"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga
Aroma tanah basah setelah embun pagi menyapu halaman rumah kayu itu, memberikan ketenangan yang seharusnya tidak terganggu oleh apa pun. Zhou Ji Ran berdiri di depan pagar kayu yang kini tampak sedikit lebih kokoh. Di tangannya terdapat sebilah palu berkarat yang, jika diperhatikan lebih teliti, memiliki pola urat emas samar di gagangnya. Setiap kali palu itu menghantam paku, suara yang dihasilkan bukanlah dentuman keras, melainkan sebuah nada rendah yang menggetarkan udara, seolah-olah ruang di sekitar titik hantaman itu terkompresi secara instan.
Di sisi lain halaman, Lin Xiaoqi sedang bergelut dengan kuda-kuda yang ditinggalkan oleh para pengejar kemarin. Kuda-kuda itu bukan kuda biasa; mereka adalah Kuda Napas Api, jenis tunggangan yang memiliki temperamen buruk dan hanya bisa dijinakkan oleh mereka yang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata. Namun, di hadapan Zhou Ji Ran yang hanya memberikan satu tatapan malas tadi pagi, kuda-kuda itu kini berdiri gemetar, bahkan tidak berani meringkik keras.
"Xiaoqi, jangan hanya menatap mereka. Ambil sikat dan bersihkan lumpur di kaki mereka. Aku tidak ingin ada kotoran asing di ladangku saat kita mulai membajak nanti siang," perintah Zhou Ji Ran tanpa menoleh.
"Baik, Tuan Zhou! Tapi... Tuan, apakah Anda benar-benar berniat menggunakan Kuda Napas Api ini untuk menarik bajak? Mereka adalah hewan perang, harga satu ekornya bisa membeli satu blok rumah di kota besar," Lin Xiaoqi bertanya sambil menggosok bulu kuda yang kaku.
Zhou Ji Ran menghentikan aktivitasnya sejenak, mengusap dagunya yang mulus. "Oh? Mahal ya? Baguslah, itu artinya mereka punya tenaga yang kuat. Sayang sekali jika hanya digunakan untuk bergaya di jalan raya. Di sini, nilai sesuatu ditentukan oleh kegunaannya, bukan harganya. Jika mereka tidak bisa menarik bajak, maka mereka hanya akan berakhir menjadi stok daging kering untuk musim dingin."
Mendengar kata "daging kering", kuda-kuda itu tiba-tiba berdiri tegak dan segera menundukkan kepala mereka ke arah bajak kayu tua yang bersandar di dinding. Mereka seolah memahami nasib mereka jika tidak menunjukkan produktivitas. Lin Xiaoqi hanya bisa menelan ludah. Ia melihat bagaimana hukum alam di sekitar Zhou Ji Ran seolah bertekuk lutut pada kehendak sederhana pria itu.
Saat matahari mulai merangkak naik, seorang pengelana muncul dari balik kabut di jalan masuk desa. Pria itu tampak sangat kontras dengan lingkungan pedesaan Jinan. Ia mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu yang terbuat dari sutra berkualitas tinggi, membawa tongkat kayu hitam dengan permata hijau di ujungnya. Wajahnya menunjukkan garis-garis kebijaksanaan, namun matanya memancarkan keangkuhan seorang ahli yang telah melintasi banyak benua.
Namanya adalah Su Chen, seorang kultivator pengelana tahap Nascent Soul yang sedang mencari jejak energi murni yang sempat meledak sesaat di wilayah ini kemarin. Begitu ia memasuki batas Desa Jinan, langkahnya melambat. Ia mengerutkan kening, merasakan sesuatu yang salah. Udara di desa ini terlalu... murni. Setiap napas yang ia hirup membawa sensasi menyegarkan yang bahkan lebih baik daripada ruang meditasi kelas satu di sektenya dulu.
