NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sketsa Harapan dan Runtuhnya Menara Dusta

​Dua hari sejak surel berisiko tinggi itu melesat membelah ruang siber menuju Jakarta. Dua hari pula sejak sebuah ciuman di bawah atap paviliun bambu mengubah konstelasi dunia Gani dan Kirana.

​Pagi itu, udara Karangbanyu terasa luar biasa renyah. Aroma petrikor sisa embun berpadu dengan wangi kopi hitam yang mengepul dari cangkir seng di atas meja kayu rumah limasan tua Gani.

​Pria itu duduk bersila di lantai, menjadikan meja ruang tamunya sebagai meja gambar darurat. Di hadapannya, terhampar selembar kertas gambar ukuran A3 bertekstur tebal yang ia beli titip dari Pak Yono yang kemarin pergi ke kota kecamatan. Di samping kertas itu, berjejer rapi pensil dengan berbagai tingkat ketebalan grafit—dari HB hingga 4B—penggaris siku, dan sebuah penghapus karet.

​Gani menatap kertas putih kosong itu. Dulu, kekosongan sebuah kertas selalu memicu adrenalinnya untuk menciptakan monumen keangkuhan. Ia akan merancang fasad kaca yang mencakar langit, lobi berlapis marmer Italia, dan pilar-pilar beton yang meneriakkan dominasi kekuasaan.

​Namun hari ini, motivasinya sama sekali berbeda. Kertas putih di hadapannya bukan lagi medium untuk memuaskan ego atau meraup miliaran rupiah. Kertas ini adalah selembar janji.

​Permintaan Keenam.

​Gani mengambil pensil 2B-nya. Tangannya yang masih dibalut perban tipis di beberapa bagian mulai menari di atas kertas. Goresan pertamanya sangat halus, namun sarat akan kepastian.

​Ia sedang merancang sebuah rumah. Sebuah ruang yang bukan sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas, melainkan sebuah sanatorium pribadi, sebuah suaka penyembuhan untuk satu-satunya gadis yang berhasil membangkitkannya dari kematian jiwa.

​Gani tidak mendesain rumah bertingkat. Tangga adalah musuh alami bagi penderita gagal jantung kongestif. Ia menarik garis-garis panjang untuk membentuk denah rumah satu lantai (single-story) yang melebar, mengadopsi gaya arsitektur tropis modern yang menyatu dengan alam.

​Ujung pensilnya bergerak lincah merancang letak jendela. Ia menempatkan bukaan kaca yang sangat lebar dan tinggi dari lantai hingga langit-langit (floor-to-ceiling windows) yang menghadap tepat ke arah timur dan tenggara. Ia mengkalkulasi sudut kemiringan matahari pagi Karangbanyu, memastikan bahwa sinar matahari pertama di jam tujuh hingga sembilan pagi akan membanjiri ruang tidur utama dan ruang keluarga. Sinar itu akan membawa kehangatan alami, membunuh kelembapan yang berbahaya bagi paru-paru, dan memberikan asupan vitamin D yang krusial untuk pemulihan Kirana.

​Untuk ruang tengah, Gani mendesain konsep open plan—tanpa sekat dinding bata yang kaku. Sirkulasi udara adalah harga mati. Ia merancang atap limasan dengan plafon ekstra tinggi dan sistem ventilasi silang ( cross-ventilation ). Angin perbukitan akan ditarik masuk, berputar mendinginkan ruangan, lalu membuang udara pengap ke atas. Kirana tidak akan pernah kekurangan oksigen di dalam rumah ini.

​Dan di bagian sayap kanan rumah, goresan pensil Gani menjadi semakin mendetail dan penuh emosi. Ia merancang sebuah sunroom—ruangan kaca semi-terbuka yang terhubung langsung dengan kebun bunga di lahan sebelah. Ia membayangkan Kirana bisa duduk di sana pada sore hari, merawat krisan dan mawar kesayangannya tanpa harus terpapar angin utara yang dingin.

​Jam demi jam berlalu tanpa disadari oleh Gani. Ia begitu tenggelam dalam flow state-nya. Setiap sentimeter garis yang ia tarik dihitung berdasarkan kebutuhan Kirana. Jarak dari kamar tidur ke kamar mandi dibuat sangat singkat. Tidak ada undakan lantai yang ekstrem untuk mencegah gadis itu tersandung saat tubuhnya lemas.

