NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:32k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

"Loe beneran serius sama apa yang loe teriakkan di kantin tadi?"

Suara angin sepoi-sepoi di bawah pohon beringin tua di sudut paling belakang sekolah menyamarkan getaran dalam suaraku. Aku berdiri menyandar pada batang pohon yang kasar, membiarkan kulit kayu itu menusuk punggungku—sedikit rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa perih yang lebih dalam di dada. Di depanku, Bara berdiri dengan satu tangan bertumpu pada batang pohon, mengurungku dalam ruang sempit yang hanya berisi aroma tembakau dan sisa hujan yang menempel di jaket kulitnya.

Bara tidak langsung menjawab. Ia justru menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin melarikan diri, namun sekaligus membuatku merasa... terlihat. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti bayangan yang transparan.

"Kenapa? Loe ngerasa gue cuma cari gara-gara sama si Pangeran Kodok itu?" Bara menyahut, suaranya rendah dan serak. Ia mengeluarkan sebatang rokok, tapi urung menyalakannya saat melihatku sedikit terbatuk. Benda itu hanya ia selipkan di balik telinga, sebuah gestur kecil yang entah kenapa terasa begitu menghormatiku.

"Semua orang mengira begitu, Bara," aku mendongak, menatap mata liarnya yang tidak pernah bisa kubaca. "Mereka pikir kamu cuma mau menginjak harga diri Alvaro dengan cara mengklaim barang yang dia buang. Aku... aku nggak mau jadi alat balas dendam kamu."

Bara mendekatkan wajahnya, hanya menyisakan jarak beberapa senti. Aku bisa melihat pantulan wajahku yang kusam di matanya yang gelap. "Gue nggak butuh alat buat ngehancurin orang kayak Alvaro, Ra. Gue punya kepalan tangan buat itu. Apa yang gue omongin tadi... itu bukan gertakan."

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang selama ini terkubur di bawah dominasi keluarga Maheswari. "Aku mau menikah sama kamu, Bara."

Gerakan Bara terhenti. Matanya sedikit membelalak, tidak menyangka aku akan melontarkan kalimat itu dengan begitu lugas. Namun, aku belum selesai.

"Tapi bukan sekarang. Bukan Aira yang sekarang," lanjutku, suaraku kini lebih stabil, lebih dingin. Aku meremas ujung rok seragamku hingga buku-buku jariku memutih. "Aku mau suami yang sukses. Aku mau pria yang pintar, yang punya kuasa lebih dari sekadar otot. Aku mau seseorang yang bisa bikin keluargaku malu karena sudah meremehkanku selama belasan tahun. Aku mau mereka semua—Ayah, Ibu, Airin, dan bahkan Alvaro—suatu hari nanti harus mendongak hanya untuk menatap bayangan kita."

Aku menatapnya tajam, menantang setiap inci keberaniannya. "Kamu bisa? Kamu bisa jadi pria yang kusebutkan tadi? Atau kamu cuma bisa jadi preman sekolah yang masa depannya berakhir di balik jeruji besi?"

Hening menyergap. Hanya suara gesekan daun beringin yang terdengar seperti bisikan rahasia. Aku tahu permintaanku gila. Meminta seorang berandal yang hobi bolos dan berkelahi untuk menjadi pria sukses adalah sebuah kemustahilan di mata dunia. Tapi aku lelah menjadi korban. Jika aku harus menyerahkan masa depanku pada seseorang, aku ingin orang itu menjadi pedang yang paling tajam.

Bara menatapku lama, seolah sedang menakar bobot luka yang tersimpan di balik kalimatku. Tiba-tiba, ia menyeringai. Bukan seringai beringas seperti biasanya, melainkan sebuah senyuman miring yang tampak sangat tampan dan penuh tekad.

"Loe minta gue jadi menteri? Atau CEO yang bisa beli perusahaan bokap loe?" Bara tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat jantan di telingaku. Ia menegakkan tubuhnya, menatap ke arah gedung sekolah yang megah di kejauhan. "Gue jabanin, Ra. Gue nggak pernah sekolah beneran karena gue pikir dunia ini nggak punya tempat buat orang kayak gue. Tapi kalau loe minta gue jadi tangga buat loe naik ke atas... gue bakal jadi tangga paling kokoh yang pernah ada."

Ia kembali menatapku, kali ini dengan kilat mata yang benar-benar baru. "Mulai besok, gue nggak akan bolos lagi. Gue bakal duduk di belakang loe, dengerin semua omongan guru yang bikin ngantuk itu, dan gue bakal pastiin otak gue cukup pinter buat bawa loe keluar dari neraka itu."

