Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Tak Terduga
Jeritan Aluna memecah keheningan malam di dalam rumah kecil itu. Dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, ia mencengkeram lengan Doni, menariknya sekuat tenaga agar menjauh dari tubuh ringkih sang ayah.
Kejutan dari terjangan Aluna membuat Doni terhuyung ke belakang. Vas bunga di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas lantai semen, menyebarkan pecahan keramik tajam ke segala arah.
"Aluna?!" Doni mendengus kasar, matanya yang merah dan berair karena pengaruh alkohol serta amarah menatap tajam ke arah adik tirinya. "Bagus kamu sudah pulang! Dasar anak tidak berguna, dari mana saja kamu jam segini?!"
Aluna tidak memedulikan bentakan kakak tirinya. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai yang dingin, mengabaikan rasa sakit saat pecahan vas kecil menusuk kulitnya. Tangan Aluna gemetar hebat saat menyentuh bahu ayahnya yang terus merintih kesakitan dengan mata setengah terpejam.
"Ayah ... Ayah, ini Aluna. Ayah bisa dengar suara Aluna?" bisik Aluna dengan suara yang tercekik oleh tangis.
Darah segar masih terus merembes dari pelipis pria tua itu, membasahi sebagian wajahnya yang keriput dan pucat pasi.
Napas sang ayah terdengar pendek dan berat, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan yang luar biasa menyakitkan. Bibirnya yang pucat bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara, hanya rintihan lirih yang membuat hati Aluna kian tersayat.
"Doni! Kamu benar-benar binatang! Dia ini ayahmu! Bagaimana bisa kamu memukulinya sampai seperti ini?!" Aluna berbalik, menatap Doni dengan pandangan penuh kebencian dan air mata yang mengalir deras. Rasa takutnya hilang, tergantikan oleh kemarahan yang membakar dada.
Doni justru tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang terdengar sangat mengerikan di tengah situasi mencekam ini. Ia menyeka keringat di dahinya dengan kasar.
"Ayahku? Dia bukan ayah kandungku, Aluna! Lagipula, orang tua bangka ini pantas mendapatkannya. Aku cuma minta sertifikat rumah ini untuk dipinjam sebentar, tapi dia malah menyembunyikannya dan menceramahiku! Dia yang memancing emosiku duluan!"
"Sertifikat rumah? Untuk apa lagi, Doni?! Untuk kamu pertaruhkan di meja judi?!" teriak Aluna dengan suara melengking. "Belum cukup kamu menghabiskan tabungan Ayah? Belum cukup kamu menjual motor satu-satunya yang kita punya? Rumah ini adalah satu-satunya tempat tinggal kita, Doni!"
"Halah, bacot!" Doni melangkah maju, menunjuk wajah Aluna dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Kamu tidak tahu apa-apa, Aluna! Aku sedang sial malam ini. Bandar judi di ujung jalan tidak mau tahu. Aku kalah besar, dan kalau aku tidak menyetor uang atau jaminan malam ini juga, mereka akan menghabisi nyawaku!"
Aluna menatap kakak tirinya dengan rasa jijik yang mendalam. Pria di hadapannya ini sudah sepenuhnya dikuasai oleh iblis perjudian. Tidak ada lagi rasa kemanusiaan, tidak ada lagi rasa hormat kepada orang tua. Yang ada hanya ketakutan egois akan keselamatan dirinya sendiri setelah melakukan kebodohan yang tiada ujung.
"Aku tidak peduli dengan urusan judimu, Doni! Keluar dari rumah ini sebelum aku berteriak meminta tolong pada tetangga dan memanggil polisi!" ancam Aluna sambil meraih ponselnya yang tergeletak di dekat tas, bersiap menekan nomor darurat.
Mendengar kata polisi, kilat ketakutan menyambar di mata Doni, namun dengan cepat berubah menjadi seringai kejam. Ia merebut ponsel Aluna dengan sekali sentakan kasar lalu melemparnya ke sudut ruangan hingga layarnya retak.
"Panggil polisi? Silakan saja kalau kamu mau melihat ayahmu mati lebih cepat!" ancam Doni dengan suara rendah yang penuh intimidasi. Ia melangkah mendekati pintu depan, bersiap untuk melarikan diri dari tempat kejadian perkara sebelum warga sekitar menyadari keributan di rumah mereka.
Namun, sebelum Doni benar-benar melangkah keluar dari ambang pintu, ia membalikkan badannya. Tatapannya menatap Aluna dari atas ke bawah dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Aluna merinding. Ada secercah kelicikan yang teramat busuk memancar dari wajah kakak tirinya itu.
"Ingat ini baik-baik, Aluna," ujar Doni sambil menunjuk Aluna. "Utangku pada rentenir itu jumlahnya ratusan juta. Dan tebak apa yang kujadikan jaminan saat uangku habis tadi?" Doni terkekeh, sebuah suara yang terdengar seperti kutukan di telinga Aluna. "Aku sudah memberikan foto dan datamu kepada anak buah bos rentenir itu. Kalau dalam waktu tiga hari aku tidak bisa membayar utangku, atau kalau aku tertangkap ... mereka sendiri yang akan datang ke sini untuk mengambilmu. Kamu akan dijual untuk melunasi setiap sen utang judiku!"
"Apa?!" Aluna terkesiap, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna kulitnya. Ia merasa seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak hilang.