Langkahnya membawanya tepat ke depan gubuk Zhou Ji Ran. Ia berhenti dan menatap pagar kayu yang baru saja diperbaiki. Matanya yang tajam segera menangkap sesuatu yang mustahil. Paku-paku yang digunakan untuk memperbaiki pagar itu... setiap pakunya memancarkan aura pedang yang sangat tajam! Seolah-olah seseorang telah menempa esensi pedang ke dalam besi bangunan biasa.
"Siapa penghuni rumah ini?" suara Su Chen menggelegar, mengandung getaran energi yang dimaksudkan untuk menguji siapa pun di dalamnya.
Zhou Ji Ran, yang sedang memegang ember berisi air cucian beras, keluar dengan langkah santai. Ia menatap pria tua berbaju abu-abu itu dengan ekspresi bosan. "Paman, suaramu terlalu keras. Kau membangunkan ayam-ayamku. Jika kau mencari air minum, ada sumur di ujung jalan. Jika kau mencari penginapan, carilah di pusat desa."
Su Chen tertegun. Ia telah menggunakan tekanan mental tahap Nascent Soul, namun pemuda di depannya ini bahkan tidak berkedip. Ia tidak merasakan fluktuasi energi sedikit pun dari Zhou Ji Ran, namun instingnya berteriak bahwa pria ini adalah ancaman yang nyata.
"Anak muda, aku tidak mencari air. Aku merasakan adanya anomali energi di sini. Dan paku-paku di pagarmu... bagaimana kau mendapatkannya?" Su Chen menunjuk paku-paku itu dengan tongkatnya.
"Paku? Aku menemukannya di gudang bawah tanah. Mungkin pemilik rumah sebelumnya meninggalkannya di sana. Aku hanya memakainya karena tidak ingin membeli yang baru. Kenapa? Apa kau pengoleksi paku tua?" jawab Zhou Ji Ran sambil menyiramkan air cucian beras ke tanaman cabainya.
Mata Su Chen hampir melompat keluar. Air yang disiramkan itu... ia bisa mencium aroma spiritual yang sangat padat. Itu bukan air cucian beras biasa! Itu adalah Esensi Cairan Spiritual yang bahkan satu tetesnya bisa memicu perang antar sekte, dan pemuda ini menggunakannya untuk menyiram cabai?
"Kau... kau gila! Itu adalah harta karun surgawi!" Su Chen melompat maju, mencoba meraih ember tersebut.
Namun, sebelum jarinya menyentuh ember, kakinya tiba-tiba tersangkut pada sesuatu yang tidak terlihat. Ia jatuh tersungkur dengan wajah mendarat tepat di atas tumpukan pupuk kandang yang baru saja disiapkan Lin Xiaoqi.
"Ups. Hati-hati, Paman. Tanah di sini agak licin untuk orang tua sepertimu," kata Zhou Ji Ran dengan nada datar, namun ada kilatan jenaka di matanya.
Su Chen bangkit dengan wajah yang memerah karena marah dan... kotoran. "Kau berani menghinaku?! Aku adalah Su Chen, tetua dari—"
Ucapannya terhenti saat ia melihat Lin Xiaoqi keluar dari rumah membawa teh. Su Chen mengenali seragam Sekte Awan Biru. "Lin Xiaoqi? Murid jenius dari Sekte Awan Biru? Apa yang kau lakukan di tempat kumuh ini?"
Lin Xiaoqi membungkuk sedikit, wajahnya menunjukkan campuran antara kasihan dan rasa hormat yang terpaksa. "Senior Su, saya menyarankan Anda untuk menjaga sikap. Tuan Zhou adalah... tuan saya sekarang. Dan beliau tidak menyukai keributan."
Su Chen tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memicu getaran di udara yang membuat beberapa genteng rumah bergeser. "Tuan? Kau menjadi pembantu seorang petani rendahan? Di mana harga dirimu sebagai kultivator?! Minggir, aku akan memberinya pelajaran tentang bagaimana menghormati yang lebih kuat!"
Su Chen mengangkat tongkatnya, permata hijau di ujungnya mulai bersinar terang, mengumpulkan energi alam dalam radius satu mil. Tekanan udara meningkat drastis, membuat debu-debu beterbangan. Ini adalah teknik "Badai Hijau Penghancur", sebuah serangan yang mampu meratakan sebuah bukit kecil.
