu
"Hallo" ucap Stefani.
"Hallo dok, anda sedang dimana?" tanya Vanya dari sebrang telfon.
"emm aku, aku sedang...aku sedang di jalan. Ada apa?" alibi Stefani. Leo tersenyum kecil saat mendengar kebohongan Stefani.
"Disini ada 2 pasien terluka parah dok. Apa anda bisa segera datsng kesini?"
"Baiklah aku kesana sekarang" ia lalu mematikan telfon sepihak.
"Lo pembohong terburuk yang pernah ada" ledek Leo. Stefani mengabaikan ucapan Leo, ia mengambil bedak yang ada di tasnya. ia lalu berjalan menuju meja rias yang ada di kamar leo. Stefani memoleskan sedikit bedak agar mukanya tidak terlalu kusam. ia juga memoleskan liptint pada bibirnya.
Leo terus menatap Stefani yang sedang merias diri di meja rias miliknya.
"Ngapain dandan, lo nggak dandan aja tetep cantik"ucap Leo yang sukses membuat pipi Stefani merona.
"Ada sisir nggak?" tanya Stefani yang menyimpang dari pembicaraan.
"Tuh di laci nomer 2" jawab Leo. Stefani mengambil sisir itu dan mulai menyisir rambut coklat terangnya yang agak berantakan.
"Gue cabut dulu, thanks buat semuanya" ucap Stefani dan hendak pergi meninggalkan kamar Leo.
"Lo mau kemana?"
"Ke rumah sakit"
"Biar gue anter"
"Nggak usah"
"Lo mau naik apa?, mobil lo tadi gue tinggal.udah ikut aja, gue nggak bakal culik lo" ucap Leo. ia lalu berjalan mendahului Stefani. mau tak mau, Stefani mengikuti langkah kaki Leo. Sampai mereka di depan kamar, ada seorang pelayan datang sambil membawa paper bag.
"Maaf tuan, ini baju punya nona semalam yang anda suruh saya untuk melepas dan mencucinya. ini sudah bersih" ucap maid itu. Leo mengambil paper bag itu sambil mengucap terima kasih.
"Nih" Leo menyodorkan paper bag itu pada Stefani. Stefani membuka paper bag itu.
"Lo ngerjain gue lagi" cebik Stefani. Leo hanya menampilkan cengir watadosnya.
**Tandai typo...jangan lupa like, coment, and vote ya guys. Mampir juga ke" Beautiful bad girl"
Happy reading 😘**