"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putraku
“Tidak ada, Aku hanya ingin memastikan bahwa keadaan pangeran kelima baik-baik saja di dalam asuhanmu.” Sang Kaisar menghela nafas, dirinya merasa perilaku permaisuri benar-benar berubah.
Tidak memelas menginginkan dirinya berlama-lama di tempat ini. Namun sekarang, seperti hanya mengutamakan pangeran kelima.
“Anak Ibu sayang, Apa kamu suka kue bunga? Nanti ibu akan meminta dayang untuk membawakan lebih banyak. Kamu benar-benar tampan seperti ayahmu…” permaisuri memuji putranya, kemudian memberikan lebih banyak kue bunga.
“Terima kasih ibunda, hamba menyukainya.” Anak berusia 5 tahun itu tersenyum begitu ceria. Memakan kue bunga dengan rakus.
Apa yang ada di pikirannya? Dirinya cemburu dengan putranya sendiri? Cemburu dengan anak berusia 5 tahun?
Kaisar segera menggeleng. Permaisuri hanya mencintainya. Permaisuri adalah bidak catur yang digerakkannya untuk menghentikan semua langkah keluarga Lin. Setelah kekuasaan keluarga Lin dihancurkan. Maka status permaisuri akan diturunkan, kemudian dieksekusi.
“Permaisuri, kamu harus menjaga pangeran kelima baik-baik.”
“Tentu saja…” pandangan mata wanita itu menatap ke arah Kaisar. Penampilannya yang cantik, bentuk tubuh yang indah, gerak-gerik yang begitu anggun tapi berani. Benar-benar membuat sang Kaisar menghela nafas.
Tapi hanya sepersekian detik, pandangan mata sang permaisuri kembali beralih kepada putranya.”Lian sayang…nanti ibunda akan membuatkan layang-layang untukmu. Kakekmu juga sudah berjanji akan memberikan banyak mainan padamu. Dia pasti akan senang memiliki seorang cucu yang begitu tampan.”
“Terima kasih ibunda…Lian akan menjadi anak yang berbakti.” Itulah yang diucapkan oleh anak kecil itu. Permaisuri kembali mencubit pipinya tidak mempedulikan keberadaan Kaisar di tempat ini.
“Kalau begitu aku akan pergi ke istana selir.” Kaisar sengaja meninggikan nada bicaranya, agar sang permaisuri peduli.
“Pergilah, Maaf mengganggu waktu kaisar yang paling berharga…” permaisuri malah berucap demikian.
Kemudian mengambil tali, membuat simpul.
“Ibunda membuat apa?” Tanya sang anak kepada ibunya.
“Membuatkan gelang, nanti Lian akan memakai gelang buatan ibu. Kita akan memiliki gelang sepasang, gelang ibu dan anak.” Kalimat yang diucapkan oleh sang permaisuri kepada putranya.
“Wah…ibunda begitu pandai membuatnya. Lian sangat suka…” anak berusia 5 tahun yang terlihat begitu kagum.
Kaisar menghela nafas, dirinya bahkan tidak dipedulikan saat mengatakan ingin pergi ke istana selir. Ada apa sebenarnya dengan permaisuri. Dan gelang itu…seingatnya saat mereka baru menikah, permaisuri pernah membuat gelang dengan warna merah yang indah. Mengatakan itu adalah gelang pengikat diantara mereka. Gelang pembawa keberuntungan. Tapi saat di medan perang, dirinya dengan sengaja melemparkan gelang itu. Benar-benar melepaskannya.
Saat dirinya kembali permaisuri masih memakainya. Bahkan hingga saat ini…
Tapi sekarang? Gelang merah itu benar-benar menghilang dari tangan permaisuri.
“Aku akan pergi ke istana selir!” Kali ini Kaisar dapat dikatakan hampir berteriak.
“Hamba mendengarnya yang mulia. Silakan pergi ke istana selir, karena selir Wen dan selir Shu tengah mengandung. Mereka memerlukan perhatian yang mulia. Sebagai permaisuri yang baik, hamba tidak akan memiliki rasa cemburu.” Itulah yang diucapkan oleh sang permaisuri.
Tidak memandang ke arah Kaisar lagi, tapi bagaikan konsentrasi membuat gelang itu. Gelang yang kemudian diikatkan pada permata giok berbentuk seperti uang logam. Benar-benar terlihat indah, bahkan lebih indah daripada gelang yang dulu dibuatkan oleh permaisuri untuk Kaisar.
“Aku benar-benar pergi!” Lagi-lagi Kaisar mengerutkan keningnya. Tidakkah wanita ini ingin menghentikannya?
“Pergilah, hamba tahu yang melihat sibuk.” Lagi lagi wanita berpakaian anggun dengan mahkota Phoenix nya ini, sama sekali tidak menatap ke arah kepergiannya.
Entah kenapa hati Kaisar menjadi sedikit resah. Pada akhirnya menggertakkan giginya meninggalkan istana Phoenix.
Ketika Kaisar pergi, mata permaisuri tertuju kepada pintu keluar.
