"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Sang Ratu yang Terluka
Kabar kaburnya Ibu Sofia bener-bener ngerusak momen bahagia di ruang rapat tadi. Ardiansyah, ayah Nabila, langsung sigap ngeluarin ponsel satelitnya. "Kenzo, jangan biarin dia keluar dari perbatasan kota. Dokumen proyek nuklir itu bukan cuma soal rahasia perusahaan, tapi soal kedaulatan negara. Kalau itu jatuh ke tangan pihak asing, kita semua habis."
Kenzo nggak perlu disuruh dua kali. Dia langsung natap Surya. "Surya, blokir semua akses bandara dan pelabuhan pribadi Aditama! Hubungi tim Alpha buat lacak mobil ambulans yang bawa dia tadi!"
"Siap, Pak!" Surya langsung lari keluar.
Nabila megang tangan Kenzo, mukanya cemas banget. "Kenzo, aku ikut ya? Aku nggak bisa tenang kalau nunggu di sini aja."
Kenzo sebenernya mau nolak, tapi dia liat mata Nabila yang keras kepala. Dia tahu, kalau dia tinggalin Nabila, justru Nabila bakal nekat nyari jalan sendiri. "Oke, tapi lo jangan jauh-jauh dari gue. Pakai rompi anti peluru ini." Kenzo ngambil rompi dari laci rahasianya dan masangin ke badan Nabila.
Mereka langsung meluncur pakai mobil SUV lapis baja milik Kenzo, dikawal sama tiga mobil security di belakangnya. Di tengah jalan, tablet yang dipegang Kenzo bunyi bip-bip. Titik merah koordinat ambulans itu kelihatan lagi bergerak kearah pinggiran pelabuhan tua di utara Jakarta.
"Dia mau kabur lewat jalur laut," geram Kenzo. "Dia pasti udah nyiapin kapal yacht pribadi buat kabur ke Singapura."
Kejar-kejaran di jalanan malam Jakarta bener-bener kayak adegan film Fast & Furious. Kenzo nyetir sendiri dengan kecepatan yang bikin Nabila harus pegangan kenceng ke handle pintu. Begitu sampai di pelabuhan tua yang gelap dan berkabut, mereka liat ambulans itu terparkir sembarangan.
Kenzo turun duluan, pistol udah di tangannya. "Nabila, tetep di belakang gue!"
Mereka jalan pelan-pelan ke arah dermaga kayu yang udah rapuh. Di ujung dermaga, terlihat Ibu Sofia yang pucat pasi, masih pakai baju rumah sakit tapi dibalut jaket bulu mahal. Dia nggak sendirian, ada beberapa orang berbadan tegap yang nungguin dia di sebuah speedboat mewah.
"Mama! Berhenti!" teriak Kenzo. Suaranya bergema di antara suara ombak.
Sofia nengok, senyumnya kelihatan gila. Di tangannya, dia megang sebuah koper kecil warna hitam. "Kenzo... anakku sayang. Kau selalu saja ingin merusak rencana Mama. Apa kau tahu berapa harga dokumen di dalam koper ini? Ini cukup buat kita beli pulau pribadi dan hidup tanpa perlu takut dipenjara!"
"Uang bukan segalanya, Ma! Mama udah bunuh Papa, Mama udah hancurin keluarga Nabila, sekarang Mama mau jual negara?!" Kenzo makin deket, jarak mereka tinggal sepuluh meter.
"Papa kamu itu bodoh! Dia mau jadi orang suci di dunia yang kotor!" teriak Sofia histeris. Dia ngeluarin sebuah remot kecil. "Jangan deket lagi, atau aku ledakkan dermaga ini sekarang juga!"
Nabila gemeteran, tapi dia dapet ide. Dia inget kalau koin perak (flashdisk) yang dia pegang tadi sebenernya punya fitur pengacak sinyal frekuensi rendah—alat yang dikasih ayahnya dulu buat jaga-jaga. "Kenzo, tahan dia dua menit!" bisik Nabila.
Nabila diem-diem ngaktifin alat di koin itu. Sementara itu, Kenzo berusaha ngulur waktu. "Ma, inget nggak pas aku kecil? Mama bilang aku bakal jadi pemimpin yang hebat. Apa pemimpin yang hebat itu lahir dari pengkhianatan ibunya sendiri?"
Sofia mulai ragu, matanya berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba, salah satu anak buahnya di kapal teriak, "Nyonya, cepat! Polisi sudah dekat!"
Sofia panik, dia mau nekan tombol remot itu, tapi nggak terjadi apa-apa. "Kenapa nggak nyala?! Apa yang kalian lakukan?!"
"Sekarang!" teriak Nabila.
Kenzo langsung nerjang maju, dia nendang remot dari tangan Sofia dan melumpuhkan ibunya sendiri dengan gerakan cepat. Koper hitam itu jatuh ke lantai dermaga. Anak buah Sofia di kapal mau nembak, tapi tim Alpha Kenzo udah lebih dulu nembakin gas air mata ke arah kapal mereka.
Sofia nangis histeris pas tangan dia diborgol sama Kenzo sendiri. "Kenzo... maafkan Mama... Mama cuma mau kau sukses..."
Kenzo nggak jawab. Dia cuma natap ibunya dengan tatapan kosong yang penuh luka. Dia nengok ke arah polisi yang baru dateng buat bawa Sofia. "Bawa dia. Pastikan dia dapet perawatan medis, tapi jangan biarin dia lepas lagi."
Setelah semuanya tenang, Kenzo duduk lemes di pinggir dermaga. Nabila nyamperin dan duduk di sampingnya, nyandarin kepalanya di bahu Kenzo.
"Semuanya bener-bener udah selesai sekarang, Kenzo," bisik Nabila.
Kenzo meluk bahu Nabila kenceng. "Makasih, Bil. Kalau nggak ada lo sama 'koin ajaib' lo itu, mungkin dermaga ini udah jadi puing."
Kenzo ngambil koper hitam itu dan ngasih ke petugas intelijen yang dateng bareng Ardiansyah. Ayah Nabila jalan nyamperin mereka dengan muka lega.
"Kerja bagus, Kenzo. Kamu bener-bener menantu yang bisa diandelin," puji Ardiansyah. "Sekarang, mending kalian pulang. Ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas."
"Soal apa lagi, Om?" tanya Kenzo capek.
"Soal tanggal pernikahan kalian, tentu saja! Ayah mau pesta yang paling megah se-Asia Tenggara!" seru Ardiansyah sambil ketawa.
Kenzo nengok ke Nabila, terus dia senyum nakal. "Gimana, Bil? Siap jadi Nyonya Aditama minggu depan?"
Nabila melongo. "Minggu depan?! Gila kamu ya!"
Kenzo ketawa lepas, dia langsung nggendong Nabila ala bridal style menuju mobil. "Nggak ada protes. CEO sudah memutuskan!"