NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tinta Balasan dan Jejak Digital

​Aroma tajam cairan thinner (pelarut cat) mengalahkan wangi embun pagi di pekarangan belakang rumah Gani.

​Matahari baru saja merangkak naik, namun suara gosokan sikat kawat dan ampelas sudah mendominasi udara. Gani berlutut di atas lantai pelupuh bambu, tangannya yang terbalut perban tipis mencengkeram sikat kawat dengan tenaga penuh. Ia menggosok noda cat merah yang mengotori pilar utama paviliun, mengikisnya bersama dengan selapis tipis serat bambu agar warna aslinya kembali muncul.

​Di sekelilingnya, belasan warga desa—pemuda, bapak-bapak, hingga ibu-ibu—ikut bekerja dalam diam yang dipenuhi determinasi. Tidak ada yang mengeluh. Kang Ujang bahkan membawa mesin ampelas listrik kecil yang ia sambungkan dengan kabel panjang dari rumah Gani, mempercepat proses pembersihan noda-noda membandel.

​Maman dan beberapa pemuda sibuk mengumpulkan buku-buku yang halamannya robek ke dalam kardus, memilah mana yang masih bisa diselamatkan dengan selotip dan mana yang sudah hancur total.

​Gani menghentikan gosokannya sejenak. Ia menyeka keringat yang pedih di pelipisnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena kelelahan, melainkan karena melihat buku bergambar Pangeran Bahagia favorit Kirana kini tergeletak di tumpukan 'tidak bisa diselamatkan'.

​"Mas Gani," panggil Bibi Ratna lembut. Wanita paruh baya itu menyodorkan segelas teh hangat. "Istirahat dulu. Tangan Mas itu perbannya sudah rembes darah lagi lho."

​Gani melirik telapak tangannya. Gesekan kasar saat menyikat bambu memang membuat beberapa luka lamanya kembali terbuka. Namun, ia hanya menggeleng pelan. "Tanggung, Bi. Tinggal pilar yang sebelah timur. Saya janji pada Kirana tempat ini akan bersih sebelum siang."

​"Kirana ndak akan marah kalau Mas istirahat lima menit," sebuah suara serak menyela dari arah pintu pekarangan.

​Gani menoleh. Kirana berdiri di sana, mengenakan sweter biru langit, ditemani Udin yang memeganginya dengan sangat protektif—seolah bocah sepuluh tahun itu adalah pengawal pribadi sang putri. Wajah Kirana masih menyiratkan kesedihan, namun matanya memancarkan ketegaran yang luar biasa.

​Gani meletakkan sikatnya, mencuci tangannya sejenak di ember air bersih, lalu berjalan menghampiri gadis itu.

​"Kenapa keluar? Udaranya penuh bau bahan kimia," tegur Gani lembut, menutupi hidung Kirana dengan tangannya sendiri secara refleks.

​"Aku ingin melihatnya," Kirana dengan lembut menurunkan tangan Gani dari wajahnya. Matanya menyapu paviliun yang hampir kembali bersih tersebut. "Kalian... kalian benar-benar membersihkannya."

​"Orang Karangbanyu tidak gampang menyerah cuma karena disiram cat murahan, Kak!" seru Udin dengan dada membusung. "Kata Pak Kades, preman kota itu cuma berani main diam-diam karena takut sama parangnya Kang Ujang!"

​Gani tersenyum tipis mendengar celotehan Udin. Ia menatap Kirana lamat-lamat. "Bambunya sudah hampir bersih. Tapi buku-bukumu... banyak yang rusak parah. Aku minta maaf."

​Kirana menggeleng pelan, memaksakan senyum untuk menenangkan Gani. "Itu cuma kertas, Gani. Ilmu di dalamnya sudah ada di kepalaku dan kepala anak-anak desa. Kita bisa... kita bisa mencari gantinya nanti."

​Kalimat itu terdengar tegar, namun Gani tahu persis seberapa besar arti buku-buku peninggalan nenek Kirana bagi gadis itu. Di balik senyumnya, ada patah hati yang disembunyikan.

