NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Semua keributan, kepahitan, dan konflik panjang yang disebabkan oleh Yeri akhirnya selesai tuntas. Yeri sudah pindah sekolah atas kesepakatan kedua keluarga, dia pergi membawa rasa malu dan penyesalan mendalam, berjanji takkan pernah lagi muncul atau mengganggu kehidupan siapa pun dari lingkaran SMA Aexdream. Kabar burung soal tuduhan dan fitnah yang sempat beredar luas pun perlahan mereda, tergantikan oleh kebenaran yang sudah terungkap jelas di depan semua orang. Nama baik Mark sudah pulih, bahkan kini dia makin dihormati dan disayangi teman-teman karena ketabahannya menghadapi cobaan berat itu.

Hari-hari kembali berjalan tenang dan damai, jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Namun, ketenangan itu kini diisi dengan kesibukan dan ketegangan baru yang tak kalah besar: ujian akhir sekolah sudah tinggal hitungan hari. Ruang kelas, perpustakaan, hingga sudut-sudut taman sekolah kini berubah menjadi ruang belajar dadakan bagi para siswa kelas 12 yang sedang berjuang mempertahankan nilai dan mengejar mimpi masuk perguruan tinggi impian.

Mark dan Gisel duduk berdua di bangku panjang di sudut perpustakaan, tumpukan buku tebal dan kertas catatan berserakan di meja depan mereka. Cahaya matahari sore menyelinap masuk lewat jendela kaca, menyinari wajah mereka yang tampak lelah tapi penuh semangat dan ketenangan hati yang utuh. Sejak masalah selesai, orang tua Mark kini makin menyayangi Gisel, menganggap gadis itu sebagai penyelamat, sosok yang setia dan tulus yang tak pernah meninggalkan anak mereka saat dihantam badai terberat. Ibu Mark bahkan sering mengantar bekal makanan khusus untuk mereka berdua saat belajar bersama di rumah.

Mark meletakkan pulpennya, menghela napas panjang lalu meregangkan otot tangannya yang kaku. Dia menatap Gisel yang masih tekun membaca buku tebal Sejarah, jari telunjuknya menelusuri baris demi baris tulisan dengan serius. Senyum hangat dan penuh rasa syukur terukir di bibir Mark. Masih teringat jelas betapa hancur dirinya beberapa waktu lalu, betapa dunianya serasa runtuh, dan betapa dekatnya dia kehilangan segalanya—termasuk Gisel—karena kebohongan kejam. Tapi kini, semua itu berlalu, dan dia bisa duduk di sini, berdampingan dengan wanita yang paling dia cintai, bersiap menghadapi masa depan berdua.

"Sayang... istirahat sebentar yuk? Udah dua jam lebih lo nggak angkat kepala sama sekali," bisik Mark pelan, tangannya terulur menyentuh ujung rambut panjang Gisel dengan lembut.

Gisel mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menoleh dan tersenyum manis melihat wajah Mark yang sudah jauh lebih cerah dan segar dibandingkan hari-hari kelam dulu. Dia menutup bukunya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, membiarkan dirinya bersandar ringan ke bahu kekasihnya.

"Sebentar lagi selesai kok, tinggal satu bab lagi. Tapi... iya deh, mata gue emang udah agak perih sih," jawab Gisel sambil tertawa kecil, lalu mengangkat wajahnya menatap Mark lekat-lekat. "Lo sendiri gimana? Materi Matematika sama Fisika udah aman semua?"

Mark mengangguk yakin, tangannya meremas jemari Gisel erat. "Aman banget. Apalagi ada guru privat paling hebat sedunia yang ngajarin gue sabar banget, nggak pernah marah walau gue sering salah jawab," canda Mark sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Gisel tertawa renyah di sampingnya.

Suasana di antara mereka kini terasa jauh lebih dalam, lebih dewasa, dan lebih kokoh. Rasa percaya yang dulu sempat diuji habis-habisan, kini tumbuh menjadi ikatan yang tak tergoyahkan. Setiap tatapan, setiap sentuhan, dan setiap kata yang terucap selalu sarat akan rasa terima kasih, rasa hormat, dan rasa cinta yang makin matang. Mereka berdua sadar, hubungan mereka bukan lagi sekadar pacaran remaja biasa, tapi sudah menjadi janji masa depan yang serius.

"Mark...," panggil Gisel pelan, suaranya berubah sedikit lebih serius namun tetap lembut. Dia menatap lurus ke depan, ke arah jendela yang memandang ke lapangan sekolah. "Dulu pas lagi masalah sama Yeri, sempat terlintas di pikiran gue... kalau ternyata kita nggak berhasil melewatinya, kalau kebenaran nggak ketemu, atau kalau orang tua lo nggak percaya sama kita. Gue sempat takut banget... takut semua yang kita bangun dari awal sampai sekarang hancur cuma gara-gara niat jahat orang lain."

