NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^21

Bukan berarti aku, hanya karena sebuah ketidak punyaan dalam kehidupan. Membuat orang itu memilih diam tanpa memberi perlawanan. Walau benak terus berseru untuk membalas perlakuan buruk dari orang-orang yang begitu mudah merendahkan siapapun.

Seketika gadis perundung itu tertawa hambar, sembari melihat sekitar. Sebelum kembali menatap gadis itu dengan remeh. "Turunkan nilaimu karena itu tidak sesuai dengan kehidupan mu. Bagaimana bisa orang seperti mu berada di sekolah ini?" Semakin menyerukan suaranya. Gadis itu mengimbuhkan perkataannya.

"Kau hanya seorang penjilat yang tidak tahu malu." Kesalnya yang kini begitu berani menarik surai panjang milik sang korban. Spotan mengadahkan kepalanya dengan ringisan pelan.

"Jika sampai ujian minggu depan kau masih berada di posisi kelima, jangan harap kau bisa lepas dariku." Tajamnya penuh peringatan seraya tangan yang menghempaskan cengkeraman pada surai itu dengan kencang. Sehingga membuat sang korban merasa pusing, mengabaikan buliran bening yang mulai menerobos keluar membasahi kedua pipi mulusnya itu.

"Kenapa harus aku?" Lirih sang korban, ampuh menbuat perundung itu mengurungkan niatnya untuk pergi dari toilet para murid perempuan.

"Kau ingin tahu alasan itu?" Sekilas menaikan alisnya yang tidak begitu tebal, dengan kedua tangan bersedekap dada.

"Kau harus memberiku alasannya, agar aku tidak menaruh dendam padamu. Karena kau telah memperlakukan ku seperti hewan." Masih rendah, korban kembali membuka suara. Sebelum mengadahkan pandangannya untuk membalas tatapan sang pelaku.

"Apa itu belum jelas? Apa kau tidak mendengarnya? Bukankah sudah ku katakan, jika aku sangat membencimu karena nilai. Jika nilaimu lebih buruk dariku, aku tidak akan sejahat ini padamu." Papar sang perundung. Banyak yang memanggil gadis itu dengan sebutan, Austyn.

Entah kenapa korban itu malah menunggingkan senyum kecilnya yang begitu getir, berusaha untuk menegakkan punggungnya. Agar berdiri tepat di hadapan Austyn. "Tidak hanya diriku yang melebihi mu dalam nilai. Tapi kenapa kau melampiaskan hal itu padaku saja? Padahal, seharusnya, kau merundung si peringkat pertama."

Diam sejenak, Tessa menelan ludahnya. mengubur rasa takut dalam diri yang sendari dulu menguasai jiwanya, saat berhadapan langsung dengan orang-orang seperti Austyn. Bukan takut karena Austyn, Tessa hanya takut dengan posisi yang di miliki Austyn, jauh lebih ingin dari padanya.

Karena Austyn akan sangat sanggup menyewa polisi ataupun pengacara untuk menuntut Tessa yang tidak akan mampu melakukan hal itu.

"Apa kau takut, jika dia menyerangmu balik?" Sambung Anna penuh keberanian.

Tidak langsung memberi balasan, raut wajah Austyn sedikit terlihat menahan amarahnya. Akan satu kalimat tak terduga dari Anna. "Aku harus menyingkirkan orang-orang terbawa lebih dahulu. Karena itu akan memudahkan ku untuk naik satu anak tangga sebelum berperang." Lengkungan yang sangat sempurna Austyn perlihatkan, sebagai akhir dari argumennya bersama Anna.

Saat itu juga dengan sangat sadar, kedua tangan Tessa mengepal kuat untuk menahan emosinya dalam diri. Tanpa mengalihkan pandangan matanya yang lurus menatap pintu utama toilet itu.

"Bukankah itu tidak adil?"

Spontan menoleh ke sumber suara yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet.

"Dia bisa menginjak-injak mu, tapi kau tidak bisa melawannya." Sambung gadis itu yang kini membasuh kedua tangannya pada wastafel yang telah disediakan.