​Rahang Gani mengeras. Sisa-sisa kesabaran di dalam dirinya resmi menguap. Ia telah memutuskan bahwa ia tidak akan lagi bermain defensif (bertahan). Musuhnya telah menyerang aset paling berharga yang ia miliki: senyum Kirana.

​"Udin," panggil Gani, mengubah nada suaranya menjadi sangat serius. "Paman butuh bantuanmu. Bisakah kau mengantar Kak Kirana kembali ke rumah, dan berjaga di terasnya? Jangan biarkan orang asing masuk."

​"Siap, Paman Komandan!" Udin memberi hormat dengan gaya militer yang kaku.

​Gani kemudian menatap Kirana. "Aku punya urusan penting dengan Pak Kades. Beristirahatlah. Malam nanti, aku akan menemuimu."

​Kirana menatap kilatan berbahaya di mata Gani. Ia pernah melihat tatapan itu sebelumnya—tatapan seorang arsitek yang sedang mengalkulasi cara meruntuhkan sebuah bangunan tua untuk mendirikan fondasi baru. "Gani... jangan lakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri."

​"Aku tidak menggunakan otot untuk membunuh, Tiran Kecil," bisik Gani, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku menggunakan otak. Dan otakku sedang sangat lapar sekarang."

​Satu jam kemudian, di ruang kerja Kepala Desa Karangbanyu yang sederhana, Gani duduk berhadapan dengan Pak Kades. Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah laptop tebal berwarna hitam keluaran lima tahun lalu, pinjaman dari inventaris Balai Desa.

​"Sinyal internet di desa kita ini kadang ngadat kalau siang, Mas Gani. Apalagi habis badai," Pak Kades memperingatkan, menunjuk modem USB tua yang menancap di sisi laptop. "Sebenarnya Mas Gani mau cari apa toh? Mau sewa pengacara pakai uang dari mana?"

​"Saya tidak butuh pengacara, Pak," Gani menyalakan laptop tersebut. Layarnya berkedip sejenak sebelum menampilkan desktop yang berantakan. "Pengacara hanya berdebat soal pasal. Saya akan berdebat soal fakta."

​Gani menarik napas panjang. Ia menutup matanya selama beberapa detik, memusatkan pikirannya, mengaktifkan kembali mode CEO yang telah lama ia kubur.

​"Pak Kades, apakah Bapak tahu kenapa firma hukum Bratasena dan paman saya repot-repot menyewa preman untuk merusak paviliun dan menyebar selebaran fitnah kemarin?" tanya Gani tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang sedang loading.

​"Ya... untuk menakut-nakuti sampeyan dan warga desa biar kita mundur, kan?"

​"Itu hanya efek samping," Gani mulai mengetikkan alamat email terenkripsinya yang lama tidak tersentuh. "Alasan utamanya adalah kepanikan."

​Pak Kades mengerutkan dahi. "Kepanikan?"

​"Ya." Gani menatap Pak Kades. "Raka, mantan sahabat saya yang mencuri uang perusahaan itu, dia membangun proyek apartemen mewah di Jakarta Selatan menggunakan material di bawah standar. Saya selalu merancang gedung dengan spesifikasi beton Grade K-500 untuk ketahanan gempa dan shear wall (dinding geser) setebal empat puluh sentimeter. Tapi Raka memalsukan dokumen pembelian. Ia membeli beton murahan dan mengurangi ketebalan baja tulangan."

​Gani mengeklik masuk ke dalam kotak masuk emailnya. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard.

​"Sebulan lalu, saat audit dilakukan karena struktur bangunannya retak sebelum selesai dibangun, Raka menjadikan saya kambing hitam. Ia kabur membawa uang, dan membuat seolah-olah saya yang mendesain struktur rapuh itu. Pengadilan memenangkan para investor yang marah, dan saya dihukum sita aset."

​"Lalu apa hubungannya dengan perusakan kemarin?"

​Gani menyeringai dingin. "Karena mereka sadar saya masih hidup, Pak Kades."

