Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Berniat Baik, Tapi Jantungku Berdegup Kencang
Dia menatapku terlalu lama.
Bukan tatapan biasa—bukan pandangan cowok yang baru pertama kali melihat cewek dan merasa tertarik. Melainkan tatapan seseorang yang sedang memeriksa ulang sebuah fakta, memastikan sesuatu. Seperti detektif yang baru saja menemukan petunjuk kunci yang selama ini dicari.
Maka aku melakukan hal yang paling aman dan tidak mencurigakan: aku tersenyum.
Senyum yang biasa saja, manis, dan terlihat ramah. Persis seperti gadis SMP berusia lima belas tahun yang polos dan tidak tahu apa-apa.
"Halo," sapaku, sengaja membuat nada bicaraku terdengar lebih tinggi dan ceria. "Kamu kelihatan asing. Pindahan, ya?"
Dia mengerjap beberapa kali, seolah terkejut aku justru menyapa duluan. Lalu jawabannya terdengar datar, "Iya. Pindahan dari Surabaya."
Bohong.
Di kehidupan sebelumnya, dia bukan anak pindahan. Dia lahir dan besar di Jakarta. Hanya saja, dia selalu memilih untuk menyendiri, selalu berada di pinggiran, bagaikan bayangan yang tak pernah menarik perhatian. Aku tidak tahu alasannya berbohong sekarang, tapi aku yakin ada maksud tertentu di baliknya.
"Oalah, Surabaya. Jauh juga ya perjalanannya." Aku mengangguk-angguk seolah mengerti, berusaha terlihat santai. "Namaku Nayla, kelas 1C. Kalau kamu?"
"Rasya." Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam. Gerakannya terlihat santai, tapi matanya tetap waspada, tak lepas menatapku. "Kelas 1A."
"Wah, kelas unggulan. Hebat." Aku berani menepuk pundaknya sekilas—sengaja bertindak sedikit akrab meski baru kenal. "Semangat ya sekolahnya. Kalau butuh teman bicara atau apa, cari aku saja di kelas sebelah."
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berbalik dan melangkah pergi menuju kelasku. Namun, aku bisa merasakan tatapannya masih membakar punggungku sampai aku menghilang di balik pintu kelas.
Di dalam hati, aku tersenyum tipis.
Rasya... Nama panggilanmu di kehidupan sebelumnya adalah Aldo. Entah kenapa kau menggantinya sekarang. Tidak masalah. Lambat laun, aku pasti akan tahu alasannya.
---
Satu Jam Kemudian...
Upacara bendera selesai. Kami berbaris rapi dan berjalan menuju kelas masing-masing.
Kelas 1C berada di lantai dua, persis di seberang tangga menuju kelas 1A. Posisi yang sangat strategis jika aku ingin mengamati atau sekadar memastikan keberadaan seseorang.
Aku duduk di bangku ketiga dari depan, persis di dekat jendela. Di sebelahku, ada seorang gadis berponi tebal berkacamata bundar yang sedang asyik menggambar di buku catatannya, seolah tak peduli dengan sekitarnya.
"Eh, hai," sapaku pelan.
Dia mengangkat kepala, matanya membulat di balik lensa kacamata. "Hai... kamu siapa?"
"Aku Nayla. Kita sekelas, lho. Duduknya bersebelahan." Aku tersenyum ramah.
"O-oh, maaf ya. Aku kurang fokus tadi. Namaku Sasha." Dia menjawab dengan nada canggung.
"Senang bertemu denganmu, Sasha." Aku mengulurkan tangan, dan dia menjabatnya dengan ragu.
Sasha... Aku ingat betul gadis ini. Di kehidupan sebelumnya, dia hanyalah sosok yang tak terlihat—anak pendiam yang selalu duduk di pojok kelas, tak punya teman, dan jarang diajak bicara siapa pun. Termasuk aku.
Namun kini, aku tahu satu hal yang tak pernah kusadari dulu: Sasha adalah orang paling tulus dan setia yang pernah kutemui. Di masa laluku, ketika aku difitnah, dijauhi, dan dibuang seperti sampah oleh semua orang, justru Sasha yang masih mengirimiku surat ke penjara. Surat itu pendek, hanya dua kalimat sederhana:
"Aku percaya kamu. Kamu tidak bersalah."