"Selamat bersenang-senang dengan sisa waktumu, Adikku sayang," ucap Doni dengan nada mengejek. Tanpa menunggu jawaban lagi, pria bajingan itu berbalik dan berlari cepat menembus kegelapan gang, meninggalkan rumah yang telah ia hancurkan berantakan.
"Doni! Doni, kembali!" jerit Aluna, namun suaranya hanya bergema di dalam ruangan yang sunyi. Kakak tirinya telah hilang ditelan malam, menyisakan ancaman mengerikan yang kini menggantung di atas kepala Aluna seperti pedang algojo.
Tubuh Aluna gemetar hebat. Kenyataan pahit menghantamnya bertubi-tubi tanpa jeda sedikit pun. Baru saja hatinya dihancurkan berkeping-keping oleh pengkhianatan Kafka, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya sekarat dan dirinya berada dalam bahaya besar akan dijual kepada rentenir kejam.
Rasa panik, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu, membuat kepalanya terasa ingin pecah.
Rintihan lemah dari bawah kembali menarik kesadaran Aluna. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah sang ayah.
"Ayah ... bertahanlah, tolong bertahan. Aluna akan cari bantuan," tangis Aluna pecah saat ia meraba saku bajunya, beruntung ia masih memiliki sedikit uang tunai dan berniat berlari keluar untuk mencari telepon umum atau meminta bantuan tetangga terdekat karena ponselnya telah dihancurkan Doni.
Saat Aluna hendak berdiri, tangan kurus dan gemetar milik ayahnya tiba-tiba bergerak lemah, mencengkeram pergelangan tangan Aluna. Cengkeraman itu tidak kuat, namun penuh dengan keputusasaan yang teramat sangat. Aluna menahan napasnya, kembali berlutut di samping tubuh sang ayah.
"A ... Aluna..." bisik sang ayah dengan suara yang sangat parau, hampir tenggelam oleh suara napasnya yang tersengal-sengal.
"Iya, Ayah. Ini Aluna di sini. Ayah jangan banyak bicara dulu, ya. Aluna mau panggil ambulans," ucap Aluna sambil menyeka darah yang mulai mengering di pipi ayahnya dengan ujung lengan bajunya yang gemetar.
Sang ayah menggelengkan kepala perlahan, sebuah gerakan kecil yang tampak membutuhkan usaha luar biasa. Sepasang mata tua yang biasanya memancarkan ketenangan itu kini dipenuhi oleh ketakutan yang mendalam, bukan ketakutan akan kematian dirinya sendiri, melainkan ketakutan akan nasib anak perempuan satu-satunya yang sangat ia cintai.
"Jangan ... dengarkan Ayah, Nak ..." bisik pria tua itu, setetes air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang menodai wajahnya. "Doni ... Doni tidak main-main. Rentenir itu ... mereka orang-orang kejam. Mereka akan menghancurkan hidupmu ..."
"Aluna tidak takut, Ayah. Yang penting sekarang Ayah harus dibawa ke rumah sakit," kata Aluna sesenggukan, hatinya hancur melihat penderitaan ayahnya.
"Tidak, Aluna ... dengarkan Ayah ..."
Cengkeraman tangan sang ayah pada pergelangan tangan Aluna sedikit mengencang, memaksa Aluna untuk mendengarkan dengan saksama. Sang ayah terbatuk kecil, mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, membuat Aluna semakin histeris.
"Menikahlah ... malam ini juga, Nak," bisik sang ayah dengan terbata-bata, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti desakan terakhir dari jiwanya yang berada di ambang batas. "Menikahlah ... dengan seorang pria ... pria baik-baik yang bisa melindungimu. Jika kamu sudah menikah ... sudah punya suami sah ... rentenir itu tidak akan bisa menyentuhmu atau membawamu pergi secara hukum ... Kamu akan aman ..."
"Tapi, Ayah ... bagaimana mungkin Aluna menikah malam ini? Aluna tidak punya siapa-siapa ..." Aluna menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Mengingat Kafka saat ini justru membuat dadanya semakin ngilu. Pria yang ia harapkan menjadi pelindung justru sedang tidur dengan wanita lain.
"Ayah mohon, Aluna ... ini permintaan terakhir Ayah ..." suara sang ayah semakin melemah, matanya mulai tampak sayu dan kehilangan fokus. "Menikahlah ... agar Ayah bisa pergi dengan tenang ... agar Ayah tahu ada yang menjagamu dari Doni dan orang-orang jahat itu ... Tolong, Nak ... carilah suami sekarang juga ..."
Melihat kondisi ayahnya yang semakin kritis dan mendengar permohonan yang begitu pilu, seluruh pertahanan mental Aluna runtuh sepenuhnya. Kepanikan yang teramat sangat menguasai logikanya. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu. Nyawa ayahnya berada di ujung tanduk, dan keselamatan dirinya sendiri sedang dipertaruhkan.
Dengan air mata yang mengaburkan pandangan dan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang, Aluna melepaskan tangan ayahnya perlahan.
"Baik, Ayah ... Aluna akan cari jalan keluar. Ayah harus bertahan demi Aluna!"
Aluna berdiri dengan kaki yang gemetar, lalu berlari keluar menembus kegelapan malam, membiarkan pintu rumahnya terbuka. Ia berlari tanpa arah di dalam gang yang sepi, didorong oleh keputusasaan yang teramat sangat untuk menemukan siapa saja, seorang pria lajang, yang bisa ia tarik untuk menyelamatkan nyawa ayahnya dan masa depannya malam itu juga.