​Pak Kades terdiam, mulai menangkap benang merahnya.

​"Raka dan pengacaranya, Surya Dirdja, mengira saya akan gantung diri atau mati membusuk di desa ini karena depresi. Orang mati tidak bisa bersaksi," jelas Gani, matanya berkilat memantulkan cahaya dari layar laptop. "Tapi beberapa hari lalu, saat Paman Lukman kembali ke Jakarta dan melaporkan bahwa saya menolak menjual tanah ini, bahkan berhasil membuat yayasan desa dengan cerdas... mereka sadar bahwa saya telah bangkit."

​Gani membuka sebuah folder penyimpanan awan (cloud storage) tersembunyi yang hanya bisa diakses menggunakan verifikasi dua langkah. "Mereka mengirim preman untuk menghancurkan mental saya, mencoba mengembalikan saya ke titik depresi. Karena mereka takut. Mereka tahu, sebagai arsitek utama, seluruh cetak biru (blueprint) asli dan kalkulasi matematis proyek apartemen itu masih ada di dalam kepala saya, dan cadangannya... ada di sini."

​Gani mengeklik sebuah fail, dan di layar laptop tua itu, muncul ratusan lembar dokumen arsitektur, gambar CAD ( Computer-Aided Design ), dan tabel perhitungan struktur yang sangat rumit.

​"Gusti Allah..." gumam Pak Kades takjub. "Jadi Mas Gani punya buktinya?"

​"Ini bukan bukti langsung transaksi korupsinya. Tapi ini adalah bukti bahwa desain asli saya seratus persen aman. Jika ada jurnalis atau ahli struktur independen yang membandingkan desain saya di layar ini dengan hasil cor-coran beton di lapangan Jakarta sana, kebohongannya akan terbongkar. Mereka akan tahu bahwa Raka yang mengubah materialnya di lapangan, bukan saya yang salah merancang."

​Gani mulai membuat pesan surel baru.

​"Saya tidak punya uang untuk melaporkan ini ke polisi," Gani mengetik dengan kecepatan tinggi. "Tapi saya kenal seorang jurnalis investigasi yang sangat membenci firma hukum Bratasena karena pernah menuntutnya dengan pasal pencemaran nama baik. Namanya Seno. Dia bekerja untuk media berita online independen terbesar di ibu kota yang tidak bisa dibeli oleh uang penguasa."

​"Mas mau membocorkan dokumen ini ke wartawan?"

​"Bukan sekadar membocorkan. Saya akan menyerahkan granat aktif ke tangan mereka," desis Gani.

​Gani melampirkan file blueprint tersebut. Di kolom pesan, ia mengetikkan kalimat pembuka yang sangat tajam:

​Kepada Seno.

Ini Gani Raditya. Mereka mengira aku sudah mati. Aku belum mati. Terlampir adalah cetak biru asli Proyek Apartemen Emerald. Bandingkan ketebalan baja tulangannya dengan sampel inti (core drill) beton di lapangan. Surya Dirdja dari Bratasena berbohong di pengadilan. Raka mencuri uangnya. Jika kau memublikasikan analisis teknis ini, aku bersedia menjadi narasumber utama via telepon.

​Gani tidak berhenti di situ. Ia tahu bahwa satu artikel mungkin bisa ditekan. Ia butuh tekanan publik (social pressure). Ia membuat akun anonim di platform media sosial berbasis tulisan (Twitter/X).

​Ia merangkai sebuah utas (thread) yang disusun dengan presisi seorang copywriter profesional. Ia tidak memosisikan dirinya sebagai korban yang cengeng. Ia memosisikan dirinya sebagai seorang ahli atau whistleblower (peniup peluit) yang membongkar bahaya runtuhnya apartemen mewah yang sudah dibeli oleh banyak orang kaya di Jakarta.

​1/ Apartemen Emerald di Jaksel yang sedang bermasalah itu BUKAN gagal desain. Itu adalah kejahatan konstruksi. Korupsi material yang dilakukan oleh manajemen keuangan (Raka), dilindungi oleh firma hukum Bratasena. Jika gempa 6 SR terjadi, gedung itu akan runtuh menimpa penghuninya.