Saat itu, surat itu nyaris membuatku menangis. Tapi sayangnya, dulu aku terlalu sombong dan terluka hingga tak sempat membalasnya.
"Sepertinya kita akan jadi teman baik, Sasha," ucapku tiba-tiba.
Sasha mengedipkan mata, tampak bingung. "E-eh? Maksudnya?"
"Aku punya firasat begitu. Kamu kelihatan orangnya asyik."
Wajah Sasha memerah malu. "A-aku biasa saja kok..."
"Justru itu yang bagus."
Bel masuk berbunyi sebelum Sasha sempat menjawab lebih lanjut. Seorang guru berkumis tebal masuk ke dalam kelas—Pak Rahmat, guru Matematika yang terkenal galak dan disegani semua siswa.
"Selamat pagi, anak-anak!" suaranya menggelegar.
"Selamat pagi, Pak Rahmat!" kami menjawab serempak.
"Baik, sebelum mulai pelajaran, perhatikan ini." Ia berbalik menghadap papan tulis. "Minggu depan akan diadakan ulangan harian. Siapa pun nilainya di bawah tujuh puluh, wajib mengikuti remedial."
Aku menghela napas pelan. Matematika... Di kehidupan sebelumnya aku cukup menguasainya, tapi setelah tidak memegang rumus selama lima belas tahun ini, rasanya agak asing.
Tapi aku tidak terlalu khawatir. Aku punya senjata terbesar: ingatan dari masa laluku.
Aku tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan. Siapa yang akan jatuh cinta, siapa yang akan menusuk dari belakang, siapa yang akan sukses, dan yang paling penting—siapa yang harus aku waspadai dan jauhi.
Seperti Vania.
Vania akan masuk sekolah ini minggu depan sebagai siswi pindahan dari Bandung. Berambut sebahu, bermata sipit, dan memiliki senyum manis yang mudah memikat hati. Semua orang akan menyukainya—termasuk aku di kehidupan sebelumnya.
Padahal, Vania adalah ular berbisa yang menyamar sebagai sahabat.
Pertemuan pertama kami dulu sederhana saja: dia meminjam pulpenku, lalu mengembalikannya dengan ucapan terima kasih yang terdengar tulus. Lama-kelamaan kami berteman dekat, bahkan sempat berduet dan memenangkan lomba menyanyi antar kelas.
Namun di balik keramahannya, tersimpan rasa iri yang mendalam. Iri pada keluargaku yang berkecukupan, iri pada penampilan yang katanya lebih menarik, dan iri pada perhatian yang selalu aku dapatkan.
Saat dewasa nanti, dia justru akan menikah dengan mantan suamiku, Andre. Dan bersama-sama, mereka merencanakan segala cara untuk menghancurkan hidupku.
"Eh, Nayla? Kamu... nangis?"
Suara Sasha membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap, lalu tanpa sadar mengusap pipiku. Basah. Ternyata air mata menetes begitu saja tanpa kusadari.
"Oh, enggak kok." Aku buru-buru menyeka wajahku, berusaha tersenyum. "Cuma kena debu, tadi."
Sasha menatapku ragu, tapi dia tidak memaksakan diri bertanya lebih jauh. Aku bersyukur dia tidak mendesak.
---
Jam Istirahat
Kantin SMP Negeri 7 berukuran sedang, dipenuhi meja panjang dari kayu dan bangku plastik berwarna-warni. Aroma mi goreng, sate usus, dan es teh manis bercampur menjadi satu bau khas sekolah yang begitu akrab di ingatanku.
Aku membeli seporsi mi goreng dan segelas es jeruk, lalu mulai memindai ruangan. Di pojok, dekat tiang listrik, aku melihat sosok yang kucari.
Rasya.
Dia duduk sendirian di bangku paling ujung, asyik membaca buku bersampul biru tipis. Tak ada teman yang mendekat, dan dia pun tampak tak peduli dengan keramaian di sekelilingnya. Matanya sesekali melirik sekilas ke arah orang-orang, tapi tatapannya terasa dingin dan mengamati, seolah dia adalah pengamat yang bukan bagian dari mereka.
Aku melangkah mendekat.
"Halo, boleh duduk di sini?" tanyaku sopan.