​Ketika matahari nyaris berada di puncak kepala, Gani meletakkan pensilnya. Jari-jarinya kotor oleh serbuk grafit, lehernya kaku, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.

​Di atas kertas itu, telah lahir sebuah rumah impian. Bentuknya elegan, memadukan unsur kayu jati alami, dinding plester putih bersih, dan kaca lebar. Sederhana, namun memancarkan kemewahan dari fungsionalitas dan detailnya. Di sudut kanan bawah, Gani membubuhkan tanda tangannya, lalu menuliskan satu baris kalimat pendek dengan huruf arsitektural yang rapi:

​Untuk masa depan yang menolak untuk menyerah.

​Gani menggulung kertas itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam sebuah tabung karton bekas, lalu melangkah keluar rumah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia, seorang arsitek yang karyanya pernah dipamerkan di majalah internasional, mendadak merasa sangat gugup menunggu penilaian dari seorang gadis penjaga taman bacaan.

​Perjalanan singkat menuju rumah Kirana terasa seperti lorong waktu.

​Saat Gani tiba, ia mendapati Kirana sedang duduk di teras, ditemani oleh Bibi Ratna yang sedang membantunya memisahkan kelopak-kelopak bunga melati untuk dikeringkan. Kirana mengenakan gaun katun putih sederhana, rambutnya diikat menjadi sanggul longgar. Wajahnya terlihat berseri-seri, nyaris tidak menyisakan jejak masa kritis seminggu yang lalu.

​"Mas Gani!" sapa Bibi Ratna riang saat melihat pria itu mendorong pintu pagar. "Panas-panas begini kok jalan kaki bawa tabung segala. Mau bikin sertifikat tanah lagi toh?"

​Kirana mendongak. Mata sabitnya langsung tertuju pada tabung karton di tangan Gani. Senyum di bibir gadis itu seketika melebar, menyadari apa isi di dalamnya.

​"Bi," potong Kirana lembut, menepuk lengan Bibi Ratna pelan. "Bunga melatinya sudah cukup. Bibi bisa kembali ke warung sekarang. Kasihan kalau ada yang mau beli beras."

​Bibi Ratna yang insting keibuannya—dan insting gosipnya—sangat tajam, langsung tersenyum penuh arti melihat tatapan yang saling mengunci antara Gani dan Kirana.

​"Oh, iya, iya. Bibi paham. Ada rapat penting tingkat tinggi ya," goda Bibi Ratna sambil terkekeh pelan. Ia berdiri, membersihkan sisa kelopak bunga dari dasternya. "Bibi balik dulu ya, Mas. Titip Kirana. Awas, jangan diajak lari-lari lagi kayak kemarin."

​Setelah Bibi Ratna berlalu dan menghilang di belokan jalan, Gani melangkah menaiki teras. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat berhadapan dengan Kirana. Tanpa banyak bicara, Gani membuka tutup tabung karton itu, menarik keluar gulungan kertas A3 di dalamnya, lalu membentangkannya di atas meja, menindih ujung-ujungnya dengan pot bunga kecil agar tidak menggulung kembali.

​Kirana menahan napasnya.

​Mata gadis itu menyusuri setiap garis pensil di atas kertas. Detailnya luar biasa presisi. Proporsi, bayangan, dan perspektif tiga dimensinya seolah membuat rumah itu melompat keluar dari kertas, mengundang siapa pun untuk masuk ke dalamnya.

​"Gani..." Kirana bergumam, jemarinya mengambang di udara, seolah takut menyentuh dan merusak mahakarya itu.

​"Denah satu lantai. Tidak ada tangga," Gani memulai presentasinya, suaranya mengalun seperti cello yang dalam dan menenangkan. Ia menunjuk bagian-bagian sketsa itu dengan jari telunjuknya. "Aku memaksimalkan lebar pintu utama menjadi satu koma dua meter, agar sirkulasi udara lebih lancar. Jendela di ruang tidurmu... ruang tidur kita... menghadap tepat ke arah matahari terbit."

​Jantung Kirana berdegup kencang mendengar kata ganti 'kita' meluncur begitu natural dari bibir pria itu.