Zhou Ji Ran menghela napas panjang, meletakkan embernya. "Kenapa setiap kali aku ingin menyiram tanaman, selalu ada orang yang ingin pamer lampu senter? Baiklah, Xiaoqi, tutup telingamu."
Zhou Ji Ran tidak melakukan gerakan bela diri apa pun. Ia hanya mengambil kain lap kotor yang tersampir di pundaknya—kain yang ia gunakan untuk mengelap keringat dan debu. Dengan gerakan santai, ia mengibaskan kain lap itu ke arah Su Chen seolah-olah sedang mengusir lalat yang mengganggu.
*Wuuusss!*
Sebuah gelombang tekanan udara yang tidak terlihat namun sangat padat meledak dari kain lap tersebut. Semua energi yang dikumpulkan Su Chen seketika buyar, terhisap ke dalam pusaran angin yang diciptakan oleh kibasan kain itu. Su Chen sendiri merasa seolah-olah ia dihantam oleh palu raksasa yang terbuat dari hukum ruang dan waktu.
Tubuhnya terpental ke belakang, melewati pagar, terbang di atas jalan setapak, dan mendarat dengan keras di dalam kolam ikan di kejauhan. Tongkat berharganya patah menjadi dua bagian yang tidak berguna.
Keheningan kembali menyelimuti Desa Jinan. Zhou Ji Ran kembali mengambil kain lapnya, menyampirkannya kembali di pundak. "Kain ini sudah waktunya dicuci. Terlalu banyak debu."
Lin Xiaoqi berdiri di sana, membeku. Ia tahu Su Chen adalah seorang ahli tahap Nascent Soul, seseorang yang bisa menghancurkan sekte kecil sendirian. Tapi di depan Zhou Ji Ran, dia tidak lebih dari sekadar debu yang disapu dengan kain lap. Kekuatan macam apa ini? Ini bukan lagi sekadar kultivasi; ini adalah kedaulatan absolut atas realitas.
"Tuan... apakah beliau sudah mati?" tanya Lin Xiaoqi pelan.
"Tidak, aku hanya mematikan basis energinya selama beberapa jam agar dia bisa mendinginkan kepalanya di kolam itu. Ikan-ikan di sana butuh teman sesekali," sahut Zhou Ji Ran. "Sekarang, berhentilah bertanya dan bantu aku menyiapkan bajak. Siang ini kita harus menyelesaikan ladang bagian selatan."
Sementara itu, jauh di kegelapan hutan yang mengelilingi desa, beberapa sosok bayangan mengintai dari balik pohon-pohon kuno. Mereka adalah "Pasukan Bayangan" dari Sekte Gerhana Darah. Mereka telah menyaksikan apa yang terjadi pada Su Chen.
"Lapor... subjek mengalahkan ahli tahap Nascent Soul dengan kain lap," bisik salah satu bayangan ke alat komunikasi batu transmisi.
"Apa kau bercanda?! Kain lap?!" suara di seberang terdengar tidak percaya dan penuh amarah.
"Benar, Master Sekte. Kekuatannya tidak terukur. Kami menyarankan untuk membatalkan misi."
"Bodoh! Itu artinya dia memiliki harta karun tingkat abadi yang berbentuk kain lap! Jika kita bisa mendapatkannya, Sekte Gerhana Darah akan menjadi penguasa seluruh benua! Tetap mengintai, tunggu sampai dia tidur. Seorang petani pasti punya titik lemah saat dia terlelap."
Malam pun tiba di Desa Jinan. Bulan sabit menggantung di langit, memberikan cahaya perak pada ladang-ladang sawi yang tertata rapi. Di dalam gubuknya, Zhou Ji Ran sedang menikmati makan malam sederhana berupa tumis sawi dan telur ayam—telur dari ayam yang ia kejar tadi pagi. Lin Xiaoqi duduk di seberangnya, makan dengan lahap. Ia mulai menyadari bahwa makanan di sini memiliki rasa yang jauh lebih kaya daripada pil energi mana pun.