“Dasar brengsek…” permaisuri mengangkat sebelah alisnya.”Riri!” Panggilnya kepada dayang kepercayaannya.”Sebarkan garam, Aku tidak ingin istana Phoenix menjadi sial karena dikunjungi oleh kaisar Brengsek itu. Dia kan kotor dan pembawa sial.”
“Baik yang mulia…” sang dayang mengikuti perintah majikannya.
“Yang mulia permaisuri tidak menyukai ayahanda?” Tanya anak kecil itu begitu polos, berkedip beberapa kali.
“Ada beberapa hal yang anak sepertimu tidak cukup bagus untuk ketahui. Tapi, ibunya memang tidak begitu menyukai ayahanda. Kenapa? Kamu menyukai kaisar?” Tanya sang permaisuri, anak ini terlihat begitu polos dan jujur.
Dengan cepat pangeran kelima menggeleng.”Ayahanda hanya bermain dengan pangeran lainnya. Bahkan memangku putri lainnya. Hamba pernah…” anak itu seperti gemetaran ragu untuk berucap.
“Apa yang dilakukan orang sinting itu kepadamu?” Permaisuri mengerutkan keningnya. Satu-satunya orang yang berani menghina Kaisar. Itu semua karena kekuasaan keluarga Lin saat ini begitu kuat. Bahkan untuk melakukan kudeta, bukan hal yang sulit. Tapi tentu saja, kudeta akan mendatangkan banyak korban dari rakyat.
Seorang anak yang bagaikan ragu untuk mengatakannya. Hingga pada akhirnya, sang permaisuri menghela nafas. Menggenggam jemari tangannya.”Ingat, sekarang kamu memiliki Ibu dan seorang kakek yang menjadi jenderal besar. Katakan semuanya, apa yang Kaisar lakukan padamu.”
“Hamba benar-benar tidak merusak lukisannya. Itu adalah perbuatan pangeran ke-2. Tapi kebetulan hamba melintas, pangeran kedua mengatakan hamba yang merusak lukisan ayahanda. Ayahanda…” Anak itu tidak melanjutkan kata-katanya, hanya dapat terdiam sembari meneteskan air matanya.
“Kamu! Selidiki semua hal yang terjadi pada pangeran kelima di istana belakang. Apa yang mereka lakukan catat satu persatu. Aku akan menghancurkan orang-orang yang berani melukai putraku…” wanita yang tersenyum menyeringai, memakaikan gelang kepada putranya.
“Baik yang mulia…” seorang Kasim yang memang bertugas di istananya, melangkah pergi, melaksanakan perintah permaisuri.
“Lian…dengar! Ibunda tidak bisa terus-menerus melindungimu. Kamu dapat melakukan apapun menggunakan status ibunda. Tapi satu hal, gunakan untuk kebaikan, dan hanya untuk melindungi dirimu sendiri. Kaisar yang baik, adalah kaisar yang mendengarkan dan melakukan sesuatu dengan penuh keadilan. Lian harus menjadi kaisar yang baik suatu hari nanti. Mengerti?” Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh permaisuri.
Dijawab dengan anggukan kepala oleh anak itu. Anak berusia 5 tahun yang terlihat mengalami trauma yang begitu besar.
***
Pagi harinya dirinya terbangun, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kemarin begitu melelahkan, hari ini seperti biasa, dirinya memilih pakaian sutra terbaik, dan juga perhiasan yang indah. Betapa cantik dirinya, untuk apa menyia-nyiakan kecantikan ini hanya untuk Kaisar Brengsek itu.
Hingga tiba-tiba, suara langkah kaki kecil menginjak lantai kayu terdengar. Berlarian menuju ke arahnya. Anak itu membawa botol kecil, kemudian menyerahkannya kepada permaisuri.
“Ini embun yang hamba kumpulkan. Ada dayang yang pernah berkata, kalau ini bagus untuk kecantikan. Apa ibunda akan menyukainya?” Tanya anak itu penuh harap.
“Yang mulia permaisuri, pangeran kelima bangun pagi-pagi sekali. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk mengumpulkan sebotol embun.” Dayang yang bertugas untuk mengasuh pangeran kelima berucap, pada majikannya.
Belum apa-apa anak ini sudah menunjukkan baktinya. Sungguh perkembangan yang bagus. Benar-benar perkembangan yang indah.
“Ini juga untuk ibunda…karena ibunda benar-benar secantik bunga sakura.” Anak itu menyerahkan setangkai bunga, hanya setangkai bunga yang bagaikan dipetik dengan asal. Tapi menunjukkan maksudnya.
“Semuanya ibunda terima, semuanya akan ibunda hargai. Kamu benar-benar anak yang berbakti.” Permaisuri tersenyum padanya.
Hanya dengan senyuman saja, anak itu kembali memeluknya.”Akhirnya aku memiliki Ibu…Aku punya ibu…” seorang anak yang menangis sesegukan.”Pada awalnya aku mengira ini hanya mimpi. Tapi saat bangun di pagi hari, semuanya masih sama. Pada akhirnya aku punya ibu.”
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