"Itu sangat melukai harga diri, bukan?" Tambahnya, sebelum menoleh ke arah Anna berada.

"Seharusnya kau membalas apa yang dia lakukan padamu. Jika kau bertingkah seperti gadis yang paling tersakiti, kau akan selalu dipandang remeh oleh mereka yang memiliki kekuasan." Kembali membuka suara dengan senyumannya. "Seperti diriku."

Melangkah mendekat, kini berdiri tepat di hadapan Anna tanpa melunturkan senyumannya. Mengabaikan bagaimana raut wajah Anna.

"Aku membiarkan mu bersama Anrey semalam bukan berarti kau bisa lepas dari tangan ku saat ini. Karena dia selalu berada di pihak mu saat aku memperburuk siapa dirimu." Sangat rendah, tapi penuh peringatan di setiap kata yang tercetus dari mulut sang gadis. Yuna.

"Tidak mungkin jika kau tidak tahu jika Anrey itu milikku. Dan kau senang sekali berpura-pura bodoh dengan tampang mu yang menyebalkan itu. Apa kau tidak punya rasa malu?" Desak Yuna, sekilas menaikan kedua alisnya. Sebelum melipat kedua tangga.

"Sadarlah, dirimu itu siapa. Bukankah seharusnya kau harus lebih giat belajar ketimbang mengganggu hubungan orang? Agar kau paham, meremehkan orang seperti mu itu sangat menyenangkan." Tersenyum kecil. Yuna tidak peduli jika perkataannya mampu melukai batin dalam diri Anna.

"Apa salahnya jika aku mengaguminya?"

"Apa?" Gumam Yuna yang sangat spontan. Akan balasan dari Anna.

"Aku tidak berharap Destan menjadi milikku. Aku hanya menganggumi sikapnya yang baik pada semua orang. Apa itu__"

"Ambilah, aku tidak lagi membutuhkan orang sepertinya. Karena aku sadar, aku tidak bisa hidup dengannya. Dia terlalu baik, sedangkan diriku, terlalu kejam. Bukankah seperti itu?" Tidak begitu cepat, Yuna menyela perkataan dari Anna.

"Yuna__"

"Apa kau begitu akrab dengan ku? Hingga berani menyebut namaku seperti itu?" Sentak Yuna yang menatap Anna dengan sorot mata penuh arti.

"Seharusnya kau tidak termakan dengan egomu, karena aku keluar bersama Anrey semalam. Dan kau juga harus memberi Anrey kesempatan untuk mengatakan alasan itu." Rendah Anna yang tidak termakan emosi. Karena Anna sangat paham saat berhadapan dengan Yuna.

Jika Anna semakin melawan, Yuna akan jauh lebih semakin brutal. Dan itu mempermudah masalah datang di kehidupan Anna.

"Kenapa tidak dirimu saja yang memberiku alasan itu?"

"Apa?" Gumam Anna.

"Berhentilah mengatakan jika kau hanya menganggumi Anrey. Karena itu sangat terlihat jelas jika kau menyimpan perasaan padanya. Bukankah ini kesempatan mu untuk menyatakannya?" Timpal Yuna. Yang membuat Anna menutup rapat mulutnya.

"Tenanglah, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melukaimu. Karena bermain dengan mu itu sangat membosankan. Kau tidak pernah melawan sama sekali." Imbuh Yuna, dengan merubah raut wajahnya.

Diam sejenak, sebelum melangkah pergi dari hadapan Anna. Tetapi kaki jenjang milik Yuna terhenti saat berada di ambang pintu dengan tangan yang mencekal knop pintu, akan cetusan dari Anna.

"Jika aku melawan, apa kau akan melibatkan orang tuamu?"

Tidak memberi tanggapan bukan berarti Yuna kalah dalam argumennya bersama Anna. hanya karena suara bel pembelajaran kembali dibunyikan, membuat Yuna mau tidak mau keluar dari toilet tanpa membuka suara. Meninggalkan Anna sendiri yang diam seribu bahasa.

Saat itu juga, Yuna bertatapan langsung dengan sepasang mata yang baru saja keluar dari dalam toilet. Dia, Anrey.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!