"Tuan Zhou, apakah Anda tidak merasa... kesepian?" tanya Lin Xiaoqi tiba-tiba. "Maksud saya, Anda memiliki segalanya, namun Anda hidup sendirian di sini. Tanpa teman bicara yang setara, tanpa tantangan."
Zhou Ji Ran berhenti mengunyah, menatap nyala lilin yang bergoyang. "Kesepian adalah konsep bagi mereka yang masih mencari pengakuan dari orang lain, Xiaoqi. Ketika kau sudah benar-benar mengenal dirimu sendiri, kesunyian adalah teman yang paling jujur. Dan tantangan? Tantangan terbesarku saat ini adalah memastikan atap rumah ini tidak bocor saat hujan turun nanti malam."
Tiba-tiba, telinga Zhou Ji Ran bergerak sedikit. Ia merasakan adanya fluktuasi energi yang sangat halus di sekitar rumahnya. Ada sekitar dua puluh orang, bergerak dengan teknik pernapasan yang hampir tidak mengeluarkan suara. Mereka menyebarkan bubuk beracun yang tidak berbau ke arah ventilasi rumah.
"Sigh... tikus-tikus ini benar-benar gigih," gumam Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Lin Xiaoqi. "Xiaoqi, sepertinya ada tamu yang ingin masuk tanpa mengetuk pintu. Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan ini untuk melatih teknik kapakmu?"
Lin Xiaoqi segera waspada. Ia mengambil kapak tua di sudut ruangan. "Apakah mereka dari Sekte Gerhana Darah lagi?"
"Siapa pun mereka, mereka menginjak rumput yang baru saja aku potong. Itu pelanggaran berat," Zhou Ji Ran berdiri dan berjalan menuju pintu.
Di luar, Pasukan Bayangan sudah siap melakukan serbuan. Mereka menggunakan jaring penjerat energi yang mampu menahan naga tingkat rendah. Namun, sebelum mereka sempat melompat, pintu depan terbuka perlahan.
Zhou Ji Ran berdiri di sana, memegang sebuah alat penepuk lalat plastik yang warnanya sudah memudar. Di mata Pasukan Bayangan, itu hanya sampah. Namun bagi Zhou Ji Ran, itu adalah senjata pilihan untuk menangani "serangga".
"Selamat malam, semuanya. Aku harap kalian punya alasan bagus untuk berada di kebunku pada jam segini," kata Zhou Ji Ran dengan nada dingin yang menusuk tulang.
"Serang! Ambil kain lapnya dan bunuh dia!" teriak pemimpin bayangan.
Dua puluh orang itu melompat secara bersamaan dari berbagai arah. Cahaya pedang dan energi gelap memenuhi halaman. Lin Xiaoqi keluar dari samping, mengayunkan kapaknya dengan teknik yang ia pelajari tadi pagi.
*Brak!*
Ayunan kapak Lin Xiaoqi menciptakan gelombang tekanan yang membuat tiga orang bayangan terlempar jauh. Ia terkejut dengan kekuatannya sendiri. Ternyata latihan membelah Kayu Besi Hitam telah mengubah struktur energinya secara fundamental.
Namun, bintang utama malam itu tetaplah Zhou Ji Ran. Ia bergerak seperti bayangan yang lebih gelap dari malam. Setiap kali ia mengayunkan penepuk lalatnya, terdengar suara *Plak!* yang bergema.
Setiap hantaman penepuk lalat itu mengenai dahi para penyerang dengan presisi yang menakutkan. Tidak peduli seberapa cepat mereka bergerak atau teknik perlindungan apa yang mereka gunakan, penepuk lalat itu seolah-olah mengabaikan semua pertahanan fisik dan spiritual.