​Ia melampirkan beberapa tangkapan layar dari perhitungan strukturalnya sebagai bukti yang valid.

​Setelah memastikan semuanya siap, Gani mengarahkan kursornya ke tombol Kirim. Ia menatap tombol itu selama lima detik.

​Menekan tombol ini berarti ia secara resmi menarik perhatian badai nasional ke arah dirinya. Hidupnya tidak akan pernah tenang lagi. Wartawan mungkin akan melacak IP address-nya hingga ke Karangbanyu.

​Namun, kemudian Gani teringat pada buku Pangeran Bahagia milik Kirana yang halamannya tercabik-cabik dan bersimbah cat merah. Ia teringat pada air mata gadis itu.

​Tanpa ragu sedetik pun, Gani menekan tombol Enter.

​Surel terkirim. Utas media sosial diunggah. Tinta balasan telah tertoreh dalam bentuk jejak digital yang tidak akan bisa dihapus oleh uang miliaran rupiah sekalipun.

​Gani menutup layar laptop tua itu dengan bunyi klik yang keras. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu.

​"Sudah selesai, Pak Kades," ucap Gani, menatap ke arah luar jendela Balai Desa yang menghadap ke jalanan sepi. "Sekarang, kita tinggal menunggu kembang apinya meledak di Jakarta."

​Pak Kades menelan ludah. Ia tidak mengerti bahasa Inggris atau istilah-istilah di layar tadi, tapi ia bisa merasakan aura intimidasi yang sangat mengerikan dari pria di hadapannya ini. Ia tiba-tiba merasa bersyukur bahwa Gani Raditya berada di pihak Desa Karangbanyu, bukan sebagai musuh mereka.

​Malam harinya, aroma pelitur kayu di paviliun bambu telah sepenuhnya mengering. Berkat kerja keras puluhan warga dari pagi hingga sore, seluruh noda cat merah berhasil dibersihkan, mengembalikan warna alami bambu petung yang hangat. Buku-buku yang rusak telah dikumpulkan di dalam kardus tertutup, sementara sisa buku yang selamat disusun kembali dengan rapi.

​Gani berdiri di tengah paviliun yang diterangi oleh dua buah lampu bohlam kuning. Angin malam berembus menyejukkan kulitnya yang terbakar matahari.

​Terdengar langkah kaki yang ringan menaiki undakan bambu. Gani menoleh dan melihat Kirana berjalan menghampirinya. Gadis itu mengenakan kardigan putihnya, rambutnya diikat longgar, dan bibirnya tersenyum tulus.

​"Udin bilang kau menyuruhnya pulang cepat karena kau ingin melakukan pengecekan bangunan terakhir," ucap Kirana, berhenti tepat di sebelah Gani. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang telah bersih. "Terima kasih, Gani. Kau... kau benar-benar mengembalikannya seperti semula."

​"Tidak semuanya," Gani menundukkan pandangannya. "Banyak buku yang tidak bisa kuselamatkan."

​Kirana menggeleng pelan. Ia melangkah lebih dekat, menempatkan dirinya tepat di hadapan Gani. "Pria bodoh. Kau menyelamatkan hal yang jauh lebih penting dari sekadar buku. Kau menyelamatkan harga diri tempat ini."

​Kirana menatap mata Gani lekat-lekat. "Apa yang kau lakukan siang tadi di Balai Desa? Udin bilang kau memakai laptop desa berjam-jam dengan wajah seperti pembunuh bayaran."

​Gani terkekeh pelan, sebuah tawa bariton yang maskulin dan berwibawa. "Anak itu bakat jadi intelijen rupanya."

​Gani mengangkat tangannya, menyelipkan helaian rambut Kirana yang tertiup angin ke belakang telinga gadis itu. Gerakannya sangat natural dan intim, sebuah kebiasaan baru yang sangat mereka nikmati.

