“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Lamaran Besar
Sabtu pagi datang membawa cerah yang tidak biasa. Setelah dua hari berturut-turut diguyur hujan, langit pagi ini terbebas dari awan kelabu. Matahari bersinar lembut, memantulkan cahaya keemasan pada tetesan-tetesan embun yang masih menempel di dedaunan taman keluarga Mahendra.
Tapi keindahan cuaca itu tidak serta-merta membuat Naura bersemangat.
Ia duduk di depan meja rias kamarnya, mengenakan gaun blush pink pilihan ibunya yang terlalu sopan menurut standarnya lengan panjang, leher tertutup, rok sepanjang mata kaki. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, tidak diikat, hanya disemprot hair mist beraroma mawar yang membuatnya ingin muntah karena terlalu kuat.
Diana berdiri di belakangnya, memasang brooch kristal kecil di kerah gaun Naura dengan tangan yang gemetar.
"Mama, brooch-nya miring," protes Naura pelan, menatap cermin.
"Diam, biar Mama yang atur," Diana membetulkan posisi brooch, lalu menatap putrinya lewat cermin. Matanya berkaca-kaca. "Kamu cantik sekali, Nak."
Naura menggigit bibirnya. Ia tidak ingin ibunya menangis. Jika Diana menangis, ia mungkin akan ikut menangis, dan ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menumpahkan setetes air mata pun hari ini.
"Mama," Naura menarik napas, "apakah... apakah Papa benar-benar tidak punya pilihan lain?"
Diana terdiam. Tangannya turun dari bahu Naura, lalu ia berjalan mengelilingi kursi, berdiri di samping putrinya. Ia mengusap punggung tangan Naura dengan ibu jarinya, gerakan yang biasa ia lakukan sejak Naura kecil untuk menenangkannya.
"Papa udah berusaha, Sayang. Tapi Rangga... Rangga sangat licik. Dia membekukan aset-aset kita, menggilir pengacara kita, dan menutup semua jalan keluar. Satu-satunya pilar yang belum ia sentuh adalah Pesantren Al-Farizi. Karena pesantren memiliki kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan uang... kepercayaan masyarakat."
Jadi ia memang benar-benar menjadi tameng. Naura menunduk, menatap pangkuannya. "Kamu bukan rencana. Kamu orang yang tidak pernah aku sangka." Kata-kata Azzam kemarin terlintas di kepalanya, berusaha menghibur, tapi kenyataan pahit itu tetap menempel di tenggorokannya.
"Apakah Azzam tahu tentang ini?" tanya Naura pelan. "Tentang... bisnis Papa?"
Diana mengangguk pelan. "Kyai Hanan pasti sudah memberitahunya. Keluarga pesantren tidak buta urusan dunia, Naura. Mereka tahu posisimu. Mereka tahu ini bukan sekadar perjodohan biasa."
"Dan dia masih mau?" suara Naura hampir tidak terdengar.
Diana menatap putrinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Itu pertanyaan yang harus kamu tanyakan sendiri padanya, Nak."
.
.
.
Pukul sepuluh pagi, rombongan keluarga Al-Farizi tiba. Bukan datang secara diam-diam seperti kunjungan Azzam beberapa hari lalu. Kali ini, mereka datang dengan seluruh kemegahan yang merepresentasikan kekuasaan sebuah pesantren besar. Tiga mobil SUV hitam memasuki gerbang kediaman Mahendra, diikuti oleh dua mobil van yang membawa para ustaz senior dan pengurus pesantren.
Di halaman rumah yang luas itu, sebuah panggung kecil didirikan, dihiasi dengan karpet merah dan deretan kursi untuk tamu. Meja pelaminan kecil ditata di tengah, dihiasi bunga mawar putih spesial permintaan yang tak Naura ketahui dari mana asalnya.
Naura berdiri di kamar, mendengarkan suara kendaraan dan keributan dari bawah. Jantungnya berdebar seperti drum yang dipukul oleh pemain yang gila. Ia merasa kakinya seperti tertanam di lantai.
Ini dia, ini saatnya.
"Naura!" Cipa muncul di pintu kamar, mengenakan gaun biru muda yang biasa ia benci karena terlihat "terlalu putri salju", tapi wajahnya memancarkan semangat yang membara. "Mereka sudah datang! Ayo turun cepat!"
"Gu... gue belum siap," bisik Naura, pucat.
"Tidak ada yang siap untuk hal kayak gini, Nau," Cipa menghela napas, lalu berjalan mendekat, meraih tangan Naura. "Tapi dengarkan gue. Di bawah sana, ada seorang pria yang kemarin mengemudi di tengah hujan deras hanya untuk memastikan lo aman. Pria yang berdiri di depan Papa lo melindungi lo. Pria yang bikin terrarium sukulen karena tahu lo suka bunga."
Naura menatap sahabatnya, matanya berair.