​"Lihat sayap kanan ini," Gani menggeser jarinya. "Sebuah sunroom kaca. Hujan atau panas, kau bisa duduk di sana merawat anggrek dan mawarmu tanpa perlu khawatir jatuh sakit. Lantainya menggunakan kayu ulin agar tidak licin dan tidak sedingin ubin keramik di pagi hari."

​Setitik air mata lolos dari sudut mata Kirana, jatuh mengenai punggung tangannya sendiri. Bukan karena sedih, melainkan karena ia menyadari betapa dalam pria ini memikirkannya. Setiap inci bangunan ini didesain bukan untuk memamerkan kehebatan arsitekturnya, melainkan dirancang khusus sebagai bentuk proteksi absolut terhadap tubuh dan penyakit Kirana.

​"Kau..." suara Kirana bergetar, ia mengangkat pandangannya menatap Gani. Air matanya menggenang. "Kau benar-benar memikirkan setiap langkahku di dalam rumah ini."

​"Tentu saja," Gani menjawab mantap, mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata di pipi gadis itu. "Aku merancang rumah ini untuk dihidupi selama puluhan tahun. Jadi fondasinya harus kuat, dan penghuninya harus merasa aman. Bagaimana menurutmu, Bos? Apakah desainku lulus untuk Permintaan Keenam?"

​Kirana tertawa di sela isakannya. Ia menatap tulisan tangan Gani di sudut kertas: Untuk masa depan yang menolak untuk menyerah.

​"Lulus," bisik Kirana, meraih tangan Gani yang sedang mengusap pipinya, lalu mengecup telapak tangan pria itu yang kasar oleh kapalan dengan sangat lembut. "Ini adalah rumah paling indah di seluruh dunia, Gani. Aku... aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa melihat rumah ini berdiri nyata."

​Gani merasakan dadanya membengkak oleh emosi. Ia menarik napas panjang, tersenyum bangga. Permintaan Keenam telah terpenuhi.

​Namun, momen melankolis nan romantis itu tiba-tiba terpecah oleh suara gemuruh yang datang dari arah warung Bibi Ratna di pertigaan desa.

​Bukan suara klakson mobil atau suara alat berat. Melainkan suara keributan manusia. Suara seruan heboh yang bersahut-sahutan.

​"Mas Gani! Mas Ganiii!"

​Teriakan cempreng Udin terdengar membelah udara, disusul oleh suara langkah kaki kecil yang berlari dengan kecepatan penuh mendekati rumah Kirana.

​Gani refleks berdiri, tubuhnya langsung menegang, insting bertarungnya menyala. Ia mengira anak buah Surya Dirdja kembali membuat ulah.

​Udin muncul di depan pagar, napasnya terputus-putus, wajahnya memerah padam. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel pintar—milik salah satu pemuda Karang Taruna yang sering nongkrong di pos ronda.

​"Paman Komandan!" teriak Udin sambil melompati undakan teras. "Di tivi! Di hape Bang Maman! Semuanya lagi ngomongin Paman!"

​Dahi Gani berkerut tajam. "Bicara pelan-pelan, Udin. Ada apa?"

​"Tonton ini, Paman!" Udin menyodorkan ponsel itu ke tangan Gani dengan paksa.

​Kirana ikut berdiri, berjalan ke samping Gani untuk melihat layar ponsel tersebut.

​Itu adalah sebuah siaran live streaming dari salah satu stasiun televisi berita nasional paling kredibel di Indonesia. Di bagian bawah layar, terdapat running text (teks berjalan) berwarna merah menyala dengan huruf kapital tebal:

​SKANDAL MEGA PROYEK APARTEMEN EMERALD TERBONGKAR: CETAK BIRU ASLI MUNCUL, MANTAN CEO GANI RADITYA TERBUKTI DIKAMBINGHITAMKAN!

​Napas Gani tertahan di tenggorokan. Bom waktu yang ia kirimkan dua hari lalu, rupanya baru saja meledak di ibu kota dengan skala kerusakan (blast radius) yang jauh melampaui ekspektasinya.

​Di layar, tampak seorang presenter berita sedang mewawancarai Seno—jurnalis investigasi independen rekanan Gani—melalui sambungan video. Seno sedang menampilkan tangkapan layar dari utas (thread) Twitter anonim milik Gani, dipadukan dengan analisis ahli struktur independen dari universitas terkemuka.

