Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mobil Zuhair perlahan memasuki gerbang pesantren. Celina tampak jauh lebih segar meskipun wajahnya masih sedikit pucat. Begitu turun dari mobil, Zuhair menahan langkah Celina sebentar di depan pintu Ndalem.
"Cel, dengar dulu," ucap Zuhair sambil menatap istrinya. "Habis ini saya, Abi, sama Ummi harus ke kota. Ada urusan kerjaan mendesak soal yayasan sama beberapa rekan bisnis Abi. Mungkin sampai malam baru pulang."
Celina mengerutkan kening, mendadak merasa kesepian. "Yah... kok gue ditinggal sih? Terus gue ngapain di sini sendirian? Mana perut gue masih agak mual lagi."
Zuhair tersenyum tipis, ia sudah memprediksi reaksi istrinya itu. "Tenang, saya sudah minta tolong Reno—kepala keamanan santri yang juga teman saya—buat jagain kamu. Nanti saya minta dia buat ajak kamu ngobrol atau nemenin kamu biar nggak bosen. Reno orangnya asyik kok, dia nggak sekaku saya."
"Reno? Yang badannya tegap itu?" tanya Celina mencoba mengingat-ingat.
"Iya, yang itu. Dia tahu situasi kita, jadi kamu nggak usah sungkan. Kalau butuh apa-apa atau mau cari udara segar di sekitar pesantren, minta temani dia saja," tambah Zuhair sambil mengusap kepala Celina singkat sebelum berpamitan.
Satu jam kemudian, setelah rombongan Abi berangkat, Celina duduk sendirian di teras samping Ndalem sambil mengaduk-aduk jus jeruknya. Tiba-tiba muncul sosok pria jangkung dengan seragam santri yang rapi tapi pembawaannya santai. Itu Reno.
"Permisi, Ning Celina?" sapa Reno sambil tersenyum sopan tapi tidak kaku.
Celina mendongak. "Eh, Reno ya? Gus Zuhair udah bilang tadi."
Reno duduk di kursi yang agak jauh, menjaga jarak sesuai aturan tapi tetap terlihat ramah. "Iya, Ning. Gus Zuhair bilang Ning Celina lagi agak kurang sehat dan gampang bosen. Katanya saya disuruh jadi nemenin biar Ning nggak bosen."
Celina tertawa kecil. "Yelah apaan si Gus itu? Lo mau stand-up comedy di depan gue?"
Reno terkekeh. "Wah, kalau itu saya nggak jago. Tapi kalau Ning mau tahu rahasia-rahasia lucu Gus Zuhair zaman dulu pas masih santri bandel, saya punya banyak stok ceritanya. Biar Ning Celina tahu kalau suami Ning itu dulunya nggak sedingin cuek kayak sekarang."
Mata Celina langsung berbinar. "Serius? Gus Zuhair pernah bandel juga? Ceritain dong! Gue butuh bahan buat ngeledek dia nanti malam."
Reno mulai bercerita tentang masa muda Zuhair yang ternyata pernah kabur dari pesantren cuma buat makan bakso di pasar malam, sampai momen di mana Zuhair hampir dihukum gundul oleh Abi. Celina mendengarkan dengan antusias, sesekali tertawa lepas. Obrolan itu benar-benar membuat Celina melupakan rasa mualnya dan ketakutannya soal tespek tadi pagi.
Di sela tawa mereka, Reno menatap Celina dengan tulus. "Ning Celina, Gus Zuhair itu sayang banget sama Ning. Tadi pas dia telpon saya, suaranya kedengeran khawatir banget. Dia cuma mau Ning Celina nyaman di sini."
Celina terdiam sebentar, senyumnya melunak. "Iya... gue tau. Dia emang sebaik itu, padahal gue udah banyak salah."
"Namanya juga hidup. Yang penting sekarang kan udah jelas semua," sahut Reno santai. "Gimana? Mau jalan-jalan ke kebun belakang? Lagi musim mangga tuh, siapa tahu Ning Celina mau ngerujak biar mualnya ilang?"
"Boleh tuh! Ayo!" seru Celina semangat, langsung bangkit dari kursinya dengan energi yang sudah kembali pulih.
Di tengah asyik-asyiknya Celina dan Reno bahas mangga, tiba-tiba muncul Raka dari balik tembok dapur Ndalem sambil bawa bungkusan martabak. Gaya jalannya udah nggak se-petantang-petenteng dulu, tapi masih ada sisa-sisa gaya Jakarta-nya.