"Janji?" bisikku, hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

"Janji preman itu lebih berharga dari janji politikus, Aira," Bara mengulurkan jari kelingkingnya yang kasar ke arahku. "Loe punya gue sekarang. Dan gue bakal punya masa depan yang bikin mereka semua sujud di kaki loe."

Aku mengaitkan jari kelingkingku pada kelingkingnya yang besar. Rasanya hangat. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sebuah harapan yang nyata. Aku tidak lagi peduli apakah ini cinta atau hanya aliansi dua orang yang terbuang. Yang aku tahu, di bawah pohon ini, sebuah takdir baru sedang ditulis dengan tinta keberanian.

*

(POV ALVARO)

Aku berdiri mematung di balik tembok bata yang memisahkan area belakang sekolah dengan taman beringin. Tanganku yang terkepal di samping tubuh bergetar hebat. Aku tidak tahu kenapa kakiku membawaku ke sini. Seharusnya aku sedang berada di kelas, menemani Airin yang sedang 'trauma' karena kejadian di kantin tadi.

Tapi setiap kata yang keluar dari mulut Aira barusan... setiap kalimat yang ia ucapkan dengan nada penuh luka namun bertenaga itu, menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan Bara mana pun.

"Aku mau suami yang sukses... yang bisa bikin keluargaku malu..."

Suaranya tidak lagi terdengar seperti Aira yang lemah yang selalu kulihat menangis di pojok gudang. Suara itu... suara itu mengingatkanku pada "Ai" kecil yang dulu pernah berjanji akan menjadi desainer hebat untuk menghapus air mataku. Nada bicaranya yang penuh tekad, cara dia memberikan syarat pada Bara... itu semua terasa begitu familiar, namun sekaligus terasa sangat jauh.

Kenapa dadaku terasa sesak tanpa alasan yang jelas?

Aku menatap tembok di depanku dengan tatapan kosong. Rasa sakit ini... ini bukan kemarahan karena Aira bergaul dengan berandal. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti aku baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, namun aku sendiri yang membuangnya ke tempat sampah.

"Varo? Kamu di sana?"

Suara Airin memanggil dari kejauhan, tapi aku tidak bergeming. Aku tetap terpaku, mendengarkan suara tawa pelan Bara di balik tembok. Tawa seorang pria yang baru saja mendapatkan 'syarat' untuk menjadi lebih baik demi seorang gadis yang selalu kusebut sampah.

Aku meraba dadaku, tepat di tempat jantungku berdegup dengan irama yang menyakitkan. Aku mencintai Airin. Aku yakin Airin adalah "Ai" yang kucari. Tapi kenapa saat mendengar Aira merencanakan masa depannya dengan pria lain, aku merasa seolah seluruh duniaku baru saja runtuh berkeping-keping?

Aku menarik napas dengan susah payah, mencoba mengusir sesak yang kian mencekik. Aku harus pergi dari sini sebelum mereka melihatku. Namun, bayangan Aira yang menatap Bara dengan binar harapan di bawah pohon beringin itu terus menghantuiku. Sebuah binar yang belum pernah ia tunjukkan padaku, bahkan di saat-saat paling damai dalam kebersamaan kami selama ini.

Aku berbalik dengan langkah gontai, meninggalkan tembok itu. Di dalam kepalaku, suara Aira terus bergema, menelanjangi semua kemunafikanku dan membuatku menyadari satu hal yang paling kutakuti: Mungkin, orang yang paling kuremehkan itulah satu-satunya orang yang benar-benar memiliki kunci dari hatiku yang selama ini terkunci rapat. Dan sekarang, kunci itu sudah berada di tangan pria lain.

1
Sonya Nada Atika
paling sebel kl bc novel udah mulai kembali klr LG antgonis...mirip tersanjung....mulek males jadinya
Yuli Yulianti
ayo bara jgn bodoh cari tau jgn sampai kamu kehilangan Aira gara gara salah paham
Allea
duhhh kamu mulai ngetik kebodohan mereka ka ga kelar2 dong 😁😁😁
Aletheia: harus masuk akal kak, bagaimana mungkin ada anak yg ditampung keluarga Dirgantara yg mana di buang keluarganya sendiri tanpa dukungan apa2,pastinya banyak orang2 yg akan iri sama hubungan mereka,dan ini masuk akal ya setiap hubungan pasti ada rintangan 🙏
total 1 replies
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!