"Lo nggak melangkah sendirian hari ini, Nau," Cipa memeras senyum, matanya juga mulai merah. "Gue di sini dan di bawah sana, ada dia. Sekarang, tarik napas, angkat dagu. Kita turun."
Naura mengangguk. Ia menarik napas panjang, mengangkat dagu seperti yang ia selalu lakukan saat menghadapi hal yang menakutkannya dan melangkah keluar kamar.
Saat Naura melangkah menuruni tangga, seluruh ruangan seakan membeku.
Para tamu yang duduk di kursi yang tersedia semua menoleh ke arahnya. Para ustaz dengan jubah putih mereka, para jamaah ibu-ibu dengan hijab bordir mereka, dan para santri yang berdiri di barisan belakang semua menatapnya.
Namun, hanya satu pasang mata yang Naura cari.
Gus Azzam berdiri di ujung panggung, mengenakan jubah hitam keemasan yang biasa dikenakan oleh kyai besar, dengan sorban putih yang melingkar sempurna di kepalanya. Ia terlihat... luar biasa. Bukan tampan biasa tapi tampan yang membawa autoriti, tampan yang membuat orang ingin bersujud bukan karena terintimidasi, melainkan karena rasa hormat.
Dan di belakang Azzam, berdiri seorang gadis bercadar.
Zahra Humaira. Ia mengenakan gaun hitam panjang dengan kerudung syar'i yang menutupi dadanya, wajahnya setengah tertutup cadar, hanya memperlihatkan matanya yang hitam pekat. Matanya sedang menatap Naura bukan menatap, lebih tepatnya menyayat dengan kebencian yang tersamar di balik senyum sopan yang ia paksakan.
Perut Naura terasa seperti ditikam pisau es. Zahra. Perempuan yang dianggap semua orang lebih pantas berdiri di samping Azzam.
Tapi kemudian, Azzam menoleh.
Mata pria itu menemukan Naura di tengah tangga, dan dunia seakan menyusut hingga hanya menyisakan mereka berdua.
Azzam tidak tersenyum. Ia tidak perlu tersenyum, karena tatapannya melakukan sesuatu yang lebih, ia menatap Naura seperti ia adalah ayat paling indah yang pernah ia baca dalam Al-Qur'an. Dengan penghargaan, kekaguman dan dengan kelembutan yang seharusnya tak dimiliki oleh pria setenang itu.
Naura merasa kakinya melemas. Ia berpegangan pada pegangan tangga, berjalan turun selangkah demi selangkah, menyadari bahwa setiap langkah membawanya lebih dekat ke titik tak balik.
Mahendra berdiri di dekat panggung, menunggu putrinya. Saat Naura tiba di bawah, ayahnya mengulurkan tangan. Naura meraihnya, dan Mahendra menuntunnya berjalan menembus lautan tamu, menuju panggung di mana Azzam menunggu.
Setiap langkah terasa berat. Suara adzan kecil berbunyi di kepalanya bukan secara harfiah, tapi suara peringatan bahwa hidupnya akan berubah selamanya.
Saat mereka tiba di depan panggung, Maherna melepaskan tangan putrinya. Ia menatap Azzam dengan tatapan ayah yang menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya.
"Jagalah dia, Gus," ucap Mahendra, suaranya bergetar.
"Dengan segenap jiwa saya, Pak," jawab Azzam tanpa ragu, suaranya lantang cukup untuk didengar oleh seluruh ruangan.
Naura menatap Azzam, dan Azzam menatapnya kembali. Ia mengulurkan tangannya, tangan yang sama yang menarik Naura keluar dari mobil, yang memegang tangannya di jalan.
Naura menarik napas. Ia ingat kata-kata Cipa. "Lo nggak melangkah sendirian."
Ia mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas telapak tangan Azzam.
Hangat.
Azzam membantunya naik ke panggung, menuntunnya duduk di kursi di sampingnya. Sentuhan tangannya lembut namun kokoh, seolah mengatakan, "Aku di sini. Kamu aman."
Kyai Hanan duduk di kursi utama, tersenyum bangga melihat putranya. Di sampingnya, Ning Salma, ibu Azzam menatap Naura dengan kelembutan yang membuat mata Naura kembali perih.
Acara lamaran dimulai.
Ustaz Makmur, sebagai perwakilan dari keluarga Al-Farizi, berdiri di mimbar kecil. Suaranya merdu saat membaca shalawat Nabi, lalu memulai pidato singkat tentang pentingnya pernikahan dalam Islam.
"Alhamdulillah, hari ini kita berkumpul untuk menyaksikan penyatuan dua keluarga yang diikat oleh wasiat dan takdir. Gus Azzam Al-Farizi, pewaris Pesantren Al-Farizi, dan Naura Aleesha Mahendra, putri dari keluarga Mahendra Wijaya..."
Naura mendengarkan, tapi telinganya berdenging. Ia sadar akan ribuan mata yang menatapnya sebagian penuh restu, sebagian penuh rasa ingin tahu, dan sebagian... penuh kebencian.