"Woy, rame bener! Nih, gue bawa martabak manis, tadi nitip sama santri yang keluar," seru Raka sambil nyengir.
Reno melirik jam tangan digitalnya. "Pas banget ada Mas Raka. Udah mau masuk waktu Ashar nih. Mas Raka, tolong jagain Ning Celina dulu ya sebentar di sini? Saya mau ke masjid dulu, nanti sehabis sholat saya balik lagi."
"Aman, Bang! Serahkan pada santri baru teladan ini," jawab Raka sambil hormat kocak.
Begitu Reno hilang dari pandangan menuju masjid, suasana mendadak jadi canggung. Raka duduk di bangku taman, lalu menyodorkan martabaknya. "Makan, Cel. Muka lo pucat banget, kenapa sih?"
Celina narik napas panjang, dia ngeliatin Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia sebenernya udah tahu kalau hasilnya negatif, tapi dia pengen liat reaksi Raka yang katanya "mau tobat" itu.
"Rak... gue mau ngomong serius," suara Celina mendadak lirih.
"Apaan? Jangan bikin gue takut deh."
"Tadi pagi... gue tespek. Hasilnya positif, dua garis merah," ucap Celina sambil menunduk dalam.
BRAK!
Raka yang baru mau gigit martabak langsung keselek. Martabaknya jatuh ke tanah. Dia melongo, matanya hampir keluar, dan wajahnya seketika pucat lebih putih dari kain kafan.
"Lo... lo serius, Cel? Lo nggak lagi nge-prank gue kan demi konten?" suara Raka bergetar hebat. Dia langsung berdiri, mondar-mandir nggak jelas sambil megangin kepalanya. "Aduhh... mampus gue! Al-Baqarah aja belum hafal, udah mau punya anak aja!"
Raka berhenti mondar-mandir, dia menatap Celina dengan tatapan yang campur aduk—antara takut, panik, tapi ada sorot tanggung jawab di sana.
"Terus gimana?" Raka mendekat, suaranya dipelankan biar nggak kedengeran santri lain. "Gue... gue panik sih, sumpah jantung gue mau copot. Tapi gue udah bilang kan semalam? Gue bakal tanggung jawab, Cel. Gue bakal ngadep Gus Zuhair sekarang juga kalau perlu. Gue nggak mau jadi pengecut."
Raka narik napas panjang, berusaha tegar meskipun tangannya gemeteran. "Kalau emang itu anak gue, gue bakal nikahin lo secara sah kalau Gus Zuhair ceraiin lo. Gue bakal kerja apa aja deh di sini, jadi tukang kebun kek, apa kek, yang penting anak gue ada bapaknya."
Celina yang ngeliat muka panik Raka yang udah kayak orang mau dieksekusi mati akhirnya nggak kuat lagi. Dia mulai denger suara snickering dari tenggorokannya.
"Pfft... HAHAHAHAHA!" Celina meledak ketawa sampai pegangan kursi. "Aduh... perut gue... aduh sakit banget!"
Raka melongo. "Lah? Lo gila ya? Berita begini malah ketawa?!"
"Aduh Rak... lo harusnya liat muka lo tadi! Kocak banget!" Celina mengusap air mata sisa ketawanya. "Gue tadi udah ke dokter sama Zuhair. Ternyata tespeknya error, Rak! Gue nggak hamil. Gue cuma telat makan sama stres doang jadi asam lambung naik."
Raka diem mematung selama lima detik. Begitu loading-nya selesai, dia langsung merosot duduk di lantai ubin teras. "Anjiiir... Cel! Lo hampir bikin nyawa gue melayang tau nggak!"
Raka mengusap dadanya yang masih deg-degan parah. "Sumpah ya, gue tadi udah ngebayangin digebukin sama santri satu pondok gara-gara hamilin Ning mereka. Lo jahat banget asli!"
"Ya kan gue cuma mau ngetes, lo beneran mau tanggung jawab apa mau kabur ke Jakarta," ledek Celina sambil nyomot martabak yang masih ada di kotak.
"Gue emang nakal, tapi gue bukan pecundang," gumam Raka sambil menyeka keringat dingin di dahinya. "Tapi sumpah, denger lo nggak hamil itu rasanya lebih lega daripada hafal surat Al-Ikhlas, Cel. Jangan pernah bercanda soal itu lagi, jantung gue nggak kuat!"
Celina cuma nyengir lebar, ngerasa puas banget bisa ngerjain Raka, sementara di kejauhan suara pujian sebelum Ashar mulai berkumandang, bikin suasana jadi adem lagi setelah kepanikan singkat tadi.