Dalam waktu kurang dari satu menit, dua puluh anggota Pasukan Bayangan tergeletak di tanah, pingsan dengan benjolan besar berbentuk jaring di dahi mereka. Pemimpin mereka, yang masih sadar namun lumpuh karena ketakutan, menatap penepuk lalat di tangan Zhou Ji Ran dengan mata gemetar.
"Itu... senjata apa itu?" tanyanya dengan suara serak.
"Ini? Ini alat penepuk lalat yang kubeli di pasar loak dengan harga dua keping tembaga. Tapi sepertinya ia bekerja cukup baik untuk menangani hama seperti kalian," Zhou Ji Ran berjongkok di depan pemimpin itu. "Sampaikan pada Master Sektemu. Jika dia mengirim satu orang lagi ke sini, aku tidak akan hanya menepuk dahi kalian. Aku akan mengirimkan tagihan pajak tanah ke markas kalian yang nilainya cukup untuk membuat sekte kalian bangkrut tujuh turunan."
Dengan lambaian tangan, sebuah angin kencang muncul secara tiba-tiba, menyapu semua orang pingsan itu keluar dari batas desa seolah-olah mereka hanyalah sampah daun kering.
Zhou Ji Ran berbalik masuk kembali ke rumahnya, menguap lebar. "Pekerjaan yang melelahkan. Xiaoqi, bersihkan halaman besok pagi. Dan pastikan tidak ada senjata atau barang-barang gelap yang tertinggal, itu bisa merusak kualitas tanah."
Lin Xiaoqi mengangguk, masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Ia menatap penepuk lalat yang diletakkan Zhou Ji Ran di atas meja. Di bawah cahaya lilin, alat plastik murah itu seolah-olah memancarkan aura keilahian yang samar. Ia menyadari bahwa di tangan tuannya, segala sesuatu menjadi senjata suci.
Esok paginya, berita tentang kegagalan total Pasukan Bayangan dan kekalahan Su Chen mulai menyebar melalui saluran rahasia di dunia kultivasi. Nama "Petani Jinan" mulai menjadi mitos yang menakutkan sekaligus menarik perhatian banyak pihak. Ada yang mengira dia adalah dewa yang turun ke bumi, ada yang mengira dia adalah iblis kuno yang sedang menyamar.
Namun bagi Zhou Ji Ran, hari itu dimulai dengan masalah yang jauh lebih mendesak.
"XIAOQI! Kenapa kau memberi makan kuda-kuda itu dengan cabai rawit?! Sekarang mereka tidak berhenti menyemburkan api dan membakar jemuran celanaku!"
"Maaf, Tuan! Saya pikir itu akan menambah energi mereka!"
"Energi?! Celanaku itu celana satu-satunya yang masih bagus! Cepat ambilkan air!"
Dan begitulah, di tengah ketegangan dunia kultivasi yang mulai memanas karena keberadaannya, Zhou Ji Ran tetap fokus pada konflik paling krusial dalam hidupnya: menyelamatkan jemuran celananya dari napas api kuda-kuda perangnya. Kehidupan pensiunnya mungkin tidak sepi yang ia harapkan, namun setidaknya, ia tidak pernah merasa bosan.
Tanpa ia sadari, di gerbang desa, seorang wanita cantik dengan pakaian serba putih dan pedang panjang di punggungnya baru saja tiba. Matanya menatap gubuk kayu Zhou Ji Ran dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dan tantangan. Ia adalah Ye Hua, ahli pedang nomor satu dari Sekte Pedang Langit, yang datang bukan untuk harta, melainkan untuk membuktikan bahwa tidak ada petani yang bisa mengalahkan teknik pedangnya.
Perjalanan 500 langkah ini baru saja dimulai, dan setiap langkahnya dipenuhi dengan aroma tanah, rasa teh pahit, dan tentu saja, kekonyolan dunia yang menolak untuk membiarkan seorang legenda beristirahat dengan tenang. Zhou Ji Ran menarik napas dalam-dalam, mengambil cangkulnya, dan bersiap untuk hari yang baru. Dunia boleh mencoba mengganggunya, tapi mereka harus ingat satu hal: jangan pernah menyentuh sawinya.