Dia mengangkat kepala, menatapku sejenak, lalu menjawab singkat, "Boleh."
Aku duduk di hadapannya dan meletakkan makanan serta minumanku. "Kok sendirian saja? Teman sekelasmu tidak ada yang ikut istirahat?"
"Biasa saja." Ia kembali menunduk pada bukunya.
"Kamu memang tipe orang yang suka menyendiri, ya?"
"Iya."
"Kalau begitu, di Surabaya kamu pasti punya banyak teman dekat, kan?" tanyaku santai, sambil menyelidiki.
Dia tidak menjawab. Tangannya yang memegang buku tampak kaku, dan aku melihat rahangnya mengeras sedikit. Benar, itu topik yang sensitif.
"Maaf kalau terlalu kepo," ucapku cepat, tersenyum tipis. "Cuma merasa aneh saja. Rasanya... aku pernah melihatmu sebelumnya. Di suatu tempat."
Aku melempar kalimat itu seolah tidak ada maksud tersembunyi, padahal itu seperti bom waktu.
Dua detik... lima detik...
Perlahan, dia menutup bukunya. Pandangannya tertuju lurus padaku, tajam dan dalam. "Kamu merasa pernah melihatku?"
"Aneh, kan? Seperti perasaan déjà vu. Tapi jangan khawatir, aku bukan orang aneh yang suka menguntit." Aku mulai menyantap mi gorengku dengan tenang.
Dia tidak tertawa. Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang terasa mengejek dan penuh makna.
"Atau mungkin..." suaranya terdengar pelan tapi jelas, "kamu memang pernah melihatku. Hanya saja, di kehidupan yang lain."
Aku berhenti mengunyah.
Sial. Dia tahu. Dia sadar aku juga terlahir kembali, dan dia sengaja mengungkitnya.
"Kamu bicara aneh," kataku berusaha tetap tenang.
"Kamu juga," balasnya cepat.
Selama beberapa detik, kami hanya saling menatap. Di tengah keramaian kantin yang riuh oleh tawa dan obrolan siswa, seolah ada lapisan tembok tak terlihat yang memisahkan kami dari dunia luar.
"Baiklah," aku menghela napas panjang dan meletakkan sendok. "Aku tidak akan bertele-tele. Kamu juga terlahir kembali, kan?"
Keheningan sejenak.
"Iya."
Satu kata itu terasa sekuat ledakan di telingaku.
"Sejak kapan?" tanyaku lagi.
"Sejak aku membuka mata di rumah sakit, tepat lima belas tahun lalu." Ia menyilangkan tangan di dada. "Saat itu tubuh ini baru saja lahir. Aku menangis bukan karena bahagia, tapi karena aku masih mengingat semuanya. Semua kejadian, sampai detik terakhir."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Jadi... kamu tahu tentang aku?"
"Tahu."
"Tentang Vania?"
"Tahu."
"Andre?"
Saat nama itu disebut, sorot matanya berubah menjadi jauh lebih dingin dan tajam dari sebelumnya. "Tentang dia, aku tahu lebih banyak dari siapa pun."
Aku menelan ludah, merasa sedikit tertekan. "Lalu... siapa kamu sebenarnya di kehidupan sebelumnya? Kenapa aku tidak pernah mengenalmu sedikit pun?"
Ia menunduk, membuka kembali bukunya seolah ingin menghindari pertanyaan itu. "Itu tidak penting."
"Tentu saja penting!"
"Aku bukan siapa-siapa yang pantas kamu ingat, Nayla." Ia berdiri, mengambil buku dan minumannya. "Tapi ada satu hal yang harus kau ingat: jangan percaya pada siapa pun. Termasuk aku."
Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
"Tunggu—"
Panggilanku tak dihiraukan.
Aku hanya bisa duduk terpaku, memandangi mi goreng yang perlahan menjadi dingin dan es jeruk yang mulai mencair. Jantungku berdebar kencang dengan perasaan campur aduk.
Dia juga terlahir kembali. Dia tahu segalanya. Tapi kenapa dia tak pernah muncul di kehidupanku dulu? Siapa dia sebenarnya?
Dan yang paling membuatku bingung—kenapa, di tengah situasi yang serius dan di tempat yang tidak romantis ini, jantungku selalu berdegup lebih cepat setiap kali matanya menatapku?