NovelToon NovelToon
Kontrak Hamil Anak Bos

Kontrak Hamil Anak Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Tabung Kecil, Harapan Baru

Seminggu berlalu sejak pertemuan di ruang eksekutif itu. Sarah masih belum bisa sepenuhnya mencerna apa yang baru saja terjadi. Kontrak itu kini tersimpan rapat di dalam laci meja kerjanya, dibawah tumpukan map laporan keuangan. Meski terlihat tegar di depan Samudra, setiap malam Sarah berguling-guling di kasurnya, memikirkan langkah besar yang akan diambilnya.

Hari itu, hari Jumat, langit Jakarta terlihat cerah. Sarah bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mengenakan dress putih polos dan cardigan tipis berwarna krem. Riasan wajahnya tipis saja. Matanya sedikit sembab karena kurang tidur, tapi ia berusaha terlihat segar. Hari ini adalah jadwal konsultasi pertamanya di Klinik Fertilitas ProVita, klinik spesialis bayi tabung ternama di Jakarta.

Felix sudah menunggu di lobby apartemen Sarah. Sesuai dengan kontrak, semua urusan transportasi, administrasi, dan pendampingan akan diurus langsung oleh Felix. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, mobil hitam mewah itu terasa sunyi. Hanya ada suara radio yang menyanyikan lagu slow. Sarah memilih menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang perlahan berganti menjadi pemandangan rumah sakit yang asri.

“Kamu yakin, Sarah?” tanya Felix memecah keheningan, menatapnya sekilas melalui kaca spion tengah.

Sarah tersenyum tipis. “Felix, kontraknya sudah ditandatangani. Surat perjanjiannya sudah dalam genggaman. Kalau aku mundur sekarang, Bos Samudra pasti bisa menuntutku.”

“Bukan itu maksudku,” Felix menghela napas. “Aku tahu kamu pribadi yang kuat. Tapi ini menyangkut organmu, rahimmu, dan nanti nyawa seseorang. Maksudku, apa kamu benar-benar siap secara mental? Ini bukan cuma soal uang.”

Sarah menunduk. Jujur, kata-kata Felix seperti pisau yang mengiris hatinya. Benar. Uang satu miliar yang ia tawar memang terlihat menggiurkan, tapi ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mengandung anak orang lain, menjalani suntikan hormon, dan puluhan kali pengambilan sel telur... itu adalah persoalan yang berbeda.

“Aku hanya bisa bilang... aku akan menjalaninya dengan profesional,” jawab Sarah akhirnya, meski hatinya sedikit bergetar.

Setiba di rumah sakit, seorang perawat berseragam putih bersih sudah menunggu mereka di pintu masuk. Sarah langsung dibawa ke ruang konseling. Seorang dokter wanita berusia sekitar 40 tahun dengan rambut diikat rapi, dr. Andini, menyambutnya dengan ramah.

“Selamat pagi, Sarah. Silakan duduk. Sebelum kita masuk ke prosedur teknis, ada baiknya kita berdiskusi terlebih dulu tentang kondisi kesehatan dan kesiapan mental Anda,” ujar dr. Andini sambil menatap berkas yang telah dikirim oleh pihak Samudra.

Sarah duduk di kursi pasien, tangannya sedikit meremas ujung bajunya.

“Jadi, dr. Andini, apa yang harus saya lakukan pertama kali?”

Dokter itu tersenyum. “Kami akan melakukan serangkaian pemeriksaan dulu. Mulai dari USG transvaginal untuk mengecek kondisi rahim dan ovarium Anda, lalu tes darah untuk melihat kadar hormon. Ini penting untuk menentukan apakah tubuh Anda cocok untuk proses In Vitro Fertilization (IVF) atau yang biasa kita sebut bayi tabung.”

Sarah mengangguk pelan. Ia sudah membaca banyak artikel tentang IVF, tapi membaca dan mengalaminya adalah dua hal yang sangat berbeda.

“Selanjutnya, jika semuanya dinyatakan sehat, kami akan memberikan suntikan hormon perangsang folikel selama beberapa hari. Tujuannya adalah agar sel telur Anda bisa matang lebih banyak. Jangan khawatir, proses ini diawasi ketat. Kami akan melakukan pantauan USG hampir setiap hari untuk memastikan perkembangannya. Setelah itu barulah dilakukan pengambilan sel telur,” papar dr. Andini.

“Pengambilannya... sakit ya, Dok?” Sarah memberanikan diri bertanya.

“Sebenarnya, pengambilan sel telur dilakukan dengan anestesi ringan. Anda tidak akan merasakan apa-apa saat prosedur berlangsung. Rasa sakitnya lebih ke setelahnya, seperti kram perut yang sama seperti saat PMS. Tapi itu masih bisa diatasi dengan obat pereda nyeri.”

Felix yang duduk di sudut ruangan menyela dengan hati-hati. “Kalau untuk calon ayahnya, kapan harus mengambil spermanya?”

“Sampel dari calon ayah bisa diambil pada hari yang sama saat pengambilan sel telur. Nanti sel telur yang sudah matang akan dicampur dengan sperma di laboratorium. Jika proses pembuahan berhasil, dalam 3 hingga 5 hari, akan terbentuk embrio. Embrio inilah yang nanti akan ditanamkan ke dalam rahim Sarah,” jelas dr. Andini.