Mark diam sejenak, lalu menggeser posisinya agar bisa memeluk bahu Gisel lebih erat, mendekapnya seolah ingin meyakinkan bahwa gadis itu aman selamanya dalam pelukannya. "Gue juga takut, Sayang. Takut banget. Waktu dikurung di kamar, waktu dituduh, waktu dipaksa pertunangan sama dia... satu-satunya yang bikin gue tetep waras dan nggak nyerah cuma satu pikiran: gue nggak boleh kehilangan lo. Gue tau, kalau gue nyerah, berarti gue nyerahin kebahagiaan kita berdua ke tangan iblis kayak Yeri. Dan gue nggak akan pernah biarin itu kejadian."

Dia memutar tubuh Gisel agar saling berhadapan, lalu menatap mata itu dalam-dalam. "Tapi liat kan? Kita menang. Bukan cuma menang lawan Yeri, tapi kita menang lawan rasa curiga, lawan rasa sakit, lawan ketidakadilan. Kita jadi lebih kuat, Gi. Sekarang nggak ada lagi apa pun yang bisa bikin kita goyah. Mau ujian seberat apa pun, mau masa depan bawa kita ke mana pun... selama kita bareng, semuanya bakal aman."

Gisel mengangguk pelan, air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya tapi dia tersenyum lebar. Dia bangga sekali pada Mark, bangga pada dirinya sendiri, dan bangga pada cinta mereka yang ternyata sekuat itu.

Tak jauh dari tempat mereka, di meja lain, terlihat Jeno dan Karina yang juga sedang sibuk belajar, sesekali saling melempar candaan dan senyum hangat. Masalah Sowon pun sudah lama selesai, gadis itu sudah menerima kenyataan dan memilih melangkah maju dengan kehidupannya sendiri tanpa lagi mengganggu. Begitu juga dengan pasangan-pasangan lain: Haechan dan Ningning, Jaemin dan Winter, Chenle dan Miyeon, semuanya kini bersatu dalam satu tujuan yang sama: berjuang lulus dengan nilai terbaik dan masuk ke universitas impian masing-masing.

Sore itu, bel sekolah berbunyi tanda jam belajar tambahan usai. Mereka semua berjalan beriringan keluar gerbang sekolah, langkah kaki mereka melambat menikmati suasana sore yang indah. Angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan di jalan setapak, langit berwarna jingga kemerahan yang indah sekali. Rasanya waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin mereka masuk sebagai siswa baru yang canggung, dan sebentar lagi mereka harus melepaskan seragam putih abu-abu ini dan berpisah jalan menuju dunia yang lebih luas.

"Nanti malem belajar kelompok lagi di rumah gue ya? Orang tua gue udah izinin, katanya seneng banget kalau kalian semua datang," ajak Mark bersemangat saat mereka berhenti di persimpangan jalan.

"Siap! Sekalian kita bahas materi yang paling susah itu deh, Biologi sama Fisika," sahut Haechan sambil menenteng tas bukunya. "Semangat ya semuanya! Ujian tinggal tiga hari lagi. Kita udah lewatin badai terbesar, masa iya kalah sama soal ujian? Ayo kita kalahin!"

Semua tertawa dan berteriak setuju. Semangat itu menular, memenuhi udara sore itu dengan harapan dan keyakinan. Mark menoleh ke arah Gisel, menggenggam tangan gadis itu erat sebelum berpisah jalan ke arah rumah masing-masing.

"Tiga hari lagi ujian, Sayang. Setelah itu... tinggal nunggu hasil kuliah, kelulusan, dan kita siap jalanin mimpi kita bareng," ucap Mark pelan, penuh makna.

Gisel mengangguk, mencium punggung tangan Mark sekilas sebagai tanda semangat dan kasih sayang. "Iya. Apapun hasilnya nanti, mau kita satu kota atau beda pulau... inget janji kita ya? Cinta kita udah teruji segalanya, jarak nggak bakal jadi apa-apa buat kita."

Mark tersenyum lebar, hati dan pikirannya kini damai sepenuhnya. Semua masalah masa lalu sudah jadi pelajaran berharga, semua rintangan sudah jadi kekuatan. Kini, hanya ada satu tujuan di depan mata: menaklukkan ujian akhir, lulus dengan bangga, dan melangkah ke masa depan yang cerah—masa depan yang dia yakini penuh akan kebahagiaan, karena di sana, di mana pun itu, akan selalu ada Gisel di sisinya.

Malam itu, di bawah cahaya lampu belajar, Mark dan Gisel kembali duduk berdampingan. Buku-buku terbuka lebar, pena bergerak cepat mencatat rumus dan tanggal sejarah, tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang mereka persiapkan: masa depan cinta mereka yang abadi, yang sudah terbukti takkan pernah runtuh oleh apa pun.

Ujian akhir tinggal menunggu hari, dan setelah itu... tibalah saatnya menutup bab indah masa SMA mereka dengan perpisahan yang penuh haru, janji setia, dan mimpi-mimpi besar yang siap diwujudkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!