"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Tamu Agung dan Ujian Mencuci Piring
Kaisar Langit Barat, yang biasanya disambut dengan karpet merah dan sujud sembah dari ribuan rakyatnya, kini berdiri mematung di depan pagar bambu yang sudah agak miring. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya: para Grand Master Astrolog yang ia gaji mahal justru sedang berjongkok di dekat parit, menyikat piring kayu dengan penuh dedikasi.
"Apa-apaan ini?! Master Hitung! Instruktur Hwa! Kenapa kalian ada di sini sambil memegang sabun?" teriak Kaisar dengan suara menggelegar yang sanggup menggetarkan jiwa.
Master Hitung mendongak sejenak, kacamatanya beruap karena uap cucian. "Mohon diam, Yang Mulia. Kami sedang melakukan audit kebersihan tingkat tinggi. Menurut Senior Ye, sisa lemak di piring ini bisa menghambat aliran energi alam. Tolong jangan ganggu konsentrasi kami."
Kaisar hampir saja meledakkan amarahnya, namun pandangannya beralih pada sosok Ye Xuan yang sedang tidur mendengkur di kursi goyang dengan caping menutupi wajahnya. Di sampingnya, seorang pria tua (Ao Guang) sedang sibuk memeras kain lap.
"Hei, pemuda sombong! Bangun!" teriak sang Kaisar sambil melangkah maju. "Kau tahu siapa aku? Aku adalah penguasa tanah ini! Kau telah menculik para ahli terbaikku dan memberi makan hewan suci kerajaanku dengan... apa ini? Sayur bening?!"
Ye Xuan terbangun dengan kaget, capingnya jatuh ke lantai. Ia menatap Kaisar dari bawah ke atas, lalu menguap lebar. "Aduh, Pak Pejabat lagi. Sudah kubilang kan, kalau mau sayur datang besok pagi. Dan tolong, suara terompet mobilmu—maksudku kuda terbangmu itu—berisik sekali. Ini jam istirahat warga!"
"Mobil? Apa itu mobil?!" Kaisar semakin bingung. "Aku menuntut penjelasan! Hewan-hewan suci di hutan kerajaanku tiba-tiba mengalami evolusi massal. Rubah Ekor Sembilan legendaris sekarang punya sepuluh ekor dan dia menolak kembali ke istana karena katanya masakan di sini lebih 'mencerahkan'!"
Ye Xuan berdiri, membersihkan celananya dari debu. Ia menoleh ke Ao Guang. "Pak Tua, apa kita masih punya sisa nasi dingin?"
"Masih ada sedikit, Senior," jawab Ao Guang dengan hormat.
"Bagus. Pak Pejabat berbaju kuning, dengar ya," Ye Xuan bicara dengan nada seperti sedang menasihati anak kecil yang nakal. "Aku tidak peduli kau raja atau apa. Di sini, kalau kau mau bicara, kau harus bekerja. Lihat tumpukan kuali besar itu? Para koki itu sudah kelelahan. Kalau kau bisa mencucinya sampai bersih tanpa menggunakan sihir atau api-apian itu, aku akan memberimu sepiring nasi goreng sayur sisa tadi."
Seluruh halaman mendadak hening. Para peramal berhenti menyikat, para koki menahan napas. Meminta seorang Kaisar untuk mencuci kuali adalah tindakan penghinaan tingkat dewa.
Kaisar Langit Barat gemetar karena marah. "Kau... kau memintaku mencuci kuali?!"
"Kalau tidak mau ya sudah, silakan pulang. Jangan menghalangi jalan masuk, aku mau menyapu," sahut Ye Xuan santai sambil mengambil sapu lidi.
Namun, saat Kaisar hendak mencabut pedang emasnya, ia mencium sisa aroma dari kuali yang dimaksud Ye Xuan. Aroma itu bukan sekadar bau bawang, melainkan aroma yang membuat jiwanya yang haus akan kekuasaan mendadak merasa damai. Tanpa sadar, air liurnya menetes sedikit.
"Benarkah... nasi goreng itu seenak aromanya?" tanya Kaisar, suaranya tiba-tiba melunak dan terdengar konyol.
"Tanya saja pada naga—maksudku, pada Pak Tua itu. Dia sampai rela menyapu rumahku setiap hari cuma demi makan siang," jawab Ye Xuan sambil mulai menyapu lantai.
Setelah pergolakan batin yang hebat, sang Kaisar akhirnya melepaskan jubah naga kuningnya yang megah, menyingsingkan lengan bajunya, dan berjalan menuju tumpukan kuali. "Baiklah! Akan kutunjukkan padamu bahwa seorang Kaisar bisa melakukan apa saja, termasuk mencuci peralatan dapur!"
Maka, sejarah baru tercipta di Puncak Awan Tersembunyi: Seorang Kaisar Langit sedang berjuang melawan noda gosong di dasar kuali, sementara seorang petani konyol mengawasinya sambil mengunyah ubi rebus.