Sarah merasakan dadanya berdegup kencang. “Lalu, bagaimana kalau proses penanaman embrio berhasil?”

“Kami akan menunggu sekitar dua minggu. Jika dalam dua minggu itu hasil tes kehamilan Anda positif, maka kehamilan dinyatakan berhasil. Setelah itu, Anda hanya perlu menjalani kontrol rutin kehamilan, seperti ibu hamil pada umumnya. Pola makan harus dijaga, istirahat cukup, dan menghindari stres. Itu kunci suksesnya.”

Sarah menghela napas panjang. Rasa takut mulai menggerogoti hatinya, tapi ia ingat kontrak di laci mejanya. Samudra sudah membayar mahal. Tidak ada jalan mundur.

“Baik, Dokter. Saya siap menjalani semuanya,” ucap Sarah dengan suara mantap.

Prosedur pemeriksaan dimulai. Sarah dibawa ke ruang USG. Ia berbaring di atas ranjang medis, menatap langit-langit ruangan berwarna putih. Gel dingin dioleskan ke perutnya. Tak lama kemudian, layar di sebelahnya menampilkan gambar organ dalam rahimnya. dr. Andini menunjuk beberapa titik.

“Ovarium Anda terlihat sehat, Sarah. Ada cukup banyak folikel kecil yang bisa dirangsang. Ini kabar baik. Besok pagi, kita mulai suntikan hormon pertamanya.”

Sarah hanya bisa mengangguk. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Suntikan. Kata itu selalu membuatnya merinding. Tapi demi uang... demi perjanjian... ia harus kuat.

Dua jam kemudian, seluruh rangkaian pemeriksaan awal selesai. Sarah berganti pakaian dan keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan. Feliks sudah menunggu dengan secangkir kopi hangat.

“Gimana, berat?” tanya Felix.

“Tadi waktu USG sih biasa aja. Tapi besok suntikan pertama, Felix. Aku agak deg-degan,” aku Sarah jujur.

Felix menepuk bahunya ringan. “Kamu wanita kuat, Sarah. Aku yakin kamu bisa. Lagipula, kalau berhasil, selain dapat uang, kamu juga secara tidak langsung menyelamatkan garis keturunan bos.”

Sarah tertawa kecil. “Kamu ini ya, Felix. Kerjanya kok kayak makelar hidup.”

Mereka pun kembali ke kantor. Sarah memutuskan untuk langsung kembali bekerja setelah pemeriksaan selesai. Saat tiba di lobi gedung perkantoran, ia berjalan menuju ruang kerjanya. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Samudra Grayson sedang berdiri di dekat pintu masuk, memegang setumpuk dokumen. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

Sarah menelan ludah. Ia berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Samudra.

“Pak Bos, saya baru saja selesai dari rumah sakit. Dr. Andini bilang semua kondisi kesehatan saya bagus. Mulai besok pagi, saya akan mulai menjalani prosedur suntikan hormon untuk stimulasi sel telur,” lapor Sarah dengan suara profesional, meski napasnya masih agak tersengal.

Samudra menatapnya beberapa saat. Matanya menyusuri wajah Sarah yang sedikit pucat. “Kamu terlihat capek. Suntikannya besok, kan? Pulang saja hari ini, istirahat. Besok jangan telat ke rumah sakit. Felix sudah mengatur jadwal drivernya untuk menjemputmu pukul enam pagi.”

Sarah tertegun. Selama ini, Samudra terkenal sebagai bos yang dingin dan perfeksionis. Tapi nada suaranya sekarang terdengar... lebih manusiawi.

“Tapi Pak, kerjaan saya belum selesai—”

“Itu perintah,” potong Samudra tegas, tapi matanya sedikit melembut. “Kamu butuh kondisi tubuh prima untuk prosedur ini. Jangan sampai kamu kecapekan. Dokter Andini sudah mengingatkanku soal itu. Kesehatanmu adalah prioritas utama sampai kontrak ini selesai.”

Sarah manggut-manggut. Ia tidak bisa membantah perintah langsung dari bosnya. “Baik, Pak. Terima kasih.”

Sarah berbalik dan berjalan menuju lift untuk pulang. Namun saat pintu lift tertutup, ia menatap pantulannya sendiri di kaca pintu. Tadi, ia melihat ada sedikit kerutan di dahi Samudra saat ia melaporkan hasil pemeriksaannya.

Mungkin dia benar-benar khawatir? Atau mungkin dia hanya takut investasi semiliar rupiahnya gagal?

Sarah menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh memikirkan perasaan Samudra. Ini hanyalah sebuah kontrak. Ketika nanti bayinya lahir, semua akan selesai. Uang di tangan, karier tetap aman, dan hidupnya kembali normal.

Tapi Sarah tidak tahu, bahwa suntikan hormon pertama yang akan ia terima besok pagi, tidak hanya akan memengaruhi sel telur di rahimnya. Tanpa ia sadari, jarum suntik itu perlahan-lahan akan mengubah takdirnya, menancapkan benih cinta yang kelak akan tumbuh di antara dua manusia yang awalnya hanya terikat oleh selembar kertas perjanjian.

Malam itu, Sarah berbaring di tempat tidurnya. Ia menggenggam erat gulingnya, membayangkan bagaimana rasanya jika nanti ada detak jantung kecil di perutnya. Sesuatu yang membuatnya takut, tapi juga membuatnya penasaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!