Ia merasakan tatapan Zahra seperti laser yang membakar kulitnya. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu. "Kau tidak pantas ada di sana. Kursi itu milikku."
Tapi kemudian, di bawah meja yang tertutup sketsal kain, Naura merasakan sesuatu.
Jari-jari Azzam menyentuh punggung tangannya. Ringan, hampir tak terasa. Tapi itu cukup untuk membuat Naura menoleh.
Azzam tidak menatapnya. Ia menatap ustaz yang sedang berbicara, wajahnya tenang dan sopan. Tapi jari-jarinya, jari-jari yang biasanya memegang kitab dan tasbih sedang mengusap punggung tangan Naura dengan gerakan memutar yang sangat, sangat intim.
"Jangan khawatir," bisik gerakan itu. "Aku di sini."
Naura menelan ludah, merasakan demam yang menjalar dari tangannya ke seluruh tubuhnya. Ia mencoba fokus pada acara, tapi sentuhan itu membuatnya sulit berpikir jernih.
"Keluarga Mahendra Wijaya, apakah kalian menerima lamaran Gus Azzam Al-Farizi untuk menikahi putri kalian, Naura Aleesha Mahendra?"
Mahendra berdiri. Ia menarik napas panjang, menatap putrinya sekali lagi, lalu mengangguk. "Kami menerima."
Sorak sorai lembut mengisi ruangan. Senyum merekah di wajah Ning Salma dan Kyai Hanan.
"Gus Azzam Al-Farizi, apakah engkau bersedia menikahi Naura Aleesha Mahendra dengan mahar yang telah ditentukan?"
Azzam berdiri. Ia menarik napas, lalu menatap Naura dengan mata yang untuk pertama kalinya tidak lagi menyembunyikan apapun.
"Saya bersedia." Dua kata. Sederhana. Tapi cara Azzam mengucapkannya membuat dada Naura sesak. Bukan karena ia merasa terpaksa. Bukan karena kewajiban. Tapi karena... karena seolah ia benar-benar menginginkannya.
"Naura Aleesha Mahendra, apakah engkau bersedia menerima lamaran Gus Azzam Al-Farizi sebagai suamimu?"
Semua mata menatap Naura.
Naura membuka mulut. Ia tahu jawabannya. Ia tahu apa yang harus ia katakan. Ia tahu ini adalah bagian dari skenario yang sudah ditulis oleh takdir dan wasiat dan bisnis dan keluarga. Tapi saat ia mencoba mengucapkan kata itu, tenggorokannya terasa seperti dicekik.
Ia menatap Azzam. Pria itu menatapnya kembali, dan di bawah meja, jari-jarinya menggenggam tangan Naura lebih erat.
"Kamu tidak sendirian."
"Iya..." suara Naura retak, hampir tak terdengar. Ia menelan ludah, lalu mencoba lagi. "Iya, aku... aku bersedia."
Ruangan meledak dalam sorak sorai. Takbir dan Shalawat bergema dari para ustaz. Diana menghapus air matanya dengan sapu tangan. Mahendra mengepalkan tangan di samping tubuhnya, berusaha tidak menunjukkan emosi.
Tapi Naura tidak melihat semua itu.
Ia hanya melihat Azzam, Azzam yang sedang menatapnya dengan mata yang lebih lembut dari yang pernah ia lihat, Azzam yang tangannya kini memegang tangannya secara terbuka, di depan semua orang, tanpa malu, tanpa ragu.
"Selamat," bisik Azzam, hanya untuk Naura. "Terima kasih sudah tidak kabur lagi."
Naura ingin memukulnya. Ingin menangis. Ingin tertawa. Ingin berteriak bahwa ini tidak adah. Tapi yang ia lakukan hanyalah menatap pria itu dan berbisik, "Jangan terlalu senang dulu, Gus. Ini baru lamaran."
Sudut bibir Azzam tertarik ke atas senyum tipis, yang hanya untuk Naura. "Aku tidak terlalu senang. Aku hanya... lega.
Kata itu bergema di hati Naura dan untuk pertama kalinya sejak wasiat itu dibacakan, ia bertanya-tanya apakah mungkin hanya mungkin ia juga merasakan lega yang sama.
.
.
.
Di barisan belakang, di antara para santriwati yang berdiri, Zahra Humaira menatap panggung dengan mata yang basah oleh air mata yang ditahan terlalu lama.
Tangannya mencengkeram kerudungnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melihat Azzam memegang tangan Naura. Ia melihat senyum pribadi yang diberikan pria itu pada gadis itu. Ia melihat semua yang seharusnya menjadi miliknya direnggut oleh perempuan yang bahkan tidak berhijab syar'i.
"Ini belum selesai," bisik kebencian di hati Zahra, semakin dalam, semakin gelap. "Ini baru dimulai."
.
.
.