​"Aku hanya memindahkan medan perangnya, Kirana," jawab Gani lembut. "Mereka mencoba mengotori desa ini dengan masalahku. Jadi, aku mengirim masalah itu kembali ke meja kerja mereka di Jakarta. Mulai besok, pengacara berkacamata emas itu akan terlalu sibuk menyelamatkan reputasinya sendiri dari serbuan wartawan nasional, hingga dia tidak akan punya waktu untuk memikirkan tanah desa ini."

​Mata Kirana membulat. Ia bisa membayangkan skenario epik yang baru saja dilakukan pria jenius ini. Gani tidak melawan preman dengan parang, ia melawan mafia korporat dengan data.

​"Kau membocorkannya?" bisik Kirana takjub.

​"Aku meruntuhkan gedung mereka dari jauh," Gani tersenyum miring.

​Kirana tidak bisa menahan perasaannya lagi. Rasa kagum, cinta, dan rasa aman berpadu menjadi satu ledakan emosi di dadanya. Tanpa ragu, ia berjinjit, mengalungkan kedua lengannya di leher Gani, lalu mencium bibir pria itu.

​Ciuman kali ini bukan sekadar luapan emosi seperti di gubuk saat badai. Ciuman ini tenang, dalam, dan dipenuhi oleh kepastian. Gani membalas ciuman itu, merengkuh pinggang Kirana dengan kedua tangannya yang kasar dan terbalut perban, menarik tubuh mungil itu merapat padanya.

​Di bawah atap rumbia paviliun bambu yang baru saja selamat dari upaya perusakan, dua jiwa itu saling mengunci. Gani merasa bahwa inilah tempatnya. Inilah istananya. Tidak ada gedung pencakar langit di Jakarta yang bisa menandingi kemewahan memeluk gadis ini di bawah cahaya lampu kuning pedesaan.

​Ketika Kirana perlahan menarik wajahnya untuk mengambil napas, matanya berbinar menatap Gani.

​"Kau telah menyelesaikan lima permintaanku dengan nilai sempurna, Komandan," bisik Kirana, suaranya mengalun menggoda di tengah kesunyian malam. "Aku rasa... kau sudah berhak menerima Permintaan Keenam."

​Gani menghela napas panjang, tersenyum pasrah namun antusias. "Baiklah, Bos. Jangan bilang kau mau menyuruhku menggali danau kali ini."

​Kirana tertawa pelan. Tawanya terdengar seperti lonceng perak. Gadis itu menundukkan wajahnya sedikit, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sangat lembut dan... melankolis.

​"Permintaan Keenam..." Kirana menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata Gani. "Aku ingin kau mendesain sebuah rumah. Bukan taman bacaan, bukan paviliun desa. Sebuah rumah tinggal, Gani. Di atas sebidang tanah kosong di sebelah kebun bungaku."

​Dahi Gani berkerut. "Mendesain rumah? Untuk siapa?"

​"Untuk kita," bisik Kirana, sebutir air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Aku tahu waktuku mungkin tidak akan cukup untuk melihatnya berdiri. Tapi... aku ingin melihat sketsanya. Aku ingin melihat rumah seperti apa yang akan kau bangun untuk menua bersamaku... seandainya saja aku punya waktu untuk menua."

​Jantung Gani seolah berhenti berdetak. Permintaan itu adalah pukulan telak yang paling manis sekaligus paling menghancurkan hati yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Permintaan yang berisi harapan absolut, sekaligus pengakuan akan keputusasaan.

​Gani menelan rasa pahit di tenggorokannya. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Kirana, mencium kening gadis itu dengan penuh kehangatan.

​"Aku akan mendesainnya, Tiran Kecil," janji Gani parau. "Sebuah rumah dengan ventilasi terbaik untuk paru-parumu, dengan jendela besar yang menghadap matahari pagi. Dan aku tidak peduli pada waktu. Kita akan melihat rumah itu berdiri bersama-sama. Aku pastikan itu."

​Malam itu, di tengah hembusan angin desa Karangbanyu, sebuah rencana untuk masa depan—sebuah harapan yang menolak untuk mati—mulai digoreskan di dalam kepala sang arsitek.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!