​"...Ya, rekan studio," suara Seno terdengar jernih dari pengeras suara ponsel. "Berdasarkan ribuan dokumen CAD dan email internal yang kami terima dari sumber terpercaya, terbukti bahwa cetak biru asli yang dirancang oleh arsitek Gani Raditya memiliki spesifikasi material kelas satu yang seratus persen aman. Pemalsuan dan penurunan grade beton dilakukan sepenuhnya di tahap procurement lapangan oleh Direktur Keuangan, Raka Pradipta, tanpa sepengetahuan Gani."

​Kamera televisi kemudian beralih menampilkan suasana ricuh di depan gedung kantor firma hukum Bratasena & Partners di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

​Puluhan wartawan sedang mengerubungi sebuah mobil sedan premium hitam. Surya Dirdja, pengacara pongah yang beberapa hari lalu menghina taman bacaan Karangbanyu, kini tampak pucat pasi, berkeringat dingin, dan menutupi wajahnya dengan map kulit dari kilatan blitz kamera, dikawal ketat oleh pihak keamanan gedung saat ia mencoba kabur dari cecaran pertanyaan.

​"...Dan saat ini, Bareskrim Polri telah menerbitkan surat pencekalan dan status buron terhadap Raka Pradipta. Sementara itu, pihak kejaksaan sedang melakukan penyelidikan mendalam terhadap firma hukum Bratasena & Partners atas dugaan manipulasi alat bukti di pengadilan kebangkrutan bulan lalu."

​Gani tidak bisa mengalihkan pandangannya dari layar.

​Selama sebulan penuh, ia menanggung beban hinaan, dicaci maki sebagai koruptor, dan dijauhi layaknya pesakitan yang berpenyakit menular. Ia nyaris menukarkan nyawanya dengan seutas tali nilon di bawah pohon beringin karena merasa keadilan telah mati.

​Namun hari ini, di bawah langit Karangbanyu yang damai, kebenaran itu akhirnya menemukan jalannya pulang. Tinta kebohongan Raka telah dihapus bersih oleh jejak digital dan fakta matematis yang tidak bisa dibantah.

​Namanya telah bersih.

​Kehormatannya sebagai seorang pria, sebagai seorang arsitek kelas atas, telah dipulihkan di mata seluruh negeri.

​"Kau melihatnya, Komandan?" suara Kirana bergetar di sebelahnya. Gadis itu menatap layar ponsel, lalu menatap wajah Gani dengan mata yang berkaca-kaca oleh rasa haru yang luar biasa besar. "Kau membuktikannya. Seluruh dunia sekarang tahu bahwa kau orang baik. Kau bukan penjahat."

​Gani menurunkan ponsel itu. Tiba-tiba saja, kakinya terasa sedikit lemas. Kelegaan yang sangat masif membanjiri seluruh sistem sarafnya, seolah sebuah gunung batu kapur yang selama ini bertengger di atas dadanya baru saja dihancurkan menjadi debu.

​Pria itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kasar, menarik napas panjang dan dalam, hingga bahunya bergetar pelan. Ia tidak menangis, tapi ia sedang melepaskan hantu-hantu masa lalunya agar pergi untuk selamanya.

​Udin, yang tidak sepenuhnya paham kerumitan hukum namun tahu bahwa Pamannya baru saja memenangkan sesuatu yang besar di televisi, bersorak gembira. "Paman Gani masuk tivi! Paman Gani pahlawan!"

​Terdengar suara derap langkah kaki berbondong-bondong mendekati rumah Kirana. Pak Kades, Kang Ujang, Maman, dan puluhan warga desa lainnya datang dari arah pertigaan warung Bibi Ratna. Wajah mereka dipenuhi oleh kebanggaan yang meledak-ledak. Mereka semua rupanya sedang nonton bareng siaran berita itu di warung.

​"Mas Gani!" Pak Kades berjalan paling depan, wajahnya berseri-seri. "Wah, bangganya Karangbanyu punya arsitek sehebat sampeyan! Pengacara sombong kemarin itu sekarang lari terbirit-birit dikejar wartawan, Mas! Kualat dia berani menginjak desa kita!"

​Kang Ujang tertawa terbahak-bahak, menepuk bahu Maman. "Syukur alhamdulillah! Surat ancaman sita tanah itu sudah pasti batal demi hukum, kan, Mas?"

​Gani menurunkan tangannya dari wajahnya. Ia menatap wajah-wajah tulus warga desa di hadapannya. Ia tersenyum, sebuah senyum paling lega yang pernah terbit di wajahnya sejak ia menginjakkan kaki kembali ke desa ini.

​"Ya, Kang Ujang. Batal demi hukum," jawab Gani mantap. "Tanah yayasan kita aman."

​Sorak-sorai kembali pecah di halaman rumah Kirana. Bibi Ratna bahkan sampai membagikan kerupuk kaleng gratis kepada anak-anak yang ikut berkumpul. Suasana siang itu benar-benar berubah menjadi pesta kemenangan.

​Di tengah hiruk-pikuk dan perayaan warga tersebut, Gani menoleh ke arah Kirana. Gadis itu berdiri di sampingnya, ikut bertepuk tangan dan tersenyum lebar menatap warga desa.

​Gani meraih tangan Kirana, menggenggamnya erat-erat, tidak peduli dengan tatapan puluhan pasang mata di sekitar mereka. Kirana mendongak, membalas genggaman itu dengan tatapan penuh pemujaan.

​Aku sudah menyelesaikan masa laluku, batin Gani, matanya mengunci pandangan gadis itu. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangiku. Hanya ada aku, kau, dan sisa waktu kita.

​Namun, alam semesta tampaknya memiliki selera humor yang sangat kelam. Tepat di saat Gani merasa bahwa ia telah memenangkan segalanya, bahwa tidak ada lagi musuh yang bisa menghancurkan hidupnya, musuh yang sesungguhnya akhirnya menunjukkan wujud aslinya.

​Senyum lebar di wajah Kirana tiba-tiba memudar.

​Gadis itu terdiam kaku. Matanya yang tadi berbinar, mendadak membelalak kosong.

​Gani merasakan cengkeraman tangan Kirana di tangannya tiba-tiba melemah. Sebelum Gani sempat bertanya apa yang terjadi, Kirana melepaskan genggamannya, mengangkat kedua tangannya untuk mencengkeram dada kirinya dengan gerakan yang sangat kasar dan panik.

​Gadis itu membuka mulutnya, berusaha meraup udara layaknya ikan yang dilemparkan ke daratan kering, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya bunyi ngik tajam dan mengerikan yang terdengar dari kerongkongannya. Wajahnya yang tadinya merona pucat pasi dalam hitungan sepersekian detik, disusul oleh warna kebiruan yang mengerikan di sekitar bibirnya.

​"Kirana?" Gani memanggil, kepanikan seketika menyambar jantungnya. "Kirana, bernapaslah. Tarik napas!"

​Namun Kirana tidak merespons. Pandangan mata gadis itu menggulung ke atas. Keseimbangannya hilang. Tubuh mungilnya meluruh, jatuh ambruk ke depan layaknya boneka tali yang benangnya baru saja diputus paksa.

​"KIRANA!" teriak Gani.

​Ia melesat, berhasil menangkap tubuh gadis itu tepat sebelum kepalanya menghantam lantai teras.

​Sorak-sorai dan tawa warga desa terhenti seketika, terpotong seolah pita kasetnya dicabut paksa. Keheningan yang mematikan dan jeritan histeris dari Bibi Ratna langsung mengambil alih, menggantikan pesta perayaan itu dengan kepanikan yang luar biasa mencekam.

​Gani berlutut di lantai teras, memangku kepala Kirana di pangkuannya. Pria itu menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan tangan yang bergetar brutal.

​"Kirana! Buka matamu! Kirana!" raung Gani, suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan purba.

​Gani baru saja merobohkan menara dusta musuh-musuhnya di ibu kota. Ia baru saja membersihkan namanya. Tapi di detik kemenangan terbesarnya, takdir mengingatkannya dengan cara yang paling kejam: bahwa musuh terbesarnya bukanlah manusia, melainkan waktu. Dan waktu Kirana... tampaknya baru saja habis.

1
Quinza Azalea
lanjut thor😍
Quinza Azalea
luarbiasa
Quinza Azalea
lanjut thor
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!